“Ingin Menjadi Seorang Guru/Dosen atau Arsitek???”

Dahulu, saat aku belum mengenal gambar teknik, aku belum terpikir sama sekali untuk menjadi seorang arsitek. Yang aku tau saat itu, aku hanyalah anak yang sangat menyukai matematika dan gemar menggambar. Kebetulan, ayahku adalah seorang guru (PNS) Matematika di SMPN 20 Jakarta. Bagiku, ayahku itu guru yang sangat profesional di bidangnya, Matematika. Sejak kuliah, ayahku sudah mengajar.  Ayahku lulusan IKIP Jakarta yang sekarang berubah nama menjadi UNJ. Ayahku hobi banget membuat soal… hihihi… Bahkan, sampai ada celetukan, “Ini soalnya susah… Pasti Pak Bambang yang bikin soal…” Pak Bambang Kismanto, itulah ayahku. Beliau loyal banget sama SMPN 20 Jakarta hahaha… Dari duluuu sampai sekarang, tempat mengajarnya gak pernah pindah-pindah… XD Mulai saat beliau masih menjadi guru junior, lalu pernah menjadi Pembina OSIS, sampai posisi Wakil Kepala Sekolah pun  sudah pernah beliau jalani. Ayahku banyak ikut diklat di mana-mana. Beliau juga pernah menjadi Ketua MGMP Matematika se-Jakarta. Terakhir kan ada UKG ya, ayahku mendapatkan nilai yang tinggi, padahal mah ayahku gak belajar tuh… Kata ayahku saat ditanya kok gak belajar dan diajak belajar, “Ah gitu aja kok belajar segala…” 😀 Dibilang juga apa, ayahku itu guru profesional di bidangnya. Yang belum pernah beliau rasakan adalah menjadi kepala sekolah… hahaha… Hai orang-orang yang belum tau ya, kalian perlu tau, bahwa dulu untuk menjadi kepala sekolah itu harus bayar ke atasan puluhan juta, entah itu untuk apa. Saat ayahku ditunjuk untuk ikut tes menjadi kepala sekolah, ayahku ya gak bisa ikutan tes karena harus bayar puluhan juta. Miris yah pendidikan kita ini di birokrasinya… XD

Sejak kecil, aku sudah ‘dijejali’ matematika oleh ayahku. Hihi… Ayahku kalau mengajar pasti kuat di pemahaman konsepnya terlebih dahulu baru si anak yang diajarkan bisa bermain matematika. Mungkin, karena itulah aku jadi sangat suka dengan matematika, selain karena aku juga cukup mudah memahaminya selama ini. Jika aku dites dengan psikotes, ya selalu saja didapatkan bahwa aku lebih kuat di logika dan matematika dibanding aspek yang lain. Untuk tes 8 kecerdasan itu pun, lagi-lagi aku kuat di logika dan matematika, ditambah kemampuan spasial dan keruangan (aku lupa istilahnya). Terbukti, saat SMA kelas X, aku benar-benar menguasai materi Dimensi Tiga pada pelajaran Matematika. Nilai ujianku 100, alhamdulillah. Dari sana aku semakin yakin bahwa aku memang kuat di kecerdasan visual/spasial/keruangan, bisa membayangkan ruang yang tidak nampak di depan mata. Tes otak kiri-kanan pun hasilnya ya aku dominan otak kiri, yaitu bagian otak yang bekerja pada aspek logika berpikir, sistematis, dan terstruktur. Itulah yang membuatku menikmati matematika. Jadi, sebetulnya sih dari kecil justru aku ingin menjadi guru seperti ayahku. 😀 Yah tapi saat aku sudah agak besar ketika mulai kenal Detektif Conan, lucunya kepikiran juga cita-cita yang lain, selain kukuh ingin menjadi guru, ingin juga menjadi detektif. Haha… Dasar anak kecil, gak realistis… Saat SMP baru agak beda sedikit, inginnya jadi “dosen” matematika XD dan mulai menyadari ketidakrealistisan cita-cita ingin menjadi detektif karena detektif di Indonesia mah gak keliatan batang hidungnya. Saat itu belum terpikir ingin menjadi arsitek. Seriusan deh…. XD Maklum, keluargaku memang kebanyakan berprofesi sebagai guru. Jadi gak terpikir ingin menjadi yang lain, seperti dokter, pramugari, pengusaha, dll.

