Kompetisi Tidak Penting dan Bahaya bagi Anak???

This gallery contains 1 photo.

Suatu ketika saya membaca tulisan tentang kompetisi dan kolaborasi. Isi tulisan tersebut pada intinya menekankan bahwa kompetisi itu tidak penting. Yang lebih penting itu kolaborasi. Saya mengernyitkan dahi tanda belum bisa menerima seutuhnya isi tulisan tersebut. Maslahnya, bagi saya, argumen-argumen … Continue reading

Ketika Kuah Berasa Sop, Bakso, dan Sekaligus Soto…

13434685_10208506964543617_6392135090047787600_n

Iseng. Itulah yang sering aku lakukan pada masakanku jika aku mulai bosan dengan masakan yang biasa aku masak. Hihi… Lucunya sih suamiku suka-suka aja sama masakan isengku itu… XD Malah suka bangeeettt… 😀 Sekalian belajar mengenal cita rasa rempah-rempah lebih dalam lagi… 🙂 Aku ingin bisa berkreasi sendiri membuat masakan yang belum pernah dibuat orang lain, tetapi tetap enak… *nyam nyam*

Saya sudah pernah iseng dengan bayam, sayur tumis, nasi goreng, tempe tepung, sop, apalagi ya… ^^ Nah aku akan berbagi kisah keisenganku pada sop (entah bisa disebut sop atau tidak haha).

Ceritanya aku hendak menghabiskan stok bakso Cihampelas yang udah kubeli beberapa hari yang lalu. Dari sana, aku udah beli bumbu ebinya. Belum diberi garam dan gula. Aku masak baksonya bersama sayur sawi hijau yang banyaaak biar seratnya cukup. Suamiku suka banget… ^^ padahal gak pake vetsin tuh… Beneran gak pake vetsin kuahnya mah… Kalau baksonya sih pasti pakai lah ya… hehe… Rasanya campur-campur antara sop, kuah bakso, dan soto. Hehe… Kok bisa???

Bahan-Bahan:

Bakso, Sawi, bawang Bombay, bawang putih, bawang merah, cabai merah, lada, pala, ketumbar, serai, ebi yang telah dihaluskan, daun bawang, daun seledri, minyak goreng, dan air untuk kuah.

Cara Memasak:

