Kompetisi Tidak Penting dan Bahaya bagi Anak???

This gallery contains 1 photo.

Suatu ketika saya membaca tulisan tentang kompetisi dan kolaborasi. Isi tulisan tersebut pada intinya menekankan bahwa kompetisi itu tidak penting. Yang lebih penting itu kolaborasi. Saya mengernyitkan dahi tanda belum bisa menerima seutuhnya isi tulisan tersebut. Maslahnya, bagi saya, argumen-argumen … Continue reading

Tantangan Menjaga Hati (Curhat)

Di era medsos saat ini tantangan menjaga hatinya cukup berat. Aku sangat merasakan arus datangnya energi negatif dari medsos ini. Yah pada awalnya sih siapapun tidak peka dalam menjaga hatinya saat menggunakan medsos. Namun, dengan bertambahnya ilmu agama yang diapahami, lama-lama kita pun (mungkin tidak semua) menyadari bahwa apa yang kita lakukan dahulu bisa mengandung riya’ dan sombong. Namun, ada yang mau meluruskan jalannya yang salah, tetapi ada juga yang tetap di jalan yang sesat alias terus-menerus terbelenggu dalam kebiasaan riya’ dan sombong. Bagi yang menyadari kesalahannya dan hendak memperbaikinya, usahanya itu sepertinya menjadi tantangan yang begitu besar jika ia masih bermedsos ria. Saya pun merasakannya. Sudah ditahan-tahan untuk tidak menceritakan hal-hal yang mengundang pujian, eh melihat ada orang lain yang sedikit-sedikit suka pamer, saya jadi jengkel. Gak suka aja melihat sikap kayak gitu. Saya pun tergerak untuk meruntuhkan kesombongan orang itu. Saya sebenarnya ingin bilang ke orang itu, “Mbak, Mas, biasa aja kaliii… Baru segitu aja udah pamer dan merasa bangganya selangit… Saya yang lebih dari itu aja biasa aja…” Cuma, gak mungkin lah ya ngomong begitu… Yang ada jadinya saya jadi ikut-ikutan pamer deh… heu… 😦 Padahal mah, saya gak merasa bangga sih dengan capaian yang saya pamerkan itu… Saya ulangi lagi, saya gak merasa bangga dengan capaian tersebut. Namun, saya hendak memberi pelajaran kepada orang yang gak pantas sombong itu. Kenapa coba saya gak bangga? Ya pikir-pikir aja deh… Biasanya tuh orang yang ahli beneran pada suatu hal biasanya dia pengen gak sih membangga-banggakan dirinya dengan kemampuannya itu? Yah ada yang begitu, tapi banyak juga yang gak begitu… Soalnya dia tau bahwa di atas langit itu ada langit. Orang yang sungguh-sungguh ahli itu tanpa dia harus cerita panjang lebar tentang kelebihan dirinya, orang-orang mah udah pada tau…

Contoh aja nih, misalnya ada orang juara olimpiade internasional mata pelajaran Matematika biasanya dia tidak perlu tuh cerita-cerita ke semua orang bahwa dia jago matematika. Lah ngapain capek-capek cerita… Prestasinya itu sudah membuktikannya kok… Nah beda dengan orang yang gak pernah juara lomba Matematika tapi dia pengen dianggap jago matematika. Biasanya mulutnya itu bisa melakukan segala cara agar semua orang mau mengakuinya jago matematika. Hehe… Jujur aja sih saya suka kesal melihat tingkah laku orang kayak gitu… Beda lagi kasusnya kalau sang jawara tersebut malah direndahkan orang lain yang gak tau apa-apa alias bodoh. Siapa sih yang gak jengkel jika direndahkan??? 😀 Itu sih contoh aja ya… Aplikasinya bisa di banyak kasus. Saya sendiri sering mengalami direndahkan orang lain… Kesaaalnya itu bisa berhari-hari kalau saya udah direndahkan orang lain yang gak pantas merendahkan. Tau gak sih? Saya itu bisa menangis dan jadi marah-marah sendiri kalau udah kesal karena direndahkan orang lain. Suami saya pun jadi kena getahnya… Suami saya pasti akan nanya ke saya kenapa dari tadi marah mulu. Ya saya bilang aja saya lagi bête sama orang lain. Jika wajah saya yang cemberut di hadapan suami berdosa dan membuat saya jadi meninggikan suara, semoga Allah mengampuni saya. >_< Semoga orang yang telah merendahkan saya itu dapet dosa yang berlipat-lipat selama dia belum taubat/belum merasa bersalah.

