Islam Membuat Saya Mencintai Semua Bidang Ilmu

Teringat saat saya masih unyu-unyunya, yang saya suka hanya Sains. Lebih dipersempit lagi, hanya Matematika. Lalu, selain itu paling juga Seni. Saya dulu suka seni. Paling suka sih Seni Rupa, khususnya aktivitas menggambar dan apapun yang berhubungan dengan etestika. Tapi gak suka bikin patung, entah kenapa… Udah, itu aja… Matematika dan Seni. Haha… πŸ˜€

Lambat laun, saya mulai mendalami Islam (padahal mah dari kecil saya sudah belajar bahasa Arab, tapi gak tau kenapa saat itu paling ga suka sama bahasa Arab dan aktivitas menghafal kitab-kitab berbahasa Arab walaupun akhirnya dihafalkan juga ^^a) saya pun mulai menyukai pelajaran Agama (dari dulu kemane ajae Rin ^^). Emang sih, terkadang tuh tergantung gurunya juga… Tapi senangnya saya dengan pelajaran agama jelas hidayah dari Allah. Perasaan itu mulai saya dapat ketika saya kelas III SMP. Itupun masih suka bolos ngaji. ^^ Maklum, dulu saya itu study-oriented.Β Kalau ada ujian atau PR keesokan harinya, saya lebih memilih bolos ngaji daripada ga punya waktu lebih untuk belajar. Saya saat itu selalu berambisi untuk selalu dapet nilai bagus.

Mulai SMA, saya putus mengaji karena sekolahnya sampai sore. Beruntung alhamdulillaah, saya masih bisa ikut mentoring. Entah mengapa saya selalu suka saat-saat saya mentoring. T_T Udah gitu, walaupun saya saat itu belum berkerudung, saya sangat bergembira menghadiri acara-acara Rohis SMA. Acara yang paling membekas di hati saya adalah Pesantren Kilat khas SMAN 8 Jakarta. Kenapa? Soalnya, pesantren kilat tersebut diwajibkan oleh pihak Sekolah kepada siswa-siswi muslim minimal 1x. Selain itu, saya juga baru merasakan Pesantren Kilat di luar kota Jakarta. Jadi, rasanya kayak jalan-jalan aja… πŸ™‚ Selama Pesantren Kilat, hal yang baru saya rasakan juga adalah dipisahnya laki-laki dan perempuan secara total walaupun masih 1 tempat/gedung. Hijab hitamnya itu tinggi… Yang terlihat paling juga yang ada di depan tempat pertemuan atau pembicaranya. Itu berkesan banget buat saya… πŸ™‚ Saya merasa nyaman berada di lingkungan yang isinya hanya wanita saja… Walaupun saat itu saya belum berkerudung.

Banyak dari teman-teman saya (biasanya memang begitu) sepulang dari Pesantren Kilat tersebut, jadi istiqomah mengenakan kerudung. Kalau saya? Ehem… waktu itu sih belum bisa istiqomah… Tapi sudah ada kemajuan lah… pakai kerudungnya tiap hari Jumat. Itu pun atas bujuk rayu mentor saya. Soalnya saat itu, saya gak mau dibilang saya pakai kerudung karena acara itu. Entah kenapa saya dulu itu anti banget sama komentar orang. Gak suka tenar mendadak karena hal kayak gitu. Selain itu, ada alasan lain juga sih… Yah maklum lah ya… Alasan mah pasti banyak.

Saya pun diterima di ITB. Hari pendaftaran ulang, saya masih belum mengenakan kerudung. Saya mengenakan kerudung pertama kali saat hari pertama kuliah. πŸ™‚ Walaupun awalnya ragu, saya pun akhirnya memberanikan diri masuk Gamais. Ah, padahal Gamais tidak pernah menolak kan jika ada yang mau gabung di pertengahan. Tapi saya waktu itu gak kepikiran macem-macem deh… Saya hanya ingin wadah aktivitas yang nyaman dan kekeluargaan yang tiada akhir (ukhuwah). (Ah, benar juga ya… Apa yang saya inginkan telah saya dapatkan hingga saat ini… πŸ™‚ Alhamdulillaah…)

Sejak itulah, saya semakin mendalami Islam dengan tahapan-tahapan yang sebenarnya bisa dibagi-bagi lagi. Hanya saja saya ingin menekankan bahwa setelah saya mulai mendalami Islam lebih jauh, ternyata bidang ilmu yang saya sukai semakin banyaaak… πŸ˜€