Cuma, ada yang mengganjal dengan profesi guru ini. Entah mengapa orang-orang sekitarku selalu bilang bahwa jadi guru itu hidupnya susah karena penghasilannya kecil. ^^a  Kasihan ya para guru itu… Itulah yang membuatku berpikir mungkin jadi dosen tidak sesusah guru, hidupnya… hehe… (Padahal mah gak jauh beda ya…)  Tapi masih saja ada yang mengganjal di hati, seperti kurang puas dengan cita-cita ingin menjadi dosen matematika. Kok kayaknya miris aja hidupnya dipenuhi hanya dengan matematika. Padahal, bakatku tidak hanya di bidang matematika. Aku juga suka menggambar.  Sejak kecil hingga aku SMA, aku sering ikut lomba mewarnai dan menggambar. Aku pun sering memenangkannya. 🙂 Piala dan sertifikatnya ada, baik di rumah maupun di sekolah. Aku juga suka pelajaran IPA, khususnya Biologi. Aku sangat excited dengan praktikum sejak SMP. Aku juga berkali-kali ikut lomba IPA dan beberapa menang. Aku suka dengan kesenian lainnya, seperti seni suara dan seni tari. Aku saat TK ikut lomba paduan suara hingga tingkat provinsi mendapat juara 3. SMP ikut paduan suara lagi. Lalu, kuliah juga sempat jadi anggota unit Paduan Suara ITB. (Aku beraninya mah menyanyi yang bareng-bareng aja hehe…) Aku sangat suka seni dan budaya. Saat aku kuliah, aku juga sempat menjadi anggota UKM (Unit Kesenian Minangkabau) dan UKJ (Unit Kebudayaan Jepang). Aku juga sempat ‘mampir’ ke unit UKA (Unit Kebudayaan Aceh) saking aku penasarannya dengan berbagai kesenian dan kebudayaan, khususnya Indonesia. ^^Tapi, akhirnya aku meninggalkan seni tari sejak aku memahami Islam lebih dalam karena Islam melarang wanita berlenggak-lenggok di depan umum. (Wallaahu a’lam sih hukumnya tari Saman oleh wanita.) Berlenggak-lenggok aja gak boleh, apalagi menari kan… Yang paling susah itu meninggalkan musik karena kan aku “diam-diam” tuh punya hobi menyanyi ya (di kamar dan di rumah hehe). Jadi sudah terbiasa dan sulit lepas dari musik. Aku butuh waktu yang sangaaat lama untuk meninggalkan musik 😐 sekalipun aku bukan yang berpendapat bahwa musik itu haram. Itu hanya kehati-hatianku aja.

Nah, saat SMA kan aku bertemu dengan pelajaran seni rupa, yaitu gambar teknik. Aku sudah excited banget sejak kelas X, padahal aku baru bisa dapat pelajaran seni rupa itu kan mulai kelas XI. Dari sana aku mulai terpikir untuk menjadi seorang arsitek walaupun masih ragu. Setelah aku merasakan belajar menggambar teknik, saking aku menikmatinya, aku jadi selalu selesai menggambar paling pertama dibanding teman-temanku. hehe… Oleh karena itu, nilaiku pasti selalu paling tinggi di kelas karena pak guru menilainya dari kecepatan menggambar dan kebenaran menggambar. (Tentu hasil gambarnya juga harus rapi.) Haha… jadi lucu deh… kesannya jadi kayak lomba cepet-cepetan gitu… ^^a  Aku berpikir, mungkin aku memang berbakat dalam menggambar ruang. Namun, keraguan masih sering muncul. Aku merasa untuk menjadi seorang arsitek itu kan harus kreatif ya… Nah, aku sepertinya kurang kreatif. Aku kan dominannya otak kiri. ^^ Aku pandai meniru, termasuk meniru pola pada tempat yang berbeda karena itu kerjaan otak kiri, tetapi kalau berimajinasi, membuat sesuatu yang benar-benar baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya oleh orang lain, itu aku kesulitan… XD  Maka dari itu, aku gak mau masuk seni rupa (FSRD) karena aku kurang kreatif dan di sana pasti matematika gak akan terpakai. Pikiranku berkecamuk. Bingung. Aku harus menjadi apa di masa depan? Aku sangat suka matematika, tetapi aku takut bosan jika mengambil  jurusan matematika. Mungkin, aku lebih baik mengambil jurusan arsitektur karena arsitektur ada aktivitas menggambarnya atau mendesain agar tidak monoton. Tapi, rasanya aku pun masih ada keinginan kuat untuk menjadi seorang dosen matematika… T_T Seandainya aku tidak perlu memilih salah satu ya… Kan para ulama zaman dahulu aja pakar di banyak bidang… Saking bingungnya aku harus memilih apa, tau gak sih, pilihanku saat SNMPTN itu: 1. SAPPK, 2. FMIPA, 3. SITH. T_T Aku suka matematika, aku suka menggambar, aku juga suka sains. Aku udah bilang kan ya bahwa aku sangat suka biologi? Aku bahkan pernah juga tuh waktu mengisi kuesioner di BTA 8 (bimbel dari SMAN 8 Jakarta), aku isi pilihan Astronomi coba… XD Ternyata takdirku masuk Arsitektur (SAPPK)… 🙂

