Aku Memilihnya, Keraguan Itu Hilang (5): Bukti Kenabian Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib

This gallery contains 2 photos.

Seperti yang tertulis pada judul, tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, yaitu tentang perjalanan saya mencari kebenaran. Kali ini saya akan memaparkan bukti-bukti kenabian Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib. Mengapa ini penting? Ini sangat penting karena bagi orang-orang … Continue reading

Kompetisi Tidak Penting dan Bahaya bagi Anak???

This gallery contains 1 photo.

Suatu ketika saya membaca tulisan tentang kompetisi dan kolaborasi. Isi tulisan tersebut pada intinya menekankan bahwa kompetisi itu tidak penting. Yang lebih penting itu kolaborasi. Saya mengernyitkan dahi tanda belum bisa menerima seutuhnya isi tulisan tersebut. Maslahnya, bagi saya, argumen-argumen … Continue reading

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (3): dari Aceh ke Mata’ Salman

Aku latihan kaligrafi di rumah seniorku satu jurusan karena gurunya adalah ayah beliau sendiri yang kebetulan nanti jadi salah satu dewan jurinya mewakili Bandung hihi…  Aku mewakili ITB untuk kategori putri, sedangkan beliau mewakili ITB untuk kategori putra. Kira-kira masa latihanku dimulai sejak H-3 bulan. Wow… Itu memang mepet sekali… Saat itu pun aku belum mengenal yang namanya kaligrafi Tsuluts, kaligrafi Diwani, dll. Padahal, yang paling utama itu adalah kaligrafi Tsuluts yang porsinya paling banyak menempati papan sebagai media gambar. heu.. Di rumah seniorku itu, kami latihan tepatnya di ruang studio ayah beliau yang juga merupakan dosen Sastra Arab Unpad. Studionya puweenuuh dengan karya-karya kaligrafi, baik yang berbentuk lukisan maupun ukiran.

Jenuh? Oh jelas rasa jenuh sering kali menghampiri… Kenapa coba? Karena aku hampir putus asa… Haha… Waktu yang sangat sebentar itu rasanya tidak mungkin aku menguasai semua jenis khat dan teknik-teknik menggunakan catnya. Yang digunakan adalah cat tembok yang baunya tidak enak hehe… karena dari bahan-bahan organik. Kuas yang digunakan adalah kuas yang keras yang harus dimodifikasi terlebih dahulu ujungnnya. Menulis hurufnya dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Semua itu dilakukan karena mempertimbangkan efektivitas penulisan kaligrafinya. Namanya juga kan pake cat ya, berarti kan pasti basah. Kebayang dong ya, kalau masih basah eh tangan kita menyentuh tulisan yang masih basah tersebut… XD Papannya pun harus diamplas terlebih dahulu sebelum digunakan. Hehe… Belum lagi harus menyiapkan cetakan untuk hiasannya… Tentu hiasannya harus hasil karya sendiri. Jujur aja, waktu pertama kali disuruh bikin hiasannya, saya binguuuung… XD Belum pernah soalnya sebelumnya… Belum tau sampai sejauh mana kita bisa bereksplorasi membuat hiasan dan saat itu aku pun belum paham karakter hiasan yang bisa digunakan dalam lomba kaligrafi dekorasi. 🙂 Memang sih ya cabang kaligrafi ini adalah cabang MTQ yang paling menguras tenaga. Capeknya bukan cuma capek pikiran, melainkan juga capek fisik. Apalagi, masa-masa latihan tersebut bersamaan dengan osjur himpunan Arsitektur. Heu… Maklum, osjur himpunan Arsitektur kan biasanya emang di saat liburan kenaikan tingkat. ^^a Jadi, saya sering izin karena harus latihan kaligrafi… Tapi tetep aja dipermasalahkan… heu #kzl

