Hijrah (lagi)

Tentu kita pernah menerima rapor akademik saat masih sekolah atau transkrip nilai saat kuliah. Namun, bagaimana rasanya jika kita menerima rapor amalan dan yang menilainya langsung Allah Azza wa Jalla? 😦 Mungkin, seandainya saat ini aku menerima rapor tersebut, nilaiku sedang turun-turunnya. Aku rindu masa-masa di saat aku sedang bersemangatnya mendekatkan diri kepada Allah… 😥 Entah mengapa semangat itu surut dan semakin surut makin ke sini… Sering kali aku merasa bosan dan tak tahu harus bagaimana menghilangkan bosan. Biasanya saat seperti ini aku pun merasakan semakin bete’ jika aku melihat sosmed dengan tujuan menghilangkan kebosanan, eh malah banyak sekali orang sedang saling unjuk keistimewaannya seakan-akan dia orang yang paling istimewa pada aspek tersebut. Alih-alih ingin menghilangkan rasa bosan, eh malah makin bete’. 😦 Bukan karena aku iri, tetapi karena apa yang dipamerkannya itu biasa aja, tapi dibuat lebay. Aku tuh kalau iri gak pernah merasa sebal ke orangnya. Paling juga kalau aku iri, aku hanya merenung sendiri, sedih, dan meratapi nasib. Di sana aku meminta kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk bersyukur. Aku gak merasa sebal ke orangnya, maka biasanya malah orang-orang tersebut aku beri ucapan “baarakallaahu fiik” atau hanya sekadar aku like. Apalagi jika aku gak iri sama sekali. Udah jelas-jelas dengan ringannya aku mengucapkan doa dan ucapan selamat. 🙂

Nah, yang bikin sebel itu kalau ada orang yang sedikit-sedikit kok pamer kelebihannya yang menurut saya “biasa aja”… Catat ya, “biasa aja”. Terkadang, saya sadari, saya juga punya kelebihan itu, tapi saya gak pamer-pamer kayak dia. Bisa jadi, yang memiliki kelebihan tersebut malah banyak, bahkan kemampuannya lebih dari itu. Nah, biasanya kalau saya bete’ kayak gitu tuh karena iman saya sedang turun. Kalau iman saya sedang naik, biasanya orang kayak gitu tuh gak memengaruhi kondisi hati saya walaupun dalam hati, saya tetap tidak menyetujui sikapnya itu. Ya udah deh… karena melihat orang lain pamer-pamer kelebihannya, saya pun jadi latah tidak mau kalah karena kebetulan saya juga merasa punya kelebihan yang sama atau merasa punya yang lebih dari itu. Heu… 😦 Lalu, apakah setelah saya ikut-ikutan pamer, saya jadi bahagia? Gak juga… Hati saya justru gelisah… Saya merasa sedang menjadi orang lain, bukan diri saya sendiri. Mungkin ini yang disebut menyalahi fitrah. Fitrah manusia itu berbuat baik, hanya mencari ridho Allah. Jika kita menyalahi fitrah kita, pasti hati tidak tenang. Masalah paling berat tuh jika hati tidak tenang kok ya gak bisa nangis… Karena hati sudah mengeras…>_<…

Aku pun selalu meminta kepada Allah, “Allaahumma inni as-aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal ‘amalalladzii yuballighunii hubbaka. Allaahummaj’al hubbaka ilayya min nafsii wa ahlii wa minal maa-il baarid.” (Wahai Allah Tuhanku, sesungguhnya aku meminta cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang membawaku kepada cinta-Mu. Wahai Allah Tuhanku, jadikanlah cinta-Mu melebihi cintaku kepada diriku sendiri dan keluargaku dan daripada air dingin saat aku kehausan.) *kalau gak salah begitu artinya hehe… maaf kalau salah menerjemahkan* Bagiku, lingkungan dan teman yang baik itu penting sekali. Saya merasa letih, capek hati, jika saya harus menjadikan orang-orang yang mudah pamer dan sombong sebagai teman dekat. Saya trauma jika saya direndahkan orang lain. Saya trauma jika saya harus berteman dengan orang-orang yang tidak tahu diri. Keikhlasan saya sedang diuji jika saya bertemu dengan orang yang tidak tahu diri. Ketika kebaikan dibalas dengan keburukan. Jujur saja, saya tidak suka. Saya belum sekuat orang-orang shalih terdahulu… 😥 Bahkan, saya saksikan sendiri ada beberapa orang di era modern ini yang bisa begitu ikhlas tak peduli perilaku orang lain terhadapnya… 😥 Saya tidak sekuat itu… Saya tidak suka dianggap tidak tahu dan dikoreksi oleh orang yang gak pantas mengoreksi saya, padahal tidak ada pernyataan saya yang sebenarnya dia koreksi. Harusnya dia inget-inget lagi tuh, dia bisa dapat pengetahuan itu semua lewat siapa awalnya? Apakah dia bisa dapat pengetahuan itu jika tidak ikut komunitas saya? Harusnya dia sadar bahwa dia baru seumur jagung berada di komunitas saya. Jadi, dia gak perlu merasa lebih paham dari saya tentang sesuatu yang sangat berkaitan dengan komunitas saya. Coba, ingat-ingat, siapa dahulu yang ngajakin dia bergabung dengan komunitas saya (dkk)? Kok ya bisa-bisanya dia bisa seangkuh itu terhadap saya. Saya ini sudah menjadi bagian dari komunitas tersebut sejak awal, sangat awal. Jadi, saya gak suka jika ada orang yang baru juga masuk komunitas tersebut sudah merasa lebih paham dari saya tentang komunitas tersebut. Seharusnya dia merasa bersalah dan minta maaf kepada saya. Namun, dia tidak kunjung minta maaf juga…

Saya sadar, sampai kapanpun bisa jadi saya akan terus bertemu orang dengan tipe seperti itu. Walaupun saya sudah trauma berteman terlalu dekat dengan seseorang, pasti mau tidak mau saya akan terus bertemu dengan orang baru yang memiliki sifat seperti itu. Inilah momentum saya menyadari bahwa sayalah yang harus berubah. Saya harus bisa menerima kenyataan hidup akan karakter orang-orang sekitar yang bisa saja sangaaaat menyebalkan. Saya harus kokoh.

Saya rindu masa-masa saya awal berhijrah. Saya ingin sekali hijrah lagi… 😥 Kala motivasi melakukan kebaikan hanya karena ingin mengejar surga-Nya. Kala aku sibuk dengan meratapi dosa-dosaku yang telah lalu. Fokus memperbaiki diri. Tidak peduli dengan kesalahan orang lain. Tidak ambil pusing dengan sifat buruk orang lain, kecuali untuk mendakwahinya dengan hikmah. Mudah memaafkan kesalahan orang lain, mempererat ukhuwah. Menganggap diri ini hina dina sehingga lupa dengan kebaikan yang baru dilakukan karena tetap saja merasa kurang.

Hidupku yang hancur berantakan sepertinya harus kupungut puing-puing kegagalan dan kerusakan itu, lalu kubuang sejauh-jauhnya dan kemudian kubangun kembali. Dari NOL. Tidak masalah. Asalkan Allah ridho. Asalkan keberkahan hidup kudapatkan. Semoga Allah memperbaiki hatiku atau menggantinya dengan hati yang baru lagi jernih…>_<…