Cinta (part 1): Kategori Cinta dan Batasannya

love

Assalaamu’alaikum ^^

Bicara tentang cinta emang ga ada habis-habisnya. Apa yang teman-teman bayangkan jika mendengar kata “cinta”? Pasti mayoritas membayangkan cinta kepada lawan jenis ^^; itu bukan hal aneh, bahkan itu fitrah, seperti pada Al-Quran surat Ali Imran ayat 14 yang artinya:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Maksud ayat di atas adalah pada faktanya, Allah memang menurunkan rasa cinta bagi manusia terhadap semua yang disebutkan di dalamnya, yaitu perempuan-perempuan bagi laki-laki (laki-laki bagi perempuan), anak-anak bagi orang tuanya (orang tua bagi anaknya), harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak (termasuk berupa koleksi), kuda pilihan (di sini maksudnya adalah kendaraan), hewan ternak (termasuk juga hewan peliharaan) dan sawah ladang (maksudnya di sini adalah lapangan pekerjaan atau media perniagaan).

Jadi, tidak perlu memandang jelek kepada seseorang yang merasakan cinta yang seperti ini (hubbu syahawaati) karena semua itu fitrah/tabiat. Namun, Allah mengingatkan agar kadar cinta fitrah ini tidak berlebihan. Ayat di atas ini selaras dengan ayat yang lain, yaitu surat At-Taubah ayat 24 yang artinya:

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-umah tempat tinggal yang kamu sukai,lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”

Pada ayat di atas, Allah pun memeringatkan kepada kita agar jangan sampai hubbu syahawaat (cinta kepada kesenangan dunia) lebih besar daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya. “… tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya….” Namun, ternyata yang tidak boleh bukan hanya “lebih”, tetapi yang “sama besar” saja juga dilarang. Mari kita simak terjemahan surat Al-Baqarah ayat 165:

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagaitandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zhalim itu melihat, ketika mereka melihat adzab (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat adzab-Nya (niscaya) mereka menyesal.”

Berarti di sini kuncinya adalah kemampuan kita me-manage cinta ^^; Sulit? Ya, bisa jadi sulit karena Imam Al-Ghazhali pernah mengatakan bahwa cinta kepada Allah merupakan tujuan utama dan tujuan tertinggi dari derajat/level spiritual.

Bisa kita ambil contoh kasus. Bisa dikatakan seseorang lebih mencintai harta benda dibandingkan Allah atau sama besar cintanya kepada Allah ketika ia lebih sibuk memikirkan barang-barang koleksinya dibandingkan dzikir kepada Allah. Misalnya, jika ada orang yang suka marah ketika komik koleksinya terlihat lekukan tipis pada cover-nya atau meninggalkan bekas agak hitam pada halaman komiknya setelah dibaca oleh orang lain, maka orang tersebut sudah berlebihan dalam mencintai harta bendanya. Padahal itu hanya komik, bukan mushaf Al-Quran.

Contoh lain misalnya, ada orang yang galau karena jatuh cinta kepada seorang wanita sampai membuatnya gelisah dan sulit berdzikir kepada Allah, itu juga bisa jadi pertanda cintanya kepada wanita itu lebih besar atau sama besar daripada Allah. Namun, ternyata kisah orang yang jatuh cinta bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan (hmm kayak tag line acara apaaa gitu yaaa hehe) karena banyak orang-orang di sekitar Rasul (orang mukmin) dan bahkan shahabat Rasul pernah mengalami ini. Saya ambil 2 kisah saja.

Kisah pertama adalah Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan mantan istrinya, Atikah (nama anak Abu Bakar ini perlu diteliti lagi kevalidannya ^^;). Abdurrahman bin Abu Bakar bercerai dengan istrinya (entah apa alasannya tidak dijelaskan). Namun, ternyata Abdurrahman bin Abu Bakar masih sangat mencintai istrinya. Ia sering melantunkan syair-syair di depan rumah mantan istrinya agar mantan istrinya tersebut mau rujuk dengannya. Bagaimana sikap Abu Bakar saat itu? Abu Bakar tidak melarangnya dengan ia bersikap seperti itu (melantunkan syair-syair), bahkan akhirnya menyetujui mereka rujuk kembali. Adakah yang salah dengan ‘jatuh cinta’? ^^;

Kisah kedua adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah dengan sepupunya, ‘Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi). Thalhah ini ternyata mencintai ‘Aisyah dan berniat menikahi ‘Aisyah setelah Rasulullah saw meninggal. Namun, Allah menurunkan firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 53 yang artinya:

“… Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah Nabi wafat. Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

Thalhah pun menangis dan bertaubat karena ucapannya yang dibisikkan kepada temannya tentang niatnya ingin menikahi ‘Aisyah setelah Nabi wafat. Namun, karena cintanya kepada ‘Aisyah, kelak anaknya pun diberi nama ‘Aisyah binti Thalhah. 🙂

Contoh lagi! ^^ Termasuk lebih mencintai perniagaan dunia daripada Allah ketika kita lebih sibuk memburu harta dengan bebagai bentuk perniagaan/bisnis sampai mengurangi takaran atau bahkan meninggalkan shalat fardhu. Na’udzubillaahimindzaalik. Padahal, Allah telah berfirman tentang hakikat perniagaan pada surat Ash-Shaff ayat 10-11 yang artinya:

“Hai oang-orang beriman! Sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Contoh lain misalnya yang ada di sekitar kita, yaitu acara arak-arakan himpunan setelah prosesi wisuda. Kemarin pada tanggal 5 April 2013, banyak yang seakan-akan menyepelekan sholat. Tiba waktu zhuhur, semua berkumpul terlebih dahulu, tetapi lupa untuk selanjutnya melaksanakan sholat zhuhur. Dijamak ke ashar karena alasan sibuk? Oke, mungkin masih bisa diterima (maksud saya kenapa dijamak ke ashar? kenapa gak dijamak ke zhuhur atau jamak taqdim?). Ternyata, untuk arak-arakan harus antre tiap himpunan. Nah, bagaimana yang dapat giliran akhir-akhir? Yakin bisa sholat ashar? Ternyata yang terjadi antrean tidak maju-maju sampai adzan ashar telah lewat. Oke, apakah perjalanan dari sabuga menuju tempat arak-arakan masih sempat sholat ashar? Tergantung. Ternyata, menit-menit terakhir menunggu giliran arak-arakan tepat pukul 17.30 WIB. Seharusnya, bagi yang ingin mencintai Allah lebih besar daripada mencintai arak-arakan dan belum sholat ashar, ketika sadar, tidak berdiam diri dan ikut mengejar giliranperformance arak-arakan. Segera lari menuju tempat sholat dan segera sholat ashar sebelum tiba maghrib. Nyatanya, banyak yang tidak seperti itu dan belum sholat ashar. Coba, ashar mau dijamak ke mana lagi? Maghrib? Tidak ada syari’atnya kan… Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua, khususnya mahasiswa ITB. Bagi yang saat itu khilaf, taubat adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Wallaahu a’lam.

Sekian dulu tentang Cinta (Part 1). Tunggu tulisan selanjutnya… 🙂
Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber:
Cintai Allah Sepenuh Hati (Aa Gym)
Majalah Muslim Sehat
Syaikh Google
rizkilesus.wordpress.com
Raudhatul Muhibbin Wanuzhatul Musytaaqiin
kajian ustadz roni abdul fattah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s