MTQ Mahasiswa Nasional saat itu diselenggarakan di Aceh pada tahun 2009. Aku termasuk peserta termuda saat itu, masih tingkat 2. hehe… Itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. XD Teman-teman saya sejurusan pada ikutan osjur dan pelatihan proKM, eh saya malah terbang ke Aceh… hihi… Galau sih soalnya saya jadi izin osjur. Galau karena khawatir dipermasalahkan dan ternyata sepulang dari sana kepergian saya memang dipermasalahkan. Juju raja saya sebel… 😦 Kan saya ke Aceh juga mewakili ITB gitu loh untuk lomba… Seharusnya saya dikasih keringanan dong ya… Maklum lah panitia-panitia osjurnya bukan aktivis dakwah. Jadi saya dizalimi pun mereka gak merasa bersalah. Hehe… Paling males kalau senior saya yang juga ikut lomba kaligrafi itu udah nanyain soal osjur. XD Saya langsung BeTe, kak… *peace* Eh ternyata beliau di tahun berikutnya malah yang jadi Kahimnya… wkwkwk… Tapi saya tetap cintanya mah sama kadiv wirausahanya sih yang di tahun berikutnya jadi senatornya… XD *love you, my husband* ß abaikan

Sebelum sampai di Aceh, kami transit di Medan. 🙂 Pesawatnya cuma sampai Medan. Lalu, kami dijemput naik bus ke Aceh. Perjalanannya sangaaat jauuuh… Sampai terpikir berkali-kali, “Kapan yah nyampenya?” Kondisi Aceh masih belum baik setelah terkena musibah tsunami. Tanahmya berpasir. Cuacanya panas menyengat seperti di Jakarta sehingga badan mudah berkeringat. Namun, anginnya sepoi-sepoi berhembus terasa dingin atau sejuk. Di sinilah bedanya dengan Jakarta. hehe… Kami tinggal di suatu rumah seperti wisma. Satu kafilah (tim universitas) berarti satu rumah. Yang akhawat di dalam kamar, sedangkan yang ikhwan di ruang tamu… haha… Sampai di sana, aku kembali berlatih menulis huruf-huruf dengan kuas dan cat. Fyuuh… Yang lain mah hanya bermodal suara dan bacaan. 😀 Di hari pembukaan acara, yang lain pada nonton, aku mah latihan aja di rumah… wkwkwk

Panas Aceh begitu menyengat. Sepulang dari lokasi acara, pasti kami langsung ingin mandi karena badan sudah terasa lengket berkeringat. Lalu, kami mempersiapkan diri untuk besok, mengikuti lomba. Mulai terdengar gaung lantunan bacaan Al-Quran di satu kompleks itu, baik yang tartil maupun yang mujawwad, saling bersahutan. Wah subhanallaah… Dari sana aku baru mendengar istilah tahsin. Kalau tajwid sih aku sudah hafal jilid I-nya… Maklum, aku kan pernah ya menghafal kitab tajwid saat SD-SMP. 😀 Ternyata tahsin itu berbeda dengan tajwid. Tidak cukup kita hanya belajar tajwid, tetapi juga harus latihan mempraktikannya. Saat itu aku baru mengetahui bahwa jika panjang dua harakat itu berarti satu kali mengayunkan bacaan, sedangkan ghunnah itu tidak hanya mendengung, tetapi juga dipanjangkan bahkan lebih panjang daripada mad thabi’i. 🙂 Sejak itulah aku mengazzamkan diri untuk belajar tahsin di Mata’ Salman.

Mendengar para peserta lomba Tartil Quran melantunkan bacaan Al-Quran, aku merasa takjub. Tanpa aku sadari, aku pun menirunya ikut melantunkan. XD Seruuu… Seketika, aku langsung ingin segera bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. Namun, seperti nasihat para senior terutama teh Ayu guru kami, mantan juara II MTQ Mahasiswa Nasional, aku katanya harus menguasai tahsin terlebih dahulu. Beneran lah, pulang dari sana aku langsung daftar Mata’. Hehehe… Aku yang masih dalam proses berpakaian syar’i, masih sering pakai celana panjang, bukan rok, aku sebenarnya masih agak seram mendengar istilah “kajian tafsir Quran” atau istilah “majlis ta’lim”. huuhuu… Terasa angker aja deh… Kayaknya tuh bakal membosankan gituu… Tapi, demi aku bisa belajar tahsin, aku beneran daftar organisasi Majlis Ta’lim Salman… hahaha… Aku berharap bisa segera menguasai tahsin sehingga aku bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. hihi… Lalu, motivasi lainnya ikut Mata’ adalah agar aku bisa “kembali” belajar Bahasa Arab seperti dahulu saat SD-SMP. ^^ Sayangnya, zaman aku daftar Mata’, eh program Bahasa Arab malah dihapus. Agak kecewa sih memang…