Yah bisa dibilang di medsos itu kita akan sering bertemu dengan orang-orang yang sedikit-sedikit suka pamer atau merendahkan orang lain. Ini mah aku curhat aja hehe… Bukan mau dakwah atau mencari solusinya. Ini murni curhat aja… >_< Suliiit banget menjaga hati jika masih bermedsos ria. Ketemu orang yang suka pamer tuh jadi tergerak untuk pamer juga. Apa dia gak nyadar ya bahwa sikapnya yang menginspirasi orang lain berbuat buruk/dosa, dosanya kena ke dia juga. Yah walaupun sebenarnya kita bisa memilih untuk mengabaikan sikap lebaynya itu sih… Anggap aja orang itu gak ada… Atau anggap aja orang itu gila… Iya gila… Gila pujian dan kehormatan. 😀 Contoh aja nih… Ada orang yang pengen dianggap serba bisa sehingga dia mencoba mencari pujian orang lain dengan berbagai cara. Dia gak pernah punya prestasi di bidang Sains misalnya, eh dia pake ngaku-ngaku cinta sains untuk dianggap jago sains. Ah itu contoh aja sih… Atau dia baru aja belajar ushul fiqh, misalnya, eh dia udah merasa paling paham ushul fiqh di hadapan orang-orang yang lulusan pesantren. Misalnya. Coba deh bayangin aja… Gimana orang lulusan pesantrennya gak jengkel coba??? Wajar lah kalau orang yang kayak gitu menjengkelkan… Atau ada orang yang pengen diakui jago melukis/menggambar. Dia gak mau kalah lah… haha… Padahal mah, dia gak punya riwayat suka menggambar atau menjuarai lomba-lomba menggambar. Gimana gak menjengkelkan coba orang kayak gitu bagi yang jelas-jelas jawara lomba menggambar??? Haha…

Emang sih solusinya cuma satu kalau ketemu orang kayak gitu. (Tadi katanya gak mau cari solusi dulu…) hehe… Gak tau sih ini bisa disebut solusi atau gak. Solusinya adalah mengabaikan orang itu… haha… Anggap orang itu gak ada! Anggap orang itu sedang gila! 😀 atau… kita gak usah bermedsos ria lagi.. wkwkwk… Tapi seriusan sih saya mah sebenarnya gak mau facebookan lagi euy… Tapi entah kenapa kok gak bisa ya menahan diri dari facebookan. 😦 Dulu waktu kuliah mah aku bisa libur facebook sampe berbulan-bulan. Sekarang belum bisa kayak gitu lagi… Kenapa ya??? >_< huuhuu…

Sebenarnya medsos itu buat apa sih? terutama facebook… Awalnya niat saya pakai facebook adalah untuk berdakwah. Nah kalau dievaluasi lagi kok kayaknya niatnya udah bergeser ya… 😦 Jadi suka posting gak penting… hiks… Dulu tuh aku bisa menahan diri dari berbuat pamer sekalipun melihat banyak orang yang sedang pamer. Bener-bener facebook tuh aku pakai untuk dakwah. Jadinya tuh kalau melihat orang suka pamer ya yang keluar jadi nasihat sindiran agar orang yang pamer sadar bahwa dirinya salah. Kalau sekarang??? Saya suka mudah ikut-ikutan pamer juga… hiks… Aku ingin lepas dari belenggu hawa nafsu ini… >_< Aku ingin punya teman-teman dan sahabat yang tidak suka pamer dan tidak suka dengki… Semoga Allah berikan aku hati yang tenang yang merasa cukup dengan Allah saja. Itulah tauhid yang kokoh.

