Tantangan Menjaga Hati (Curhat)

Di era medsos saat ini tantangan menjaga hatinya cukup berat. Aku sangat merasakan arus datangnya energi negatif dari medsos ini. Yah pada awalnya sih siapapun tidak peka dalam menjaga hatinya saat menggunakan medsos. Namun, dengan bertambahnya ilmu agama yang diapahami, lama-lama kita pun (mungkin tidak semua) menyadari bahwa apa yang kita lakukan dahulu bisa mengandung riya’ dan sombong. Namun, ada yang mau meluruskan jalannya yang salah, tetapi ada juga yang tetap di jalan yang sesat alias terus-menerus terbelenggu dalam kebiasaan riya’ dan sombong. Bagi yang menyadari kesalahannya dan hendak memperbaikinya, usahanya itu sepertinya menjadi tantangan yang begitu besar jika ia masih bermedsos ria. Saya pun merasakannya. Sudah ditahan-tahan untuk tidak menceritakan hal-hal yang mengundang pujian, eh melihat ada orang lain yang sedikit-sedikit suka pamer, saya jadi jengkel. Gak suka aja melihat sikap kayak gitu. Saya pun tergerak untuk meruntuhkan kesombongan orang itu. Saya sebenarnya ingin bilang ke orang itu, “Mbak, Mas, biasa aja kaliii… Baru segitu aja udah pamer dan merasa bangganya selangit… Saya yang lebih dari itu aja biasa aja…” Cuma, gak mungkin lah ya ngomong begitu… Yang ada jadinya saya jadi ikut-ikutan pamer deh… heu… 😦 Padahal mah, saya gak merasa bangga sih dengan capaian yang saya pamerkan itu… Saya ulangi lagi, saya gak merasa bangga dengan capaian tersebut. Namun, saya hendak memberi pelajaran kepada orang yang gak pantas sombong itu. Kenapa coba saya gak bangga? Ya pikir-pikir aja deh… Biasanya tuh orang yang ahli beneran pada suatu hal biasanya dia pengen gak sih membangga-banggakan dirinya dengan kemampuannya itu? Yah ada yang begitu, tapi banyak juga yang gak begitu… Soalnya dia tau bahwa di atas langit itu ada langit. Orang yang sungguh-sungguh ahli itu tanpa dia harus cerita panjang lebar tentang kelebihan dirinya, orang-orang mah udah pada tau…

Contoh aja nih, misalnya ada orang juara olimpiade internasional mata pelajaran Matematika biasanya dia tidak perlu tuh cerita-cerita ke semua orang bahwa dia jago matematika. Lah ngapain capek-capek cerita… Prestasinya itu sudah membuktikannya kok… Nah beda dengan orang yang gak pernah juara lomba Matematika tapi dia pengen dianggap jago matematika. Biasanya mulutnya itu bisa melakukan segala cara agar semua orang mau mengakuinya jago matematika. Hehe… Jujur aja sih saya suka kesal melihat tingkah laku orang kayak gitu… Beda lagi kasusnya kalau sang jawara tersebut malah direndahkan orang lain yang gak tau apa-apa alias bodoh. Siapa sih yang gak jengkel jika direndahkan??? 😀 Itu sih contoh aja ya… Aplikasinya bisa di banyak kasus. Saya sendiri sering mengalami direndahkan orang lain… Kesaaalnya itu bisa berhari-hari kalau saya udah direndahkan orang lain yang gak pantas merendahkan. Tau gak sih? Saya itu bisa menangis dan jadi marah-marah sendiri kalau udah kesal karena direndahkan orang lain. Suami saya pun jadi kena getahnya… Suami saya pasti akan nanya ke saya kenapa dari tadi marah mulu. Ya saya bilang aja saya lagi bête sama orang lain. Jika wajah saya yang cemberut di hadapan suami berdosa dan membuat saya jadi meninggikan suara, semoga Allah mengampuni saya. >_< Semoga orang yang telah merendahkan saya itu dapet dosa yang berlipat-lipat selama dia belum taubat/belum merasa bersalah.

Yah bisa dibilang di medsos itu kita akan sering bertemu dengan orang-orang yang sedikit-sedikit suka pamer atau merendahkan orang lain. Ini mah aku curhat aja hehe… Bukan mau dakwah atau mencari solusinya. Ini murni curhat aja… >_< Suliiit banget menjaga hati jika masih bermedsos ria. Ketemu orang yang suka pamer tuh jadi tergerak untuk pamer juga. Apa dia gak nyadar ya bahwa sikapnya yang menginspirasi orang lain berbuat buruk/dosa, dosanya kena ke dia juga. Yah walaupun sebenarnya kita bisa memilih untuk mengabaikan sikap lebaynya itu sih… Anggap aja orang itu gak ada… Atau anggap aja orang itu gila… Iya gila… Gila pujian dan kehormatan. 😀 Contoh aja nih… Ada orang yang pengen dianggap serba bisa sehingga dia mencoba mencari pujian orang lain dengan berbagai cara. Dia gak pernah punya prestasi di bidang Sains misalnya, eh dia pake ngaku-ngaku cinta sains untuk dianggap jago sains. Ah itu contoh aja sih… Atau dia baru aja belajar ushul fiqh, misalnya, eh dia udah merasa paling paham ushul fiqh di hadapan orang-orang yang lulusan pesantren. Misalnya. Coba deh bayangin aja… Gimana orang lulusan pesantrennya gak jengkel coba??? Wajar lah kalau orang yang kayak gitu menjengkelkan… Atau ada orang yang pengen diakui jago melukis/menggambar. Dia gak mau kalah lah… haha… Padahal mah, dia gak punya riwayat suka menggambar atau menjuarai lomba-lomba menggambar. Gimana gak menjengkelkan coba orang kayak gitu bagi yang jelas-jelas jawara lomba menggambar??? Haha…

Emang sih solusinya cuma satu kalau ketemu orang kayak gitu. (Tadi katanya gak mau cari solusi dulu…) hehe… Gak tau sih ini bisa disebut solusi atau gak. Solusinya adalah mengabaikan orang itu… haha… Anggap orang itu gak ada! Anggap orang itu sedang gila! 😀 atau… kita gak usah bermedsos ria lagi.. wkwkwk… Tapi seriusan sih saya mah sebenarnya gak mau facebookan lagi euy… Tapi entah kenapa kok gak bisa ya menahan diri dari facebookan. 😦 Dulu waktu kuliah mah aku bisa libur facebook sampe berbulan-bulan. Sekarang belum bisa kayak gitu lagi… Kenapa ya??? >_< huuhuu…

Sebenarnya medsos itu buat apa sih? terutama facebook… Awalnya niat saya pakai facebook adalah untuk berdakwah. Nah kalau dievaluasi lagi kok kayaknya niatnya udah bergeser ya… 😦 Jadi suka posting gak penting… hiks… Dulu tuh aku bisa menahan diri dari berbuat pamer sekalipun melihat banyak orang yang sedang pamer. Bener-bener facebook tuh aku pakai untuk dakwah. Jadinya tuh kalau melihat orang suka pamer ya yang keluar jadi nasihat sindiran agar orang yang pamer sadar bahwa dirinya salah. Kalau sekarang??? Saya suka mudah ikut-ikutan pamer juga… hiks… Aku ingin lepas dari belenggu hawa nafsu ini… >_< Aku ingin punya teman-teman dan sahabat yang tidak suka pamer dan tidak suka dengki… Semoga Allah berikan aku hati yang tenang yang merasa cukup dengan Allah saja. Itulah tauhid yang kokoh.

