Akhirnya Aku Memahaminya (3): Yang Membuat Gagal Paham Konsep Takdir

This gallery contains 4 photos.

Saya merasa perlu tanggung jawab terhadap kegalauan orang-orang yang membaca tulisan saya sebelumnya (bab 2) terkait konsep takdir. Saya pun khawatir dengan orang yang diam-diam membaca (karena jumlah view-nya sampai 60-an), tetapi kegalauannya pun disembunyikan. Yaa.. Walaupun sebenarnya setelah saya … Continue reading

Akhirnya Aku Memahaminya (2): Konsep Takdir dengan Dalil-Dalil Al-Quran dan As-Sunnah

This gallery contains 2 photos.

  Sebelum masuk ke materi konsep takdir yang sesuai Al-Quran dan As-Sunnah, saya harap para pembaca kuatkan terlebih dahulu iman kepada Allah dan ma’rifatullah-nya. Itu agar jangan sampai nantinya malah su’uzhan kepada Allah. Jangan sampai su’uzhan dan tidak siapnya hati … Continue reading

Tidak Mengharapkan Sesuatu dari Manusia

This gallery contains 1 photo.

  Aku termenung ketika mentadabburi ayat ini:   إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا (٩) (sambil berkata, orang-orang yang berbuat kebajikan), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah (wajah Allah), kami tidak mengharapkan balasan … Continue reading

Jaga Imej

Saya senang sekali mendengar kajian ma’rifatullah Aa Gym 🙂 Beliau sangat peka dan berani melihat berbagai kondisi hati. Akhir2 ini aa gym sering membicarakan tentang jaga imej.

Beliau menasihati para pendengar utk hati2 ketika mulai bicara merendah diri di hadapan orang banyak. Hati2 jangan sampai tujuan merendahkan diri itu utk jaga imej.

Saya pun tersenyum… ^^ Saya pikir saya salah bhw ada semacam kondisi hati seperti itu. Eh taunya aa gym membahasnya.

Huff… Hati2lah dg hati. Terkadang mungkin sikap kita berlebihan tanda ingin dinilai baik oleh orang lain. Itulah jaga imej. Atau ingin taubat tp bilang2 dulu. Kalau kata aa gym, sudahlah kalau mau taubat jangan niatnya agar orang lain jd berbuat baik kpd kita. Tp niatnya murni biar Allah mengampuni kita sehingga Allah ridho.

Hati2 juga jangan2 dg kita terlalu banyak bicara di hadapan orang lain dg bahasa yg terlalu dindah2kan itu termasuk jaga imej. Misalnya, pura2 jd orang yg khusyuk dg memperlihatkan dirinya terenyuh dg nasihat2 yg mengingatkan kpd akhirat. Menangis saja dibuat2 agar dinilai sbg orang yg baik. Itulah jaga imej.

Banyak lah ya contohnya kalau mau ngarang… 😐

Intinya tipu daya yg kita lakukan tidak akan pernah menipu Allah. Allah tau betul siapa kita.

Kekhawatiran yang Wajar ^^

Aa Gym itu memang kocak. Beliau menganalogikan ilmu dengan kejadian sehari-hari yang ‘ngena banget’ bagi para pendengarnya. Sekarang, akupun sedang mendengarkan beliau ceramah melalui radio.

Masalah rezeki, masalah jodoh, masalah nikmat apa pun, terkadang sering dikhawatirkan oleh manusia. Aa gym melihat adanya fenomena iri dan cemburu. Mungkin banyak orang yang pernah merasakan takut rezekinya diambil orang lain, atau ada juga orang yang takut target calon pendamping hidupnya juga menjadi target orang lain sehingga ia merasa di dalam persaingan, dan lain-lain. Padahal, kata aa gym, rezeki dan jodoh itu tidak akan meleset dan tertukar walaupun kedua orang itu bersebelahan. Aku pun tertawa… ^^ Benar juga ya… Kita sering kali memahami sesuatu, tetapi terkadang tidak benaar-benar paham (sadar).

Saya juga pernah merasakan itu. Di dalam suatu kejadian, saya pernah tidak sadar bahwa sesuatu yang pernah diambil teman saya (haha saya lupa apa itu ya?) seperti memang direbut oleh teman saya. Saat itu saya tidak paham bahwa itu takdir Allah dan mungkin memang bukan hak saya ^^ Kalau diingat-ingat membuat saya tersenyum, terutama ketika disindir aa gym seperti itu.

Begitu pula dengan jabatan atau kenikmatan berupa prestasi. Saya sering mendengar cerita atau melihat kisah seseorang yang berebutan jabatan. Seakan-akan jabatan itu sumber rezeki manusia. Begitu pula, ketika kita melihat terjadi kecurangan di suatu pertandingan, pasti ada saja yang ‘bisik-bisik’ meributkan kecurangan tersebut, padahal itu belum tentu benar terjadi.

Ya lagi-lagi ini mengenai tawakkal. Memang benar teorinya. Jika masih ada kekhawatiran, maka itu belum tawakkal.