Lucunya, tidak sesuai perkiraanku sebelumnya, di arsitektur ternyata hampir tidak menggunakan ilmu matematika… XD haha… Dipakai sih sedikit… 😛 Subhanallaah… Aku belajar ‘cacing-cacing’ (baca: integral) di matematika dan kalkulus tuh sia-sia aja??? Oh sungguh kejamnya pendidikan Indonesia… wkwkwk… Kalkulus masa TPB di SAPPK tuh level A loh… 4 sks gitu loh… Yg mengagetkan buatku lagi di arsitektur itu ternyata etos kerjanya harus tinggi, gak bisa nyantei sedikiiit… Studio oh studio… Studio bagaikan udara yang mengisi ruang-ruang kosong. Studio oh studio… Dia bagaikan air yang mengalir di celah-celah bebatuan sungai. Setiap ada waktu luang, seharusnya waktu luang itu diisi dg mengerjakan studio perancangan, bukan aktivitas organisasi, bukan membaca Al-Quran 1 juz setiap hari, bukan pula dakwah, apalagi nganggur gak jelas. XD Jadi, intinya sebetulnya tidak ada waktu luang di jurusan arsitektur seharusnya… Sungguh teganya dirimu teganya… Teganya… #nyanyi  Yap, jika kita mengambil risiko menggunakan waktu luang bukan untuk studio, sudah pasti konsekuensinya bisa jadi hasil rancangannya tidak maksimal, tidak memuaskan, dan hanya apa adanya aja. ^^ Karena selama di arsitektur aku kurang menikmati belajarnya yang melelahkan, aku pun mulai merasa, “Apa aku salah jurusan ya?” Aku suka belajar di kelas, menikmati materi yang diajarkan, tetapi aku sama sekali tidak menikmati pekerjaan yang monoton di studio dari pagi sampai sore, bahkan malam, dengan mata yang tidak lepas dari meja gambar di bawah tekanan deadline. XD Udah gitu ya, apa yang sudah aku gambar capek-capek, bisa jadi tidak disetujui oleh dosen dan harus dibuat ulang dengan gambar yang berbeda. Fyuuh… Jadi ternyata, perkiraanku bahwa pekerjaan di jurusan arsitektur itu tidak monoton karena isinya adalah mendesain, itu salah. Justru jumlah jam studio yang mencapai 8 sks itu yang membuatnya jadi monoton. Ternyata aku ini orangnya cepat bosan dan tidak suka dipekerjakan di bawah tekanan deadline. ^^a Aku butuh penyegaran sesering mungkin selama kuliah di arsitektur. Hehe… Baru desain terasa nikmat… Apalagi kalau tanpa deadline… Eksplor sepuasnya di kala hati sedang ceria. Iya loh untuk menjadi kreatif, biasanya aku harus ceria dulu… Kalau sedih suka jadi gak kreatif dan gak bersemangat juga. 😦 Cuma kan ya sebetulnya desain itu gak akan pernah beres kalau bukan deadline yang memaksa untuk beres desainnya…. haha… Apalagi, aku ini orangnya perfeksionis sehingga pekerjaan desainku lebih lamban daripada teman-temanku yang tidak perfeksionis. ^^a  Repot juga ya jadi orang perfeksionis. Yang namanya perfeksionis kan berarti teliti ya. Berarti, kalau ada kesalahan aja sedikit ya tetap terlihat dan itu harus dibenarkan/diperbaiki lebih dahulu baru bisa lanjut. Heu… -_- Aku suka desain, tetapi aku tipe orang yang harus memelajari preseden terlebih dahulu atau bahkan belajar untuk menirunya. Maklum dominan otak kiri… heu… Setelah aku paham seluk-beluk preseden (contoh desain yang bagus), baru aku bisa mulai bergerak bebas semauku mendesain yang lain. ^^a  Aah… Bagiku, ternyata jalan-jalan itu penting loh untuk yang kuliahnya di arsitektur. 😀 Aku pun menyadari bahwa selama ini aku kurang piknik. Seriusan ini piknik dengan arti sesungguhnya… Hal ini baru aku sadari saat setelah lulus kuliah. Alhamdulillah ya aku bisa lulus bareng-bareng teman seangkatan walaupun aku sempat gagal TA yang pertama… hehe… Aku gak merasa minder setelah aku benar-benar lulus kuliah karena saat aku lulus, masih banyak kok teman seangkatanku dari jurusan lain yang belum beres TA nya hehe… Ya iya lah… Mereka mah TA nya gak pake deadline. Jadi, mereka mah TA nya mau beres kapan ya terserah dan semampu mereka. Yang penting gak lewat dari 6 tahun pendidikan sejak awal kuliah di ITB. Setauku cuma Arsitektur aja yang pake deadline harus beres 3,5 bulan. FSRD aja gak pake deadline kok… 🙂

