Mengajar Itu Keterampilan

Alhamdulillah, saya sudah tiga setengah tahun berprofesi sebagai guru sejak bulan Oktober 2015 hingga saat ini (Mei 2019). Pada tahun 2015 s.d. 2018, saya mengajarkan anak usia SMP pelajaran Matematika, IPA, dan Prakarya di SMP Daarul Adab, sedangkan pada tahun 2018 s.d. 2019, saya mulai mengajarkan anak usia SD di Kuttab Al-Fatih cabang Cimenyan (Bandung) sebagai guru Al-Quran dan guru bimbingan belajar Matematika untuk anak-anak yang hendak mengikuti USBN Paket A. Saat saya menjadi guru SMP Daarul Adab, saya juga menjadi guru privat pelajaran Matematika dan IPA dari lembaga les privat yang dikelola oleh teman saya, yaitu AFL. Jadi, di sela-sela mengajar di SMP Daarul Adab, saya sibuk mengajar les privat. Namun, sejak kecil sebenarnya saya juga sudah suka mengajar, baik mengajar adik saya maupun mengajar teman-teman saya. Saya sangat menikmati momen-momen berbagi ilmu, memberi pemahaman, dan berusaha agar orang-orang yang saya ajarkan itu benar-benar sampai bisa menghayati dan mengamalkan ilmu. Bagi saya, suatu kehormatan jika ada teman saya yang datang kepada saya untuk meminta saya mengajarkan pelajaran yang belum dia pahami. Bagi saya, itu sebuah tantangan, apakah saya bisa membuat dia benar-benar paham atau tidak. Saya memiliki tiga adik kandung. Semuanya pernah saya bantu dalam belajar. Adik nomor 2, pernah saya ajarkan membaca di usianya yang masih sangat kecil, yaitu kira-kira 4 tahun, sedangkan saat itu saya masih berusia 6 tahun. πŸ˜€ Namun, saya masih ingat bahwa saat itu, saya galak banget kepada adik saya itu. Marah-marah melulu… Sekarang, kalau diingat-ingat kok lucu ya… Kasihan juga adik saya itu. Sok-sokan saya mengajar dia membaca sambil marah-marah, eh dia malah akhirnya sudah bisa membaca sendiri di usia 4 tahun tanpa banyak bantuan orang lain karena dia senang sekali membaca buku cerita atau komik. Adik nomor 3, pernah saya ajarkan menulis indah secara serius, baik tulisan Latin maupun tulisan Arab. Dia nurut banget sama saya agar tulisannya menjadi rapi dan indah. Benarlah, tulisan dia menjadi mirip dengan tulisan saya. Hehe… Adik bungsu pernah saya bantu belajar mempersiapkan ujian saat dia masih kelas 1 atau 2 SD. Sebelumnya, dia tidak pernah mendapatkan nilai yang memuaskan dan tidak mendapatkan peringkat 5 besar di kelasnya. Setelah saya bantu belajar, mengejutkan, nilai ujiannya ada yang bisa 10 (benar semua) dan dia masuk 5 besar berdasarkan nilai rapor keseluruhan (seingat saya peringkat 3). Namun, biasanya sih yang mengajarkan adik-adik itu ayah kami. Saya mengajarkan adik saya ketika saya ada waktu luang saja karena saya juga kan harus belajar. Ayah kami sangat kami andalkan ketika kami belajar dan mengerjakan PR, kecuali adik nomor 2. πŸ˜€ Adik nomor 2 justru paling tidak suka jika ayahnya mengajarkannya untuk membantu belajar. Dia lebih suka belajar dengan caranya sendiri dan lebih percaya dengan gurunya daripada dengan ayahnya. Ayah saya seorang guru matematika PNS yang ditempatkan di SMPN 20 Jakarta. Mungkin, berkaca dari aktivitas ayah saya sebagai guru itulah yang membuat saya menyukai aktivitas mengajar. Cara ayah saya mengajarkan saya matematika berhasil membuat saya mencintai matematika. πŸ˜€ Itulah sebabnya cara saya mengajarkan matematika mirip dengan ayah saya. Meskipun saya tidak kuliah di jurusan pendidikan, tetapi ayah saya sendiri sudah mewarisi keahliannya kepada saya. Jadi, bisa dikatakan ‘bersanad’ lah ya… πŸ˜€