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (3): dari Aceh ke Mata’ Salman

Aku latihan kaligrafi di rumah seniorku satu jurusan karena gurunya adalah ayah beliau sendiri yang kebetulan nanti jadi salah satu dewan jurinya mewakili Bandung hihi…  Aku mewakili ITB untuk kategori putri, sedangkan beliau mewakili ITB untuk kategori putra. Kira-kira masa latihanku dimulai sejak H-3 bulan. Wow… Itu memang mepet sekali… Saat itu pun aku belum mengenal yang namanya kaligrafi Tsuluts, kaligrafi Diwani, dll. Padahal, yang paling utama itu adalah kaligrafi Tsuluts yang porsinya paling banyak menempati papan sebagai media gambar. heu.. Di rumah seniorku itu, kami latihan tepatnya di ruang studio ayah beliau yang juga merupakan dosen Sastra Arab Unpad. Studionya puweenuuh dengan karya-karya kaligrafi, baik yang berbentuk lukisan maupun ukiran.

Jenuh? Oh jelas rasa jenuh sering kali menghampiri… Kenapa coba? Karena aku hampir putus asa… Haha… Waktu yang sangat sebentar itu rasanya tidak mungkin aku menguasai semua jenis khat dan teknik-teknik menggunakan catnya. Yang digunakan adalah cat tembok yang baunya tidak enak hehe… karena dari bahan-bahan organik. Kuas yang digunakan adalah kuas yang keras yang harus dimodifikasi terlebih dahulu ujungnnya. Menulis hurufnya dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Semua itu dilakukan karena mempertimbangkan efektivitas penulisan kaligrafinya. Namanya juga kan pake cat ya, berarti kan pasti basah. Kebayang dong ya, kalau masih basah eh tangan kita menyentuh tulisan yang masih basah tersebut… XD Papannya pun harus diamplas terlebih dahulu sebelum digunakan. Hehe… Belum lagi harus menyiapkan cetakan untuk hiasannya… Tentu hiasannya harus hasil karya sendiri. Jujur aja, waktu pertama kali disuruh bikin hiasannya, saya binguuuung… XD Belum pernah soalnya sebelumnya… Belum tau sampai sejauh mana kita bisa bereksplorasi membuat hiasan dan saat itu aku pun belum paham karakter hiasan yang bisa digunakan dalam lomba kaligrafi dekorasi. 🙂 Memang sih ya cabang kaligrafi ini adalah cabang MTQ yang paling menguras tenaga. Capeknya bukan cuma capek pikiran, melainkan juga capek fisik. Apalagi, masa-masa latihan tersebut bersamaan dengan osjur himpunan Arsitektur. Heu… Maklum, osjur himpunan Arsitektur kan biasanya emang di saat liburan kenaikan tingkat. ^^a Jadi, saya sering izin karena harus latihan kaligrafi… Tapi tetep aja dipermasalahkan… heu #kzl

MTQ Mahasiswa Nasional saat itu diselenggarakan di Aceh pada tahun 2009. Aku termasuk peserta termuda saat itu, masih tingkat 2. hehe… Itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. XD Teman-teman saya sejurusan pada ikutan osjur dan pelatihan proKM, eh saya malah terbang ke Aceh… hihi… Galau sih soalnya saya jadi izin osjur. Galau karena khawatir dipermasalahkan dan ternyata sepulang dari sana kepergian saya memang dipermasalahkan. Juju raja saya sebel… 😦 Kan saya ke Aceh juga mewakili ITB gitu loh untuk lomba… Seharusnya saya dikasih keringanan dong ya… Maklum lah panitia-panitia osjurnya bukan aktivis dakwah. Jadi saya dizalimi pun mereka gak merasa bersalah. Hehe… Paling males kalau senior saya yang juga ikut lomba kaligrafi itu udah nanyain soal osjur. XD Saya langsung BeTe, kak… *peace* Eh ternyata beliau di tahun berikutnya malah yang jadi Kahimnya… wkwkwk… Tapi saya tetap cintanya mah sama kadiv wirausahanya sih yang di tahun berikutnya jadi senatornya… XD *love you, my husband* ß abaikan

