Canda Suami (2)

Saya (ceritanya) baru saja menghidangkan masakan di hadapan suami. Saya: Nih A, dimakan… 🙂 Suami: Hmm… (dengan ekspresi lebaynya 😀 ) NB banget nih, Yang… (NB: Nikmat Banget). Saya: (cengar-cengir) Suami: Yang, garamnya kurang satu per lima puluh empat sendok. … Continue reading

Sahabat Terbaikku… :’)

Kisah hidup saya unik sepertinya. Masa-masa saya masih sekolah dulu berlalu begitu saja. Berkali-kali saya memperoleh teman dekat atau sahabat, ternyata setelah lulus kuliah kami tidak lagi sedekat dahulu. Bahkan, ada yang hampir tidak pernah lagi saling kontak. Tidak disengaja sih… Mungkin, karena kami sibuk dengan urusan kami masing-masing dan mungkin juga karena ketertarikan seta minta kami sudah tidak sama lagi. 🙂

Pun ketika kuliah, semua orang sudah saling memisahkan diri. Kalau pun ada sampai sekarang dekat dengan saya, tidak semua mereka bisa selalu menerima saya apa adanya. Yang menyedihkan, karena suatu hal, saya merasa kehilangan dua orang sahabat. Entahlah, apakah saat kami dekat, persahabatan kami kurang tulus? 😦

Terkadang saya merenungi tentang sahabat-sahabat saya. Seberapa pun dekatnya mereka dengan saya, belum tentu (tidak ada yang menjamin) mereka bisa terus mencintai saya. Bisa saja di saat mereka mengetahui satu aib saja dari diri saya atau ada perbedaan pendapat, mereka mulai menjauhi saya. Tidak ada yang menjamin. Saya sungguh merasa bersyukur jika Allah karuniakan saya sahabat-sahabat yang tidak mudah meninggalkan saya baik secara fisik maupun hati mereka. 🙂

Dunia luar terkadang membuat saya takut dan sedih. Yah, Allah kan sudah bilang ya bahwa manusia itu menjadi ujian bagi manusia lainnya. Namun, alhamdulillaah, Allah mengaruniakan saya sahabat yang bisa menerima saya apa adanya. Ia tahu banyak kekurangan saya, tetapi ia tetap mencintai saya. Dialah suami saya tercinta. Semoga Allah melanggengkan cinta kami sebagai suami-istri hingga kami diberi rahmat memasuki surga-Nya kelak dalam keadaan berpasangan kembali. Aamii… 🙂

Papasan yang Berkali-Kali (2)

Setelah aku tahu kamu ini orangnya yang mana, tetap saja aku tidak berani menyapa atau bertanya sesuatu langsung kepadamu jika aku ada pertanyaan. Ya iya lah… Masa’ langsung sok kenal gitu sih… Da aku mah apa atuh? Hanya butiran debu 😀

Ya gitu deh kalau melihatmu lewat atau di suatu tempat tertentu, aku sih pura-pura tidak tahu aja… Yah… aku anggap kau seperti ikhwan lainnya yang sama-sama tidak terlalu kukenal. Faktanya kan memang banyak ya ikhwan yang namanya aku tahu tanpa aku tahu orangnya yang mana. Ikhwan yang sudah kukenal sih yang satu angkatan Arsitektur aja. Kenal di sini maksudnya tidak ada perasaan canggung jika berbicara langsung atau perasaan malu-malu lah…

Kau sudah tahu kan, aku yang setelah kuliah sungguh berbeda dengan aku yang sebelum kuliah kalau terkait interaksi dengan yang namanya “laki-laki”. Mungkin, kondisi kampus yang “mayoritasnya” adalah makhluk bernama laki-laki itulah yang membuatku berubah. Emang rada aneh sih ya… Setelah berkerudung malah lebih berani berbicara dengan laki-laki daripada sebelum berkerudung. Ah, ini mah ceritanya bisa panjang kenapa sebelum aku kuliah bisa takut banget berdekatan dan berbicara dengan yang namanya laki-laki. 🙂 Bayangkan saja, dahulu ketika ada temanku yang laki-laki duduk di sebelahku walaupun hanya cuma 1 menit saja tanpa maksud apa-apa, aku tidak nyaman. Apalagi yang lebih dari itu… Bahkan, waktu SMP aku selalu memandang dengan perasaan geli kalau melihat temanku pacaran. Entahlah, di mataku pacaran itu menggelikan walaupun saat itu aku masih jauh dari cahaya Islam.

