Karakter BaKu: Motivasi Menuntut Ilmu

Imam Al-Ghazali mengingatkan kepada kita bahwa manusia akan hancur tanpa ilmu, orang yang berilmu akan hancur tanpa ikhlas, dan orang yang ikhlas pun tidak bisa bebas begitu saja tanpa bisikan syaithan.

Ilmu memang sangat dibutuhkan agar kita bisa menjalankan agama dengan sebaik-baiknya. Apalagi masalah dan ujian hidup semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Kita sangat membutuhkan ilmu untuk menjawab semua persoalan hidup. Janganlah kita merasa aman jika aktivitas sehari-hari tidak diisi untuk menuntut ilmu agama… Kurangnya ilmu agama akan menyebabkan kita menemui kesulitan dalam menyikapi setiap episode kehidupan. Kurangnya ilmu agama akan membuat kita terbawa arus pemikiran yang menyesatkan. Kurangnya ilmu agama akan memengaruhi hati kita menjadi tidak tenang, gundah, mudah bersedih, mudah stress, dan tentu tidak bahagia. Dampak terburuknya adalah membuat seseorang bisa terjatuh ke dalam dosa-dosa yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat karena tidak adanya usaha untuk menuntut ilmu.

Dalam menuntut ilmu, sudah ada urutan prioritasnya. Seharusnya setiap muslim paham hal ini, ilmu apa yang hukumnya fardhu ‘ain untuk dipelajari dan mana yang fardhu kifayah serta yang sunnah. Jangan sampai kita mengejar ilmu yang sunnah dan malas belajar yang fardhu ‘ain. Beberapa cabang ilmu agama merupakan ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain untuk dipelajari, seperti aqidah, fiqih ibadah wajib, fiqih yang berkaitan dengan profesi/peran yang sedang dijalani, tahsin/tajwid Al-Quran, bahkan bahasa Arab menurut beberapa ulama/ustadz.

Namun, penting bagi para pencari ilmu menjaga niatnya.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan tujuan membantah ulama dengan ilmunya, atau dengan tujuan berdebat dengan orang-orang awam, atau untuk tujuan menarik perhatian orang lain sehingga mereka memujinya dengan ilmunya itu, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (terjemahan HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

…>_<…

A’uudzubillaahi min dzaalik…

Tiba-tiba aku teringat dengan ilmu mantiq, filsafat, logika, sains, dan matematika. 😦 Di hadits tersbut “tidak” disebutkan bahwa ilmu-ilmu tersebut haram. Tidak… Yang dilarang itu niatnya. Hanya niatnya, bukan jenis ilmunya. Maka, bagi yang punya niat terlarang, sebaiknya segera diluruskan ya… Ngeri banget ancamannya… >_< Berarti motivasi kita belajar ilmu logika atau ilmu cara berpikir lurus sebaiknya hanya untuk mencari kebenaran, untuk mencegah diri dari salah menyimpulkan, untuk mengorelasikan satu hal dengan hal lainnya agar menjadi bermanfaat bagi banyak orang. Bukan semata-mata untuk berdebat walaupun debat ilmiah dibolehkan dengan tujuan mencari kebenaran.

Termasuk juga menjaga niat dari ingin dipuji orang lain, mencari popularitas, dan sejenisnya. Saya teringat nasihat ustadz Firanda bahwa salah satu ciri riya’ terselubung adalah mengagung-agungkan seorang tokoh/guru dengan maksud membuat dirinya, sebagai murid, ikut kecipratan hebatnya. Karena dirinya merasa dekat dengan sang guru, sedangkan orang lain tidak seperti dirinya, maka dirinya lebih hebat dibandingkan orang lain. Yang seperti itu saja tidak aman dari riya’, apalagi orang-orang yang seperti “pahlawan kesiangan”. Orang seperti ini biasanya baru saja memperoleh suatu pengetahuan, lalu ia bangga, kemudian ia bertindak seperti orang yang paling paham di depan orang-orang yang sebenarnya sudah paham lebih dahulu daripadanya. Selain sikap seperti itu tidak etis dan tidak beradab, sikap itu juga rentan mengandung riya’ (ingin orang lain mengetahui seberapa hebat dirinya dengan ilmu tersebut) dan sombong karena merendahkan orang lain (menganggap orang-orang di sekitarnya saat itu tidak tahu, padahal sudah paham). Orang yang ikhlas dan rendah hati tidak mungkin bersikap layaknya seorang ulama di depan orang-orang yang lebih pantas disebut ulama daripada dia, kecuali jika dia sedang ditanya atau diminta memberikan penjelasan. Mungkin, pendapat saya ini sulit diterima oleh sebagian orang dengan berbagai alasan karena saya bukan siapa-siapa. ^^ Bagaimana jika ternyata pendapat tersebut diungkapkan oleh ulama besar? Seperti nasihat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang dikutip oleh fanpage Disc Masjid UI dari Misteri Masa Kelam  Islam dan Kemenangan:

“Janganlah kamu ikut meramaikan posisi para ulama. Baru saja menyelesaikan jenjang pendidikan dasar, kamu langsung naik mimbar dan berceramah di depan masyarakat ramai. Hal ini tidak dapat diterima, kecuali dalam dua keadaan: 1) tidak ada orang lain di wilayahmu selain dirimu yang layak, 2) ada dorongan kuat dari dalam lubuk hatimu yang mengharuskanmu untuk berceramah.”