Sebelum sampai di Aceh, kami transit di Medan. 🙂 Pesawatnya cuma sampai Medan. Lalu, kami dijemput naik bus ke Aceh. Perjalanannya sangaaat jauuuh… Sampai terpikir berkali-kali, “Kapan yah nyampenya?” Kondisi Aceh masih belum baik setelah terkena musibah tsunami. Tanahmya berpasir. Cuacanya panas menyengat seperti di Jakarta sehingga badan mudah berkeringat. Namun, anginnya sepoi-sepoi berhembus terasa dingin atau sejuk. Di sinilah bedanya dengan Jakarta. hehe… Kami tinggal di suatu rumah seperti wisma. Satu kafilah (tim universitas) berarti satu rumah. Yang akhawat di dalam kamar, sedangkan yang ikhwan di ruang tamu… haha… Sampai di sana, aku kembali berlatih menulis huruf-huruf dengan kuas dan cat. Fyuuh… Yang lain mah hanya bermodal suara dan bacaan. 😀 Di hari pembukaan acara, yang lain pada nonton, aku mah latihan aja di rumah… wkwkwk

Panas Aceh begitu menyengat. Sepulang dari lokasi acara, pasti kami langsung ingin mandi karena badan sudah terasa lengket berkeringat. Lalu, kami mempersiapkan diri untuk besok, mengikuti lomba. Mulai terdengar gaung lantunan bacaan Al-Quran di satu kompleks itu, baik yang tartil maupun yang mujawwad, saling bersahutan. Wah subhanallaah… Dari sana aku baru mendengar istilah tahsin. Kalau tajwid sih aku sudah hafal jilid I-nya… Maklum, aku kan pernah ya menghafal kitab tajwid saat SD-SMP. 😀 Ternyata tahsin itu berbeda dengan tajwid. Tidak cukup kita hanya belajar tajwid, tetapi juga harus latihan mempraktikannya. Saat itu aku baru mengetahui bahwa jika panjang dua harakat itu berarti satu kali mengayunkan bacaan, sedangkan ghunnah itu tidak hanya mendengung, tetapi juga dipanjangkan bahkan lebih panjang daripada mad thabi’i. 🙂 Sejak itulah aku mengazzamkan diri untuk belajar tahsin di Mata’ Salman.

Mendengar para peserta lomba Tartil Quran melantunkan bacaan Al-Quran, aku merasa takjub. Tanpa aku sadari, aku pun menirunya ikut melantunkan. XD Seruuu… Seketika, aku langsung ingin segera bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. Namun, seperti nasihat para senior terutama teh Ayu guru kami, mantan juara II MTQ Mahasiswa Nasional, aku katanya harus menguasai tahsin terlebih dahulu. Beneran lah, pulang dari sana aku langsung daftar Mata’. Hehehe… Aku yang masih dalam proses berpakaian syar’i, masih sering pakai celana panjang, bukan rok, aku sebenarnya masih agak seram mendengar istilah “kajian tafsir Quran” atau istilah “majlis ta’lim”. huuhuu… Terasa angker aja deh… Kayaknya tuh bakal membosankan gituu… Tapi, demi aku bisa belajar tahsin, aku beneran daftar organisasi Majlis Ta’lim Salman… hahaha… Aku berharap bisa segera menguasai tahsin sehingga aku bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. hihi… Lalu, motivasi lainnya ikut Mata’ adalah agar aku bisa “kembali” belajar Bahasa Arab seperti dahulu saat SD-SMP. ^^ Sayangnya, zaman aku daftar Mata’, eh program Bahasa Arab malah dihapus. Agak kecewa sih memang…

