Arti Sebuah “Like”

Bagiku, memberi “like” pada suatu pernyataan itu bukanlah hal yang sepele. Betul apa kata ustadz Budi Ashari bahwa memberi “like” itu tanda setuju.

Kamu tahu? Aku tidak lagi asal me-like suatu pernyataan. Bahkan ketika aku setuju dengan isi materinya. Tapi aku tidak jadi me-like-nya jika aku pikir like yang aku berikan akan menyakiti perasaan teman saya.

Maksud saya, bahasa yang tidak santun yang sering diucapkan oleh orang yang tidak atau kurang dikenal itu terkadang tidak pandang bulu. Baik dengan nada yang merendahkan maupun dengan menghina, itu biasanya ada pada para komentator yang kurang dikenal. Maka dari itu ekspresi dari pernyataan itu penting bagi saya terutama jika ditujukan kepada orang yang saya sayangi, hormati, dan kenal dekat.

Tidak main-main itu soal “like”.

Sejujurnya berkali-kali pun saya pernah kecewa karena ada orang yang saya kenal dekat dan sayangi malah me-like pendapat seseorang yang mengkritik saya dengan nada merendahkan. Ah, sudahlah…

Advertisements

Canda Suami (2)

Saya (ceritanya) baru saja menghidangkan masakan di hadapan suami. Saya: Nih A, dimakan… πŸ™‚ Suami: Hmm… (dengan ekspresi lebaynya πŸ˜€ ) NB banget nih, Yang… (NB: Nikmat Banget). Saya: (cengar-cengir) Suami: Yang, garamnya kurang satu per lima puluh empat sendok. … Continue reading

Orang yang Tidak Senang Ada Kebaikan pada Orang Lain

Pada bab “Akhlak Orang-Orang Mulia” dalam buku Shaidul Khathir karya Imam Ibnul Jauzi, dikatakan bahwa termasuk “kebodohan” bila engkau bergegas menghadapi orang yang “hasad” dengan pertikaian. Seharusnya, kalau pun engkau ingin ‘menyakitinya’, maka hal yang pertama yang membuatnya tersakiti adalah “kebaikan dirimu”, dan kesungguhanmu dalam hal-hal yang mengangkat kedudukanmu.

Saya pernah menulis tentang ini, https://rinahuntxtnuh.wordpress.com/2013/12/28/antara-ghibthah-dengki-dan-gengsi/ , tentang ciri-ciri orang yang hasadnya sudah parah. Ternyata Ibnul Jauzi pun telah menuliskannya. Orang yang hasad itu bahkan tidak senang melihat adanya kebaikan pada orang yang di-hasad-i. Mungkin, ia sudah terlanjur “populer” dan telah menganggap dirinya berada di kedudukan yang tinggi. Lalu, ketika melihat orang lain lebih tinggi, baik dari segi amal ibadah, prestasi, maupun ilmu, maka ia tidak suka. Terlebih lagi jika orang lain itu bisa mendapatkan sesuatu (duniawi) yang selama ini diinginkannya, sedangkan ia tidak mendapatkannya atau belum mendapatkannya. Lalu, dia berusaha keras agar bisa tetap “populer” atau tetap memperoleh kedudukan yang tinggi di hati “manusia”, misalnya dengan mengaku-aku pemikiran atau ide orang lain sebagai idenya dengan mengubah sedikit redaksi, atau bisa juga misalnya dengan terus-menerus menunjukkan kelebihan dirinya untuk merebut hati manusia, (ini yang pernah disinggung Aa Gym ^^a misalnya untuk merebut hati target calon pendamping hidup hehe, atau merebut hati bos/pemimpin πŸ˜›Β ).

Maka, wajarlah apa yang dikatakan Imam Ibnul Jauzi bahwa orang yang hasad(nya sudah parah) akan merasa tersakiti justru dengan kita berbuat baik kepadanya, tetap memberi salam kepadanya, memberi hadiah, mengajaknya dalam satu forum kebaikan, dll, dan dia akan enggan (sangat berat) menyambut pemberian tangan kita karena jika ia menyambut kebaikan kita, berarti sama saja dia “telah mengakui” kelebihan kita. Di sana ia merasa telah ‘kalah’. Jika kita membalas perbuatan buruknya, dia akan tersakiti. Tetapi, anehnya, kita berbuat baik kepadanya juga ia lebih tersakiti.