Tau gak sih, dulu saya paling gak suka sama pelajaran IPS? IPS yang paling saya gak suka adalah sejarah! πŸ˜€ Tapi, ternyata sekarang saya jadi suka banget sejarah… XD Rasanya tuh bahagia banget jika mengetahui rahasia-rahasia tersembunyi dari sejarah. Selain itu, visi yang jelas ternyata memengaruhi seberapa tahan kita bisa berkutat dengan buku dan ilmu. Lalu, yang aneh juga sekarang saya juga suka banget ilmu politik! Padahal, dulu gak ngerti apa-apa lah soal politik. Bahkan, saya sempat beranikan diri untuk ikut lomba menulis tentang politik saking inginnya ide-ide saya disebarluaskan. Begitu juga ilmu-ilmu sosial lainnya… Saya sekarang malah jadi penyuka ilmu-ilmu sosial… ^^ Tapi masih gagap peta buta sih… haha… tapi sekarang mah lebih mending lah… soalnya terkadang untuk memahami kondisi politik atau sosial suatu tempat mesti tau peta juga… Oya, dulu ilmu sosial yang paling saya suka sebenernya adalah ekonomi. Tapi karena istilah ekonomi itu terlalu banyak dan saya baru sempat mengenyam ilmunya sampai kelas X (alias I SMA), maka saya masih gagap juga soal ekonomi. Saya gak ngerti soal ekonomi… Tapi sejak saya kenal Islam lebih dalam, saya sempat mengazamkan diri, suatu saat nanti saya harus paham ekonomi Islam. πŸ™‚

Soal pendidikan juga makin saya gemari. Dulu sih udah suka soal pendidikan karena saya berasal dari keluarga guru. Banyak dari keluarga besar saya adalah seorang guru. Maka, bisa dibilang, saya melek kondisi pendidikan Indonesia. Ya gimana gak melek, wong orang tua saya sering komentarin pendidikan Indonesia… πŸ™‚ Hanya saja, saya semakin bersemangat untuk mendalami ilmu pendidikan saat ini karena saya ingin tahu pendidikan dalam tradisi keilmuan Islam itu seperti apa sehingga mengantarkan sosok-sosok seperti para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan para khalifah yang tercatat dalam sejarah dicintai oleh rakyatnya. Misalnya, kayak Shalahuddin al-Ayyubi, dan Muhammad al-Fatih.

Saya yang sudah menyukai seni sejak dulu, sekarang semakin bahagia jika saya bisa mengeksplor seni dengan Al-Quran. πŸ™‚ Ada seni kaligrafi, seni tartil Quran, dll. Matematika pun bisa digunakan dalam memahami Islam karena keilmuan Islam tidak hanya digali dengan Al-Quran dan Al-Hadits, tetapi juga logika. Saya sangat senang belajar ushul fiqih misalnya… dan ilmu-ilmu lainnya. Dulu, saya gak suka Bahasa Arab, tapi sekarang saya bahkan ingin bisa baca kitab gundul. ^^

Dan masih banyak ilmu lainnya yang baru saya sukai setelah saya mendalami Islam. πŸ™‚

Kia-kira kenapa ya bisa begitu? Saya yakin ini pasti ada penyebab utamanya. Saya pikir-pikir, kayaknya ya itu karena:

  1. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan
  2. Islam merupakan ajaran yang menuntut seseorang untuk mengaplikasikan atau menjalankan ilmu yang sudah didapat, jadi belajar bukan cuma soal biar pintar, tapi soal biar makin sholeh dan beradab
  3. Islam memberi iming-iming hadiah berupa surga di akhirat yang tak ternilai dan tidak ada bandingannya di dunia dan jika salah jalan, nanti bisa ke tempat yang tidak diinginkan di akhirat (baca: neraka)
  4. Islam memberikan kebahagiaan bila kita menjalankan semua yang harus dikerjakan

πŸ™‚

Jawaban Soal Matematika Menebak Tanggal Lahir Cheryl ^^

10427357_10153135839858190_4290693861040954166_n

Diketahui:

  • Albert diberitahu bulan kelahiran Cheryl
  • Bernard diberitahu angka tanggal kelahiran Cheryl
  • David diberitahu angka yang berbeda dengan angka kelahiran Cheryl dan bulan yang berbeda dengan bulan kelahiran Cheryl