Jangan Tanya, “Rin di Aceh gimana? Menang gak?” hoho… jelas gak menang lah… haha… Tapi seniorku sejurusan itu dapet juara V. 🙂 Tapi, saat itu aku puas dengan hasil karyaku yang dilombakan hehe… karena hasilnya lebih bagus daripada saat-saat latihan dan yang terpenting adalah selesai tepat waktu. hihi…

(bersambung)

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (2)

Aku mulai belajar kaligrafi yang sesungguhnya itu saat aku berusia 13 tahun, tepatnya di Sekolah Arab (istilahnya begitu lah) yang tempatnya cukup menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke sana dari rumah. Kira-kira bisa sampai 20 atau 30 menit lah berjalan dari rumah ke madrasahnya. Ceritanya tuh kenapa aku pindah ngaji ke sana karena adik-adikku pada pindah ke sana… XD Masa’ aku sendiri yang masih ngaji di tempat lama… Teman-temannya nyebelin, lagi… hehe… Ngajinya juga malam. Kalau pulang suka merasa serem… Gelap gituu… Bahkan, aku pernah pengalaman punya teman yang jahat banget mau nimpukin pakai batu kalau pulang. Yang jahat itu laki-laki. Hii… Bahaya banget kan ya… Pulangnya sampe ditemenin sama guru ngajiku (manggilnya “Mpok” hehe soalnya orang Betawi asli). Makanya, aku jadinya ikut-ikutan pindah deh… Senengnya tuh di sana ketemu teman-teman satu SD. Jadi seruuu… Tapi cukup butuh perjuangan sih ke sananya hehe… (Gak mau capek dikit).

Menariknya, saat SMP, aku kemudian pindah rumah ke tempat yang justru dekat dengan Sekolah Arab tempat aku mengaji itu. Mengapa istilahnya kok Sekolah Arab? Karena di sana aku belajar semua hal dalam bahasa Arab. 😀 Bayangkan dong… Aku belajar kayak anak pesantren loh… Padahal mah aku sekolahnya aja di SMP negeri. Di SMP pusing-pusing Matematika, IPA, IPS, dll, eh di tempat ngaji aku pusing-pusing menghafal banyak kitab dalam bahasa Arab yang tentunya sudah dikasih tau terjemahannya oleh ustadz. 😀 Benar-benar menghafal kitab dalam bahasa Arab! XD Gak pernah terbayang sebelumnya… Menghafal kitab Tauhid, kitab Fiqh, kitab Akhlaq, kitab Muhaddatsah, kitab Muthola’ah, kitab Sirah, kitab Babul Minan, dll, semua dalam bahasa Arab. Menghafal loh ya, bukan sekadar mengartikan aja… hehe… Tiap hari jadwal pelajaran (menghafalnya) ganti-ganti. Yang pasti, tiap hari di waktu pagi selalu ada latihan Bahasa Arab. Entah membuat kalimat dalam bahasa Arab, entah mengartikan kalimat bahasa Arab, atau mengubah kalimat bahasa Indonesia menjadi bahasa Arab. Itu tiap hari dari Senin sampai Sabtu. Udah kayak anak pesantren kan ya… Haha… Nah, tiap Sabtu ada latihan Khat dan ketika anak yang mengaji di sana sudah cukup lama atau levelnya udah agak lebih tinggi, baru deh diajarin kaligrafi dengan pena dan tinta. ^_^ Yang diajarin sih baru kaligrafi Naskhi saja… Namun, maasyaa Allaah… Huruf alif aja harus berlatih belembar-lembar. Lalu, hasil latihannya dikoreksi ustadz. Yang benar kaidahnya dilingkari. ^_^ Hingga pada akhirnya aku dianggap mengungguli teman-temanku dan aku diminta menyalin naskah shalawatan dengan pena dan tinta yang kemudian difotokopi untuk anak-anak lainnya. Hihi…