Saat saya masih SD, dibentuk kelompok belajar oleh guru dan saya ditunjuk menjadi ketua kelompok belajar yang bertanggung jawab membantu teman-teman saya belajar, termasuk mengajarkan meskipun yang namanya anak SD, kalau belajar dilepas dari pengawasan orang tua ya jadinya banyak ngobrolnya sih. πŸ˜€ Masuk SMP, SMA, dan kuliah pun saya masih sering mengajarkan teman-teman saya pelajaran yang belum mereka pahami. Ada yang memang sengaja datang ke rumah saya untuk belajar bersama. Yang datang ke rumah saya biasanya teman-teman dekat saya sih atau saudara sepupu. Kebetulan, ada sepupu saya yang satu SMA (SMAN 8 Jakarta). Dia sering ke rumah saya untuk belajar matematika. Dia bilang sendiri bahwa saya itu cara mengajarnya lebih enak daripada guru di sekolah karena yang saya jelaskan itu lebih detail dan mungkin maksudnya lebih ngena ke poin-poin yang belum dia pahami. Saya lupa sih apakah guru di kelasnya sama dengan guru di kelas saya atau tidak, tetapi saya sangat suka cara mengajar guru matematika di kelas saya karena seperti ayah saya mengajar dan pas banget ternyata guru saya itu, Pak Iwan namanya, adalah guru berprestasi. Namun, kebanyakan ya saya hanya mengajarkan teman saya di sekolah saat luang dan istirahat. Saya justru senang jika diminta berbagi ilmu atau mengajarkan pelajaran yang dianggap sulit. Jadi, aneh jika saya dikatakan pelit ilmu. Saat kuliah pun begitu, saya masih sering diminta untuk mengajarkan Kalkulus dan Fisika saat TPB (tingkat 1 di ITB) oleh teman, terutama Kalkulus sih. Bahkan, meskipun ketika sudah tingkat 2, dst, saya sudah tidak lagi bertemu dengan Kalkulus di kelas, saya berinisiatif mengajarkan adik-adik mentoring saya Kalkulus ketika saya tingkat 3 sampai saya ajak mereka menginap di kosan saya sebagai persiapan mereka menghadapi ujian Kalkulus. Jadi, seru sih, membantu adik-adik mentoring belajar sekaligus mengajak dan mengingatkan sekalian untuk sholat berjamaah dan tahajjud. Dakwah dan menyampaikan ilmu dilakukan secara bersamaan. πŸ™‚ Saat itu, lumayan saya masih ingat Kalkulus. hehe… Setelah mulai masuk tingkat 4, dst, saya sudah tidak berinteraksi lagi dengan matematika, apalagi kalkulus, bertahun-tahun sehingga saya sudah banyak lupa. πŸ˜€ Yang saya sayangkan adalah saya tidak sekalian mengajar secara profesional selama kuliah sehingga ilmu yang pernah saya kuasai tidak akan terlupakan. Selain itu, saya juga sebagai mentor/asisten dosen mata kuliah Agama Islam dan tutor tahsin di kampus. Setelah lulus kuliah pun saya tidak berhenti dari aktivitas mengajar secara sukarela, bukan yang diberi gaji. Jadi, saya sudah sering mengajar sebelum saya berprofesi sebagai guru yang mendapat gaji bulanan. Ternyata, banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dengan mengajar.

Yang paling bermanfaat dari mengajar adalah ilmu yang telah dipahami lebih lama menempelnya sehingga tidak mudah terlupakan. Jadi, mengajar adalah salah satu cara mengikat ilmu. Ilmu yang kita ajarkan tidak akan habis, bahkan semakin dalam dipahami dan semakin bisa dikuasai karena mengajar itu berbeda dengan hanya belajar. Dengan mengajar, kita dituntut untuk memberi pemahaman yang utuh kepada murid kita. Kalau gurunya tidak memahami ilmu yang diajarkan, bagaimana muridnya bisa paham? Menariknya, saya sangat merasakan bahwa semakin lama mengajar, maka semakin lihai/luwes dalam menyampaikan ilmu. Pada awalnya, saya merasa gerogi, khawatir saya kehabisan bahan pembicaraan selama mengajar. Namun, setelah lama mengajar, rasa gerogi sudah hilang, bahkan berubah menjadi percaya diri dan sudah mengejar target pendidikan adab dan memasukkan materi-materi sebagai misi islamisasi ilmu. Kalau masih gerogi kan fokusnya menjadi kepada bagaimana bisa menyampaikan materi dengan baik sehingga belum bisa menyelipkan misi islamisasi ilmu dan pendidikan adab.