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (3): dari Aceh ke Mata’ Salman

Aku latihan kaligrafi di rumah seniorku satu jurusan karena gurunya adalah ayah beliau sendiri yang kebetulan nanti jadi salah satu dewan jurinya mewakili Bandung hihi…  Aku mewakili ITB untuk kategori putri, sedangkan beliau mewakili ITB untuk kategori putra. Kira-kira masa latihanku dimulai sejak H-3 bulan. Wow… Itu memang mepet sekali… Saat itu pun aku belum mengenal yang namanya kaligrafi Tsuluts, kaligrafi Diwani, dll. Padahal, yang paling utama itu adalah kaligrafi Tsuluts yang porsinya paling banyak menempati papan sebagai media gambar. heu.. Di rumah seniorku itu, kami latihan tepatnya di ruang studio ayah beliau yang juga merupakan dosen Sastra Arab Unpad. Studionya puweenuuh dengan karya-karya kaligrafi, baik yang berbentuk lukisan maupun ukiran.

Jenuh? Oh jelas rasa jenuh sering kali menghampiri… Kenapa coba? Karena aku hampir putus asa… Haha… Waktu yang sangat sebentar itu rasanya tidak mungkin aku menguasai semua jenis khat dan teknik-teknik menggunakan catnya. Yang digunakan adalah cat tembok yang baunya tidak enak hehe… karena dari bahan-bahan organik. Kuas yang digunakan adalah kuas yang keras yang harus dimodifikasi terlebih dahulu ujungnnya. Menulis hurufnya dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Semua itu dilakukan karena mempertimbangkan efektivitas penulisan kaligrafinya. Namanya juga kan pake cat ya, berarti kan pasti basah. Kebayang dong ya, kalau masih basah eh tangan kita menyentuh tulisan yang masih basah tersebut… XD Papannya pun harus diamplas terlebih dahulu sebelum digunakan. Hehe… Belum lagi harus menyiapkan cetakan untuk hiasannya… Tentu hiasannya harus hasil karya sendiri. Jujur aja, waktu pertama kali disuruh bikin hiasannya, saya binguuuung… XD Belum pernah soalnya sebelumnya… Belum tau sampai sejauh mana kita bisa bereksplorasi membuat hiasan dan saat itu aku pun belum paham karakter hiasan yang bisa digunakan dalam lomba kaligrafi dekorasi. 🙂 Memang sih ya cabang kaligrafi ini adalah cabang MTQ yang paling menguras tenaga. Capeknya bukan cuma capek pikiran, melainkan juga capek fisik. Apalagi, masa-masa latihan tersebut bersamaan dengan osjur himpunan Arsitektur. Heu… Maklum, osjur himpunan Arsitektur kan biasanya emang di saat liburan kenaikan tingkat. ^^a Jadi, saya sering izin karena harus latihan kaligrafi… Tapi tetep aja dipermasalahkan… heu #kzl

MTQ Mahasiswa Nasional saat itu diselenggarakan di Aceh pada tahun 2009. Aku termasuk peserta termuda saat itu, masih tingkat 2. hehe… Itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. XD Teman-teman saya sejurusan pada ikutan osjur dan pelatihan proKM, eh saya malah terbang ke Aceh… hihi… Galau sih soalnya saya jadi izin osjur. Galau karena khawatir dipermasalahkan dan ternyata sepulang dari sana kepergian saya memang dipermasalahkan. Juju raja saya sebel… 😦 Kan saya ke Aceh juga mewakili ITB gitu loh untuk lomba… Seharusnya saya dikasih keringanan dong ya… Maklum lah panitia-panitia osjurnya bukan aktivis dakwah. Jadi saya dizalimi pun mereka gak merasa bersalah. Hehe… Paling males kalau senior saya yang juga ikut lomba kaligrafi itu udah nanyain soal osjur. XD Saya langsung BeTe, kak… *peace* Eh ternyata beliau di tahun berikutnya malah yang jadi Kahimnya… wkwkwk… Tapi saya tetap cintanya mah sama kadiv wirausahanya sih yang di tahun berikutnya jadi senatornya… XD *love you, my husband* ß abaikan

Sebelum sampai di Aceh, kami transit di Medan. 🙂 Pesawatnya cuma sampai Medan. Lalu, kami dijemput naik bus ke Aceh. Perjalanannya sangaaat jauuuh… Sampai terpikir berkali-kali, “Kapan yah nyampenya?” Kondisi Aceh masih belum baik setelah terkena musibah tsunami. Tanahmya berpasir. Cuacanya panas menyengat seperti di Jakarta sehingga badan mudah berkeringat. Namun, anginnya sepoi-sepoi berhembus terasa dingin atau sejuk. Di sinilah bedanya dengan Jakarta. hehe… Kami tinggal di suatu rumah seperti wisma. Satu kafilah (tim universitas) berarti satu rumah. Yang akhawat di dalam kamar, sedangkan yang ikhwan di ruang tamu… haha… Sampai di sana, aku kembali berlatih menulis huruf-huruf dengan kuas dan cat. Fyuuh… Yang lain mah hanya bermodal suara dan bacaan. 😀 Di hari pembukaan acara, yang lain pada nonton, aku mah latihan aja di rumah… wkwkwk

Panas Aceh begitu menyengat. Sepulang dari lokasi acara, pasti kami langsung ingin mandi karena badan sudah terasa lengket berkeringat. Lalu, kami mempersiapkan diri untuk besok, mengikuti lomba. Mulai terdengar gaung lantunan bacaan Al-Quran di satu kompleks itu, baik yang tartil maupun yang mujawwad, saling bersahutan. Wah subhanallaah… Dari sana aku baru mendengar istilah tahsin. Kalau tajwid sih aku sudah hafal jilid I-nya… Maklum, aku kan pernah ya menghafal kitab tajwid saat SD-SMP. 😀 Ternyata tahsin itu berbeda dengan tajwid. Tidak cukup kita hanya belajar tajwid, tetapi juga harus latihan mempraktikannya. Saat itu aku baru mengetahui bahwa jika panjang dua harakat itu berarti satu kali mengayunkan bacaan, sedangkan ghunnah itu tidak hanya mendengung, tetapi juga dipanjangkan bahkan lebih panjang daripada mad thabi’i. 🙂 Sejak itulah aku mengazzamkan diri untuk belajar tahsin di Mata’ Salman.

Mendengar para peserta lomba Tartil Quran melantunkan bacaan Al-Quran, aku merasa takjub. Tanpa aku sadari, aku pun menirunya ikut melantunkan. XD Seruuu… Seketika, aku langsung ingin segera bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. Namun, seperti nasihat para senior terutama teh Ayu guru kami, mantan juara II MTQ Mahasiswa Nasional, aku katanya harus menguasai tahsin terlebih dahulu. Beneran lah, pulang dari sana aku langsung daftar Mata’. Hehehe… Aku yang masih dalam proses berpakaian syar’i, masih sering pakai celana panjang, bukan rok, aku sebenarnya masih agak seram mendengar istilah “kajian tafsir Quran” atau istilah “majlis ta’lim”. huuhuu… Terasa angker aja deh… Kayaknya tuh bakal membosankan gituu… Tapi, demi aku bisa belajar tahsin, aku beneran daftar organisasi Majlis Ta’lim Salman… hahaha… Aku berharap bisa segera menguasai tahsin sehingga aku bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. hihi… Lalu, motivasi lainnya ikut Mata’ adalah agar aku bisa “kembali” belajar Bahasa Arab seperti dahulu saat SD-SMP. ^^ Sayangnya, zaman aku daftar Mata’, eh program Bahasa Arab malah dihapus. Agak kecewa sih memang…

