Ujian Nasional

beginilah-hasilnya-un-ujian-nasional-sma-sederajat-2016

Jika ada negara lain yang tidak menjadikan ujian nasional sebagai standar kelulusan, sebetulnya kita tidak harus menirunya sekalipun negara tersebut adalah negara yang tingkat pendidikannya terbaik menurut suatu lembaga dunia. Ujian nasional itu untuk apa sih? Kalau saya berpendapat, semua keputusan itu harus dipertimbangkan matang-matang dan sesuai dengan kultur setempat. Tidak melulu harus ikut-ikutan negara lain. Negara kita negara agamis, mau tidak mau harus diakui itu… Jika negara yang pendidikannya kita tiru ternyata bukan negara agamis, alias negara sekuler, ya gak sesuai konteksnya dong…

Sebelum jauh-jauh mempermasalahkan ujian nasioanal untuk dijadikan standar kelulusan atau tidak, seharusnya coba kita pikirkan lagi mata pelajaran yang masuk ujian nasional itu sudah tepat atau belum? 😀 Yang dari dulu dikritik dari sistem pendidikan kita kan, kok ya dulu waktu kita sekolah belajar macam-macam ternyata kebanyakannya justru tidak berguna di kemudian hari? Wah iya betul banget ituuu… Itulah kenapa saya galau setelah masuk kuliah. Saya sangat mencintai matematika kok ya di Arsitektur ternyata hampir gak bertemu matematika sama sekali. Di situ kadang saya merasa sedih… Saya bertemu dengan matematika di TPB atau sedikitnya di mata kuliah SKB. Ah, itu sedikit sekalii… Materi matematika SD itu mah… Padahal, tentu kita semua tahu bahwa matematika sejak SD sampai SMA dijadikan pelajaran yang di-UN-kan, gak berubah. Iya gak sih? Iya kan? SMP kita belajar logaritma, apa gunanya di Arsitektur? :/ SMA kita belajar limit dan integral, apa gunanya di Arsitektur? Ah, sedih banget lah pokoknya… Sedihnya karena saya suka matematika, tetapi tidak bertemu di Arsitektur… hehe… bukan sebaliknya sih… Namun, itu tanda sistem pendidikan kita itu janggal, aneh, dan gak bener… Percuma aja saya dapet nilai bagus-bagus di UN. Gak terpakai kok saat dewasa… Coba, kalau saya udah belajar Arsitektur sejak SMP. Misalnya, belajar material, ilmu struktur, dll, sejak SMP dan SMA, maka pastinya saya tidak perlu membuang-buang waktu untuk menjadi arsitek handal. Ah itu contoh aja sih… Itu baru pelajaran matematika. Apalagi sekarang IPA masuk UN SMP kan… hehehe… Nak-nak, kalian kasihan sekali, nak… Belajar tekanan hidrolik, menghitung kuat arus listrik, belajar membuat persamaan reaksi kimia, dll, ternyata itu semua belum tentu berguna untuk kalian saat kalian dewasa… :/

Tidak bisakah sistem pendidikan kita diubah total? Termasuk kurikulumnya?

Apa sih yang pasti berguna hingga anak-anak dewasa (termasuk kita), bahkan akhir hayatnya (akhir hayat kita juga)? Ilmu agama. Pemerintah menetapkan pelajaran agama wajibnya cuma 2 jam tiap minggu itu keterlaluan menurut saya. Maka, wajarlah banyak anak SMP, bahkan SMA, lulusnya belum bisa membaca Al-Quran. Sedih…

Saya masih ingat saat saya SD, saya itu ikut pengajian/madrasah hampir setiap hari loh… Libur cuma hari Minggu saja. Setiap harinya 2 jam-3jam. Beruntung saya, orang tua saya masih sadar pentingnya pendidikan agama untuk anak-anaknya, meskipun saat itu saya belum berkerudung.  Saat saya berangkat sekolahnya siang, maka saya pengajian pagi harinya. Saat saya sekolahnya pagi, ya pengajiannya sore/siang. Pernah juga malam. Saya ikut pengajian udah pindah-pindah tempat, menyesuaikan rumah tinggal yang juga pindah-pindah. Maklum, saat itu masih mengontrak. Kontraktor ye kata ustadz Hanan… haha… Waktu SMP, alhamdulillah, pengajian masih lanjut terus hingga lulus. Hanya saja, sudah mulai malas-malasan karena saat itu saya memprioritaskan sekolah formal saya. SMA malah gak ada kesempatan untuk mengaji di madrasah lagi… 😥 Pulangnya sore euy… Fullday, tapi gak nambah pelajaran agama sih… Itulah jeleknya pendidikan kita. Pendidikan agama tidak dijadikan prioritas. Padahal, tidak akan bisa seseorang itu beradab, jika tidak cukup paham ilmu agamanya. Ingat!!! Dalam Islam, ilmu itu dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan hukum memelajarinya, yaitu ilmu fardhu ‘ain, ilmu fardhu kifayah, ilmu sunnah, dan terakhir ilmu haram. Ilmu agama itu masuknya ke kelompok ilmu-ilmu yang fardhu ‘ain. Hanya sedikit lah ilmu agama yang termasuk fardhu kifayah/sunnah. Jadi, meskipun kita tidak ingin menjadi seorang ulama, ya tetap wajib dong belajar ilmu agama yang fardhu ‘ain… Cuma 2 jam tiap minggu ya jelas kurang banget lah… Coba, materi selain ilmu agama dikurangi, sesuai kebutuhan saja… Saya yakin anak-anak tidak akan stress…

quote-rina-copy

Nah, sudah jelas kan betapa pentingnya ilmu agama karena pasti berguna hingga akhir hayat???