Pada suatu hari, Madrasah Tarbiyyah tempat aku mengaji itu mengadakan perlombaan antarcabang. Cabang dekat rumah dengan cabang yang lebih jauh lagi dari rumah (kayaknya beda kelurahan). Aku mencoba ikutan 2 cabang lomba. Apalagi selain lomba kaligrafi, iya gak? hehe… Lalu aku juga mencoba lomba cerdas cermat. Namun sayangnya, pelajaranku belum jauh, sedangkan lawan-lawanku sudah sampai jilid 3 kitab-kitab yang telah dihafalnya. Tentu aku kalah lomba cerdas cermat hehe… Setelah beres lomba cerdas cermat, aku mengejar ketertinggalan lomba kaligrafi dan aku manfaatkan waktu sebaik-baiknya hingga detik terakhir. Yang dilombakan dalam kaligrafi tidak terlalu sulit dan kertas gambarnya hanya ukuran A3 kira-kira. Jadi aku menggunakan 2 pensil andalanku yang diikat dengan karet. Hehe… Itu sih tips dari ustadznya. Cukup puas dengan hasil karyaku waktu itu walaupun aku gak sempat lihat-lihat hasil karya lawan-lawanku sih… Yang seru sih karena kali ini aku bisa menggunakan crayon dan pensil warnaku untuk mengeksplorasi. Awalnya sempat ragu untuk ikutan karena kurang persiapan. Namun, aku setia menunggu pengumumannya. 😀 Yeaay… Tenyata, aku juara I lomba kaligrafi.

Pengalaman-pengalaman ini yang membuat aku memberanikan diri untuk ikutan Olimpiade Al-Quran tahun 2008 silam… 🙂 Saat itu aku sudah lebih PD untuk mencoba keahlian baruku menulis Khat Naskhi (walaupun masih banyak kekurangan) karena kebetulan syarat lombanya menggunakan Khat Naskhi/kategori Mushaf, bukan yang dekorasi. ^^ Di detik-detik terakhir pengumpulan karya, aku takjub dengan hasil karya seseorang berjahim himpunan Arsitektur. Haha… Arsitektur adalah jurusan idamanku saat TPB dan alhamdulillah akhirnya aku masuk ke jurusan tersebut. Ternyata beliau yang juara I di lomba kaligrafi Olimpiade Al-Quran dan aku juara II nya hihi… Lebih takjub lagi, ternyata beliau yang juara I itu anak kandung dari seorang kaligrafer tingkat nasional. 😀

Ternyata, Olimpiade Al-Quran tersebut menjadi ajang penjaringan calon perwakilan ITB untuk ikut MTQ Mahasiswa tingkat nasional pada tahun 2009. Oleh karena itu, kami terpilih sebagai perwakilan ITB cabang kaligrafi. Wuih… aku tuh gak pernah bereksplorasi dengan cat selama ini. Jadi jujur aja, perasaan tuh gak nyaman banget saat mengejar keterampilan mengecat untuk membuat karya kaligrafi. Membuatnya di papan triplek, lagi… Lalu, mencampurkan warna-warna dengan kekentalan yang pas itu aku masih butuh banyak latihan. Fyuuh… Latihan yang sangat menguras tenaga euy… dan menghabiskan ‘isi kantong’ hehe… Udah gitu, aku kan baru menguasai jenis Khat Naskhi. XD belum menguasai jenis khat lainnya, seperti Diwani, Kufi, Tsuluts, dll. Totalnya kira-kira yang standar itu ada 7 jenis khat. XD Belum lagi, menuliskan huuf demi hurufnya itu dari kiri ke kanan… Nah loh… Benar-benar butuh perjuangan untuk menguasai semua itu… Apalagi dengan waktu yang sebentar doang… ^^a hehe cukup stres sih mempersiapkan MTQ Mahasiswa Nasional…

(bersambung)

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (1)

