Jadi Muslim Harus Gaul…! ^^ (menghilangkan ashobiyyah)

This gallery contains 1 photo.

  Fenomena yang Ada Kita sering kali melihat teman-teman kita di kelas bergeng-geng. Dulu ya waktu masih SD, SMP, atau SMA, rasanya itu sungguh menyebalkan bagi beberapa orang. Mungkin karena dengan bergeng-geng, jadi menyempitkan pergaulan. Ke mall barengnya sama orang-orang … Continue reading

Kabar Aleppo, Suriah (mohon doa para pembaca untuk wartawan & para relawan Indonesia di sana)

Artikel versi sekuler (18 Des 2013):

http://www.voaindonesia.com/content/pasukan-suriah-bombardir-basis-pemberontak-di-aleppo/1813358.html

Artikel republika (9 Nov 2013):

http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/11/09/mw053w-pemberontak-suriah-rebut-kembali-basis-strategis-di-aleppo

Tempo (1 Nov 2013):

http://www.tempo.co/read/news/2013/11/01/115526557/Militer-Suriah-Klaim-Kuasai-Kota-di-Aleppo

Antara:

http://www.antaranews.com/berita/409631/serangan-suriah-tewaskan-15-orang-di-aleppo

Untuk Engkau yang Jauh di Sana

Sudah beberapa hari kita terpisah beda negara.

Rasanya sulit bagiku ditinggalkan olehmu walau hanya beberapa hari saja.

Tidak. Ini tidak biasa.

Kali ini sungguh berbeda.

Engkau di sana di perbatasan benua Asia dan Eropa.

Engkau pernah bertanya kepadaku, “Ngizinin aa ga sayang ke sana?”

***

Aku terdiam. Aku pikir kenapa aa bertanya seperti itu? Mana mungkin aku tidak mengizinkan?

Bukankah panggilan jihad itu wajib dipenuhi?

Yaa, walaupun ini bukan jihad qital seperti para mujahidin di sana. Tapi ini kan bagian dari jihad juga. Bukankah jihad itu ada 5 tingkatan atau jenis?

Kita ini belum mampu berjihad seperti para mujahidin di sana. Maka, sudah seharusnya memenuhi panggilan yang lebih ringan, yaitu menyalurkan bantuan berupa selimut pada rakyat Suriah, bagi kita yang di sini, di Indonesia.

Di sana sungguh keadaannya sungguh mengiris hati. Bayi2 di sana mati kedinginan 😥

Apakah kita diam saja?

Tentu saja kujawab kepada suamiku, “Ya pasti ngizinin dong aa. Kan wajib memenuhi panggilan ‘jihad’ 😐 Nanti klo rina gak ngizinin, rina dosa.”

***

Suamiku, aku selalu termenung meratapi diri ini. Aku merasa tidak selevel denganmu. Sejak awal kau datang melamarku, aku terkaget-kaget karena aku merasa jauh di bawahmu.

Aku merasa tidak pantas, tetapi aku diam-diam telah memilihmu dan mengharapkanmu menjadi suamiku sejak hidayah itu datang melalui perkataanmu.

Dulu, aku pikir dirimu adalah orang yang menyebalkan. Kita selalu saja berbeda pendapat.

Tapi, setelah agenda itu. Agenda di mana membuatku tahu siapa dirimu, ternyata dirimu bukan orang yang biasa. Engkau mengatakan sesuatu yang di luar dugaanku, tanda ilmu yang engkau kuasai. Engkau mengatakan sesuatu yang membuatku tersindir. Tiba-tiba saja aku merasa selama ini telah salah dalam memahami sesuatu. Kalimat itu meruntuhkan kesombonganku. Hampir saja aku menangis saat itu. Mataku sudah berkaca-kaca.

Gengsi berubah menjadi kagum.

Lalu, kekagumanku bertambah-tambah seiring berjalannya waktu.

