Seandainya…

Aku mau sedikit (?) berkhayal ya…

Sudah 3 tahun aku hidup berumah tangga di rumah yang sederhana. Kami alami kesulitan dalam mencari kontrakan yang nyaman untuk ditinggali. Pertama-tama kami tinggal di rumah yang lebih tepat disebut sebagai paviliun. Hanya ada 1 kamar ukuran kira-kira 2,5m x 3m, ruang “antara” kecil berukuran kira-kira 1m x 2,5m yang kuisi dengan rak buku, kamar mandi berukuran 1,2m x 1,2 m, dan pantry yang sebenarnya hanya cukup untuk meletakkan piring dan gelas, tidak cukup memuat kompor gas. Jangan tanya soal kulkas, mesin cuci, blender, magic com, dan alat elektronik lainnya. Tidak akan muat alat-alat elektronik tersebut diletakkan di dalam paviliun tersebut. Kami mencoba bersabar tinggal di tempat itu. Kesulitan yang paling aku rasakan ketika mencuci baju. Aku harus naik tangga kayu yang curam dan sempit, tidak sesuai standar keamanan, untuk menjemur pakaian. Suamiku baru saja kena musibah, ditipu orang lain saat hendak investasi properti milik orang yang dipanggil “ustadz”. Kami tidak bisa mengontrak untuk setahun. Kami hanya bisa membayar kontrakan tiap bulan, sesuai penerimaan gaji suamiku. Ternyata, sulit sekali mencari kontrakan yang bisa dibayar perbulan.

Awalnya, suamiku ingin kami tinggal di rumah orang tuanya terlebih dahulu, di Bogor. Namun, mengingat aku saat itu belum wisuda dan harus menyelesaikan revisi sehingga masih harus sering bertemu dosen pembimbing, kami harus mengontrak di Bandung dekat kampus. Lagi pula, aku tidak ingin LDR-an dengan suamiku. Aku tidak ingin tinggal di Bogor, sedangkan suamiku kerja di Bandung. Aku tidak mau seperti itu. Apalagi, aku masih merasa asing dengan keluarga suamiku. Aku belum dekat dengan ibu mertuaku dan adik iparku. Aku juga tidak ingin ada masalah antara aku dengan ibu mertuaku karena perbedaan gaya hidup dan kulturnya. Aku ingin kami tinggal terpisah dari orang tua. Jadilah kami tinggal di paviliun tersebut, sangat dekat dengan kampus. Namun, biaya sewanya menurutku masih terlalu mahal untuk kualitas tempat tinggal seperti itu, 700.000/bulan. Bagiku, paviliun seperti itu harusnya hanya 500.000/bulan. Apa daya, tidak ada lagi.

Kami sempat ada miskomunikasi dengan ibu kontrakan sehingga kami terpaksa segera pindah rumah, entah ke mana. Saat itu aku tidak bisa menahan tangis saking sedihnya menghadapi ujian tersebut. Suamiku masih mencari kontrakan, kami sudah membawa keluar semua barang-barang kami, sedangkan aku menunggu, duduk meluruskan kaki di koridor Masjid Salman. Suamiku tidak menemukan kontrakan yang biaya sewanya pas di ‘kantong’. Kami terpaksa tinggal di (menyewa) kamar berukuran 3m x 3m dengan kamar mandi di dalamnya yang lebih besar daripada sebelumnya. Lebih tepat disebut mengekos ya daripada mengontrak… ^^ Kamarnya benar-benar kosong, tanpa tempat tidur dan tanpa lemari. Tidak ada apapun. Gorden pun hanya menutupi jendela sebagian. Kami tutupi sebagian lainnya dengan kertas. Belum mampu membeli tempat tidur yang empuk, kami pun beli kasur gulung. Aku menangis tergugu di kamar karena belum siap menerima ujian tersebut.