Jangan Tanya, “Rin di Aceh gimana? Menang gak?” hoho… jelas gak menang lah… haha… Tapi seniorku sejurusan itu dapet juara V. 🙂 Tapi, saat itu aku puas dengan hasil karyaku yang dilombakan hehe… karena hasilnya lebih bagus daripada saat-saat latihan dan yang terpenting adalah selesai tepat waktu. hihi…

(bersambung)

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (2)

Aku mulai belajar kaligrafi yang sesungguhnya itu saat aku berusia 13 tahun, tepatnya di Sekolah Arab (istilahnya begitu lah) yang tempatnya cukup menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke sana dari rumah. Kira-kira bisa sampai 20 atau 30 menit lah berjalan dari rumah ke madrasahnya. Ceritanya tuh kenapa aku pindah ngaji ke sana karena adik-adikku pada pindah ke sana… XD Masa’ aku sendiri yang masih ngaji di tempat lama… Teman-temannya nyebelin, lagi… hehe… Ngajinya juga malam. Kalau pulang suka merasa serem… Gelap gituu… Bahkan, aku pernah pengalaman punya teman yang jahat banget mau nimpukin pakai batu kalau pulang. Yang jahat itu laki-laki. Hii… Bahaya banget kan ya… Pulangnya sampe ditemenin sama guru ngajiku (manggilnya “Mpok” hehe soalnya orang Betawi asli). Makanya, aku jadinya ikut-ikutan pindah deh… Senengnya tuh di sana ketemu teman-teman satu SD. Jadi seruuu… Tapi cukup butuh perjuangan sih ke sananya hehe… (Gak mau capek dikit).

Menariknya, saat SMP, aku kemudian pindah rumah ke tempat yang justru dekat dengan Sekolah Arab tempat aku mengaji itu. Mengapa istilahnya kok Sekolah Arab? Karena di sana aku belajar semua hal dalam bahasa Arab. 😀 Bayangkan dong… Aku belajar kayak anak pesantren loh… Padahal mah aku sekolahnya aja di SMP negeri. Di SMP pusing-pusing Matematika, IPA, IPS, dll, eh di tempat ngaji aku pusing-pusing menghafal banyak kitab dalam bahasa Arab yang tentunya sudah dikasih tau terjemahannya oleh ustadz. 😀 Benar-benar menghafal kitab dalam bahasa Arab! XD Gak pernah terbayang sebelumnya… Menghafal kitab Tauhid, kitab Fiqh, kitab Akhlaq, kitab Muhaddatsah, kitab Muthola’ah, kitab Sirah, kitab Babul Minan, dll, semua dalam bahasa Arab. Menghafal loh ya, bukan sekadar mengartikan aja… hehe… Tiap hari jadwal pelajaran (menghafalnya) ganti-ganti. Yang pasti, tiap hari di waktu pagi selalu ada latihan Bahasa Arab. Entah membuat kalimat dalam bahasa Arab, entah mengartikan kalimat bahasa Arab, atau mengubah kalimat bahasa Indonesia menjadi bahasa Arab. Itu tiap hari dari Senin sampai Sabtu. Udah kayak anak pesantren kan ya… Haha… Nah, tiap Sabtu ada latihan Khat dan ketika anak yang mengaji di sana sudah cukup lama atau levelnya udah agak lebih tinggi, baru deh diajarin kaligrafi dengan pena dan tinta. ^_^ Yang diajarin sih baru kaligrafi Naskhi saja… Namun, maasyaa Allaah… Huruf alif aja harus berlatih belembar-lembar. Lalu, hasil latihannya dikoreksi ustadz. Yang benar kaidahnya dilingkari. ^_^ Hingga pada akhirnya aku dianggap mengungguli teman-temanku dan aku diminta menyalin naskah shalawatan dengan pena dan tinta yang kemudian difotokopi untuk anak-anak lainnya. Hihi…

Pada suatu hari, Madrasah Tarbiyyah tempat aku mengaji itu mengadakan perlombaan antarcabang. Cabang dekat rumah dengan cabang yang lebih jauh lagi dari rumah (kayaknya beda kelurahan). Aku mencoba ikutan 2 cabang lomba. Apalagi selain lomba kaligrafi, iya gak? hehe… Lalu aku juga mencoba lomba cerdas cermat. Namun sayangnya, pelajaranku belum jauh, sedangkan lawan-lawanku sudah sampai jilid 3 kitab-kitab yang telah dihafalnya. Tentu aku kalah lomba cerdas cermat hehe… Setelah beres lomba cerdas cermat, aku mengejar ketertinggalan lomba kaligrafi dan aku manfaatkan waktu sebaik-baiknya hingga detik terakhir. Yang dilombakan dalam kaligrafi tidak terlalu sulit dan kertas gambarnya hanya ukuran A3 kira-kira. Jadi aku menggunakan 2 pensil andalanku yang diikat dengan karet. Hehe… Itu sih tips dari ustadznya. Cukup puas dengan hasil karyaku waktu itu walaupun aku gak sempat lihat-lihat hasil karya lawan-lawanku sih… Yang seru sih karena kali ini aku bisa menggunakan crayon dan pensil warnaku untuk mengeksplorasi. Awalnya sempat ragu untuk ikutan karena kurang persiapan. Namun, aku setia menunggu pengumumannya. 😀 Yeaay… Tenyata, aku juara I lomba kaligrafi.

Pengalaman-pengalaman ini yang membuat aku memberanikan diri untuk ikutan Olimpiade Al-Quran tahun 2008 silam… 🙂 Saat itu aku sudah lebih PD untuk mencoba keahlian baruku menulis Khat Naskhi (walaupun masih banyak kekurangan) karena kebetulan syarat lombanya menggunakan Khat Naskhi/kategori Mushaf, bukan yang dekorasi. ^^ Di detik-detik terakhir pengumpulan karya, aku takjub dengan hasil karya seseorang berjahim himpunan Arsitektur. Haha… Arsitektur adalah jurusan idamanku saat TPB dan alhamdulillah akhirnya aku masuk ke jurusan tersebut. Ternyata beliau yang juara I di lomba kaligrafi Olimpiade Al-Quran dan aku juara II nya hihi… Lebih takjub lagi, ternyata beliau yang juara I itu anak kandung dari seorang kaligrafer tingkat nasional. 😀

Ternyata, Olimpiade Al-Quran tersebut menjadi ajang penjaringan calon perwakilan ITB untuk ikut MTQ Mahasiswa tingkat nasional pada tahun 2009. Oleh karena itu, kami terpilih sebagai perwakilan ITB cabang kaligrafi. Wuih… aku tuh gak pernah bereksplorasi dengan cat selama ini. Jadi jujur aja, perasaan tuh gak nyaman banget saat mengejar keterampilan mengecat untuk membuat karya kaligrafi. Membuatnya di papan triplek, lagi… Lalu, mencampurkan warna-warna dengan kekentalan yang pas itu aku masih butuh banyak latihan. Fyuuh… Latihan yang sangat menguras tenaga euy… dan menghabiskan ‘isi kantong’ hehe… Udah gitu, aku kan baru menguasai jenis Khat Naskhi. XD belum menguasai jenis khat lainnya, seperti Diwani, Kufi, Tsuluts, dll. Totalnya kira-kira yang standar itu ada 7 jenis khat. XD Belum lagi, menuliskan huuf demi hurufnya itu dari kiri ke kanan… Nah loh… Benar-benar butuh perjuangan untuk menguasai semua itu… Apalagi dengan waktu yang sebentar doang… ^^a hehe cukup stres sih mempersiapkan MTQ Mahasiswa Nasional…

(bersambung)