  1. Cucilah semua bahan-bahan yang akan dimasak hingga bersih (hehe penting banget ya ini mah…).
  2. Potong-potonglah sawi dengan ukuran sedang, kira-kira 3cm.
  3. Rebuslah air hingga mendidih, lalu masukkan bakso ke dalamnya. Menunggu bakso matang itu cukup lama. Biasanya saya merebus bakso lamanya bisa lebih dari 15 menit setelah air mendidih. Itu pun kalau pancinya ditutup. Jika panci tidak ditutup, merebus baksonya bisa setengah jam. ^^ Soalnya ukuran baksonya besar-besar tidak dipotong-potong. Kalau ukuran baksonya kecil-kecil, biasanya sih tidak lama merebusnya.
  4. Irislah tipis-tipis bawang Bombay, bawang merah, bawang putih, dan cabai merah (iseng pakai cabai biar agak pedas sedikit), lalu digoreng sampai harum dengan sedikit minyak goreng (sedikiiit saja biar gak tinggi kolesterol hehe…), kemudian masukkan ke dalam air yang sedang direbus bersama bakso.
  5. Masukkan ebi yang telah dihaluskan (bumbu ebi) ke dalam air rebusan tersebut.
  6. Masukkan garam dan gula secukupnya. Tentu garamnya jauh lebih banyak daripada gulanya. 🙂 Karena saya menggunakan garam Himalaya (asal gunung Himalaya, oleh-oleh dari Nepal hihi) yang berbentuk batu, jadi saya masukkan garam di awal proses memasak agar ketika menjelang masakan matang, garam sudah terlarut seluruhnya.
  7. Tambahkan lada, pala, dan ketumbar yang telah dihaluskan (saya beli sudah dalam bentuk bubuk) ke dalam masakan. Sebenarnya, dalam memasak sop, cukup digunakan lada dan pala saja. Ketumbar itu isengnya saya hihi… Soalnya beberapa masakan membutuhkan aroma ketumbar agar lebih sedap, biasanya sih lauk pauk yang menggunakan ketumbar. Bukan lada. Saya sendiri kurang suka aroma lada jika dimasukkan ke beberapa jenis masakan. Nah, di masakan ini kan dimasukkan ebi halus ya, sehingga membuat saya berpikir sepertinya sedap jika ditambahkan ketumbar hehe… Ada yang memasak sop tidak menggunakan pala. Namun, ibu saya pernah mengatakan bahwa ibu saya pernah masak tidak menggunakan pala, tetapi lebih suka pakai pala dan menurut saya memang lebih enak pakai pala.
  8. Masukkan sawi yang telah dipotong-potong ke dalam air rebusan. Merebus sawinya tidak perlu terlalu lama agar vitaminnya tidak rusak. Yang penting, kuman-kuman penyakit yang menempel pada sawi mati sehingga 5 menit saja cukup.
  9. Gepreklah setengah batang serai, kemudian masukkan ke dalam air rebusan. Wah pokoknya harumnya enak banget deh setelah dimasukkan serai hihi… Inilah yang membuat kuah berasa soto, di samping berasa sop. ^^
  10. Terakhir, irislah tipis-tipis daun bawang dan seledri, kemudian masukkan ke dalam masakan, tidak perlu lama-lama. Bisa juga tidak perlu tipis-tipis mengiris daun bawang dan seledrinya, tetapi masih dalam ukuran kecil. Menurut saya, sayang sekali jika daun bawang dipotong dengan ukuran besar karena kurang memberi dampak rasa kepada masakan, kecuali jika memang daun bawangnya ingin dimakan (dikunyah) besar-besar. Saya lebih suka daun bawang hanya sekadar penambah cita rasa. 🙂 Kalau sop kan biasanya pakai tomat juga ya, tapi saya gak pakai karena gak ada dan sebenarnya untuk masakan bakso tidak terlalu diperlukan, menurut saya. 🙂

Selesai deh… Tanpa vetsin udah enak kok… ^^ Bagi saya, kepuasan pribadi jika bisa memasak enak tanpa vetsin. 🙂 Soalnya, vetsin itu emang ajaib banget sih… Mau kebanyakan gula, atau kebanyakan garam, tetap jadi sedap jika kita menambahkan vetsin… XD Nah, kalau tidak pakai vetsin kan jadi melatih kepekaan dalam mengenal rempah-rempah, kadar garam, dan kadar gula. Fotonya nyusul aja ya hehe… kalau bikin lagi maksudnya…

Islam dan Nilai Ketuhanan dalam Berbangsa dan Bernegara (3-habis)

This gallery contains 2 photos.

III. Islam dan Nilai Ketuhanan dalam Pancasila Kalangan nasionalis Islami[1] sering dituduh memperlemah kedaulatan negara,[2] merongrong NKRI,[3] menentang konstitusi RI,[4] menyelewengkan Pancasila,[5] atau sejenisnya yang tidak sesuai dengan data ilmiah. Padahal, berdasarkan fakta sejarah, yang terjadi tidak demikian.[6] Semua persoalan … Continue reading

Islam dan Nilai Ketuhanan dalam Berbangsa dan Bernegara (2)

This gallery contains 2 photos.

II. Perjuangan Panjang Umat Islam dengan Semangat Keislamannya Melawan Penjajah Sudah seharusnya, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawan. Mereka berjuang tidak hanya mengorbankan waktu dan pikirannya, tetapi juga jiwa dan raganya. Para pahlawan rela meneteskan darahnya, … Continue reading

Islam dan Nilai Ketuhanan dalam Berbangsa dan Bernegara (1)

This gallery contains 3 photos.