Hanya sebulan kami tinggal di sana, kami pun pindah lagi mencari rumah yang agak besar dari sebelum-sebelumnya. Kami dapat rumah dengan 2 kamar yang cukup besar. Sebenarnya kami tidak butuh 2 kamar. Kami hanya butuh 1 kamar dengan ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Sayangnya, tidak ada lagi. Biaya sewanya pun cukup mahal, 1,2 juta/bulan belum termasuk listrik dan air sehingga ditotal menjadi 1,3 juta dengan listrik dan air. Namun, ada miskomunikasi antara aku dengan suamiku. Suamiku kurang menjelaskan detail kondisi rumah yang akan kami tempati. Sampai aku di sana, ternyata dinding rumah itu tidak semuanya dari batu bata, sebagiannya dari triplek dengan rangka kayu. Begitupun lantainya, tidak semua lantai rumah itu menggunakan ubin/tegel putih, tetapi sebagiannya lantai kayu. Tidak ada gorden. Tidak ada wastafel atau meja kompor. Rumah yang kukontrakkan itu berada di lantai 2. Tangganya tidak sesuai standar keamanan. Tidak ada railing-nya dan tinggi tiap anak tangga melampaui batas, 30cm kira-kira yang seharusnya tidak boleh lebih dari 25cm. Ujian paling berat ketika tinggal di rumah itu adalah masuknya tikus ke dalam rumah dengan menggerogoti dinding triplek dan lantai kayu. Tikusnya lebih dari satu. Tikus itu membuat sampah berantakan. Kotorannya ada di mana-mana. Tikus itu juga sering menggerogoti toples berisi makanan, termasuk toples Tupperware pemberian ibuku. 😥 Tentu saja aku tidak betah di sana. Kami harus pindah segera. Mencari yang lebih nyaman, yang ada wastafelnya dan meja kompor gas, dengan harga sewa yang lebih terjangkau. Kami tinggal di sana hanya 3 bulan.

Kami pindah ke rumah kontrakan yang hingga saat ini masih kami tinggali. Rumah dengan 2 kamar, dinding permanen (dari batu bata), lantai keramik mengilap, ada wastafel dan meja kompor gas, dan lantai 1. Sesuai dengan harapanku walaupun sebenarnya kami tidak butuh 2 kamar. Namun, itu tidak masalah… Nanti kamar satunya lagi bisa dijadikan tempat menginap untuk keluarga (orang tua) ketika berkunjung. Namun, ternyata kami tidak lepas dari masalah. Ternyata airnya kotor sekali. Rasa-rasanya kami tidak mungkin memasak, bahkan mandi, dengan air itu. Pompa air pun sempat rusak berkali-kali. Akhirnya keran air aku tutup dengan kain dengan maksud menyaring airnya ketika air keluar dari keran. Masih tidak cukup bening, ternyata. 😥 Mau bagaimana lagi? Aku memasak dengan air Aqua. Biarlah aku mandi dan mencuci dengan air tanah. Masalah lain yang timbul dan cukup membuatku terganggu adalah banyaknya hewan beraneka ragam jenis mengotori rumah. Halaman rumahnya luas , tetapi tidak tertata. Mungkin itu yang menyebabkan banyak hewan masuk rumah. Kecoa banyak. Cicak juga banyak. Semut pun banyak. Setiap ada makanan terbuka, pasti beberapa menit kemudia langsung dikerubungi semut, baik semut merah maupun semut hitam. Kotoran cicak di mana-mana di dalam rumah. Aku letih membersihkannya. Begitu pula butiran-butiran hitam kecil kering pun di mana-mana. Aku tidak tahu itu apa. Mungkin, kotoran kecoa. 😥 Tikus kecil sempat masuk rumah, tetapi alhamdulillaah sekarang tidak ada lagi tikus yang masuk rumah. Namun, tikus kecil dan besar berkeliaran di halaman. 😥 Aku tebak, tikus-tikus itu masuk lewat lubang saluran dari selokan. Yang paling tidak tahan, jika aku menemukan bangkai tikus di halaman rumah. >_< Ada kucing liar yang selalu masuk ke pekarangan rumah membunuh tikus-tikus, tetapi tikus itu tidak dihabisi. Disisakan di halaman rumah… Aaaah…. Aku tidak suka melihat bangkai tikus di halaman rumah, apalagi jika sudah ada belatungnya… Huuhuu… Aku tidak tahan dengan kondisi seperti itu… Di luar rumah pun ada ayam berkeliaran. Entah itu ayam siapa. Untungnya ayam itu tidak bisa masuk pekarangan rumahku. Ah, jangan sampai deh… Kotorannya di mana-mana di luar itu… 😦 Lalu, ada lagi hewan-hewan lain yang mengganggu hidupku >_< Kalau lagi musim hujan, tiba-tiba aja cacing pada keluar dan malah masuk rumah… 😥 dan keong-keong pada bertengger di tembok. Kotorannya menempel di tembok. Itulah yang menyebabkan ekspresi wajahku langsung berubah sedih jika melihat keong mulai nempel di tembok. Biasanya, keong itu langsung aku jatuhkan ke lantai, lalu aku tending jauh-jauh dari rumah. Rumah keong yang kokoh, tidak mudah pecah. Kondisi rumah seperti itu membuatku sering malas membersihkan rumah secara menyeluruh. Energiku habis untuk mengurusi kotoran-kotoran hewan. Sebelum kami beli rak jemuran saja pakaian-pakaian yang kujemur di bawah pohon jambu kelutuk selalu saja kejatuhan buah jambu yang habis dimakan burung atau bahkan kejatuhan kotoran burung. Pakaian yang sudah bersih terpaksa aku cuci lagi… Huaaaa… Ya Allah, sampai kapan aku harus begini? Aku ingin tinggal di rumah yang nyaman… 😥