Kenapa ilmu agama tidak dijadikan mata pelajaran Ujian Nasional???

Ilmu kewarganegaraan bagaimana? Hehe… saya sih sudah menulis ya sebelum ini bahwa semua hal di dalam isi Pancasila itu sudah ada di ajaran Islam. Justru, tidak semua ajaran Islam ada di Pancasila. Namun, tentu saja itu juga penting karena kita sebagai warga Indonesia tentu harus paham menjadi warga negara yang baik. Tes CPNS saja ada materi Pancasila kan?  Seperti halnya bahasa Indonesia, itu jelas banget pentingnya karena itu bahasa persatuan kita. Bahasa Inggris? Jelas itu juga penting karena itu bahasa internasional. Hanya saja, dalam Islam, bahasa Arab itu lebih penting daripada bahasa Inggris. 😀 bahkan, kalau tidak salah, jumlah penduduk dunia yang menggunakan bahasa Arab lebih banyak daripada yang berbahasa Inggris sehari-harinya. Emang keren sih ya Gontor itu… Sehari-harinya dibiasakan berbahasa Arab sekaligus Inggris.

Nah, emang yang paling aneh sih kok ya IPA dijadikan UN SMP? Di SMP, IPA dijadikan UN, tetapi IPS tidak dijadikan UN. Sungguh aneh… Lebih aneh lagi, ada UN, tapi nilai UN bukan menjadi standar kelulusan… Ya udah aja mending gak usah ada UN… XD daripada buang-buang duit mengadakan UN kan… Untuk apa coba UN kalau tidak dijadikan standar kelulusan? Apalagi, di Indonesia itu masih banyak sekolah yang ‘tidak jujur’ dalam memberi nilai murid-muridnya. Yah semua anak pasti lulus lah… Gak ada yang gak lulus, meskipun si anak lebih pantas tidak lulus. Akhirnya, yang repot ya guru di tingkat selanjutnya yang harus mengajar anak yang pantasnya tidak lulus itu. Banyak materi di tingkat sebelumnya  yang belum dipahami si anak, tetapi si anak ‘dipaksakan’ lulus oleh guru/sekolahnya sebelumnya. Ini nih yang merepotkan. Harusnya kasus kayak gini jadi bahan evaluasi. Entah kurikulumnya terlalu berat, atau usia anaknya terlalu muda, atau guru/sekolah sebelumnya yang terlalu ‘toleran’, atau emang sistemnya yang salah. Kan nilai UN tidak dijadikan standar kelulusan… Kalau belajarnya mau main-main melulu, itu mah anak usia dini… XD Makanya, kata ustadz Fauzil Adhim, kalau anak atau kita sudah mencintai suatu ilmu, maka kita akan rela bersusah-payah untuk memahaminya. 🙂

Kalau ada yang bilang, “Nilai UN untuk seleksi masuk jenjang berikutnya…” Ya udah aja namanya diganti, bukan UN, tapi seleksi nasional gitu… Udah kayak SNMPTN kan… XD Sebetulnya sih, jenis soal pilihan ganda memang tidak mewakili kemampuan yang dites. Apalagi kalau IPA kan juga butuh praktik. Namun, teknisnya pasti rumit untuk dilaksanakan skala nasional kan… Jadi, bisa dimaklumi. Cuma, kalau tidak ada standar kelulusan yang jelas, ini juga tidak bagus dalam pendidikan. Sangat logis, ketika kita belajar sesuatu, ya harus diuji sebelum lanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi, jangan menganggap ulangan harian, ujian, atau tes apapun itu gak penting atau buruk. Itu sangat berguna untuk mengetahui apakah materi yang diajarkan itu bisa dipahami atau tidak, sudah dikuasai atau tidak, sehingga yang belajar pun bisa dievaluasi bisa lanjut materi atau tidak. Kan begitu seharusnya… Asalkan memang isi ujiannya berkualitas, bukan yang abal-abal.

Yah, intinya sih, sistem pendidikan di Indonesia harus banyak dibenahi… Terutama, yang paling kacau adalah tidak memprioritaskan ilmu agama…. Pendidikan kita masih sekuler. Masih banyak materi yang bertentangan dengan ajaran agama dianggap benar dalam suatu mata pelajaran. Masih banyak materi sejarah yang diselewengkan tidak sesuai faktanya. Pelajaran agama 2 jam tiap minggu itu sangat kurang… Apalagi kalau di ITB cuma 2 SKS selama masa 4 tahun… XD Ada-ada aja…

Apa sih tujuan pendidikan di Indonesia? Setahu saya, tujuan pendidikan di Indonesia sudah sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu ada poin menciptakan generasi yang bertakwa. Singkatnya begitu lah… Lebihnya silakan dicari saja… Saya lupa teksnya… 😀 tapi, ternyata praktiknya tidak sesuai teorinya ya… Buktinya ilmu agama tidak diprioritaskan… hehe… Percuma kan, pintar-pintar malah pintar merusak? Pintar-pintar, tapi gak beradab. Maka, betul banget kata Pak Erie Sudewo, penulis buku Charcter Building, bahwa pendidikan karakter itu lebih penting daripada pendidikan kompetensi karena lebih bahaya orang pintar merusak daripada orang bodoh yang berakhlak mulia. Wah, ini sesuai banget dengan ajaran Islam. 🙂 Nah, dalam Islam sih sudah dibagi-bagi mana yang fardhu ‘ain dan mana yang fardhu kifayah dan sunnah. Kalau Matematika dan IPA sih itu bukan fardhu ‘ain, tetapi fardhu kifayah dan sunnah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s