I. Latar Belakang Saat ini, masih banyak orang yang berusaha mempertentangkan antara Islam dan Pancasila sehingga orang-orang yang teguh dalam memegang ajaran Islam sering kali dianggap akan mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal, kemerdekaan negeri ini tidak bisa … Continue reading

Jawaban Soal Matematika Menebak Tanggal Lahir Cheryl ^^

10427357_10153135839858190_4290693861040954166_n

Diketahui:

  • Albert diberitahu bulan kelahiran Cheryl
  • Bernard diberitahu angka tanggal kelahiran Cheryl
  • David diberitahu angka yang berbeda dengan angka kelahiran Cheryl dan bulan yang berbeda dengan bulan kelahiran Cheryl

Hehe… Di atas ini maksudnya ingin memperjelas soal dengan asumsi kebanyakan orang dan anggap saja maksudnya disepakati seperti di atas ini… Maklum, soalnya ambigu… 😀

1. Albert: Saya tidak tahu kapan lahirnya Cheryl, tetapi saya tahu bahwa Bernard tidak mengetahuinya juga.

Dari sini, kita dapat lebih menafsirkan bahwa Albert yang telah menyimpan bulan kelahiran Cheryl (tentu kita sepakat tidak mungkin seseorang mengetahui tanggal hanya dari bulannya saja kan ^^) telah mengetahui bahwa saat itu si Bernard yang diberi tahu angka tanggalnya juga tidak tahu.

Kok si Albert bisa tahu bahwa si Bernard juga tidak tahu? Tentu itu karena si Albert tidak mendapat (dari Cheryl) bulan Mei dan Juni.

Jika seandainya Bernard mendapat angka 19 atau 18, tentu ia akan langsung mengetahui bulannya sekaligus karena angka 19 hanya ada pada bulan Mei, sedangkan angka 18 hanya ada pada bulan Juni. Nah, sayangnya, Albert tidak mendapat baik bulan Mei maupun Juni sehingga ia yakin bahwa Bernard (yang hanya mengetahui angkanya saja) pasti juga tidak tahu.

Jadi, eliminasi (coret) bulan Mei dan Juni untuk tanggal lahir Cheryl.

 

2. Bernard: Saya tadi (sebelum Albert mengatakan sesuatu barusan) tidak tahu, dan sekarang saya masih tidak tahu.

Awalnya Bernard tidak tahu, itu wajar karena dia hanya tau angkanya saja tanpa bulan. Untuk selanjutnya Bernard akan saya kasih label “(a)” untuk angka, sedangkan Albert saya kasih label “(b)” untuk bulan. 😀 Nah, setelah Albert(b) mengatakan suatu petunjuk barusan, ternyata Bernard(a) masih belum tahu. Apa artinya itu?

Pilihan yang tersisa adalah pada bulan Juli, Agustus, dan September.

Namun, Bernard(a) masih belum bisa menentukan tanggalnya yang mana. Ini berarti Bernard(a) tidak mendapat angka 15, 22, dan 17 karena angka-angka ini hanya ada pada bulan yang khusus saja. Seandainya, Bernard(a) mendapat angka 15, pastilah ia langsung tahu bahwa tanggal lahir Cheryl adalah 15 Juli. Begitu pula angka 22 yang hanya ada pada bulan Agustus dan angka 17 yang hanya ada pada bulan September. Ini bertentangan dengan faktanya (Bernard(a) belum tahu).

Jadi, eliminasi tanggal 15 Juli, 22 Agustus, dan 17 September.

 

3. Albert: Saya masih tidak tahu kapan Cheryl lahir. Setelah mengatakan ini, saya yakin David juga masih tidak tahu.

Albert(b) masih tidak tahu berarti dia tidak mendapat bulan Juli yang pilihan angka tanggalnya tersisa hanya satu saja, yakni tanggal 16 Juli. Seandainya, ia mendapat bulan Juli, pastilah ia langsung mengetahuinya.

Jadi, eliminasi tanggal 16 Juli. 😀

Tersisa bulan Agustus dan September dengan tanggal tertentu.