Aku pun mulai takut jika berpapasan denganmu. Aneh memang ^^ aku menjauhimu saat itu, bahkan seperti menghilang dari peradaban kehidupanmu. Padahal kita satu jurusan ya. Kok bisa aku seperti menghilang. Apalagi setelah kau lulus TA. Kau bahkan sudah sangat jarang ke gedung Arsitektur. Saat itu, aku berusaha menghilangkan perasaan kagum yang terlanjur tertancap. Berusaha menghilangkan perasaan itu dengan menjauhimu, tapi lucunya Allah menakdirkan kita sering berpapasan di jalan hihi ^^

Saat itu, kau hendak dijadikan menteri kewirausahaan KM ITB, mungkin karena dirimu telah sukses memegang amanah sebagai Kadiv Unit Usaha di IMA G, tapi kau menolaknya. Ah, kau sungguh zuhud, terbukti ketika kita selama ini hidup bersama. Lalu, kau pun akhirnya diminta menjadi senator himpunan Arsitektur, kau pun menolak. Tapi apa daya sayang, Allah menakdirkan kau harus menerima amanah itu karena calon-calon yang lain tidak bisa. Ah indahnya ketika suatu posisi itu datang tanpa dikejar atau diminta. Itulah dirimu. Tidak ada yang bersekongkol berusaha menjadikanmu sebagai senator, termasuk para aktivis muslim di Arsitektur, tetapi dirimu begitu saja mendapat amanah dari semua kalangan. Tidak seperti yg lain yg aktivitasnya terlalu terkuras utk mengusung seseorang utk dijadikan pemimpin sehingga meremehkan dakwah di bidang pembinaan.

Ah, aku ini memang tidak ada apa-apanya.

Aa, rina kangen… Sungguh2 kangen. Ah, mungkin kau bosan membaca pesanku yang isinya sama, “Rina kangen.”

Apalagi, setelah kau mengirim rekaman suaramu yang sebagian isinya berbunyi, “… Aa sayang sama rina karena Allah. Doain ya sayang. Semoga misi media sukses. …” Suaramu begitu teduh. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Ah aku ini emang cengeng. Aku menangis karena rindu yang amat dalam.

Aa, rina menunggumu di Indonesia. Kutunggu kabar gembiranya 🙂

Maaf

This gallery contains 1 photo.

  Banyak orang mungkin sulit mengatakan kata ini. Bagi saya, kata ini sungguh membuat hati tenang di kala merasa bersalah. Atau tidak harus ketika merasa bersalah. Terkadang kata “maaf” ini diperlukan juga ketika hubungan antarmanusia bermasalah, walaupun diri sendiri tidak … Continue reading

Kekhawatiran yang Wajar ^^

Aa Gym itu memang kocak. Beliau menganalogikan ilmu dengan kejadian sehari-hari yang ‘ngena banget’ bagi para pendengarnya. Sekarang, akupun sedang mendengarkan beliau ceramah melalui radio.

Masalah rezeki, masalah jodoh, masalah nikmat apa pun, terkadang sering dikhawatirkan oleh manusia. Aa gym melihat adanya fenomena iri dan cemburu. Mungkin banyak orang yang pernah merasakan takut rezekinya diambil orang lain, atau ada juga orang yang takut target calon pendamping hidupnya juga menjadi target orang lain sehingga ia merasa di dalam persaingan, dan lain-lain. Padahal, kata aa gym, rezeki dan jodoh itu tidak akan meleset dan tertukar walaupun kedua orang itu bersebelahan. Aku pun tertawa… ^^ Benar juga ya… Kita sering kali memahami sesuatu, tetapi terkadang tidak benaar-benar paham (sadar).

Saya juga pernah merasakan itu. Di dalam suatu kejadian, saya pernah tidak sadar bahwa sesuatu yang pernah diambil teman saya (haha saya lupa apa itu ya?) seperti memang direbut oleh teman saya. Saat itu saya tidak paham bahwa itu takdir Allah dan mungkin memang bukan hak saya ^^ Kalau diingat-ingat membuat saya tersenyum, terutama ketika disindir aa gym seperti itu.

Begitu pula dengan jabatan atau kenikmatan berupa prestasi. Saya sering mendengar cerita atau melihat kisah seseorang yang berebutan jabatan. Seakan-akan jabatan itu sumber rezeki manusia. Begitu pula, ketika kita melihat terjadi kecurangan di suatu pertandingan, pasti ada saja yang ‘bisik-bisik’ meributkan kecurangan tersebut, padahal itu belum tentu benar terjadi.

Ya lagi-lagi ini mengenai tawakkal. Memang benar teorinya. Jika masih ada kekhawatiran, maka itu belum tawakkal.