Jangan Tanya, “Rin di Aceh gimana? Menang gak?” hoho… jelas gak menang lah… haha… Tapi seniorku sejurusan itu dapet juara V. 🙂 Tapi, saat itu aku puas dengan hasil karyaku yang dilombakan hehe… karena hasilnya lebih bagus daripada saat-saat latihan dan yang terpenting adalah selesai tepat waktu. hihi…

(bersambung)

Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (2)

Aku mulai belajar kaligrafi yang sesungguhnya itu saat aku berusia 13 tahun, tepatnya di Sekolah Arab (istilahnya begitu lah) atau mungkin sama dengan madrasah diniyyah yang letaknya cukup menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke sana dari rumah. Kira-kira bisa sampai 20 atau 30 menit lah berjalan dari rumah ke madrasahnya. Ceritanya tuh kenapa aku pindah ngaji ke sana karena adik-adikku pada pindah ke sana… XD Masa’ aku sendiri yang masih ngaji di tempat lama… Teman-temannya nyebelin, lagi… hehe… Ngajinya juga malam. Kalau pulang suka merasa serem… Gelap gituu… Bahkan, aku pernah pengalaman punya teman yang jahat banget mau nimpukin pakai batu kalau pulang. Yang jahat itu laki-laki. Hii… Bahaya banget kan ya… Pulangnya sampe ditemenin sama guru ngajiku (manggilnya “Mpok” hehe soalnya orang Betawi asli). Makanya, aku jadinya ikut-ikutan pindah deh… Senengnya tuh di sana ketemu teman-teman satu SD. Jadi seruuu… Tapi cukup butuh perjuangan sih ke sananya hehe… (Gak mau capek dikit).

Menariknya, saat SMP, aku kemudian pindah rumah ke tempat yang justru dekat dengan Sekolah Arab tempat aku mengaji itu. Mengapa istilahnya kok Sekolah Arab? Karena di sana aku belajar semua hal dalam bahasa Arab. 😀 Bayangkan dong… Aku belajar kayak anak pesantren loh… Padahal mah aku sekolahnya aja di SMP negeri. Di SMP pusing-pusing Matematika, IPA, IPS, dll, eh di tempat ngaji aku pusing-pusing menghafal banyak kitab dalam bahasa Arab yang tentunya sudah dikasih tau terjemahannya oleh ustadz. 😀 Benar-benar menghafal kitab dalam bahasa Arab! XD Gak pernah terbayang sebelumnya… Menghafal kitab Tauhid, kitab Fiqh, kitab Akhlaq, kitab Muhaddatsah, kitab Muthola’ah, kitab Sirah, kitab Babul Minan, dll, semua dalam bahasa Arab. Menghafal loh ya, bukan sekadar mengartikan aja… hehe… Tiap hari jadwal pelajaran (menghafalnya) ganti-ganti. Yang pasti, tiap hari di waktu pagi selalu ada latihan Bahasa Arab. Entah membuat kalimat dalam bahasa Arab, entah mengartikan kalimat bahasa Arab, atau mengubah kalimat bahasa Indonesia menjadi bahasa Arab. Itu tiap hari dari Senin sampai Sabtu. Udah kayak anak pesantren kan ya… Haha… Nah, tiap Sabtu ada latihan Khat dan ketika anak yang mengaji di sana sudah cukup lama atau levelnya udah agak lebih tinggi, baru deh diajarin kaligrafi dengan pena dan tinta. ^_^ Yang diajarin sih baru kaligrafi Naskhi saja… Namun, maasyaa Allaah… Huruf alif aja harus berlatih belembar-lembar. Lalu, hasil latihannya dikoreksi ustadz. Yang benar kaidahnya dilingkari. ^_^ Hingga pada akhirnya aku dianggap mengungguli teman-temanku dan aku diminta menyalin naskah shalawatan dengan pena dan tinta yang kemudian difotokopi untuk anak-anak lainnya. Hihi…