Hehe… Di atas ini maksudnya ingin memperjelas soal dengan asumsi kebanyakan orang dan anggap saja maksudnya disepakati seperti di atas ini… Maklum, soalnya ambigu… πŸ˜€

1. Albert: Saya tidak tahu kapan lahirnya Cheryl, tetapi saya tahu bahwa Bernard tidak mengetahuinya juga.

Dari sini, kita dapat lebih menafsirkan bahwa Albert yang telah menyimpan bulan kelahiran Cheryl (tentu kita sepakat tidak mungkin seseorang mengetahui tanggal hanya dari bulannya saja kan ^^) telah mengetahui bahwa saat itu si Bernard yang diberi tahu angka tanggalnya juga tidak tahu.

Kok si Albert bisa tahu bahwa si Bernard juga tidak tahu? Tentu itu karena si Albert tidak mendapat (dari Cheryl) bulan Mei dan Juni.

Jika seandainya Bernard mendapat angka 19 atau 18, tentu ia akan langsung mengetahui bulannya sekaligus karena angka 19 hanya ada pada bulan Mei, sedangkan angka 18 hanya ada pada bulan Juni. Nah, sayangnya, Albert tidak mendapat baik bulan Mei maupun Juni sehingga ia yakin bahwa Bernard (yang hanya mengetahui angkanya saja) pasti juga tidak tahu.

Jadi, eliminasi (coret) bulan Mei dan Juni untuk tanggal lahir Cheryl.

 

2. Bernard: Saya tadi (sebelum Albert mengatakan sesuatu barusan) tidak tahu, dan sekarang saya masih tidak tahu.

Awalnya Bernard tidak tahu, itu wajar karena dia hanya tau angkanya saja tanpa bulan. Untuk selanjutnya Bernard akan saya kasih label “(a)” untuk angka, sedangkan Albert saya kasih label “(b)” untuk bulan. πŸ˜€ Nah, setelah Albert(b) mengatakan suatu petunjuk barusan, ternyata Bernard(a) masih belum tahu. Apa artinya itu?

Pilihan yang tersisa adalah pada bulan Juli, Agustus, dan September.

Namun, Bernard(a) masih belum bisa menentukan tanggalnya yang mana. Ini berarti Bernard(a) tidak mendapat angka 15, 22, dan 17 karena angka-angka ini hanya ada pada bulan yang khusus saja. Seandainya, Bernard(a) mendapat angka 15, pastilah ia langsung tahu bahwa tanggal lahir Cheryl adalah 15 Juli. Begitu pula angka 22 yang hanya ada pada bulan Agustus dan angka 17 yang hanya ada pada bulan September. Ini bertentangan dengan faktanya (Bernard(a) belum tahu).

Jadi, eliminasi tanggal 15 Juli, 22 Agustus, dan 17 September.

 

3. Albert: Saya masih tidak tahu kapan Cheryl lahir. Setelah mengatakan ini, saya yakin David juga masih tidak tahu.

Albert(b) masih tidak tahu berarti dia tidak mendapat bulan Juli yang pilihan angka tanggalnya tersisa hanya satu saja, yakni tanggal 16 Juli. Seandainya, ia mendapat bulan Juli, pastilah ia langsung mengetahuinya.

Jadi, eliminasi tanggal 16 Juli. πŸ˜€

Tersisa bulan Agustus dan September dengan tanggal tertentu.

Kok bisa si Albert(b) mengetahui bahwa David tidak tahu? Padahal kan Albert(b) tidak tahu tanggal tertentu yang didapatkan David…

Kalau kita perhatika pilihan yang tersisa, bulan Agustus tinggal 2 pilihan saja, sedangkan bulan September masih ada 3 pilihan. Kalau seandainya David memperoleh tanggal tertentu di bulan September, pastilah ia masih ada kemungkinan mengetahui tanggal lahir Cheryl pada bulan selainnya, yaitu Agustus, karena tinggal hanya 2 pilihan saja. Misalnya saja, David diberitahukan tanggal 20 September, pasti langsung tahu bahwa tanggal lahir Cheryl adalah 14 Agustus. Namun, karena Albert(b) mendapat bulan September (yang masih ada 3 kemungkinan), maka wajarlah ia yakin bahwa David tidak mungkin sudah mengetahuinya dan tentu tanggal yang didapatkan David ada pada bulan selain September. Itu berarti bisa bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus.