Kok bisa si Albert(b) mengetahui bahwa David tidak tahu? Padahal kan Albert(b) tidak tahu tanggal tertentu yang didapatkan David…

Kalau kita perhatika pilihan yang tersisa, bulan Agustus tinggal 2 pilihan saja, sedangkan bulan September masih ada 3 pilihan. Kalau seandainya David memperoleh tanggal tertentu di bulan September, pastilah ia masih ada kemungkinan mengetahui tanggal lahir Cheryl pada bulan selainnya, yaitu Agustus, karena tinggal hanya 2 pilihan saja. Misalnya saja, David diberitahukan tanggal 20 September, pasti langsung tahu bahwa tanggal lahir Cheryl adalah 14 Agustus. Namun, karena Albert(b) mendapat bulan September (yang masih ada 3 kemungkinan), maka wajarlah ia yakin bahwa David tidak mungkin sudah mengetahuinya dan tentu tanggal yang didapatkan David ada pada bulan selain September. Itu berarti bisa bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus.

Jadi, kita sekarang fokus pada bulan September untuk tanggal lahir Cheryl. ^^

 

4. David: Aku tidak mengetahui baik angka tanggalnya maupun bulannya, sebelum Albert(b) mengatakan kalimat terakhirnya tadi, tetapi setelah ia mengatakannya, aku sekarang mengetahui bulannya.

David tidak mengetahui apapun dari tanggal lahir Cheryl (maklum, yang dia dapat justru tanggal yang bukan tanggal lahir Cheryl ^^) sebelum Albert(b) mengatakan bahwa dirinya yakin bahwa David pun tidak mengetahuinya. Kemudian, David mengetahui bulannya. Bulan apakah itu? Pastinya, bulan September… ^^

Karena awalnya David tidak tahu bulannya sekalipun, itu berarti David mendapat bulan selain Agustus (dan tentunya juga selain September).

Jadi, kemungkinan bulan yang diberitahukan kepada David semakin sedikit, yakni tinggal Mei, Juni, dan Juli.

 

5. Bernard: Tadinya saya tidak mengetahui kapan Cheryl lahir sebelum Albert(b) mengatakan kalimat terakhirnya, tetapi setelah ia mengatakannya, saya sekarang mengetahui kapan Cheryl lahir.

Awalnya Bernard(a) tidak tahu, berarti ia masih bingung antara bulan Agustus dan September. Namun, kalimat terakhir Albert(b) membuka tabir rahasia itu karena sudah jelas Albert(b) pasti menyimpan bulan September. Maka, lengkaplah informasi bagi Bernard(a). Kemungkinan angka yang disimpan Bernard(a) ada 2, yaitu 14 atau 20. Jika seandainya ia menyimpan angka 16, maka pastilah ia sudah mengetahui bulannya sejak awal tanpa perlu diberi kode oleh Albert(b) dengan kalimat terakhirnya itu.

Namun, walaupun pada tahap ini Bernard(a) telah mengetahui tanggal lahir Cheryl, kita para pembaca masih belum bisa menentukan… 😀

 

6. David: Maka saya sekarang pun tahu kapan Cheryl lahir (setelah mendengar kalimat Bernard(a) barusan).

Kok bisa???

Dengan memanfaatkan 2 kemungkinan tanggal lahir Cheryl yang tersisa, kita pun bisa mengecek 2 angka tanggal tersebut pada bulan-bulan yang menjadi kemungkinan yang didapatkan David. Karena cuma ada 2 kemungkinan, tentu menjadi mudah menentukan tanggal lahir Cheryl bagi David. Jika David memperoleh tanggal 14, pastilah tanggal lahir Cheryl adalah yang 20. Begitupun sebaliknya.

Setelah dicek pada bulan Mei, Juni, dan Juli, ternyata tidak ditemukan tanggal 14 sama sekali. Nah, ini berarti David memperoleh angka tanggal 20 dan itu hanya ada pada bulan Juni.

Jadi, pada tahap ini, dapat diketahui tanggal yang diberitahukan Cheryl kepada David, sekaligus tanggal lahir Cheryl. Tanggal David 20 Juni, sedangkan tanggal lahir Cheryl tanggal 14 September.

 

7. Albert: Sekarang, aku pun mengetahuinya juga.

Maka, wajarlah si Albert(b) pun akhirnya mengetahuinya juga.