Pada suatu hari, Madrasah Tarbiyyah tempat aku mengaji itu mengadakan perlombaan antarcabang. Cabang dekat rumah dengan cabang yang lebih jauh lagi dari rumah (kayaknya beda kelurahan). Aku mencoba ikutan 2 cabang lomba. Apalagi selain lomba kaligrafi, iya gak? hehe… Lalu aku juga mencoba lomba cerdas cermat. Namun sayangnya, pelajaranku belum jauh, sedangkan lawan-lawanku sudah sampai jilid 3 kitab-kitab yang telah dihafalnya. Tentu aku kalah lomba cerdas cermat hehe… Setelah beres lomba cerdas cermat, aku mengejar ketertinggalan lomba kaligrafi dan aku manfaatkan waktu sebaik-baiknya hingga detik terakhir. Yang dilombakan dalam kaligrafi tidak terlalu sulit dan kertas gambarnya hanya ukuran A3 kira-kira. Jadi aku menggunakan 2 pensil andalanku yang diikat dengan karet. Hehe… Itu sih tips dari ustadznya. Cukup puas dengan hasil karyaku waktu itu walaupun aku gak sempat lihat-lihat hasil karya lawan-lawanku sih… Yang seru sih karena kali ini aku bisa menggunakan crayon dan pensil warnaku untuk mengeksplorasi. Awalnya sempat ragu untuk ikutan karena kurang persiapan. Namun, aku setia menunggu pengumumannya. 😀 Yeaay… Tenyata, aku juara I lomba kaligrafi.

Pengalaman-pengalaman ini yang membuat aku memberanikan diri untuk ikutan Olimpiade Al-Quran tahun 2008 silam… 🙂 Saat itu aku sudah lebih PD untuk mencoba keahlian baruku menulis Khat Naskhi (walaupun masih banyak kekurangan) karena kebetulan syarat lombanya menggunakan Khat Naskhi/kategori Mushaf, bukan yang dekorasi. ^^ Di detik-detik terakhir pengumpulan karya, aku takjub dengan hasil karya seseorang berjahim himpunan Arsitektur. Haha… Arsitektur adalah jurusan idamanku saat TPB dan alhamdulillah akhirnya aku masuk ke jurusan tersebut. Ternyata beliau yang juara I di lomba kaligrafi Olimpiade Al-Quran dan aku juara II nya hihi… Lebih takjub lagi, ternyata beliau yang juara I itu anak kandung dari seorang kaligrafer tingkat nasional. 😀

Ternyata, Olimpiade Al-Quran tersebut menjadi ajang penjaringan calon perwakilan ITB untuk ikut MTQ Mahasiswa tingkat nasional pada tahun 2009. Oleh karena itu, kami terpilih sebagai perwakilan ITB cabang kaligrafi. Wuih… aku tuh gak pernah bereksplorasi dengan cat selama ini. Jadi jujur aja, perasaan tuh gak nyaman banget saat mengejar keterampilan mengecat untuk membuat karya kaligrafi. Membuatnya di papan triplek, lagi… Lalu, mencampurkan warna-warna dengan kekentalan yang pas itu aku masih butuh banyak latihan. Fyuuh… Latihan yang sangat menguras tenaga euy… dan menghabiskan ‘isi kantong’ hehe… Udah gitu, aku kan baru menguasai jenis Khat Naskhi. XD belum menguasai jenis khat lainnya, seperti Diwani, Kufi, Tsuluts, dll. Totalnya kira-kira yang standar itu ada 7 jenis khat. XD Belum lagi, menuliskan huuf demi hurufnya itu dari kiri ke kanan… Nah loh… Benar-benar butuh perjuangan untuk menguasai semua itu… Apalagi dengan waktu yang sebentar doang… ^^a hehe cukup stres sih mempersiapkan MTQ Mahasiswa Nasional…

(bersambung)