Berawal dari Olimpiade Al-Quran yang dahulu diselenggarakan oleh Mata’ Salman. Aku pertama kali ikut lomba dalam acara tersebut tepat saat baru saja aku diterima di ITB, yakni tahun 2008. Baru pakai kerudung… 🙂 Saat itu kan Ramadhannya sekitar bulan September/Oktober ya… Di sana ada banyak cabang lomba… Ada balighonya juga dan mataku langsung terarah pada tulisan “Khatthil Quran/Kaligrafi”. Aku langsung sumringah… hehe… Maklum, aku ini cinta kaligrafi, baik kaligrafi Arab, Jepang, maupun Latin. Sejak kecil, tepatnya SD kelas I, aku sudah berkali-kali ikut lomba menulis indah, sekalipun itu hanya tulisan latin. Nama lombanya adalah 3M (Membaca, Menghitung, dan Menulis). Aku selalu menjadi perwakilan SD-ku untuk lomba 3M tersebut. Tiap anak yang diikutkan berarti ikut ketiga lomba tersebut sekaligus. Lomba tersebut hanya untuk kelas I s.d. III SD loh ya… hihi… Dalam sesi lomba menulis, tulisannya harus tulisan sambung, tidak boleh tulisan cetak. ^^ Nah, lomba 3M ini hanya sampai tingkat kecamatan kok… hoho… jadi emang wilayah lombanya gak luas.

Saat kelas V pun aku ikut lomba menyalin Al-Quran dengan hiasan ala mushaf. Saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sesungguhnya. Aku menulis huruf demi huruf Arab hanya dengan insting saja hehe… Aku ini orangnya perfeksionis. Jadi aku perhatikan betul-betul tulisan Arab dalam buku Iqro’, Al-Quran, dan juga buku paket Agama Islam dari sekolah. Jadi, yang menurutku bagus, ya setidaknya mirip lah dengan tulisan-tulisan di sana. ^^ Padahal, aku belum belajar kaidah penulisan huruf-huruf Arab sama sekali. Saat lomba Kaligrafi/Menyalin Al-Quran saat kelas V sih aku gak menang, tapi lawan-lawanku kalau tidak salah ingat sih semuanya anak kelas VI, mereka 1 tingkat di atasku. Saat itu aku hanya mendapat juara III tingkat kelurahan. Hasil karyaku dievaluasi, teutama oleh ibuku. “Harakatnya gak rapi nih Rina… Kalau ngasih harakat belakangan aja, Rin, biar rapi dan cepet juga ngerjainnya.”

Akhirnya 1 tahun kemudian, LOKETA (Lomba Keterampilan Agama) datang lagi. Aku sudah kelas VI. Ingat, sekolahku bukanlah madrasah atau pesantren. Sekolahku murni sekolah sekuler seperti sekolah negeri pada umumnya. Hanya saja, sekolahku adalah sekolah swasta. Kami pun sehari-harinya tidak ada yang berkerudung. Lagi-lagi, aku dipilih mewakili sekolahku untuk ikut lomba. Kali ini, tidak hanya cabang kaligrafi, tetapi juga cabang cerdas cermat. Dalam cerdas cermat, aku dan teman-teman satu tim hanya bisa lolos sampai tingkat kecamatan dan mendapat juara III. Lucunya, yang juara I ketemu lagi di SMP (sekolahnya sama) dan yang juara II adalah saudara sepupuku. Hahaha… Tapi pada awalnya, grup aku mengalahkan semua lawanku. Nilai kami tertinggi. Namun, seperti biasa, aku salah strategi di babak rebutan final. Perjuangan kami pun tandas di sana… XD