Galau Facebook

Maksud saya galau di sini adalah mau atau gak ikut jejak suami saya… 😀

Suami saya ini katanya sudah gak mau buka facebook lagi. Katanya, buka facebook itu ngabisin waktu. Banyak waktu yang terbuang yang bisa digunakan untuk mengerjakan yang lain yang lebih bermanfaat. Daripada baca artikel/status singkat di facebook, mending baca buku kayak gini kan. Katanya sambil nyengir. Itulah sebabnya saya sering message beliau lewat facebook, tapi message saya tidak dibaca. 😀

Sebenarnya saya pernah sih berkali-kali libur panjang dari buka facebook. Cuma ya gitu, sekali buka facebook langsung banyak share link yang berseliweran di Home. 😦 Kayak buka puasa aja ya… Lalu, saya pernah juga merasa sangat bosan di rumah sendirian. Waktu itu saya benar-benar tidak ada akses untuk membuka media sosial kayak facebook ini. Bahkan, saya juga tidak punya Whatsapp dan Line seperti ketika saya telah memegang Android. Di rumah sendirian membuat saya bosan. Berbeda ketika saya dulu masih ngekos, masih ada lah teman-teman kosan. 🙂 Saat ini saya di rumah sendirian, benar-benar sendirian ketika suami ngantor atau keluar kota. Tidak ada yang bisa diajak ngobrol. 😀 Lalu, saya ‘merengek-rengek’ minta modem ke suami biar bisa buka facebook dan biar saya gak mikir yang aneh-aneh. Maklum, dulu masih baru nikah, jadinya belum mau ditinggal suami sering-sering. Wajah suami selalu terbayang (baca: rindu). 😛 Kondisi kayak gini bikin saya galau cinta… (Ternyata udah nikah masih galau aja ya…)

Suami pun setuju meminjamkan modem kantornya buat saya biar saya gak kesepian dan itu juga sudah dibolehkan kantor. Akhirnya saya bisa buka facebook. 😀 Namun, mungkin karena sebelumnya sempat libur lama ya, jadinya saya belum terbiasa lagi bikin status atau share link kayak sekarang… Maklum, liburnya bisa sampe 4 atau 6 bulan lah… Buka beberapa kali, terus libaur panjang lagi. Maklum, dulu saya ingin fokus TA atau tugas lainnya dulu.

Nah, kalau saat ini saya bahkan telah memegang Android. Saya sempat aktif Line juga. Namun, aplikasi Line tersebut sudah saya hapus dari Android saya. Whatsapp lebih aktif lagi saya… Bahkan, ketika saya bisa buka whatsapp, saya jadi jarang buka Facebook. Maklum lah… saya bukan wanita yang kerja kantoran yang punya kerjaan banyak di kantor dan masih bisa bersosialisasi dengan teman-teman kantor. Saya juga bukan mahasiswa (saat ini) yang rutin menghadiri kuliah-kuliah dan masih bisa ngobrol dengan teman-teman kuliah. Ingat loh, saya sendirian di rumah dan bahkan saat ini saya juga belum punya anak yang mungkin ketika saya punya anak, kesibukan saya akan teralihkan kepada mengurus anak dan bisa bercengkerama dengan anak saya. Saya yakin, siapa pun wanita yang seperti saya, pasti setidaknya pernah merasakan “bosan”. Dulu, waktu saya bosan di rumah, saya masih bisa main ke Masjid Salman. Sepertinya hati saya saat itu masih belum bisa jauh-jauh dari Salman. Tapi sekarang rumah saya jauh dari Masjid Salman. ^^ Kondisi ini membuat saya terbiasa untuk berdiam diri di rumah dengan ditemani whatsapp dan facebook. Kalau tidak ada keduanya, saya pasti tetap merasa bosan.