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (1)

Berawal dari Olimpiade Al-Quran yang dahulu diselenggarakan oleh Mata’ Salman. Aku pertama kali ikut lomba dalam acara tersebut tepat saat baru saja aku diterima di ITB, yakni tahun 2008. Baru pakai kerudung… 🙂 Saat itu kan Ramadhannya sekitar bulan September/Oktober ya… Di sana ada banyak cabang lomba… Ada balighonya juga dan mataku langsung terarah pada tulisan “Khatthil Quran/Kaligrafi”. Aku langsung sumringah… hehe… Maklum, aku ini cinta kaligrafi, baik kaligrafi Arab, Jepang, maupun Latin. Sejak kecil, tepatnya SD kelas I, aku sudah berkali-kali ikut lomba menulis indah, sekalipun itu hanya tulisan latin. Nama lombanya adalah 3M (Membaca, Menghitung, dan Menulis). Aku selalu menjadi perwakilan SD-ku untuk lomba 3M tersebut. Tiap anak yang diikutkan berarti ikut ketiga lomba tersebut sekaligus. Lomba tersebut hanya untuk kelas I s.d. III SD loh ya… hihi… Dalam sesi lomba menulis, tulisannya harus tulisan sambung, tidak boleh tulisan cetak. ^^ Nah, lomba 3M ini hanya sampai tingkat kecamatan kok… hoho… jadi emang wilayah lombanya gak luas.

Saat kelas V pun aku ikut lomba menyalin Al-Quran dengan hiasan ala mushaf. Saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sesungguhnya. Aku menulis huruf demi huruf Arab hanya dengan insting saja hehe… Aku ini orangnya perfeksionis. Jadi aku perhatikan betul-betul tulisan Arab dalam buku Iqro’, Al-Quran, dan juga buku paket Agama Islam dari sekolah. Jadi, yang menurutku bagus, ya setidaknya mirip lah dengan tulisan-tulisan di sana. ^^ Padahal, aku belum belajar kaidah penulisan huruf-huruf Arab sama sekali. Saat lomba Kaligrafi/Menyalin Al-Quran saat kelas V sih aku gak menang, tapi lawan-lawanku kalau tidak salah ingat sih semuanya anak kelas VI, mereka 1 tingkat di atasku. Saat itu aku hanya mendapat juara III tingkat kelurahan. Hasil karyaku dievaluasi, teutama oleh ibuku. “Harakatnya gak rapi nih Rina… Kalau ngasih harakat belakangan aja, Rin, biar rapi dan cepet juga ngerjainnya.”

Akhirnya 1 tahun kemudian, LOKETA (Lomba Keterampilan Agama) datang lagi. Aku sudah kelas VI. Ingat, sekolahku bukanlah madrasah atau pesantren. Sekolahku murni sekolah sekuler seperti sekolah negeri pada umumnya. Hanya saja, sekolahku adalah sekolah swasta. Kami pun sehari-harinya tidak ada yang berkerudung. Lagi-lagi, aku dipilih mewakili sekolahku untuk ikut lomba. Kali ini, tidak hanya cabang kaligrafi, tetapi juga cabang cerdas cermat. Dalam cerdas cermat, aku dan teman-teman satu tim hanya bisa lolos sampai tingkat kecamatan dan mendapat juara III. Lucunya, yang juara I ketemu lagi di SMP (sekolahnya sama) dan yang juara II adalah saudara sepupuku. Hahaha… Tapi pada awalnya, grup aku mengalahkan semua lawanku. Nilai kami tertinggi. Namun, seperti biasa, aku salah strategi di babak rebutan final. Perjuangan kami pun tandas di sana… XD

Namun, ternyata pada cabang kaligrafi, aku masih terus lolos ke tingkat kotamadya. Aku mendapat juara I tingkat kecamatan. Yang bisa lolos ke tingkat selanjutnya hanyalah yang mendapatkan juara I. Putra dan putri dipisahkan kategorinya, kecuali cerdas cermat. Betapa gembiranya aku saat itu karena tahun lalu saja aku tidak lolos ke tingkat kecamatan. Eh saat kelas VI aku bisa terus lolos ke tingkat kotamadya… 😀 Semua karena dukungan ibuku juga. Seru banget kalau mengingat saat-saat lomba kaligrafi dahulu… Walaupun saat itu aku belum berkerudung, aku beruntung ibuku selalu memaksaku untuk terus mengikuti pengajian di sekitar rumah sekalipun kami sering sekali pindah rumah. Ibuku bisa marah kalau aku dan adik-adikku gak mengaji sehingga aku gak bodoh-bodoh banget soal agama dan terasa betul manfaatnya hingga saat ini. Di tingkat kotamadya, kira-kira ya Kotamadya Jakarta Timur itu terdapat 10 kecamatan. Berarti di tingkat kotamadya, aku melawan 9 anak lainnya dalam lomba kaligrafi/menyalin Al-Quran. Tahu gak sih, di waktu-waktu senggang sejak keberangkatan lomba hingga menunggu pengumuman, mulutku tidak berhenti komat-kamit. XD Ngapain coba? Sungguh-sungguh berdoa agar aku bisa lolos ke tingkat Provinsi DKI Jakarta walaupun saat itu aku agak gak yakin juga sih bisa lolos. Soalnya kan lawannya cukup banyak dan tentu mereka adalah para jawara di kecamatannya masing-masing. Mulutku terus saja berdoa kepada Allah hingga saat pengumuman tiba, aku kaget. Aku LOLOS ke tingkat provinsi… ^_^ sehingga berarti aku memperoleh juara I tingkat kotamadya Jakarta Timur. Sekali lagi, padahal saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sebenarnya loh… Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, heran banget kok bisa ya lolos ke provinsi. Berarti yang lain juga mungkin gak ada yang kursus kaligrafi ya… hehe…

Nah, di tingkat provinsi ini lawanku cuma sedikit. Hanya ada 5 orang yang ikut lomba di tingkat provinsi tiap cabangnya. Menakjubkan, aku benar-benar bertemu dengan para jawara kotamadyanya masing-masing. Aku pun sempat terpesona pada tulisan seorang peserta putra karena saking bagusnya. Namun, aku bergumam, tulisannya tebal tipis. Bagus. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini tidak dibolehkan tebal tipis. Apa benar ya? Buktinya dia sampai juga ke tingkat provinsi. Saat itulah aku mulai pesimis bisa gak ya dapet juara. Yang lainnya menghias tulisannya dengan warna-warni. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini gak boleh pakai warna-warni. Aku mah nurut aja sama guru agamaku. XD Tapi jujuuur… aku mah pesimis. Tulisanku kan gak tebal tipis dan gak dihias warna-warni. Saat itu lombanya di sekitar Rumah Sakit Haji, tepatnya di kompleks wisma hajinya. Yang dari luar Jakarta Timur, banyak juga yang menginap di wismanya. Karena tempatnya dekat, ibu dan adikku juga ke sana menonton acaranya. Kami pun menunggu pengumuman hingga sore. Tingkat provinsi adalah tingkat terakhir pada LOKETA. Apa hasil pengumumannya??? Apakah aku dapat juara???

.

.

.