Namun, ternyata pada cabang kaligrafi, aku masih terus lolos ke tingkat kotamadya. Aku mendapat juara I tingkat kecamatan. Yang bisa lolos ke tingkat selanjutnya hanyalah yang mendapatkan juara I. Putra dan putri dipisahkan kategorinya, kecuali cerdas cermat. Betapa gembiranya aku saat itu karena tahun lalu saja aku tidak lolos ke tingkat kecamatan. Eh saat kelas VI aku bisa terus lolos ke tingkat kotamadya… 😀 Semua karena dukungan ibuku juga. Seru banget kalau mengingat saat-saat lomba kaligrafi dahulu… Walaupun saat itu aku belum berkerudung, aku beruntung ibuku selalu memaksaku untuk terus mengikuti pengajian di sekitar rumah sekalipun kami sering sekali pindah rumah. Ibuku bisa marah kalau aku dan adik-adikku gak mengaji sehingga aku gak bodoh-bodoh banget soal agama dan terasa betul manfaatnya hingga saat ini. Di tingkat kotamadya, kira-kira ya Kotamadya Jakarta Timur itu terdapat 10 kecamatan. Berarti di tingkat kotamadya, aku melawan 9 anak lainnya dalam lomba kaligrafi/menyalin Al-Quran. Tahu gak sih, di waktu-waktu senggang sejak keberangkatan lomba hingga menunggu pengumuman, mulutku tidak berhenti komat-kamit. XD Ngapain coba? Sungguh-sungguh berdoa agar aku bisa lolos ke tingkat Provinsi DKI Jakarta walaupun saat itu aku agak gak yakin juga sih bisa lolos. Soalnya kan lawannya cukup banyak dan tentu mereka adalah para jawara di kecamatannya masing-masing. Mulutku terus saja berdoa kepada Allah hingga saat pengumuman tiba, aku kaget. Aku LOLOS ke tingkat provinsi… ^_^ sehingga berarti aku memperoleh juara I tingkat kotamadya Jakarta Timur. Sekali lagi, padahal saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sebenarnya loh… Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, heran banget kok bisa ya lolos ke provinsi. Berarti yang lain juga mungkin gak ada yang kursus kaligrafi ya… hehe…

Nah, di tingkat provinsi ini lawanku cuma sedikit. Hanya ada 5 orang yang ikut lomba di tingkat provinsi tiap cabangnya. Menakjubkan, aku benar-benar bertemu dengan para jawara kotamadyanya masing-masing. Aku pun sempat terpesona pada tulisan seorang peserta putra karena saking bagusnya. Namun, aku bergumam, tulisannya tebal tipis. Bagus. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini tidak dibolehkan tebal tipis. Apa benar ya? Buktinya dia sampai juga ke tingkat provinsi. Saat itulah aku mulai pesimis bisa gak ya dapet juara. Yang lainnya menghias tulisannya dengan warna-warni. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini gak boleh pakai warna-warni. Aku mah nurut aja sama guru agamaku. XD Tapi jujuuur… aku mah pesimis. Tulisanku kan gak tebal tipis dan gak dihias warna-warni. Saat itu lombanya di sekitar Rumah Sakit Haji, tepatnya di kompleks wisma hajinya. Yang dari luar Jakarta Timur, banyak juga yang menginap di wismanya. Karena tempatnya dekat, ibu dan adikku juga ke sana menonton acaranya. Kami pun menunggu pengumuman hingga sore. Tingkat provinsi adalah tingkat terakhir pada LOKETA. Apa hasil pengumumannya??? Apakah aku dapat juara???

.

.

.

Aku ternyata dapat juara III. 😀 Gak dapet juara I lagi… haha… Antara sedih dan senang. Sedih karena gak dapet juara I seperti tingkat sebelumnya. Senangnya karena aku masih dapet 3 besar. Hihi…

Eh menariknya, adik kandungku nomor 3 ternyata menjadi penerusku mewakili SD kami lomba kaligrafi hihi… Sudah pasti dong, aku banyak mengomentari tulisan adikku di rumah… hihi… Sama kok dia juga gak pernah belajar kaligrafi sesungguhnya. Saat dia masih kecil juga aku ajari cara menulis yang indah dan dia benar-benar nurut aku. XD Tapi hasilnya, tulisan dia bisa rapi dan mewakili SD-nya (SD kami) lomba menulis indah/kaligrafi. Tapi ternyata adikku lebih hebat daripada aku. Dia mendapat juara I di tingkat provinisi… Wah aku jadi ikut gembira saat itu. Tapi komentar ibuku, “Padahal tulisan Rina lebih rapi ya. Tapi Hanna bisa dapet juara I.” hihi…

Pengalaman inilah yang membuatku jadi semangat belajar kaligrafi ke depannya… 🙂

(bersambung)