Jadi, kita sekarang fokus pada bulan SeptemberΒ untuk tanggal lahir Cheryl. ^^

 

4. David: Aku tidak mengetahui baik angka tanggalnya maupun bulannya, sebelum Albert(b) mengatakan kalimat terakhirnya tadi, tetapi setelah ia mengatakannya, aku sekarang mengetahui bulannya.

David tidak mengetahui apapun dari tanggal lahir Cheryl (maklum, yang dia dapat justru tanggal yang bukan tanggal lahir Cheryl ^^) sebelum Albert(b) mengatakan bahwa dirinya yakin bahwa David pun tidak mengetahuinya. Kemudian, David mengetahui bulannya. Bulan apakah itu? Pastinya, bulan September… ^^

Karena awalnya David tidak tahu bulannya sekalipun, itu berarti David mendapat bulan selain Agustus (dan tentunya juga selain September).

Jadi, kemungkinan bulan yang diberitahukan kepada David semakin sedikit, yakni tinggal Mei, Juni, dan Juli.

 

5. Bernard: Tadinya saya tidak mengetahui kapan Cheryl lahir sebelum Albert(b) mengatakan kalimat terakhirnya, tetapi setelah ia mengatakannya, saya sekarang mengetahui kapan Cheryl lahir.

Awalnya Bernard(a) tidak tahu, berarti ia masih bingung antara bulan Agustus dan September. Namun, kalimat terakhir Albert(b) membuka tabir rahasia itu karena sudah jelas Albert(b) pasti menyimpan bulan September. Maka, lengkaplah informasi bagi Bernard(a). Kemungkinan angka yang disimpan Bernard(a) ada 2, yaitu 14 atau 20. Jika seandainya ia menyimpan angka 16, maka pastilah ia sudah mengetahui bulannya sejak awal tanpa perlu diberi kode oleh Albert(b) dengan kalimat terakhirnya itu.

Namun, walaupun pada tahap ini Bernard(a) telah mengetahui tanggal lahir Cheryl, kita para pembaca masih belum bisa menentukan… πŸ˜€

 

6. David: Maka saya sekarang pun tahu kapan Cheryl lahir (setelah mendengar kalimat Bernard(a) barusan).

Kok bisa???

Dengan memanfaatkan 2 kemungkinan tanggal lahir Cheryl yang tersisa, kita pun bisa mengecek 2 angka tanggal tersebut pada bulan-bulan yang menjadi kemungkinan yang didapatkan David. Karena cuma ada 2 kemungkinan, tentu menjadi mudah menentukan tanggal lahir Cheryl bagi David. Jika David memperoleh tanggal 14, pastilah tanggal lahir Cheryl adalah yang 20. Begitupun sebaliknya.

Setelah dicek pada bulan Mei, Juni, dan Juli, ternyata tidak ditemukan tanggal 14 sama sekali. Nah, ini berarti David memperoleh angka tanggal 20 dan itu hanya ada pada bulan Juni.

Jadi, pada tahap ini, dapat diketahui tanggal yang diberitahukan Cheryl kepada David, sekaligus tanggal lahir Cheryl. Tanggal David 20 Juni, sedangkan tanggal lahir Cheryl tanggal 14 September.

 

7. Albert: Sekarang, aku pun mengetahuinya juga.

Maka, wajarlah si Albert(b) pun akhirnya mengetahuinya juga.

Gaji Tidak Diambil

Saya sering mendengar kisah orang-orang tertentu terutama yang duduk di lembaga pemerintahan atau parlemen bahwa mereka tidak mengambil gajinya. Gajinya diberikan kepada orang lain. Sepintas saya pun dengan polosnya kagum dengan orang-orang tersebut. Bahkan, ketika mendengar ada pejabat yang tidak terlalu saya suka beliau tidak mengambil gajinya, saya pun sempat berpikir, “Wow, masa’ sih? Mantap juga ya begitu-begitu…”

Namun, tahukah kamu, berbeda halnya ketika yang mendengar berita ‘baik’ tersebut adalah rakyat biasa yang sehari-harinya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan penghasilan yang pas-pasan. Tidak perlu sebut nama siapa orang ini. Orang ini adalah orang yang menurut saya rakyat biasa yang sering kali mikirnya itu bisa masuk pada celah-celah yang tidak dipikirkan orang lain. Haha… Istilahnya zaman sekarang sih berpikir “kritis”. Cuma, kan sebenarnya istilah “kritis” ini tidak sesuai dengan makna yang benar ya… Hehe…