Aku ternyata dapat juara III. 😀 Gak dapet juara I lagi… haha… Antara sedih dan senang. Sedih karena gak dapet juara I seperti tingkat sebelumnya. Senangnya karena aku masih dapet 3 besar. Hihi…

Eh menariknya, adik kandungku nomor 3 ternyata menjadi penerusku mewakili SD kami lomba kaligrafi hihi… Sudah pasti dong, aku banyak mengomentari tulisan adikku di rumah… hihi… Sama kok dia juga gak pernah belajar kaligrafi sesungguhnya. Saat dia masih kecil juga aku ajari cara menulis yang indah dan dia benar-benar nurut aku. XD Tapi hasilnya, tulisan dia bisa rapi dan mewakili SD-nya (SD kami) lomba menulis indah/kaligrafi. Tapi ternyata adikku lebih hebat daripada aku. Dia mendapat juara I di tingkat provinisi… Wah aku jadi ikut gembira saat itu. Tapi komentar ibuku, “Padahal tulisan Rina lebih rapi ya. Tapi Hanna bisa dapet juara I.” hihi…

Pengalaman inilah yang membuatku jadi semangat belajar kaligrafi ke depannya… 🙂

(bersambung)

Hijrah (lagi)

Tentu kita pernah menerima rapor akademik saat masih sekolah atau transkrip nilai saat kuliah. Namun, bagaimana rasanya jika kita menerima rapor amalan dan yang menilainya langsung Allah Azza wa Jalla? 😦 Mungkin, seandainya saat ini aku menerima rapor tersebut, nilaiku sedang turun-turunnya. Aku rindu masa-masa di saat aku sedang bersemangatnya mendekatkan diri kepada Allah… 😥 Entah mengapa semangat itu surut dan semakin surut makin ke sini… Sering kali aku merasa bosan dan tak tahu harus bagaimana menghilangkan bosan. Biasanya saat seperti ini aku pun merasakan semakin bete’ jika aku melihat sosmed dengan tujuan menghilangkan kebosanan, eh malah banyak sekali orang sedang saling unjuk keistimewaannya seakan-akan dia orang yang paling istimewa pada aspek tersebut. Alih-alih ingin menghilangkan rasa bosan, eh malah makin bete’. 😦 Bukan karena aku iri, tetapi karena apa yang dipamerkannya itu biasa aja, tapi dibuat lebay. Aku tuh kalau iri gak pernah merasa sebal ke orangnya. Paling juga kalau aku iri, aku hanya merenung sendiri, sedih, dan meratapi nasib. Di sana aku meminta kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk bersyukur. Aku gak merasa sebal ke orangnya, maka biasanya malah orang-orang tersebut aku beri ucapan “baarakallaahu fiik” atau hanya sekadar aku like. Apalagi jika aku gak iri sama sekali. Udah jelas-jelas dengan ringannya aku mengucapkan doa dan ucapan selamat. 🙂

Nah, yang bikin sebel itu kalau ada orang yang sedikit-sedikit kok pamer kelebihannya yang menurut saya “biasa aja”… Catat ya, “biasa aja”. Terkadang, saya sadari, saya juga punya kelebihan itu, tapi saya gak pamer-pamer kayak dia. Bisa jadi, yang memiliki kelebihan tersebut malah banyak, bahkan kemampuannya lebih dari itu. Nah, biasanya kalau saya bete’ kayak gitu tuh karena iman saya sedang turun. Kalau iman saya sedang naik, biasanya orang kayak gitu tuh gak memengaruhi kondisi hati saya walaupun dalam hati, saya tetap tidak menyetujui sikapnya itu. Ya udah deh… karena melihat orang lain pamer-pamer kelebihannya, saya pun jadi latah tidak mau kalah karena kebetulan saya juga merasa punya kelebihan yang sama atau merasa punya yang lebih dari itu. Heu… 😦 Lalu, apakah setelah saya ikut-ikutan pamer, saya jadi bahagia? Gak juga… Hati saya justru gelisah… Saya merasa sedang menjadi orang lain, bukan diri saya sendiri. Mungkin ini yang disebut menyalahi fitrah. Fitrah manusia itu berbuat baik, hanya mencari ridho Allah. Jika kita menyalahi fitrah kita, pasti hati tidak tenang. Masalah paling berat tuh jika hati tidak tenang kok ya gak bisa nangis… Karena hati sudah mengeras…>_<…

Aku pun selalu meminta kepada Allah, “Allaahumma inni as-aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal ‘amalalladzii yuballighunii hubbaka. Allaahummaj’al hubbaka ilayya min nafsii wa ahlii wa minal maa-il baarid.” (Wahai Allah Tuhanku, sesungguhnya aku meminta cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang membawaku kepada cinta-Mu. Wahai Allah Tuhanku, jadikanlah cinta-Mu melebihi cintaku kepada diriku sendiri dan keluargaku dan daripada air dingin saat aku kehausan.) *kalau gak salah begitu artinya hehe… maaf kalau salah menerjemahkan* Bagiku, lingkungan dan teman yang baik itu penting sekali. Saya merasa letih, capek hati, jika saya harus menjadikan orang-orang yang mudah pamer dan sombong sebagai teman dekat. Saya trauma jika saya direndahkan orang lain. Saya trauma jika saya harus berteman dengan orang-orang yang tidak tahu diri. Keikhlasan saya sedang diuji jika saya bertemu dengan orang yang tidak tahu diri. Ketika kebaikan dibalas dengan keburukan. Jujur saja, saya tidak suka. Saya belum sekuat orang-orang shalih terdahulu… 😥 Bahkan, saya saksikan sendiri ada beberapa orang di era modern ini yang bisa begitu ikhlas tak peduli perilaku orang lain terhadapnya… 😥 Saya tidak sekuat itu… Saya tidak suka dianggap tidak tahu dan dikoreksi oleh orang yang gak pantas mengoreksi saya, padahal tidak ada pernyataan saya yang sebenarnya dia koreksi. Harusnya dia inget-inget lagi tuh, dia bisa dapat pengetahuan itu semua lewat siapa awalnya? Apakah dia bisa dapat pengetahuan itu jika tidak ikut komunitas saya? Harusnya dia sadar bahwa dia baru seumur jagung berada di komunitas saya. Jadi, dia gak perlu merasa lebih paham dari saya tentang sesuatu yang sangat berkaitan dengan komunitas saya. Coba, ingat-ingat, siapa dahulu yang ngajakin dia bergabung dengan komunitas saya (dkk)? Kok ya bisa-bisanya dia bisa seangkuh itu terhadap saya. Saya ini sudah menjadi bagian dari komunitas tersebut sejak awal, sangat awal. Jadi, saya gak suka jika ada orang yang baru juga masuk komunitas tersebut sudah merasa lebih paham dari saya tentang komunitas tersebut. Seharusnya dia merasa bersalah dan minta maaf kepada saya. Namun, dia tidak kunjung minta maaf juga…

Saya sadar, sampai kapanpun bisa jadi saya akan terus bertemu orang dengan tipe seperti itu. Walaupun saya sudah trauma berteman terlalu dekat dengan seseorang, pasti mau tidak mau saya akan terus bertemu dengan orang baru yang memiliki sifat seperti itu. Inilah momentum saya menyadari bahwa sayalah yang harus berubah. Saya harus bisa menerima kenyataan hidup akan karakter orang-orang sekitar yang bisa saja sangaaaat menyebalkan. Saya harus kokoh.

Saya rindu masa-masa saya awal berhijrah. Saya ingin sekali hijrah lagi… 😥 Kala motivasi melakukan kebaikan hanya karena ingin mengejar surga-Nya. Kala aku sibuk dengan meratapi dosa-dosaku yang telah lalu. Fokus memperbaiki diri. Tidak peduli dengan kesalahan orang lain. Tidak ambil pusing dengan sifat buruk orang lain, kecuali untuk mendakwahinya dengan hikmah. Mudah memaafkan kesalahan orang lain, mempererat ukhuwah. Menganggap diri ini hina dina sehingga lupa dengan kebaikan yang baru dilakukan karena tetap saja merasa kurang.