Setelah lulus, aku tidak ingin bekerja di konsultan arsitektur karena aku sudah menikah, jadi istri orang. Aku ingin lanjut S2. Soalnya, suasana kerja di konsultan itu yang udah terbayang pasti capeeek bangeet… Lembur bisa hampir setiap hari. Aku juga udah menetapkan pendirian bahwa aku gak akan lagi ambil S2 dari jalur desain. Aku mau ambil S2 dari jalur riset karena sepertinya selama ini aku lebih cocok menjadi seorang ilmuwan/saintis daripada menjadi arsitek. Aku masih bisa kan mengerjakan proyek-proyek pribadi, gak harus kerja di konsultan… hehe… Namun, aku belum menyiapkan banyak hal untuk lanjut kuliah. Biayanya kan mahal ya… Aku harus mendapat beasiswa terlebih dahulu agar bisa lanjut S2. 😐 Untuk mendapatkan beasiswa, minimal nilai TOEFL-nya 500 untuk masuk perguruan tinggi dalam negeri. Terakhir kali aku ikut tes TOEFL ITP dan itu pertama kalinya ikutan, cuma dapet 490. Belajarnya juga emang gak maksimal sih waktu mau tes TOEFL saat itu. Sampai sekarang pun belum siap tes TOEFL lagi… Aku butuh guru agar belajarnya disiplin, seperti teman-temanku yang pada ikutan les TOEFL/IELTS. Aku belajar bahasa Inggris tuh ogah-ogahan kalau gak ada gurunya… 😥 Gimana atuh??? Aku berusaha latihan membaca teks bahasa Inggris, misalnya, eh kepentok kendala gak punya kamus digital. Memori HP kepenuhan, jadi gak bisa download kamus digital di HP…. Huaaaa… T_T  Kenapa aku jadi manja gini ya belajarnya??? Abis, capek kan kalau harus bolak-balik halaman kamus dalam bentuk buku. Dari dulu gak tahan kalau harus begitu… 😦 Apalgi aku punya trauma dalam belajar bahasa Inggris yang mungkin kalau diceritakan bisa jadi satu tulisan baru yang agak panjang. Jadi aku harus les… Nah, biaya lesnya itu cukup menguras dompet… 😦 Saat ini aku bersabar dulu deh ya dengan kondisi yang ada… Semoga Allah segera berikan kami rezeki yang melimpah dan barakah agar kami bisa mewujudkan mimpi-mimpi kami… 🙂 Gak apa-apa deh pelan-pelan aja dalam meraih mimpi… Yang penting kan semoga aja nanti benar-benar tercapai… 🙂

Kok tiba-tiba jadi guru sekarang? Ini berawal dari cerita seorang teman sesama lulusan arsitektur yang satu angkatan dengan saya bahwa dirinya bisa diterima mengajar di Nurul Fikri. Dia mengajar Matematika… Tiba-tiba aku bernostalgia bahwa aku dulu pernah ingin menjadi seorang guru. Aku pun punya bakat di bidang matematika. Namun, aku berpikir, apakah aku bisa seberuntung temanku itu? Aku kan udah lama ya gak bersentuhan dengan matematika. Tapi, buktinya temanku bisa mengajar matematika, kenapa aku gak bisa? Nilai ujian Kalkulusku aja 2x paling tinggi se-SAPPK dan nilai akhir semester 1 dan 2 dapet A dua-duanya. Jadi, seharusnya aku percaya diri aja lagi… Pikiranku berkecamuk. Aku sadar, sekarang aku sudah tidak sebebas sebelumnya saat aku belum menikah. Aku pun ragu-ragu apakah aku bisa bekerja di luar rumah? Temanku kan belum menikah. Jadi, dia belum ada tanggung jawab tambahan. Aku mulai merenung, aku ingin jadi guru dulu sebelum lanjut S2, tetapi berarti aku harus belajar lagi matematika. Hal ini aku diskusikan dengan suamiku, termasuk mempertimbangkan seandainya punya anak pada tahun itu. Kan kalau udah punya anak, pasti waktuku akan banyak dialokasikan untuk mengurus anak ya…

