Karakter BaKu: “Perak yang Dibakar”

Saya mencoba membaca kembali bab ikhlas, rasanya seperti ditampar-tampar. Menghayati setiap hadits yang dikutip Aa Gym dalam buku Karakter BaKu, rasanya sedih termenung, saya pun menggumam, “Ya Allah, adakah amalanku yang ikhlas?” Aku merasa kepekaanku terhadap ciri-ciri ikhlas dan riya’ berkurang drastis dibandingkan saat aku dahulu rutin mendengarkan ceramah beliau, Aa Gym. Kekurangpekaan inilah yang kukhawatirkan menjerumuskanku kepada riya’ tanpa kusadari. 😥

Membaca halaman pertama bab ikhlas pada buku ini, saya tertegun dengan analogi yang dikatakan oleh Prof. Quraish Shihab tentang “nusuk” pada Al-Quran Surat Al-An’am ayat 162-163 bahwa pada mulanya kata tersebut digunakan untuk menggambarkan perak yang sedang dibakar dengan tujuan kotoran dan bahan-bahan lain yang bercampur dengannya terlepas sehingga yang tersisa adalah perak murni. Murni. Tidak bercampur. Ah, aku selama ini sepertinya meremehkan pentingnya kemurnian ikhlas agar segala ibadah dan amalan diterima oleh Allah. 😥 Sempat terpikir berkali-kali, “Apa iya ya harus murni? Gak boleh bercampur sama sekali? Tapi gimana ya caranya?” Lalu, saya teringat nasihat Aa Gym saat menganalogikan buruknya niat yang mengandung riya’ dengan segelas air minum yang diludahi sedikit saja, apakah kita mau meminumnya? Walaupun aku ingat analogi tersebut, tetap saja aku meremehkannya. Maka, ketika aku membaca kembali bab ikhlas, rasanya tuh ngejleb-ngejleb. >_<

Aa Gym mengutip hadits Nabi saw, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya.” (terjemahan HR Nasa’i)

Allah swt pun berfirman yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) gama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Pernahkah kamu mendengar hadits yang mengatakan bahwa orang yang bersedekah dengan tangan kanannya tanpa diketahui tangan kirinya itu lebih kokoh dari apapun juga bahkan daripada gunung dan angin? Ah, memang, hanya orang-orang yang sangat kuat dan kokoh keimanannya yang mampu ikhlas semurni-murninya. 😥 Dia benar-benar yakin akan balasan di kemudian hari. Dia benar-benar yakin bahwa Allah sedang mengawasinya. Dia tidak butuh penilaian makhluk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s