Hidupku yang hancur berantakan sepertinya harus kupungut puing-puing kegagalan dan kerusakan itu, lalu kubuang sejauh-jauhnya dan kemudian kubangun kembali. Dari NOL. Tidak masalah. Asalkan Allah ridho. Asalkan keberkahan hidup kudapatkan. Semoga Allah memperbaiki hatiku atau menggantinya dengan hati yang baru lagi jernih…>_<…

Ayahku…

Setelah membaca kisah seorang Doktor Matematika dalam menempuh pendidikannya, saya pun jadi teringat dengan kisah hidup ayah saya… Kalau ingat orang tua, saya gak sanggup… Selalu ga sanggup menahan perasaan saya… Saya rasanya belum bisa memuliakan orang tua saya…

Bagaimanapun sifat orang tua saya, mereka tetaplah orang tua saya. Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas budi orang tua hingga ‘lunas’.

Ayah saya, tinggal di lingkungan yang kejawen… Rumahnya pun tidak permanen. Berbilik anyaman bambu. Dasar rumahnya pun tanah yang kehitaman. Mirip dengan rumah ibuku sih di kampungnya… Cuma, berbeda sedikit. Dasar rumah ibuku tanah berpasir yang berwarna coklat muda. Rumah ibuku juga tidak permanen, tetapi lebih kokoh karena material selubungnya dari kayu kalau tidak salah, atau triplek. Kedua orang tua saya berasal dari satu kota, yaitu Rembang.

Ayah saya adalah seorang anak yang betul-betul menghormati ibunya. Ibunya berjualan di pasar. Saya sempat tidak percaya bahwa kata ayah saya, beliau waktu sekolah pernah tidak memakai sepatu bahkan alas kaki. Dimarahi gurunya, tapi cuek aja… Beliau selalu nurut sama ibunya sepenglihatan saya. Waktu sekolah pun ayah saya tidak menyusahkan ibunya. Ayah saya sekolah sambil mencari rezeki tambahan, kalau tidak salah beliau membantu ibunya berjualan. Selain itu, sebenarnya ayah saya juga dibantu oleh Paman dan Pak De-nya untuk biaya sekolah.

Saya selalu diingatkan sama ibu saya. “Orang kampung itu bisa lebih pinter-pinter loh daripada orang kota. Orang kota kan kerjaannya cuma belajar. Kalau orang kampung itu sambil bantuin orang tuanya dan cari duit.” Kira-kira begitu lah kata ibu saya… Entahlah, saya waktu kecil rasanya tidak segigih orang kampung. Saya masih suka bermalas-malasan di rumah atau bermain yang tidak terlalu penting.

Ayah saya beruntung, selalu saja dimudahkan oleh Allah untuk masuk ke sekolah unggulan di kotanya itu. SMPN 1 Rembang dan SMAN 1 Rembang. Ayah saya pun kuliah bisa masuk universitas negeri, UNJ.

Ayah saya kuliah tidak mungkin pakai uang ibunya. Ayah saya dibantu Pamannya dalam urusan biaya kuliah. Namun, menurut cerita ibu saya, ayah saya sudah mengembalikan uang Pamannya itu. Ayah saya kuliah juga sambil menjahit pakaian. Beliau belajar menjahit secara otodidak. Duh, saya anaknya malah gak belajar menjahit sama ayah sendiri -_- Sampe sekarang saya cuma bisa menjahit celana robek atau memendekkan baju.

Alhamdulillaah hasil dari menjahit baju bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan setelah menikah dengan ibu saya dan punya anak pun, ayah saya nyambi jadi tukang jahit selain jadi guru Matematika SMP.

Bapak, Mama, semoga aku diberi kesempatan untuk membahagiakan dan memuliakan bapak dan mama di dunia dan akhirat ya… Semoga aku bisa hafal 30 juz Al-Quran…

Islam Membuat Saya Mencintai Semua Bidang Ilmu

Teringat saat saya masih unyu-unyunya, yang saya suka hanya Sains. Lebih dipersempit lagi, hanya Matematika. Lalu, selain itu paling juga Seni. Saya dulu suka seni. Paling suka sih Seni Rupa, khususnya aktivitas menggambar dan apapun yang berhubungan dengan etestika. Tapi gak suka bikin patung, entah kenapa… Udah, itu aja… Matematika dan Seni. Haha… 😀

Lambat laun, saya mulai mendalami Islam (padahal mah dari kecil saya sudah belajar bahasa Arab, tapi gak tau kenapa saat itu paling ga suka sama bahasa Arab dan aktivitas menghafal kitab-kitab berbahasa Arab walaupun akhirnya dihafalkan juga ^^a) saya pun mulai menyukai pelajaran Agama (dari dulu kemane ajae Rin ^^). Emang sih, terkadang tuh tergantung gurunya juga… Tapi senangnya saya dengan pelajaran agama jelas hidayah dari Allah. Perasaan itu mulai saya dapat ketika saya kelas III SMP. Itupun masih suka bolos ngaji. ^^ Maklum, dulu saya itu study-oriented. Kalau ada ujian atau PR keesokan harinya, saya lebih memilih bolos ngaji daripada ga punya waktu lebih untuk belajar. Saya saat itu selalu berambisi untuk selalu dapet nilai bagus.

Mulai SMA, saya putus mengaji karena sekolahnya sampai sore. Beruntung alhamdulillaah, saya masih bisa ikut mentoring. Entah mengapa saya selalu suka saat-saat saya mentoring. T_T Udah gitu, walaupun saya saat itu belum berkerudung, saya sangat bergembira menghadiri acara-acara Rohis SMA. Acara yang paling membekas di hati saya adalah Pesantren Kilat khas SMAN 8 Jakarta. Kenapa? Soalnya, pesantren kilat tersebut diwajibkan oleh pihak Sekolah kepada siswa-siswi muslim minimal 1x. Selain itu, saya juga baru merasakan Pesantren Kilat di luar kota Jakarta. Jadi, rasanya kayak jalan-jalan aja… 🙂 Selama Pesantren Kilat, hal yang baru saya rasakan juga adalah dipisahnya laki-laki dan perempuan secara total walaupun masih 1 tempat/gedung. Hijab hitamnya itu tinggi… Yang terlihat paling juga yang ada di depan tempat pertemuan atau pembicaranya. Itu berkesan banget buat saya… 🙂 Saya merasa nyaman berada di lingkungan yang isinya hanya wanita saja… Walaupun saat itu saya belum berkerudung.

Banyak dari teman-teman saya (biasanya memang begitu) sepulang dari Pesantren Kilat tersebut, jadi istiqomah mengenakan kerudung. Kalau saya? Ehem… waktu itu sih belum bisa istiqomah… Tapi sudah ada kemajuan lah… pakai kerudungnya tiap hari Jumat. Itu pun atas bujuk rayu mentor saya. Soalnya saat itu, saya gak mau dibilang saya pakai kerudung karena acara itu. Entah kenapa saya dulu itu anti banget sama komentar orang. Gak suka tenar mendadak karena hal kayak gitu. Selain itu, ada alasan lain juga sih… Yah maklum lah ya… Alasan mah pasti banyak.