Orang ini tipenya kuat dalam mempertahankan pendapatnya. Bisa dibilang sih “betah” berdebat walaupun beliau hanyalah rakyat biasa. Haha… Tahu gak sih apa komentar beliau ketika mendengar ada pejabat yang tidak mengambil gajinya? Kata beliau, “Ah kan gajinya doang yang gak diambil. Tunjangannya puluhan jutaaa…” Eh? Saya merenung, benar juga ya… πŸ˜€ Kayak pejabat gitu kan gajinya mah cuma sedikit, tetapi tunjangannya yang mungkin menggiurkan banyak orang, termasuk menggiurkan rakyat biasa tersebut. Wah aku ini polos bener ya… Gak biasa mikir yang aneh-aneh kali ya… πŸ˜›

Ah bener juga… Aku jangan terlalu polos lah ya… Apalagi soal politik. Tapi semoga aja kewaspadaanku nantinya tidak berlebihan sehingga selalu saja berprasangka buruk, tetapi dengan tujuan yang baik juga, misalnya menilai sesuatu lebih ilmiah saja… Hehe…

Tinggi Hati Terselubung

Ketika masih ada ujub dalam hati, maka hati belum bersih dari kesombongan.

Ketika kamu merasa lebih percaya diri karena suatu yang kamu miliki, itulah tanda-tanda ujub. Entah itu gadget barumu, gaun indahmu, paras bersolekmu, ilmumu, buku barumu, kecerdasanmu, perkembangan intelektual anakmu, atau apapun itu yang membuatmu merasa lebih percaya diri, “Inilah saya yang lebih hebat dari orang lain,” itulah tanda-tanda kesombongan dalam hatimu.

Sepasang kekasih yang baru saja menikah, misalnya, berjalan dengan pongahnya mengenakan pakaian sepasang yang warna dan motifnya seragam menunggu kata “cieee” atau “wah serasi sekali” atau bentuk pujian lainnya, itu pun tanda-tanda sombong terselubung.

Upload foto tercantik atau tertampan di media sosial dengan PD-nya karena ingin menarik perhatian banyak orang dan ingin mengundang banyak “like”, itu pun tanda kesombongan. Aslinya sih tidak secantik/setampan itu. Namun, karena kali ini posenya lagi bagus atau misalnya karena didandani dengan menor sehingga baru terlihat lebih cantik, maka ia dengan bangganya memamerkan paras ‘barunya’ itu. #tanda_sombong

Ketika seseorang baru saja memperoleh ilmu baru yang ia pikir orang lain belum ada yang tahu, lalu dengan semangatnya ia share ilmunya tersebut di media sosial dengan berpikir, “Lihat nih gue… Gue lebih pinter kan daripada loe-loe pade…” Padahal, pengetahuan yang baru saja ia ketahui tersebut tidak memberi banyak manfaat untuk diaplikasikan oleh orang lain. Selain itu, sayangnya ia keliru, ternyata apa yang ia share sudah usang karena sudah banyak yang mengetahuinya sebelumnya.

Gadget baru? So what? Kamu merasa derajatmu lebih tinggi hanya dengan gadget barumu? Apalah artinya gadgetmu itu… Toh gadgetmu itu tidak akan dibawa mati. Begitu pula harta lainnya…

Ingin dibilang “suka baca banyak buku” dengan memberi tahu orang banyak bahwa buku yang kamu miliki banyak? Duh, gak penting banget deh… πŸ˜€ Apalah artinya buku jika buku itu tidak dibaca dan tidak menambah pengetahuanmu. Lebih jauh lagi, apalah arti ilmu yang kamu peroleh jika ilmumu tidak kamu aplikasikan di kehidupan sehari-hari?

Sebenarnya sih, ini semua tergantung hati dan niatnya… πŸ™‚ Semoga sindiran ini bisa mengingatkan kita bersama ya… Saya tidak menggeneralisasi karena bisa saja ditemukan pada kondisi mirip seperti yang saya contohkan di atas, tetapi di hatinya tidak ada maksud jelek. Selamat mengoreksi hati… πŸ™‚

Standar Bahagia

Terkadang setiap manusia sudah punya standar kebahagiaan masing-masing, entah sesuai dengan worldview Islam atau tidak. Entah akhirat oriented atau dunia oriented. Entah bersifat abstrak atau bersifat materi. Semua orang punya standarnya. Namun, semua itu bisa hancur karena sebuah tekanan dari orang sekitar. Standar kebahagiaan bisa saja mulai bergeser tanpa disadari karena pengaruh orang lain.