Namun, rasa takutku terhadap laki-laki berkurang sedikit demi sedikit setelah aku lulus SMA karena kondisi kampusku yang memaksaku senantiasa berinteraksi dengan yang namanya laki-laki.

Walaupun begitu, aku tetaplah wanita yang pasti punya perasaan fitrah 🙂 Jadi, sebenarnya karakter ‘galakku’ terhadap laki-laki atau sikapku yang terlihat seakan-akan tidak bisa berlemah lembut di hadapan laki-laki, itu karena suatu alasan. Aku berusaha menutup pintu ‘itu’. Aku tidak ingin jatuh cinta dan aku juga tidak ingin ada yang jatuh cinta kepadaku karena kelembutanku. ^^

Sikapku dahulu kepadamu yang sering kali ‘galak’ atau tidak menghargaimu sebagai seorang laki-laki pun juga karena aku ingin menutup ‘pintu’ itu, suamiku… 😛 sama dengan sikapku terhadap ikhwan lainnya… (Tapi mungkin ada faktor kekanak-kanakkan juga sih ya hehe… soalnya galaknya berlebihan kayaknya)

Tapi sepertinya, ikhwan yang baik tidak akan pernah masalah dengan sikapku ^^ Kau pun terlihat sangat cuek dan apa adanya hihi… Sampai sekarang pun kau masih selalu bersikap santai dan apa adanya. Itulah dirimu… Tidak banyak tingkah.

Btw, kapan ya kita mulai ada dialog secara langsung? Aku agak lupa sih ya… hehe

Aku juga ga tau sejak kapan kamu tau namaku atau kamu tau orang yang bernama Actarina Georgianti itu adalah aku… Kita kan sama-sama tidak berani memulai percakapan langsung. Iya kan? ^^ Apakah dirimu ingat, suamiku? Hihi.. *duh penting banget ya diingat-ingat :D*

Kalau tidak ingat, memang bukan sesuatu yang istimewa ya berarti hahaha… Perasaan kita masing-masing saat itu mungkin emang masih sama-sama lempeng aja kali yaa… 😀

Tapi karena aku sekarang telah menjadi istrimu, aku rela kok bersikeras mengingatnya XD

(beberapa menit kemudian…)

Ah, aku gagal mengingatnya hahaha… 😀

Yang pasti saat anak arsitektur berkumpul untuk berkomentar di note yang kutulis tentang kecintaanku kepada Matematika dan Kalkulus, kau pun ikut berkomentar di sana 😀

Saat itu yang berkomentar mengaku senang dengan Matematika. Aku ingat ada Kak Zahra, Kak Arief, dan dirimu… Yang menarik itu tiba-tiba dirimu menantangku mengerjakan soal matematika yang katamu cukup sulit tapi kamu telah bisa menyelesaikan dalam waktu 4 hari.

Tahukah kamu, suamiku? Aku langsung mengambil kertas dan pensil untuk mengerjakan soal tantanganm itu. Aku selalu tertantang mengerjakan soal Matematika atau Kalkulus, bahkan hingga aku di tingkat 3. Jurusan Arsitektur loh… haha Tapi, tingkat 4, aku mulai banyak lupaaa XD

Karena waktu itu aku ada tugas kuliah yang harus kukerjakan terlebih dahulu, aku tepaksa menunda menyelesaikan soal tantanganmu tersebut. Selang beberapa hari, aku sebenarnya mulai lupa tentang soal tantanganmu. Tapi aku yang betul-betul cinta matematika, sekadar iseng aku mencoba melanjutkan kembali menyelesaikan soal tantanganmu. Bukan karena kamu, tapi karena matematikanya ya XD Wajar-wajar saja kan ya… Apalagi sama yang satu jurusan. Tapi, aku perhatikan kok kayaknya ada yang keliru dari soalnya. Hmm… tapi aku bingung nanyanya gimana? Aku kan malu bertanya langsung ^^ Yap! Saat itu bahkan aku belum berani berbicara langsung denganmu XD

Aku mencoba corat-coret di kertas. Saat itu aku sedang di galeri bersama teman-temanku.