Saya pun diterima di ITB. Hari pendaftaran ulang, saya masih belum mengenakan kerudung. Saya mengenakan kerudung pertama kali saat hari pertama kuliah. 🙂 Walaupun awalnya ragu, saya pun akhirnya memberanikan diri masuk Gamais. Ah, padahal Gamais tidak pernah menolak kan jika ada yang mau gabung di pertengahan. Tapi saya waktu itu gak kepikiran macem-macem deh… Saya hanya ingin wadah aktivitas yang nyaman dan kekeluargaan yang tiada akhir (ukhuwah). (Ah, benar juga ya… Apa yang saya inginkan telah saya dapatkan hingga saat ini… 🙂 Alhamdulillaah…)

Sejak itulah, saya semakin mendalami Islam dengan tahapan-tahapan yang sebenarnya bisa dibagi-bagi lagi. Hanya saja saya ingin menekankan bahwa setelah saya mulai mendalami Islam lebih jauh, ternyata bidang ilmu yang saya sukai semakin banyaaak… 😀

Tau gak sih, dulu saya paling gak suka sama pelajaran IPS? IPS yang paling saya gak suka adalah sejarah! 😀 Tapi, ternyata sekarang saya jadi suka banget sejarah… XD Rasanya tuh bahagia banget jika mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi dari sejarah. Selain itu, visi yang jelas ternyata memengaruhi seberapa tahan kita bisa berkutat dengan buku dan ilmu. Lalu, yang aneh juga sekarang saya juga suka banget ilmu politik! Padahal, dulu gak ngerti apa-apa lah soal politik. Bahkan, saya sempat beranikan diri untuk ikut lomba menulis tentang politik saking inginnya ide-ide saya disebarluaskan. Begitu juga ilmu-ilmu sosial lainnya… Saya sekarang malah jadi penyuka ilmu-ilmu sosial… ^^ Tapi masih gagap peta buta sih… haha… tapi sekarang mah lebih mending lah… soalnya terkadang untuk memahami kondisi politik atau sosial suatu tempat mesti tau peta juga… Oya, dulu ilmu sosial yang paling saya suka sebenernya adalah ekonomi. Tapi karena istilah ekonomi itu terlalu banyak dan saya baru sempat mengenyam ilmunya sampai kelas X (alias I SMA), maka saya masih gagap juga soal ekonomi. Saya gak ngerti soal ekonomi… Tapi sejak saya kenal Islam lebih dalam, saya sempat mengazamkan diri, suatu saat nanti saya harus paham ekonomi Islam. 🙂

Soal pendidikan juga makin saya gemari. Dulu sih udah suka soal pendidikan karena saya berasal dari keluarga guru. Banyak dari keluarga besar saya adalah seorang guru. Maka, bisa dibilang, saya melek kondisi pendidikan Indonesia. Ya gimana gak melek, wong orang tua saya sering komentarin pendidikan Indonesia… 🙂 Hanya saja, saya semakin bersemangat untuk mendalami ilmu pendidikan saat ini karena saya ingin tahu pendidikan dalam tradisi keilmuan Islam itu seperti apa sehingga mengantarkan sosok-sosok seperti para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para khalifah yang tercatat dalam sejarah dicintai oleh rakyatnya. Misalnya, kayak Shalahuddin al-Ayyubi, dan Muhammad al-Fatih.

Saya yang sudah menyukai seni sejak dulu, sekarang semakin bahagia jika saya bisa mengeksplor seni dengan Al-Quran. 🙂 Ada seni kaligrafi, seni tartil Quran, dll. Matematika pun bisa digunakan dalam memahami Islam karena keilmuan Islam tidak hanya digali dengan Al-Quran dan Al-Hadits, tetapi juga logika. Saya sangat senang belajar ushul fiqih misalnya… dan ilmu-ilmu lainnya. Dulu, saya gak suka Bahasa Arab, tapi sekarang saya bahkan ingin bisa baca kitab gundul. ^^

Dan masih banyak ilmu lainnya yang baru saya sukai setelah saya mendalami Islam. 🙂

Kia-kira kenapa ya bisa begitu? Saya yakin ini pasti ada penyebab utamanya. Saya pikir-pikir, kayaknya ya itu karena:

  1. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan
  2. Islam merupakan ajaran yang menuntut seseorang untuk mengaplikasikan atau menjalankan ilmu yang sudah didapat, jadi belajar bukan cuma soal biar pintar, tapi soal biar makin sholeh dan beradab
  3. Islam memberi iming-iming hadiah berupa surga di akhirat yang tak ternilai dan tidak ada bandingannya di dunia dan jika salah jalan, nanti bisa ke tempat yang tidak diinginkan di akhirat (baca: neraka)
  4. Islam memberikan kebahagiaan bila kita menjalankan semua yang harus dikerjakan

🙂

Bertepuk Sebelah Tangan :'(

Entahlah, apakah cemburu kepada seorang teman itu dibolehkan? 😥

Sering kali aku merasa cemburu dan itu membuatku sibuk memikirkan itu… Apalagi jika seorang sahabat yang aku sayangi menaruh prasangka buruk kepadaku dan lebih memilih berhusnuzhan kepada selainku. Rasanya ada yang tidak enak di dalam hati. Terkadang aku berusaha menghibur hatiku, “Aku masih punya suami tercinta…” Namun, tidak selamanya aku berhasil menghibur diri. Ada kalanya jatuh juga air mataku karena rasa cemburu. Ingin rasanya membuka mulut, tetapi aku merasa seperti orang konyol. Makinlah merasa terpuruk. 😥

Ah, aku sensitif sekali terkait ini…

Aku seperti tidak punya teman saja… Padahal, aku punya banyak teman… 😦

Ya, berkali-kali aku merasakan keterpurukan ini karena seorang sahabat. Memang indah sih ya jika disayangi orang banyak… Inilah yang membuatku berkali-kali merasa cemburu.

Dahulu, kala teman-temanku berbagi note, pasti ada beberapa orang yang di-tag. Yang di-tag pertama rasanya seperti suatu kehormatan. Maka, ketika aku yang biasanya di-tag, lalu tiba-tiba namaku hilang dari daftar, jujur saja itu membuatku merasa sedih… 😥 Biasanya, aku hanya menggumam, “Hoo, berarti aku selama ini bertepuk sebelah tangan ya…”

Entahlah, aku hanya berharap kepada Allah semoga Allah mendekatkan aku kepada orang-orang yang menyayangiku dan aku sayang padanya. Semoga Allah juga menghindariku dari perasaan yang bertepuk sebelah tangan… 😥 karena itu menyakitkan…

Biasanya ketika aku mulai mendapati fakta bahwa aku bertepuk sebelah tangan, aku seakan-akan seperti menelan ludah dengan tatapan yang sedih… Hawa nafsuku tiba-tiba menuntut diriku untuk menarik perhatian orang yang kusayangi itu agar dia sayang padaku. Namun, aku berusaha mengendalikan diriku agar aku tidak seperti orang yang mengiba-iba kasih sayang orang lain.

Ah sudahlah…

Standar Bahagia

Terkadang setiap manusia sudah punya standar kebahagiaan masing-masing, entah sesuai dengan worldview Islam atau tidak. Entah akhirat oriented atau dunia oriented. Entah bersifat abstrak atau bersifat materi. Semua orang punya standarnya. Namun, semua itu bisa hancur karena sebuah tekanan dari orang sekitar. Standar kebahagiaan bisa saja mulai bergeser tanpa disadari karena pengaruh orang lain.

Aku yang sudah bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan dengan hidup sederhana, bisa juga merasakan ada yang tidak enak ketika orang sekitar membuat definisi sendiri tentang kebahagiaanku.

“Wuih enak tuh Rin teman-temanmu sekarang yang jadi PNS di Kementerian tunjangannya belasan juta.”

“Ih sekarang temanmu itu gemuk. Punya duit sih ya… Sekarang jadi cantik.”

“Dia kemarin menikah. Ternyata gaji suaminya lima belas juta.”

