Tidak Mengharapkan Sesuatu dari Manusia

This gallery contains 1 photo.

  Aku termenung ketika mentadabburi ayat ini:   إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا (٩) (sambil berkata, orang-orang yang berbuat kebajikan), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah (wajah Allah), kami tidak mengharapkan balasan … Continue reading

Biarkan Sajalah…

Aku ini seorang pengamat. Pengamat karakter manusia. Ini yang membuatku peka ketika ada seseorang yang sikapnya anomali dari lazimnya yang ada.

Hei ukhtii… Kau yang pernah membenciku, aku tidak tau alasanmu membenciku, tetapi permusuhanmu terhadapku begitu jelas nampak. Dahulu, sikapmu memang kupedulikan… Hmm, tapi sepertinya karaktermu memang seperti itu. Gengsi tetap menjadi gengsi. Sudahlah, mau apa sih gengsi-gengsi begitu?

Bukankah kita sudah saling memaafkan? Kenapa kau ulangi lagi bermuka masam?

Apakah karena jalan kita berbeda? kenapa kau tidak katakan saja padaku waktu itu dengan jujur? Biar fair. Biar kita sama-sama tau apa yang membuat hubungan pertemanan kita selama ini tidak senyaman pertama kali kita kenal. Kita sudah sama-sama dewasa.

Namun, aku sudah tidak seperti dulu lagi, ukhtii, yang begitu peduli akan sikapmu selama ini terhadapku.

Ukhtii, sekarang aku berbeda. Betapa pun sikapmu terhadapku, sekarang aku tidak terlalu memedulikannya lagi. Semoga Allah mengizinkanmu membaca ini.

Ah, wanita… Sering kali menggunakan perasaan berlebihan. Tidak seperti laki-laki. Mereka enjoy-enjoy aja jika berbeda pandangan.

Ukhtii, jika kau meragukan niat ikhlasku menyambung silaturahim denganmu, itu terserah dirimu… Aku tidak peduli dengan keraguanmu karena aku tidak mengharapkan darimu apa-apa termasuk pengakuanmu. Cukup sudah. Aku takut kecewa dan kecewa lagi jika berharap macam-macam dari manusia.

Ukhtii, jika kau menganggapku munafik, itu terserah kamu… Aku tidak peduli. Jika aku melihat dirimu mengulangi kesalahan pertemanan secara personal, aku hanya bergumam, “Biarkan sajalah.” Ya, karena aku sudah tidak berharap apa-apa lagi darimu. Aku menulis ini pun hanya untuk menegaskan saja. Mau kau baca, atau tidak, aku tidak peduli. Namun, jika kau membaca, semoga kau bisa betul-betul paham apa yang kupikirkan.

Ukhtii, jujur aku sempat rindu kita bisa tergelak tawa bersama. Kenapa ya? Mungkin saat itu hati kita masih bersih dari segala prasangka.

Dan memang, obat prasangka adalah tabayyun. Cuma, beginilah wanita, takut dengan tabayyun masalah menjadi makin runyam. Tapi setelah aku jujur dan tabayyun kepadamu beberapa minggu yang lalu, aku merasakan kelegaan luar biasa, ukhtii…

Tahukah kamu apa yang selama ini aku harapkan darimu? Aku ingin kita impas, kau mau mengucapkan kalimat minta maaf karena kau belum pernah mengucapkannya kepadaku dengan serius secara personal. Mungkin karena rasa gengsimu yang tinggi. Akhirnya saat itu terucapkan juga dari lisanmu walaupun terlihat terpaksa. Tapi aku lega. Anehnya, kalimat itu kau ucapkan di saat aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Allah memberikan bonus kepadaku ^_^

Tahukah kamu, ukhtii, aku lega sekarang… Maka dari itu, aku sudah bisa tersenyum puas jika berpapasan denganmu sekarang. Yaa walaupun kamu masih terlihat kikuk dan belum sepenuhnya ramah kepadaku. Tapi, beneran ukhtii rasanya setelah kau mengucapkan kalimat itu, ada beban yang selama ini menggelayut dalam pikiranku terlepas begitu saja.

Maka, yuk betul-betul kita sudahi saja ya perkara-perkara yang telah lalu ^_^ Kita berjalan di urusan masing-masing saja… Biarkan saja aku pada jalan yang kupilih, dan aku juga membiarkanmu pada jalan yang kau pilih. Dan bukan berarti saling menasihati menjadi hilang ya… Sekali lagi (tuk ke sekian kalinya) maafkan aku dengan jalan yang kuambil kau tidak menyukainya.