Lalu, aku melihatmu juga ada di galeri. Aaaah… gimana nanyanyaaa??? XD Aku gak berani bertanya langsung kepadamu saat itu. Kau pun di sana cuek-cuek saja seperti pura-pura tidak melihatku hehe.. Padahal, kau telah memberikan soal tantangan kepadaku dan saat itu aku sedang mengerjakan soal tantanganmu dan kebingungan maksud soalnya… -_-!!  Kan nulis soal matematika itu agak sulit jika cuma lewat facebook ya… ^^a

Aku masih corat-coret, akhirnya kau pun terlihat keluar galeri, mungkin kau mau pulang… Aku di galeri masih saja corat-coret berusaha mengasumsikan sendiri maksud soalnya.

Aku pun lelah dan ingin pulang. Ya sudahlah aku akhirnya benar-benar pulang… Aku pun keluar gedung arsitektur melalui pintu kantin. Hampir sampai gedung seni rupa, tiba-tiba *jreng jreng* aku berpapasan denganmuuu.. Kita pun jadi salting (salah tingkah) begitu… XD

Yap aku ingat sekali, ekspresi wajahmu itu terkaget-kaget ketika bertemu denganku *eaaaa* 😀

Kita diam membisu, tidak saling menyapa. Ah biasanya juga sepeti itu kan hehe.. Masalahnya sih yang aku pikirkan saat itu bukan apa-apa, aku hanya ingin menanyakan soal tantanganmu ituuu… minta penjelasan tambahan XD

Akhirnya lidahku begerak dan berusaha memanggil namamu, “Kak Rizki!” *eaaaa* (duh maaf “eaaa” nya agak lebay, biar lebih dramatis aja 😀

Tapi sayangnya kau seperti ingin segera masuk gedung Arsitektur dan tidak mendengar panggilanku. Maka, aku ulangi lagi memanggilmu, “Kak… Kak Rizki… Mau nanya dong…”

Akhirnya kau pun berhenti dan memenuhi panggilanku. Akhirnya aku benar-benar menanyakan soal ituuu… (silakan yang mau ber-“kyaa-kyaa” haha) dan bisa-bisanya kau bilang, “Saya lupa. Saya cek dulu ya…” -_-!!

Setelah dicek dan diperbaiki soalnya, aku langsung semangat mengerjakan soal itu kembali. Alhamdulillaah, aku bisa mengerjakannya hihi… 😀 Yes!

Lalu, aku laporan deh di note. Tapi kau bilang jawabannya salah 😦 Aku gak percaya, maka aku coba ulangi lagi. Ternyata ada yang kurang teliti. Aku salah hitung haha… Aku perbaiki kerjaanku dan akhirnya jawabanku benaaar… Yeay! 😀

Eh, apa itu ya saat aku mulai berbincang-bincang langsung denganmu? Apa yang kau rasakan saat itu, suamiku? Hihi…

Aku ga tau ya perasaan laki-laki tuh kayak gimana… Yang pasti aku melihat ekspresi wajahmu terlihat gugup *eeaaa* Kalau aku sih ya, jangan bayangkan aku seperti akhwat pada umumnya. Aku menganggap semua ikhwan sama saja. Baik mereka aktif di lembaga dakwah maupun yang tidak aktif. Semua sama saja. Hanya saja, aku masih perlu tambahan ‘energi’ (keberanian) untuk memulai percakapan.

Ssstt… deg-degan saat mulai percakapan denganmu sempat ada sih… 😀 tapi segera hilang kok… Aku beranikan diriku untuk ”kepuasan hati” bisa menyelesaikan soal tantanganmuu XD aku kan pecinta matematika hehe…

(bersambung…)

Papasan yang Berkali-Kali (1)

Mungkin, dulu aku hanya menganggap papasan itu biasa saja… Tapi, setelah aku menjadi istrimu, kenangan itu selalu membuat aku tersyum dan hatiku berbunga-bunga. Semoga kenangan ini menjadi pemantik cinta kita agar senantiasa bersemi walaupun usia kita sudah kakek-nenek dan memiliki cucu-cucu yang lucu dan imut-imut.

Aku tidak tahu apakah papasan yang terjadi berkali-kali itu memang sebagai tanda dari Allah atau tidak. 🙂 Tapi, papasan-papasan itu tidak bisa kulupakan.