Aku yang sudah bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan dengan hidup sederhana, bisa juga merasakan ada yang tidak enak ketika orang sekitar membuat definisi sendiri tentang kebahagiaanku.

“Wuih enak tuh Rin teman-temanmu sekarang yang jadi PNS di Kementerian tunjangannya belasan juta.”

“Ih sekarang temanmu itu gemuk. Punya duit sih ya… Sekarang jadi cantik.”

“Dia kemarin menikah. Ternyata gaji suaminya lima belas juta.”

Aku yang mendengar itu langsung merasa tidak enak karena merasa tidak berguna apa-apa. Seakan-akan semua diukur dengan materi. Sebenarnya aku ingin menjauh dan tidak ingin mendengar celetukan-celetukan itu.

Aku sudah punya standar bahagia sendiri. Aku bahagia hidup sederhana selama hatiku tidak lalai dari mengingat Allah. Allah-lah yang kuyakini bisa membuat siapa pun merasa bahagia walaupun ia punya banyak keterbatasan. Karena bahagia itu letaknya di hati.

Tapi siapa sangka aku akan menemui orang-orang yang punya standar kebahagiaan yang berbeda dan jujur saja, celetukan mereka mengiris hati. Bagi mereka itu, bahagia baru bisa didapatkan bila penghasilannya belasan juta atau lebih dalam sebulan. Dengan penghasilan itu mereka bisa keliling-keliling dunia, menikmati makanan ala restoran setiap hari. Hidup dengan fasilitas yang lengkap, memiliki furnitur-furnitur yang cantik, rutin ke salon, mereka baru bisa merasa bahagia.

Justru aku tidak bahagia jika seandainya aku hidup berfoya-foya tapi tidak sebanding dengan pengorbananku untuk meraih surga. Misalnya, “terlalu” sering jalan-jalan dan menghabiskan uang untuk makan makanan ala restoran, tetapi aku lalai membaca Quran, aku lalai sedekah, aku lalai tahajud, dan bentuk kelalaian lainnya. Apakah kamu bahagia dengan kebiasaan yang seperti itu? Aku tidak yakin kamu akan bahagia. “Huwalladzii anzalas-sakiinata fii quluubil mu’miniina…” Dialah Allah yang menurunkan ketenangan jiwa pada hati orang-orang mukmin. Apa yang akan terjadi jika kita lalai dari mengingat Allah? Hoo jangan heran jika orang-orang yang lalai dari mengingat Allah bisa mudah tersinggung, mudah iri hati, mudah bersedih hati, mudah kecewa, dan lain-lain. Mereka tidak siap dengan ujian-ujian yang datang. Ujian itu bukan ketika musibah datang saja, tetapi juga ketika nikmat datang, itu pun ujian. Jika nikmat datang, ujiannya adalah apakah kamu besyukur? Apakah kamu tidak lalai dari mengingat Allah karena saking gembiranya? Apakah kamu akan ujub dan sombong? Apakah kamu mau berbagi kebahagiaan? Di situlah ujiannya.

Standar mereka yang berangan-angan panjang sungguh berbeda denganku. Aku bahagia jika aku bisa bermanfaat bagi orang banyak. Jika untuk mengerjakan banyak kebajikan itu membutuhkan uang yang banyak, maka aku memohon kepada Allah semoga Allah memberikanku rezeki yang lebih untuk itu. Lagi pula, bukankah Allah telah menjanjikan akan memberikan pahala yang setimpal dengan orang yang melakukan banyak kebajikan dengan hartanya walaupun kita tidak punya harta sebanyak itu? πŸ™‚

Bagiku harta bukanlah segalanya. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana aku nantinya bisa ke surga, surga firdaus. Bagiku yang terpenting adalah nanti di akhirat aku dijauhkan dari neraka.