Tapi, sekarang Android saya rusak… Haha… Saya tidak bisa ngobrol dengan ibu-ibu lain di Whatsapp. Facebook pun diakses lebih sulit karena harus membuka laptop dan menyambungkannya dengan internet modem. 😀 Sekarang saya mulai terbiasa sih ya tanpa Whatsapp walaupun saya terkadang sulit mengontak orang lain karena mereka biasanya gak punya pulsa untuk membalas SMS saya. Tapi, so far… tidak terlalu banyak masalah… Ternyata enak juga ya gak banyak baca pesan orang lewat Whatsapp. ^^ Saya tidak perlu baca postingan sombong orang lain. Saya tidak perlu panas hati ketika saya membaca ada orang yang bersikeras dengan pendapatnya padahal menyalahi fakta, misalnya. Saya pun jadi lebih bisa menjaga hati dengan hidup tanpa Whatsapp. 🙂

Hanya saja, saya masih belum bisa lepas dari Facebook… Gimana dong? 😥 Terkadang dengan membuka Facebook, saya banyak memperoleh manfaat, tetapi banyak juga mudharatnya… Yang paling gak enak itu, kalau misalnya status saya atau link yang saya share didebat orang lain sampai panjang. Alhamdulillaah, saya sudah mengurangi bahkan hampir tidak mengomentari postingan orang lain. Ini sebenarnya larangan dari suami juga. Saya dilarang komentarin ikhwan misalnya. Dalam mengomentari akhwat, saya berusaha memilih bahasa yang santun dan ceria… Tidak ingin berdebat dengan yang punya status atau yang punya postingan. Tapi terkadang menyebalkannya itu kalau ada akhwat mengomentari postingan saya dengan nada merendahkan atau penuh prasangka. Kalau prasangkanya benar sih gak apa-apa sih ya… Tapi kalau salah, saya suka bingung ngejelasinnya dengan bahasa yang tidak terlihat emosi. Kalau ada akhwat yang komentar dengan emosi. Saya terpaksa menanggapi komentarnya juga dengan serius biar dia mau mengakui bahwa dirinya salah. Saya ini orangnya tidak ingin mempermalukan orang lain yang salah bicara. Tapi kalau dianya tetap ngotot, ya saya terpaksa dengan ekspresi serius dengan tetap menjaga adab. Ya, kalau masih bisa saya menjelaskan dengan ceria, saya tetap usahakan sih… 🙂

Nah, kalau yang mendebat itu ikhwan yang paling nyebelin karena saya dilarang mengomentari ikhwan oleh suami saya. 😦 Uuuh… Kesal rasanya kalau ada ikhwan yang komentar dengan bahasa “seenaknya” dengan maksud membantah pernyataan saya. 😦 Lebih tidak suka lagi kalau ada akhwat yang saya jaga perasaannya, beliau me-like ikhwan menyebalkan itu. Saya pernah mem-block ikhwan yang komentar seenaknya di status atau postingan saya. Saya hapus komentarnya, eh… dia nambah komentar yang gak sesuai fakta. Ya terpaksa saya block saja… Daripada saya jadi panas hati hanya bisa diam membaca komentarnya sehingga saya terlihat sangat bodoh menerima komentar-komentarnya… Saya juga sebenarnya gak terlalu kenal beliau juga sih… 😦

Ya, intinya, Facebook itu bisa bermanfaat dan bisa juga ada mudharatnya. Entahlah apakah saya akan mengikuti jejak suami saya atau tidak. 😀 Masalahnya, saya suka merasa bosan di rumah sendirian. Tapi ya gituuu… Kalau baca postingan orang yang pernyataannya suka gak benar atau bertentangan dengan pandangan saya, saya selalu ingin membantah dengan postingan baru… 😦 Jujur saja, yang kayak gitu tidak membuat hidup lebih tenang…

Mungkin, ke depannya saya akan mencoba melakukan anjuran suami saya. Katanya, kalau saya punya pendapat, lebih baik ditulis di blog saja… 🙂 In syaa Allaah tidak ada yang mendebat di facebook… Kecuali kalau dikasih komentar di awal sebelum share blog ya…

Saya heran dengan suami saya… Perasaan, dulu suami saya aktif facebook sebelum nikah. Tapi setelah menikah tiba-tiba jarang facebookan. Bahkan, sekarang dia tidak mau buka facebook lagi. 🙂 Motivasinya cukup kuat ya… Ah, maklum lah… Dia kan ngantor tiap hari. Jadi bisa ngobrol dengan teman-temannya di kantor. Kalau saya? Saya kan sendirian di rumah… Tapi saya akan coba mengurangi facebook. Bismillah aja deh ya… 🙂 Kalau punya pendapat, ditulis di blog aja… ^^