Aku yang mendengar itu langsung merasa tidak enak karena merasa tidak berguna apa-apa. Seakan-akan semua diukur dengan materi. Sebenarnya aku ingin menjauh dan tidak ingin mendengar celetukan-celetukan itu.

Aku sudah punya standar bahagia sendiri. Aku bahagia hidup sederhana selama hatiku tidak lalai dari mengingat Allah. Allah-lah yang kuyakini bisa membuat siapa pun merasa bahagia walaupun ia punya banyak keterbatasan. Karena bahagia itu letaknya di hati.

Tapi siapa sangka aku akan menemui orang-orang yang punya standar kebahagiaan yang berbeda dan jujur saja, celetukan mereka mengiris hati. Bagi mereka itu, bahagia baru bisa didapatkan bila penghasilannya belasan juta atau lebih dalam sebulan. Dengan penghasilan itu mereka bisa keliling-keliling dunia, menikmati makanan ala restoran setiap hari. Hidup dengan fasilitas yang lengkap, memiliki furnitur-furnitur yang cantik, rutin ke salon, mereka baru bisa merasa bahagia.

Justru aku tidak bahagia jika seandainya aku hidup berfoya-foya tapi tidak sebanding dengan pengorbananku untuk meraih surga. Misalnya, “terlalu” sering jalan-jalan dan menghabiskan uang untuk makan makanan ala restoran, tetapi aku lalai membaca Quran, aku lalai sedekah, aku lalai tahajud, dan bentuk kelalaian lainnya. Apakah kamu bahagia dengan kebiasaan yang seperti itu? Aku tidak yakin kamu akan bahagia. “Huwalladzii anzalas-sakiinata fii quluubil mu’miniina…” Dialah Allah yang menurunkan ketenangan jiwa pada hati orang-orang mukmin. Apa yang akan terjadi jika kita lalai dari mengingat Allah? Hoo jangan heran jika orang-orang yang lalai dari mengingat Allah bisa mudah tersinggung, mudah iri hati, mudah bersedih hati, mudah kecewa, dan lain-lain. Mereka tidak siap dengan ujian-ujian yang datang. Ujian itu bukan ketika musibah datang saja, tetapi juga ketika nikmat datang, itu pun ujian. Jika nikmat datang, ujiannya adalah apakah kamu besyukur? Apakah kamu tidak lalai dari mengingat Allah karena saking gembiranya? Apakah kamu akan ujub dan sombong? Apakah kamu mau berbagi kebahagiaan? Di situlah ujiannya.

Standar mereka yang berangan-angan panjang sungguh berbeda denganku. Aku bahagia jika aku bisa bermanfaat bagi orang banyak. Jika untuk mengerjakan banyak kebajikan itu membutuhkan uang yang banyak, maka aku memohon kepada Allah semoga Allah memberikanku rezeki yang lebih untuk itu. Lagi pula, bukankah Allah telah menjanjikan akan memberikan pahala yang setimpal dengan orang yang melakukan banyak kebajikan dengan hartanya walaupun kita tidak punya harta sebanyak itu? 🙂

Bagiku harta bukanlah segalanya. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana aku nantinya bisa ke surga, surga firdaus. Bagiku yang terpenting adalah nanti di akhirat aku dijauhkan dari neraka.

Aku senang jika mendengar ada orang yang kaya raya, tetapi uangnya lebih banyak ia sedekahkan untuk umat, untuk orang miskin, dan untuk dakwah. Ingat loh, sebagian besar, bukan cuma seadanya. Orang itu biasanya hidup tetap sederhana. Walaupun ia mampu membeli 3 mobil, tetapi ia hanya membeli cukup 1 mobil saja karena tidak perlu setiap anggota keluarga punya mobil masing-masing 1 mobil. Walaupun ia mampu membeli pakaian, tas, dan sepatu yang super mewah, tetapi baginya itu tidak terlalu dibutuhkan. Ia lebih senang jika uangnya lebih banyak untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Aku acungkan jempol untuk orang-orang seperti itu.

Dengan rezeki yang seadanya bukan berarti aku tidak bisa bermanfaat buat orang banyak. Aku sungguh bahagia jika aku bisa rutin tiap minggu mengisi mentoring beberapa kelompok. Itu hanya menghabiskan ongkos pulang-pergi sebesar Rp. 8000,00 dan makan siang sekitar Rp. 8000,00 s.d. Rp. 15.000,00. Aku pun bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain terutama orang tua (sebagai balas budi) jika aku memperoleh sesuatu. Aku bahagia jika aku bisa rutin muraja’ah hafalan quran. Aku bahagia jika seluruh waktuku habis untuk hal-hal yang berbuah pahala. Aku bahagia jika aku berhasil manage semua urusan rumah dengan baik. Aku bahagia jika bisa membahagiakan suamiku. 🙂

Namun, tidak bisa dimungkiri, aku pun jadi merenung. Aku merasa sedih jika ada orang lain yang menyeletuk tentang penghasilan dan pekerjaan. Apalagi jika yang menyeletuk itu dari keluarga sendiri atau tetangga orang tua. Aku merasa sedih karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Di sana aku pun belajar ikhlas bahwa tidak semua orang mau menghargai pemberian kita. Selalu saja dicari salah dan celahnya. Selalu saja dianggap kurang walaupun kita udah berusaha melakukan semampu kita. Ya orang seperti itu nyata adanya. Mereka sangat menekan. Tidak ada tekanan yang lebih besar bagiku selain tekanan dari orang sekitar, orang-orang terdekat, yakni keluarga sendiri.

“Kamu kurus banget Rin sekarang. Kenapa? Banyak pikiran ya? Hidupmu susah?”

Apakah ada yang salah dengan kurus? Apakah dengan aku kurus itu tanda aku tidak bahagia? Buktinya suamiku tambah gemuk. 🙂 Itu tanda hidup kami tidak susah seperti yang mereka bayangkan. Bahkan yang aku rasakan saat ini, hidup kami “lebih” dari cukup. Banyak pikiran? Banyak pikirannya justru jika selalu mendengar celetukan-celetukan yang mengiris hati itu, yang membandingkan aku yang tidak bekerja dengan teman-temanku yang berpenghasilan besar. 😦 Tidakkah mereka sadar? Tapi aku yakin bukan karena itu aku sekarang lebih kurus. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya karena dahulu saat kuliah aku keseringan ngemil… ^^ Dulu kan sering stres ya, jadinya pengobat stresnya itu ngemil deh. Kalau sekarang justru aku ga suka ngemil. Soalnya aku gak stres sesering dulu… Hehe bisa aja nih Rina ngelesnya… Aku pikir karena kerjaanku saat ini lebih membutuhkan energi fisik, mungkin itulah penyebabku lebih kurus. Olah raga lah ya… Hehe…

Aku merasa biasa saja saat ini. Aku tidak merasa hidupku susah seperti yang orang lain bayangkan. ^^a Aku tidak suka panjang angan karena itu menyakitkan. Sudah kupaparkan di atas bahwa aku bahagia jika aku bisa membahagiakan orang banyak dan dekat dengan Allah. Justru aku merasa sedih jika aku sedang futur dan malas ibadah. Tetapi, terkadang celetukan-celetukan orang lain juga membuatku sedih. Tanpa sadar, mereka merusak mindset-ku tentang standar bahagia. 😦 Celetukan-celetukan itu hanya mengajarkan orang lain untuk tidak bersyukur. Tapi mau bagaimana lagi, mereka masih bagian dari keluarga besarku. Aku maklumi. Semoga Allah suatu saat nanti memberikan aku sebuah keajaiban dan kisah yang indah sehingga tidak ada lagi celetukan-celetukan yang menyakitkan.