Jangan kaget, suamiku, aku bisa mengingatnya dengan detail 😉

Hmm… kapan ya aku pertama kali bertemu denganmu? Aku tidak terlalu yakin kapannya dan momennya seperti apa.. Tapi, yang pasti aku sudah melihatmu (lebih ngeh lah maksudnya) sejak aku berada di barisan apel akhawat Mata’ ketika aku masih menjadi anggota baru Mata’. Aku melihatmu berada di barisan para senior. Itu karena dirimu saat itu begitu mencolok ^^ Kenapa coba? Dirimu dengan PD nya mengenakan jahim IMA-G (himpunan mahasiswa Arsitektur) saat apel Mata’. Haha… Ya, bagaimana mungkin itu tidak mencolok kan… Selain itu, aku juga baru tau ternyata ikhwan Arsitektur yang ada di Mata’ ada lagi selain Kak Reza PH. Aku benar-benar baru tahu saat itu… Selama ini kami yang 2008 biasa dibimbing oleh kak Reza PH, teman satu SMA mu itu… 🙂 Maka, aku terheran-heran dengan sosok yang lain itu… Kamu… Iya kamu.. (Sampai-sampai aku pernah salah orang.. hehe) Soalnya, dirimu tidak pernah terlihat sebelumnya di hadapan kami 2008.

Lalu, yang aku ingat juga pertama kali aku tau dirimu itu justru dari tulisanmu. Aku agak lupa sih urutan kejadiannya (hehe penting ya?) Aku masuk Arsitektur, osjur, dan mulai banyak kakak-kakak senior yang FB nya aku add sebagai friend, atau sebaliknya mereka yang add aku. Aku lupa dulu itu duluan aku atau dirimu ya yang add? ^^a *gak penting bgt deh haha

Eits, tapi yang mau aku kisahkan ini penting kok… ^^ Aha! Aku rasa analisisku kali ini benar! Tidak penting siapa duluan yang add. Yang pasti dirimu ini kan teman dekatnya Kak PH ya, sudah pasti kamu sering muncul bercakap-cakap dengan beliau di media sosial kan… Nah, mungkin di sana kita mulia menjadi friend. Entah bagaimana kejadiannya, aku membaca note-mu tentang suatu hal yang selama ini aku pertanyakan. Yap! Pertanyaan besar bagiku yang belum terjawab, “Bagaimana bisa urutan ayat Al-Quran berbeda dengan urutan turunnya?” Saat itu, kau pun cukup kelabakan menjawab pertanyaanku.

Jangan bayangkan saat itu aku merasakan deg-degan seperti halnya wanita yang berinteraksi dengan pria. Tidak. Da aku mah apa atuh? Pakai kerudung aja baru… Pakai pakaian syar’i aja baru belajar. Dulu, bahkan sekali-kali aku masih mengenakan celana sebagai luaran. Belum terpikir aku bisa punya suami seperti kamu yang aktivis dan cukup paham agama. Aku kayak merasa tidak pantas aja saat itu berharap punya suami yang aktivis dakwah 😦 walaupun harapan itu tetap ada sedikit.

Tulisanmu benar-benar kontroversial. Membahas hal-hal yang fundamental dalam agama. Ini jarang ditemukan. Ini klop banget sama karakterku dan gaya berpikirku yang dominan otak kiri. Hasil tes kecerdasan dan minatku saja cenderung pada ilmu logika dan matematika (serta spasial). Maka, aku ini tipe orang yang mudah terkoneksi jika suatu hal dibahas dari segi logika.

Dari sana kita memang mulai ada interaksi. Aku bertanya dan dirimu menjawab. (Namun, sebenarnya aku masih tidak tahu kau ini yang mana??? *jreng jreng* Gubraks ^^a Aku hanya tahu namanu saja, gak tahu kamu ini yang mana orangnya hihi…)

Kau pun sempat mengungkapkan rasa heranmu, kok tumben ya ada akhwat yang senang sama bahasan kayak gini? ^^ Ya, itulah aku… Aku tertarik bahasan-bahasan yang dibawa kepada cara berpikir logis. Sejak itu, aku pun menjadi pelanggan note yang kau tulis hehe… Diam-diam ada perasaan kagum dalam hatiku. Rasa kagumnya sih biasa aja ya, belum ada perasaan suka. Diri ini hanya merasa butuh menyerap banyak ilmu darimu. Perasaannya hanya sebatas itu. Kagum dan hormat menjadi satu. Ya, aku mulai menghormatimu. Bagaimana tidak? Kau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan besarku lewat tulisan. 😀

Saat itu kau belum dikenal oleh teman-temanku yang lain, apalagi yang akhawat.