Sahabat Terbaikku… :’)

Kisah hidup saya unik sepertinya. Masa-masa saya masih sekolah dulu berlalu begitu saja. Berkali-kali saya memperoleh teman dekat atau sahabat, ternyata setelah lulus kuliah kami tidak lagi sedekat dahulu. Bahkan, ada yang hampir tidak pernah lagi saling kontak. Tidak disengaja sih… Mungkin, karena kami sibuk dengan urusan kami masing-masing dan mungkin juga karena ketertarikan seta minta kami sudah tidak sama lagi. πŸ™‚

Pun ketika kuliah, semua orang sudah saling memisahkan diri. Kalau pun ada sampai sekarang dekat dengan saya, tidak semua mereka bisa selalu menerima saya apa adanya. Yang menyedihkan, karena suatu hal, saya merasa kehilangan dua orang sahabat. Entahlah, apakah saat kami dekat, persahabatan kami kurang tulus? 😦

Terkadang saya merenungi tentang sahabat-sahabat saya. Seberapa pun dekatnya mereka dengan saya, belum tentu (tidak ada yang menjamin) mereka bisa terus mencintai saya. Bisa saja di saat mereka mengetahui satu aib saja dari diri saya atau ada perbedaan pendapat, mereka mulai menjauhi saya. Tidak ada yang menjamin. Saya sungguh merasa bersyukur jika Allah karuniakan saya sahabat-sahabat yang tidak mudah meninggalkan saya baik secara fisik maupun hati mereka. πŸ™‚

Dunia luar terkadang membuat saya takut dan sedih. Yah, Allah kan sudah bilang ya bahwa manusia itu menjadi ujian bagi manusia lainnya. Namun, alhamdulillaah, Allah mengaruniakan saya sahabat yang bisa menerima saya apa adanya. Ia tahu banyak kekurangan saya, tetapi ia tetap mencintai saya. Dialah suami saya tercinta. Semoga Allah melanggengkan cinta kami sebagai suami-istri hingga kami diberi rahmat memasuki surga-Nya kelak dalam keadaan berpasangan kembali. Aamii… πŸ™‚

Ketika Suami Keluar Kota

Yang aku rasakan saat ini mirip dengan saat aku masih jomblo.

Sepi.

Sendiri dalam kamar.

Ah tidak. Ini bahkan lebih luas. Rumah ini terasa terlalu luas bagiku. Ditambah halaman yang cukup luas yang sepi dan gelap.

Aku kesepian πŸ˜₯

Tak kusangka. Rasa galau yang kurasakan setelah menikah bisa lebih parah dibandingkan saat aku sebelum menikah.

Setidaknya, ketika sebelum menikah, aku masih lebih poduktif.

Kalau sekarang, makan saja aku tidak bersemangat. πŸ˜₯

Suamiku, cepatlah pulang ke sini dan temui aku dengan senyum sumringahmu πŸ˜₯

Selama kau keluar kota sejak beberapa hari yang lalu, aku tidak nafsu makan. Aku selalu makan telat. Atau, makan hanya seadanya. Aku tidak moodΒ ngapa-ngapain.

Bahkan, inginnya selalu di dalam kamar. Aku malas keluar kamar.

Bagaimana aku menyembuhkan rasa yang tidak nyaman ini? πŸ˜₯ Aku selalu seperti ini jika kau tinggal sendirian ketika kau keluar kota.

Aku pun mencoba mendengarkan radio.

Ah, persis sama! Ya. Sama dengan saat aku masih jomblo. Hanya saat itu aku masih ada teman untuk mengobrol, yakni teman kosanku, alias tetangga kamar sebelah.

Tapi, kini? Siapa yang bisa aku ajak ngobrol?

Benar-benar sepi… Aku tidak pernah suka dengan kondisi hati seperti ini.

Selain itu, androidku pun rusak.

Yaa… obatnya cuma satu untuk mengusir sepi. Mendengarkan radio.

πŸ™‚

Hobiku sejak awal kuliah adalah mendengarkan radio, ya karena aku tidak ada TV…

Hiburan satu-satunya hanyalah radio πŸ™‚

Sepi pun terobati.

Ada rasa nikmat yang aku rasakan ketika mendengarkan radio dalam kesendirian.

Kalimat-kalimat positif yang terdengar sungguh membuatku bersemangat dan memberiku energi.

Terkadang juga renungan yang mensyahdukan, bahkan menangis karena suatu nasihat.

Ah, aku jadi rindu suasana-suasana itu… Di saat aku benar-benar merasa terpuruk. Menangis. Galau. Minta sesuatu dengan hati yang merendah.

:’)