Tinggi Hati Terselubung

Ketika masih ada ujub dalam hati, maka hati belum bersih dari kesombongan.

Ketika kamu merasa lebih percaya diri karena suatu yang kamu miliki, itulah tanda-tanda ujub. Entah itu gadget barumu, gaun indahmu, paras bersolekmu, ilmumu, buku barumu, kecerdasanmu, perkembangan intelektual anakmu, atau apapun itu yang membuatmu merasa lebih percaya diri, “Inilah saya yang lebih hebat dari orang lain,” itulah tanda-tanda kesombongan dalam hatimu.

Sepasang kekasih yang baru saja menikah, misalnya, berjalan dengan pongahnya mengenakan pakaian sepasang yang warna dan motifnya seragam menunggu kata “cieee” atau “wah serasi sekali” atau bentuk pujian lainnya, itu pun tanda-tanda sombong terselubung.

Upload foto tercantik atau tertampan di media sosial dengan PD-nya karena ingin menarik perhatian banyak orang dan ingin mengundang banyak “like”, itu pun tanda kesombongan. Aslinya sih tidak secantik/setampan itu. Namun, karena kali ini posenya lagi bagus atau misalnya karena didandani dengan menor sehingga baru terlihat lebih cantik, maka ia dengan bangganya memamerkan paras ‘barunya’ itu. #tanda_sombong

Ketika seseorang baru saja memperoleh ilmu baru yang ia pikir orang lain belum ada yang tahu, lalu dengan semangatnya ia share ilmunya tersebut di media sosial dengan berpikir, “Lihat nih gue… Gue lebih pinter kan daripada loe-loe pade…” Padahal, pengetahuan yang baru saja ia ketahui tersebut tidak memberi banyak manfaat untuk diaplikasikan oleh orang lain. Selain itu, sayangnya ia keliru, ternyata apa yang ia share sudah usang karena sudah banyak yang mengetahuinya sebelumnya.

Gadget baru? So what? Kamu merasa derajatmu lebih tinggi hanya dengan gadget barumu? Apalah artinya gadgetmu itu… Toh gadgetmu itu tidak akan dibawa mati. Begitu pula harta lainnya…

Ingin dibilang “suka baca banyak buku” dengan memberi tahu orang banyak bahwa buku yang kamu miliki banyak? Duh, gak penting banget deh… 😀 Apalah artinya buku jika buku itu tidak dibaca dan tidak menambah pengetahuanmu. Lebih jauh lagi, apalah arti ilmu yang kamu peroleh jika ilmumu tidak kamu aplikasikan di kehidupan sehari-hari?

Sebenarnya sih, ini semua tergantung hati dan niatnya… 🙂 Semoga sindiran ini bisa mengingatkan kita bersama ya… Saya tidak menggeneralisasi karena bisa saja ditemukan pada kondisi mirip seperti yang saya contohkan di atas, tetapi di hatinya tidak ada maksud jelek. Selamat mengoreksi hati… 🙂

Orang yang Tidak Senang Ada Kebaikan pada Orang Lain

Pada bab “Akhlak Orang-Orang Mulia” dalam buku Shaidul Khathir karya Imam Ibnul Jauzi, dikatakan bahwa termasuk “kebodohan” bila engkau bergegas menghadapi orang yang “hasad” dengan pertikaian. Seharusnya, kalau pun engkau ingin ‘menyakitinya’, maka hal yang pertama yang membuatnya tersakiti adalah “kebaikan dirimu”, dan kesungguhanmu dalam hal-hal yang mengangkat kedudukanmu.

Saya pernah menulis tentang ini, https://rinahuntxtnuh.wordpress.com/2013/12/28/antara-ghibthah-dengki-dan-gengsi/ , tentang ciri-ciri orang yang hasadnya sudah parah. Ternyata Ibnul Jauzi pun telah menuliskannya. Orang yang hasad itu bahkan tidak senang melihat adanya kebaikan pada orang yang di-hasad-i. Mungkin, ia sudah terlanjur “populer” dan telah menganggap dirinya berada di kedudukan yang tinggi. Lalu, ketika melihat orang lain lebih tinggi, baik dari segi amal ibadah, prestasi, maupun ilmu, maka ia tidak suka. Terlebih lagi jika orang lain itu bisa mendapatkan sesuatu (duniawi) yang selama ini diinginkannya, sedangkan ia tidak mendapatkannya atau belum mendapatkannya. Lalu, dia berusaha keras agar bisa tetap “populer” atau tetap memperoleh kedudukan yang tinggi di hati “manusia”, misalnya dengan mengaku-aku pemikiran atau ide orang lain sebagai idenya dengan mengubah sedikit redaksi, atau bisa juga misalnya dengan terus-menerus menunjukkan kelebihan dirinya untuk merebut hati manusia, (ini yang pernah disinggung Aa Gym ^^a misalnya untuk merebut hati target calon pendamping hidup hehe, atau merebut hati bos/pemimpin 😛 ).

Maka, wajarlah apa yang dikatakan Imam Ibnul Jauzi bahwa orang yang hasad(nya sudah parah) akan merasa tersakiti justru dengan kita berbuat baik kepadanya, tetap memberi salam kepadanya, memberi hadiah, mengajaknya dalam satu forum kebaikan, dll, dan dia akan enggan (sangat berat) menyambut pemberian tangan kita karena jika ia menyambut kebaikan kita, berarti sama saja dia “telah mengakui” kelebihan kita. Di sana ia merasa telah ‘kalah’. Jika kita membalas perbuatan buruknya, dia akan tersakiti. Tetapi, anehnya, kita berbuat baik kepadanya juga ia lebih tersakiti.

Lari dari Apa? (Tadabbur At-Taubah: 118)

This gallery contains 1 photo.

Bahasa Al-Quran itu sangat indah ya… ﻭَ ﻇَﻨّﻮْﺍ ﺍَﻥْ ﻻ ﻣَﻠْﺠَﺄَ ﻣِﻦَ ﷲِ ﺍِﻼ ﺍِﻟَﻴْﻪ Kalau di mushaf terjemahan Depag, itu artinya: “dan mereka mengira/mengetahui bahwa tidak ada ‘tempat berlari’ dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja.” Makna asal dari “malja-a” … Continue reading

Jangan Merasa Aman dari Ketidaktahuan Manusia

This gallery contains 1 photo.

Jujurlah pada diri sendiri… Koreksilah terus hatimu…   Imam Adz-Dzahabi pernah mengingatkan kita, “Jangan berhenti mengoreksi diri karena nafsu suka akan pujian dan popularitas.”   Manusia jelas memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut pada hakikatnya memiliki kecenderungan kepada kemaksiatan.   … Continue reading