Terus ya, yang menarik itu waktu ada orang yang sering lalu-lalang di studio 2008 terutama dia itu sering mengobrol dengan teman-temanku ikhwan yang aktif di Gamais, seperti Suhendri, Alam, dan Kak Mazhar. Aku sih tidak peduli ya siapa itu? Aku gak kenal… hehe Tapi di saat yang sama, aku tetap ‘setia’ membaca tulisanmu di FB. Kalau aku melihat ada pernyataanmu yang “menurutku” aneh, biasanya aku langsung mendebatmu. Lalu, ditambah komentar orang lain juga, jadilah akunmu ramai 😀

Aku mulai penasaran kamu ini orangnya yang mana ya? Kamu seperti orang jadi-jadian saja.. Yang terlihat hanya akun FB nya aja, tetapi batang hidungmu saja aku gak tau… Wajar kan ya rasa penasaran itu ada… soalnya satu jurusan sih 😀 Aneh malah kan kalau ga tau orangnya… Tapi ya gitu… sampai cukup lama aku ga tau dan ga peduli yang mana orangnya… Dia ikhwan ini, bukan akhwat. Buat apa tau? Pikirku begitu.

Tiba-tiba saja aku teringat kok kayaknya orang yang lalu-lalang di studio 2008 mirip ya sama orang yang dulu aku lihat di apel Mata’ pertama kali. Tapi karena aku pernah salah orang (aku pikir dia seniorku yang di unit lain yang ternyata pakai jahim perminyakan) maka aku sudah tidak peduli lagi. Tapi lagi-lagi aku melihatnya di apel. Ini tuh seniorku di unit lain atau anak arsitektur sih? Huaaa aku jadi bingung sendiri hahaha… Ya gimana ya, jahim IMA-G kan warnanya sama dengan jaket Mata’ 😀 Tapi orang ini mirip dengan orang yang lalu-lalang di studio 2008…

Namun, akhirnya aku yakin yang aku lihat di apel Mata’ bukanlah seniorku di Perminyakan atau unit lain. Ini benar-benar anak IMA-G. Haha… karena aku lagi-lagi melihatmu mengenakan jahim IMA-G pada apel Mata’ dan anak perminyakan itu ternyata bukan anggota Mata’ haha…

Lalu, aku berusaha menghubungkan data-data yang berserakan ini… Orang yang lalu-lalang itu jelas mirip dengan yang di apel itu… tapi aku ga tau sih namanya siapa… Wajar ga sih penasaran nama senior yang satu jurusan yang sama-sama aktif di organisasi dakwah di saat jurusannya itu sedikit kader? Istilahnya tuh aktivis dakwahnya langka. Aku pun mulai menduga-duga, apa ini ya yang namanya Rizki Lesus yang tulisannya aku sering baca? *uhuk uhuk* 😀

Dugaanku begitu kuat tapi aku ga pernah bisa (ga berani) membuktikannya 😀

Hingga pada suatu saat selebaran kuesioner dibagikan ke 2008, “Siapa yang layak menjadi calon Kepala Garis?” Garis adalah organisasi dakwah di jurusan Asitektur. Entah yang membagikan itu siapa? Tapi, lagi-lagi aku melihat orang itu mendatangi temanku, Suhendri. Sambil mengisi kuesioner, aku mendatangi Suhendri. Aku berniat mencari tahu namanya karena ingin kutuliskan namanya di kuesioner ini sebagai usulan calon kepala Garis karena dia aktif di Mata’ selain kak PH 😀

“Suhe, itu tadi siapa sih?”

“Rizki. Itu namanya kak Rizki.”

“Apa?”

“RIZKI.”

“Rizki?”

“Iya, kak rizki.”

“Hoo itu yang namanya kak Rizki..”

Hihi.. Aku sumringah karena data-data yang berserakan itu telah ada kesimpulannya 😀

Aku pun menuliskan namanya sebagai usulan calon Kepala Garis. Seingatku, aku hanya menuliskan namanya saja, tidak mengusulkan nama lain. Soalnya 2008 yang lain pasti menulis nama Kak PH ^^ dan sepertinya bisa jadi “hanya” aku saja yang menuliskan nama itu.

Kutuliskan namanya, kak Rizki. 🙂 *ingin ada backsoundnya nih hehe*

(bersambung…)