Sebenarnya dengan menolak pendapat saya karena saya bukan siapa-siapa walaupun pendapat saya itu benar, itu sudah termasuk ciri-ciri sombong. Namun, tentang sombong dan tawadhu’ tidak akan dibahas sekarang karena tawadhu’ merupakan karakter “baku” ketiga.

Kita pun harus berhati-hati dalam posting sesuatu, misalnya foto. Memang sih, dibutuhkan kepekaan akan ciri-ciri riya’ agar kita tidak terjerumus ke dalamnya. Maka, penting sekali ya belajar ilmu hati, ilmu menyucikan jiwa atau tazkiyatun nafs. Sebenarnya sih ilmu hati juga termasuk ranah aqidah. Kalau yang belajar aqidah secara komperehensif pasti akan disinggung tentang tazkiyatun nafs. Saran saya, agar kita tidak terjerumus ke dalam riya’, foto-foto dokumentasi suatu acara kajian Islam yang kita ikuti sebaiknya diberi tulisan-tulisan berisi nasihat dan pesan yang positif. Kalau saya pribadi sih, coba-coba merenungkan seandainya saya upload foto-foto dokumentasi acara kajian Islam “tanpa” pesan dan nasihat atau ajakan, apa tujuannya??? Tidak ada tujuan lain selain agar semua orang mengetahui bahwa kita mengikuti acara tersebut. Mengapa orang harus mengetahui kita ikut acara tersebut? Agar kita dinilai sebagai orang baik? Agar kita dinilai sebagai orang rajin? Agar kita dianggap sebagai orang berilmu? 😦 Kan kalau dituliskan pesan, nasihat, atau ajakan menjadi jelas tujuannya walaupun tetap masih memungkinkan pelaku berbuat riya’. Itu tergantung hati masing-masing pelaku, orang lain tidak bisa menilai. Namun, menurut saya, sebenarnya kita bisa berdakwah, menyampaikan nasihat atau ilmu yang kita dapatkan dari suatu acara kajian Islam tanpa menyebut-nyebut diri kita ikut acara tersebut kan… 🙂

Imam Al-Ghazali menerangkan tiga macam penuntut ilmu.

  1. Penuntut ilmu yang tujuannya beribadah dan meraih ridho Allah
  2. Penuntut ilmu dengan niat untuk mendapatkan kedudukan tinggi dan kehormatan di dalam pandangan manusia, atau mendapatkan harta kekayaan, dan ia menyadari apa yang diinginkannya itu. Namun, jika ia taubat karena sadar apa yang diniatkannya itu salah, maka ia tergolong pada orang-orang yang mendapat keselamatan. Jadi, membicarakan tentang keselamatan di akhirat itu tidak semata-mata hanya membahas manhaj dan pemikiran. Keselamatan di akhirat juga bicara tentang niat. Terkadang manusia sering lupa tentang ini kan…
  3. Penuntut ilmu dengan tujuan mendapatkan kedudukan, jabatan, harta kekayaan, dan pujian dari manusia, tetapi ia tidak menyadari kesalahan niatnya dan ia mengira akan medapatkan kemuliaan juga di sisi Allah. 😦 A’uudzubillaahi min dzaalik. Sudah jelas orang-oang seperti ini tidak mungkin bisa memperbaiki diri karena hanya orang-orang yang mau mengoreksi kesalahan diri sendirilah yang bisa memperbaiki diri. Memang butuh keberanian ya untuk mengaca diri…

Sangat penting bagi kita menajamkan kepekaan dan mendekatkan diri kepada Allah agar senantiasa dimampukan untuk menjaga niat agar tidak terjerumus ke dalam syirik kecil ini… 😥 Bayangkan, apa jadinya jika “seandainya” amalan-amalan kita, termasuk kerja dakwah yang kita lakukan, seperti debu berterbangan???

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu berterbangan.” (terjemahan QS Al-Furqan: 23)

Jika kita meremehkan hal ini, maka khawatir kita bisa termasuk ke dalam golongan penuntut ilmu yang ketiga. A’uudzubillaahi min dzaalik. 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s