Aku senang jika mendengar ada orang yang kaya raya, tetapi uangnya lebih banyak ia sedekahkan untuk umat, untuk orang miskin, dan untuk dakwah. Ingat loh, sebagian besar, bukan cuma seadanya. Orang itu biasanya hidup tetap sederhana. Walaupun ia mampu membeli 3 mobil, tetapi ia hanya membeli cukup 1 mobil saja karena tidak perlu setiap anggota keluarga punya mobil masing-masing 1 mobil. Walaupun ia mampu membeli pakaian, tas, dan sepatu yang super mewah, tetapi baginya itu tidak terlalu dibutuhkan. Ia lebih senang jika uangnya lebih banyak untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Aku acungkan jempol untuk orang-orang seperti itu.

Dengan rezeki yang seadanya bukan berarti aku tidak bisa bermanfaat buat orang banyak. Aku sungguh bahagia jika aku bisa rutin tiap minggu mengisi mentoring beberapa kelompok. Itu hanya menghabiskan ongkos pulang-pergi sebesar Rp. 8000,00 dan makan siang sekitar Rp. 8000,00 s.d. Rp. 15.000,00. Aku pun bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain terutama orang tua (sebagai balas budi) jika aku memperoleh sesuatu. Aku bahagia jika aku bisa rutin muraja’ah hafalan quran. Aku bahagia jika seluruh waktuku habis untuk hal-hal yang berbuah pahala. Aku bahagia jika aku berhasil manage semua urusan rumah dengan baik. Aku bahagia jika bisa membahagiakan suamiku. πŸ™‚

Namun, tidak bisa dimungkiri, aku pun jadi merenung. Aku merasa sedih jika ada orang lain yang menyeletuk tentang penghasilan dan pekerjaan. Apalagi jika yang menyeletuk itu dari keluarga sendiri atau tetangga orang tua. Aku merasa sedih karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Di sana aku pun belajar ikhlas bahwa tidak semua orang mau menghargai pemberian kita. Selalu saja dicari salah dan celahnya. Selalu saja dianggap kurang walaupun kita udah berusaha melakukan semampu kita. Ya orang seperti itu nyata adanya. Mereka sangat menekan. Tidak ada tekanan yang lebih besar bagiku selain tekanan dari orang sekitar, orang-orang terdekat, yakni keluarga sendiri.

“Kamu kurus banget Rin sekarang. Kenapa? Banyak pikiran ya? Hidupmu susah?”

Apakah ada yang salah dengan kurus? Apakah dengan aku kurus itu tanda aku tidak bahagia? Buktinya suamiku tambah gemuk. πŸ™‚ Itu tanda hidup kami tidak susah seperti yang mereka bayangkan. Bahkan yang aku rasakan saat ini, hidup kami “lebih” dari cukup. Banyak pikiran? Banyak pikirannya justru jika selalu mendengar celetukan-celetukan yang mengiris hati itu, yang membandingkan aku yang tidak bekerja dengan teman-temanku yang berpenghasilan besar. 😦 Tidakkah mereka sadar? Tapi aku yakin bukan karena itu aku sekarang lebih kurus. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya karena dahulu saat kuliah aku keseringan ngemil… ^^ Dulu kan sering stres ya, jadinya pengobat stresnya itu ngemil deh. Kalau sekarang justru aku ga suka ngemil. Soalnya aku gak stres sesering dulu… Hehe bisa aja nih Rina ngelesnya… Aku pikir karena kerjaanku saat ini lebih membutuhkan energi fisik, mungkin itulah penyebabku lebih kurus. Olah raga lah ya… Hehe…

Aku merasa biasa saja saat ini. Aku tidak merasa hidupku susah seperti yang orang lain bayangkan. ^^a Aku tidak suka panjang angan karena itu menyakitkan. Sudah kupaparkan di atas bahwa aku bahagia jika aku bisa membahagiakan orang banyak dan dekat dengan Allah. Justru aku merasa sedih jika aku sedang futur dan malas ibadah. Tetapi, terkadang celetukan-celetukan orang lain juga membuatku sedih. Tanpa sadar, mereka merusak mindset-ku tentang standar bahagia. 😦 Celetukan-celetukan itu hanya mengajarkan orang lain untuk tidak bersyukur. Tapi mau bagaimana lagi, mereka masih bagian dari keluarga besarku. Aku maklumi. Semoga Allah suatu saat nanti memberikan aku sebuah keajaiban dan kisah yang indah sehingga tidak ada lagi celetukan-celetukan yang menyakitkan.