Seandainya tidak ada hewan-hewan pengganggu, mungkin aku bisa bersemangat menyapu dan mengepel setiap hari. Soalnya, menyapu dan mengepel rumah ini sungguh melelahkan… Aku mesti membersihkan kotoran-kotoran hewan terlebih dahulu, sebelum aku menyapunya dan tentu setelah menyapunya, aku harus mengepelnya dengan telaten…

Pekerjaan yang paling melelahkan setelah menyapu dan mengepel adalah mencuci baju. Aku harus membungkuk dalam waktu lama ketika mencuci pakaian sehingga punggung ini terasa pegal. Seandainya ada mesin cuci… >_< Kalau pun aku beli mesin cuci sekarang, mau ditaruh di mana? Airnya pun masih kotor… Belum dikasih filter. Torennya pun bocor dan saat ini (saat aku menulis ini) airnya tidak keluar saat dinyalakan pompanya… Sendiri di rumah menghadapi ujian ini karena suamiku sedang di luar kota. 😥 Di rumah tadi sempat tidak ada air sama sekali, kecuali air minum. Aku sudah pesan air bersih dari tadi, tetapi air bersih pesananku tidak kunjung datang. Saat aku hendak wudhu di masjid karena di rumah tidak ada air, tiba-tiba hujan deras dan kerudung dan gamisku basah. Masalah rumah kontrakan yang saat ini aku tempati memang soal air. Pompa air sempat berkali-kali rusak. Semoga saja kondisi ini hanya sebentar karena rencananya, semua instalasi air akan diperbaiki, dipasang filter, dibuat otomatis agar tidak terus harus dinyalakan manual, dan toren yang bocor akan diganti yang baru dengan uang kontrakan ini. Fyuuuh… Kenapa gak dari awal atuh pak???

Setelah hujan reda selepas sholat ashar, akhirnya aku minta tolong tetanggan dekat rumah untuk mengantarkan air pesananku. Beliau biasa dibayar Rp.7000 untuk mengantar 1 gerobak air ke setiap rumah yang memesan. Satu gerobak itu sebanyak 1 ember paling besar, 1 ember paling besar kedua, 1 ember sedang, dan 1 ember kecil. Kira-kira cukup untuk 2 hari jika tidak air tambahan dari air tanah. Alhamdulillaah. Sekarang airnya sudah sampai dan aku bisa menggunakannya untuk mandi, dll. Namun, jujur aja aku kesulitan mencuci piring dengan air di ember… 😦 terbiasa dengan air keran…

