Cinta (part 2): Cara Menggapai Cinta

love-inspirational-daily (1)

Bicara tentang cinta, memang tidak ada habisnya 🙂 Pada part 1, telah dijelaskan tentang cinta fitrah atau cinta tabiat serta batasannya. Pernah jatuh cinta? ^^ (sedikit mengulang) Itu wajar kok, asalkan bisa menyikapi perasaan dengan benar dan tidak melampaui batas karena khawatir akan terjerumus ke dalam kesyirikan seperti yang Allah katakan dalam QS Al-Baqarah ayat 165.

Islam itu agama cinta. Bahkan Islam mengenal berbagai macam cinta, mulai dari cinta ibadah, cinta fitrah, sampai cinta syirik yang tentu akan membawa seseorang kepada dosa. Namun, pertanyaannya, siapa yang paling kita cintai saat ini? Siapa pula yang paling dicintai oleh seorang yang disebut orang beriman?

Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (terjemahan HR Bukhari dan Muslim)

Iman bukanlah hal yang sepele. Iman itu memang naik turun. Namun, kita mau yang seperti apa? Kita mau iman yang sempurna atau yang setengah-setengah? Yakinkah kamu bahwa dengan iman yang setengah-setengah kamu akan masuk surga? Tidak ada yang bisa menjamin. Maka kejarlah derajat itu walau dirimu merasa tidak mampu. Semoga Allah memampukanmu…

Umar bin Khatthab r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku.” Rasulullah saw bersabda , “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (demi Allah), tidak, wahai Umar, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Umar r.a. berkata kepada beliau saw, “Maka engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Rasulullah saw pun bersabda, “Sekarang sudah benar, wahai Umar!” (terjemahan HR Bukhari)

Bahkan diri kita sendiri. Sang Rasul harus lebih kita cintai dibandingkan diri kita sendiri jika kita ingin termasuk orang-orang yang sempurna imannya. Sungguh berat bagi kita, para pemuja dunia, yang sering lupa akhirat. Yang jarang mengingat kematian. Dunia, dunia, dan selalu saja dunia yang kita kejar. Ibadah saja riya’, mencari ilmu untuk dikatakan rajin, kuliah agar memperoleh pekerjaan yang bergengsi, berpakaian untuk menarik perhatian, berdakwah agar dikatakan sebagai orang sholih, dll. Dunialah yang kita cintai jika kita seperti itu.

Cinta itulah yang akan membawa orang beriman betah dengan keimanannya. Mereka merasakan manisnya iman karena cinta. Ibadah tidak lagi terpaksa, berdakwah adalah nikmat, dan maksiat merupakan beban bagi hidupnya. Orang yang beriman dengan iman yang sempurna pastilah melihat bentuk kemaksiatan seperti melihat api neraka. Dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan membalas setiap kebajikan yang diperbuatnya, orang yang beriman tersebut akan melakukan ihsan. Ihsan itu adalah berbuat semaksimal mungkin untuk mencari ridho Allah dalam keadaan merasa seperti ditatap oleh Allah dan yakin bahwa Allah melihat setiap usaha yang dikerjakan.

Dari Anas bin Malik r.a., “Tiga perkara yang apabila hal tersebut terdapat pada diri seseorang, dia akan merasakan manisnya keimanan, yaitu apabila seseorang menjadikan Allah swt dan Rasul-Nya lebih dicintai selain keduanya, apabila seseorang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya melainkan karena Allah swt, apabila seseorang membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut, sebagaimana dia membenci untuk dicampakkan ke dalam api neraka.” (terjemahan HR Bukhari dan Muslim)

Bagaimana keadaan kita sekarang? Siapa atau apa yang menyibukkan pikiran kita saat ini? Aa Gym, seorang dai yang ternama, pernah mengatakan bahwa orang stress itu karena bekerja tanpa berdzikir. Berdzikir adalah mengingat Allah. Makin sering seseorang mengingat Allah, maka ha itu menunjukkan bahwa makin besar pula cintanya kepada Allah. Belum sampai pada derajat itu? Ulama Ibnul Qayyim telah berkata dalam bukunya, Madarijus Salikin, bahwa sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah swt ada sepuluh hal, yaitu

  1. Membaca Al-Quran dengan merenungkan dan memahami makna-maknanya sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah swt, yaitu melalui pemahaman Rasulullah saw dan para sahabat, serta para ulama ahlus sunnah;
  2. Mendekatkan diri kepada Allah swt dengan ibadah-ibadah sunnah setelah ibadah-ibadah yang wajib;
  3. Senantiasa mengingat Allah swt bagaimanapun keadaannya, baik dengan lisan maupun hatinya, pada saat beramal dan pada setiap keadaan, maka cinta yang didapatkannya tergantung dari banyak atau sedikitnya dzikir ini;
  4. Lebih mengutamakan cinta kepada Allah swt daripada cinta kepada diri sendiri ketika hawa nafsu sedang memuncaknya;
  5. Mengarahkan perhatian hati kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mempersaksikannya, dan mendidik hatinya untuk mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah swt tersebut;
  6. Mempersaksikan kemurahan dan kebaikan-Nya serta nikmat-nikamt-Nya, baik yang zhahir maupun yang batin;
  7. Kepasrahan hati di hadapan Allah swt adalah yang paling dahsyat;
  8. Bermunajat kepada Allah swt saat turun-Nya ke langit dunia (di sepertiga malam yang terakhir) dan membaca kkitab-Nya, yang kemudian diakhiri dengan istighfar dan bertaubat kepada-Nya;
  9. Berkumpul bersama dengan orang-orang yang mencintai-Nya dengan jujur, dan memetik perkataan-perkataan yang baik dari mereka serta tidak berbicara kecuali meyakini adanya kebaikan ketika berbicara yang diketahui akan menambah kebaikan untuk keadaanmu dan bermanfaat untuk orang lain;
  10. Menyingkirkan segala sebab yang akan menghalangi antara qalbu dengan Allah swt.

Cinta kepada Allah tidaklah sama rasanya dengan cinta fitrah seperti cinta kepada istri/suami atau semacamnya. Cinta kepada Allah akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan hakiki, kokoh tidak mudah goyah karena terpengaruh oleh godaan luar. Ketika seorang hamba sudah mampu mencintai Rabbnya, maka ia pun akan dicintai pula oleh Rabbnya. Apalagi yang dicari selain cinta-Nya? Ketika Allah sudah cinta kepada hamba-Nya, maka Allah akan menjaganya.

Sumber:

Majalah Muslim Sehat

In syaa Allaah akan ada bahasan cinta kepada saudara seiman dan apa saja pakem-pakem yang harus dipegang demi mempertahankan ukhuwah sehingga tidak bisa seseorang mengabaikan hak konkret saudara seiman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s