Sebetulnya, aku sangat menikamati hari-hariku yang tidak bekerja kantoran… hihi… Banyak hal yang mengesankan selama ini… Setelah menikah, aku justru jadi punya banyak kesempatan belajar agama lebih banyak… 😀 Aku juga bisa ikut suami keluar kota dalam waktu lama. Aku mudah merasa bosan kalau terus-terusan di rumaaah ajaa tanpa suami menemani. Gak ada teman ngobrol. Apalagi kalau tidak ada medsos. hehe… Dulu waktu awal-awal setelah menikah malah sedihnya parah banget kalau gak mampir ke Masjid Salman aja sehari. Hati saya sudah terpaut dengan Masjid Salman sepertinya… Gak bisa jauh-jauh dari Masjid Salman… Tapi, alhamdulillah sejak banyak kajian Islam di masjid lainnya, bertemu dengan saudara-saudar seiman yang baru kenal, aku seperti memperluas zona nyaman. 🙂 Jadi, hari-hariku lebih berwarna… Alhamdulillah…

Namun, keluarga udah nanya-nanya sambil menyentuh bagian perutku, “Belum ada isinya ini, Rin?” Aku nyengir aja… hehe… Gimana ya bilangnya? Kami sepertinya belum siap punya anak saat itu. Banyak hal yang menjadi alasan kami menunda punya anak. Kondisi ruhiyah yang kacau, ilmu yang kurang, pertimbangan manajemen waktu ke depannya karena kami ingin S2, dan tentu juga kondisi finansial yang belum siap. Belum lagi komentar pihak keluarga yang lain yang membandingkan aku dengan teman-temanku yang gajinya tinggi. Sebel rasanya kalau udah dibandingkan dari besar penghasilan. Aku langsung merasa terpuruk dan ingin menangis di pojokan. Tapi aku menguatkan diri bahwa Allah tidak akan menilai seseorang dari besar penghasilannya. 😥 Aku merenung semakin dalam, kok malah semakin sedih… Iya, Allah tidak menilai hamba-Nya dari besar penghasilannya, tetapi dari ketakwaan-Nya. Masalahnya, atas dasar apa aku bisa merasa tenang bahwa Allah menilai hamba-Nya dari ketakwaan-Nya, sedangkan ketakwaanku bisa jadi di bawah rata-rata walaupun aku sangat berharap tidak seperti itu. Aku pun teringat segala dosa-dosa yang kuperbuat. Aku pun memohon kepada Allah agar berikan aku petunjuk sehingga aku tidak keluar dari jalan yang lurus. 😥

Saking tidak tahan lagi dengan komentar-komentar banyak orang, aku pun berpikir, “Aku harus punya banyak uang.” Apalagi, kalau aku melihat kebobrokan negeri ini, aku tidak bisa diam saja. Aku ingin diam-diam melesat jauh ke depan, yang penting suamiku ridho. Aku tidak suka direndahkan, apalagi dari besarnya penghasilan. Selain itu, aku sangat iri dengan orang-orang yang bisa ikut macam-macam pelatihan/kuliah berbayar, sedangkan aku getar-getir seandainya aku ikut kuliah tersebut, kebutuhanku tetap terpenuhi gak ya? Maka, aku mulai putuskan ke depannya aku mau seperti apa dan mau jadi apa? Aku sudah putuskan, aku ingin jadi dosen arsitektur agar ilmuku yang aku dapatkan di S1 tidak menjadi sia-sia. Soalnya, aku masih yakin aku berbakat di jalur riset, sesuai hasil psikotes saat SMA dan pengalaman belajarku selama ini. Perancangan Arsitektur memang tidak banyak menggunakan matematika dan sains. Namun, pada studi lanjutan, seperti S2 dan S3, tidak menutup kemungkinan bahwa matematika dan sains bisa melengkapi riset-riset arsitektur. Di Arsitektur itu ada bahasan struktur, green building, dan fisika bangunan yang tidak lepas dari matematika dan sains. 🙂 Sebelum lanjut S2, aku ingin mengabdikan diri untuk mengajar matematika dan IPA agar ilmuku selama sekolah tidak sia-sia. Hitung-hitung latihan sebelum menjadi dosen. hehe… Semoga terwujud bisa menjadi dosen arsitektur. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s