Mengajar merupakan bentuk keterampilan, salah satunya public speaking. Saya dahulu saat sekolah termasuk yang paling tidak suka menjadi pusat perhatian orang banyak. Saya dahulu sangat pendiam dan pemalu sehingga kurang mampu bergaul dan bersosialisasi karena sulit beradaptasi dengan orang yang baru ditemui. Maka dari itu, ketika melihat ayah saya mengajar, saya sempat terpikirkan apakah saya bisa seperti ayah saya berbicara dengan percaya diri di depan orang banyak? Saya selalu demam panggung jika diberi tugas pidato, membaca puisi, atau sejenisnya. Karena saya menyadari kekurangan saya itu, saya tidak tinggal diam membiarkan hal itu ada dalam diri saya. Saya berusaha untuk menghilangkan demam panggung dan sifat yang terlalu pemalu dengan berorganisasi sekalian belajar bersosialisasi. Ternyata benar, dengan berorganisasi dan memperbanyak interaksi dengan orang lain, sifat terlalu pemalu dapat jauh berkurang sehingga saya tidak malu mengungkapkan pendapat saya. Ini penting sekali karena ini modal awal untuk berani mengatakan kebenaran. Dengan belajar menjadi seorang mentor dan tutor pun melatih keterampilan public speakingΒ saya sedikit demi sedikit. Saya pernah ikut pelatihan public speaking yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi mahasiswa di kampus sebagai bentuk kaderisasi. Saat itu saya ditunjuk oleh trainer-nya untuk pidato di depan teman-teman secara mendadak dengan topik yang mendadak juga diberi tahunya. πŸ˜€ Tentu saya kaget dan demam panggung, tetapi saya hadapi tantangan itu. Alhamdulillah, sepertinya saya sudah melewati masa-masa itu sehingga saat ini saya sudah cukup percaya diri jika harus berbicara di depan umum, tetapi saya belum terbiasa sih kalau disuruh menjadi MC, pidato, membaca puisi, atau orasi karena harus ekspresif banget sih ya… Kalau mengajar kan berbeda rasanya. Hehe…

Mengajar juga membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Mungkin, tidak semua orang Allah mudahkan dalam mengajar karena bermasalah dalam berkomunikasi dan memahami psikologi muridnya. Karena ketika kita mengajar itu berhadapan dengan manusia, bukan dengan mesin/robot, cara menyampaikan ilmu dan nilai ke setiap murid kita bisa jadi berbeda-beda. Di sini sang guru perlu memahami psikologi dan cara berpikir muridnya. Bagaimana sang guru bisa meluruskan cara berpikir muridnya jika sang guru tidak bisa memahami psikologi dan cara berpikir muridnya itu? Sebagai contoh, dalam mengajarkan matematika. Saya sebagai guru biasanya berusaha memahami apa penyebab murid saya sulit memahami pelajaran. Saya mencoba memosisikan diri saya sebagai murid saya. Saya akan mencari celah-celah yang terlewat oleh saya sebelumnya dan kemudian memanfaatkan celah tersebut untuk menambahkan penjelasan. Ini merupakan keterampilan yang perlu dikuasai oleh seorang guru, menurut saya. Saya pernah mengajarkan les privat pelajaran Biologi sampai si anak yang saya ajarkan kecewa jika guru les privatnya diganti. πŸ˜€ Saya juga bingung sih mengapa anak itu maunya saya yang mengajarkannya Biologi, padahal kan saya bukan lulusan jurusan Biologi. Guru yang sempat menggantikan saya justru dia lulusan jurusan Biologi. Dari sini, saya semakin yakin bahwa saya berbakat menjadi seorang guru. Seperti apa yang dikatakan sepupu saya, penjelasan saya lebih ngena pada poin-poin yang tidak dia dipahami karena ketika saya mengajar, saya selalu memosisikan diri saya sebagai murid yang saya ajarkan. πŸ™‚ Saya juga pernah mengajarkan anak SMP Bab Bilangan Bulat cukup lama. Ternyata konsep bilangan positif dan negatif itu cukup sulit dipahami. Saya menggunakan banyak sekali cara untuk memberi pemahaman, mulai dari analogi yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari sampai praktik jalan maju-mundur. Ternyata, praktik jalan maju-mundur itu cukup menarik bagi mereka dan lebih mudah dipahami. πŸ˜€ Saya juga pernah menjelaskan konsep himpunan dalam diagram Venn yang kompleks sampai menggunakan potongan-potongan kertas agar lebih mudah tergambarkan. Saya belum pernah melihat guru lain yang menggunakan metode yang saya gunakan itu. Itu metode yang tiba-tiba terpikirkan oleh saya di tengah-tengah proses saya mengajar di kelas. Semakin lama pengalaman seorang guru mengajar, maka semakin banyak metode-metode yang terpikirkan untuk digunakan dalam mengajar. Namun, itu bergantung juga pada kreativitas masing-masing guru.