Aku ingin mengkhayal… XD

Aku ingin suatu saat nanti (semoga gak lama lagi) aku bisa tinggal di rumah sendiri, gak ngontrak agar gaji suamiku gak terpotong lagi 1 juta/bulan, tidak ada hewan-hewan pengganggu, lalu rumah kami nanti dibangun dengan desain kami sendiri. Kami ini lulusan arsitektur. Masa’ rumah tinggal kami didesain orang lain? 😀 Mungkin, kami belum sanggup membangun rumah dengan 3 kamar atau lebih. 🙂 Minimal 2 kamar saja dulu. Ukuran kamar minimal 2,5m x 3m lah… ^^ jangan kurang… Malah kalau bisa 3m x 3m agar bisa dimasukkan meja atau rak tambahan. Saat ini aku belum punya tempat tidur yang tinggi, baru punya kasur empuk yang diletakkan di lantai. Jadi aku kesulitan membersihkan lantai di bawahnya. Susahnya lagi, kasurnya jadi kotor karena debu di lantai dan… kotoran cicak bagian bawahnya… heu… -_- Semoga nanti bisa beli tempat kasurnya… 🙂

Aku juga ingin kamar mandi yang berukuran minimal 2m x 2m. Rasanya itu sangat pas, tidak lebih dan tidak kurang, untuk mandi, mencuci-cuci entah apa, sikat gigi, dll. Yang pasti, kamar mandinya harus ada bak permanennya dan keran di luar bak. Kalau bisa, ada tempat wudhunya di luar kamar mandi dan tempat mesin cuci. Aku ingin punya mesin cuci nantinya… Lalu, ada ruang tamu yang juga minimal berukuran 2,5m x 3m, ruang keluarga yang juga minimal berukuran 2,5m x 3m, serta dapur yang lantainya lebih rendah agar beceknya tidak sampai ke uang keluarga. Tidak masalah tidak perlu ada ruang makan. Kami bisa makan di ruang keluarga. Hanya saja aku ingin dapur yang agak besar, kira-kira samalah berukuran minimal 2,5m x 3m. Di belakang dapur aku ingin ada taman belakang atau bisa juga ada innercourt. Asik tuh kayaknya… Innercourt itu harus bersebelahan dengan ruang keluarga dan dapur kalau bisa…

Soal perdapuran, aku udah punya kulkas, dispenser, magic com, rak piring kecil, dan kompor gas. Nah, aku rasa rak piringnya sudah tidak muat. Aku butuh rak piring yang lebih besar. Selain itu, aku juga butuh blender untuk masak-masak yang lebih praktis. Banyak masakan yang bumbunya harus dihaluskan terlebih dahulu, seperti nasi goreng, sayur asem, soto, sayur daun singkong, bumbu ikan dan ayam, dll. Untuk nasi goreng sih mungkin lebih enak ditumbuk. ^^ Tapi itu yang bikin males. Udah kebayang capeknya numbuk bumbu, lalu mencuci tempat numbuknya itu berat rasanya. Saya suka gak kuat bawa tempat numbuk lama-lama ketika dicuci… Semoga nanti punya blender. 🙂

Aku juga ingin sekali-kali bisa masak kue. Maka, aku ingin sekali suatu saat nanti punya oven.. Mixer udah ada. Tinggal ovennya kan… Terasa betul memang bahwa kelengkapan perabot rumah tangga itu membantu pekerjaan rumah para ibu. Aku merasakannya sendiri saat aku belum punya kulkas, bahan-bahan makanan harus segera dihabiskan hari itu juga. Nanti khawatir layu dan cepat membusuk. Lalu yang membingungkan itu meletakkan bahan makanannya. Jadi tercecer di lantai… 😦 Kami belum punya meja sama sekali untuk meletakkan makanan dan bahan makanan. Kalau hendak makan, ya disajikan di lantai… ^^ Semua perabot dilengkapi secara bertahap. Jika belum lengkap ya bersabar saja… ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s