Menurut saya, keterampilan yang paling penting dikuasai oleh seorang guru adalah menyederhanakan kalimat/bahasa yang digunakan sehingga materi yang rumit terkesan sederhana. Apalagi jika sang guru berhadapan dengan anak-anak usia SD. Ini tantangan bagi setiap guru untuk menyederhanakan kalimat yang digunakan dalam menyampaikan ilmu karena banyak kosa kata yang bisa jadi belum pernah mereka dengar. Sebaiknya, dalam mengenalkan kosa kata baru kepada anak-anak usia SD itu sedikit demi sedkit, tidak langsung banyak. Namun, menurut saya, seorang guru tidak perlu terlalu takut juga memperkenalkan kosa kata baru karena itu bagian dari proses mereka belajar bahasa. Alhamdulillah, saya berkesempatan mengajar anak-anak usia 7 tahun di Kuttab Al-Fatih dan ini pengalaman yang bagus untuk saya. πŸ™‚ Jadi, sebagai guru jangan berbangga jika menjelaskan materi dengan kalimat yang rumit ya… πŸ˜€ Justru, sebenarnya ada PR tambahan sih, sebagai guru seharusnya tidak hanya menjelaskan materi, tetapi juga harus memengaruhi murid-murid untuk mengamalkan ilmunya atau membuat mereka bisa menghayati ilmunya dengan hatinya. Jadi, guru juga harus bisa menjadi motivator sehingga mungkin guru perlu juga sedikit ekspresif. πŸ™‚ Mengajar itu tidak hanya dengan lisan, tetapi juga perlu dengan hati, ekspresi wajah, dan gerak-gerik tubuh. Saya jadi teringat dengan perkataan seorang ulama, yaitu Imam Zarkasyi, bahwa metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan yang paling penting adalah ruh sang guru. Saya pertama kali mendengar ini dari ustadz Adian Husaini dan kembali saya dengarkan ketika saya mengajar di Kuttab Al-Fatih. πŸ™‚

Terakhir, yang paling sulit, menurut saya adalah guru menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya, terutama guru agama ya… Sebenarnya ini bukan keterampilan ya karena ini bergantung pada keshalihan atau ketaatan sang guru kepada Allah. Namun, hal ini semoga menjadi pengingat para guru, khususnya saya, bahwa seorang guru seharusnya tidak hanya menyampaikan ilmu saja, tetapi mencontohkan mengamalkan ilmu dengan bertakwa kepada Allah sebagai bentuk syukur juga telah dititipkan ilmu oleh Allah. Alhamdulillah, selama mengajar di Kuttab Al-Fatih, kami para guru selalu diingatkan untuk menjadi teladan yang baik sehingga saya pribadi termotivasi untuk selalu memperbaiki diri. Di Kuttab Al-Fatih, saya diberi amanah menjadi guru Alquran. Sebenarnya ini amanah yang berat karena sebelumnya saya belum pernah menjadi guru Alquran profesional. Saya hanya pernah menjadi guru tahsin secara sukarela. Siapa yang mau belajar tahsin kepada saya, dipersilakan. Namun, saya mengajarkan tahsin dengan ilmu seadanya. Tak disangka, di Kuttab Al-Fatih saya diamanahkan sebagai guru Alquran, padahal saya melamar sebagai guru iman. Semoga Allah mengampuni saya jika selama ini saya belum bisa menjadi teladan yang baik bagi murid-murid saya. Hingga saat ini, saya masih bercita-cita menjadi seorang dosen. Semoga Allah kabulkan cita-cita saya. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s