Tantangan Menjaga Hati (Curhat)

Di era medsos saat ini tantangan menjaga hatinya cukup berat. Aku sangat merasakan arus datangnya energi negatif dari medsos ini. Yah pada awalnya sih siapapun tidak peka dalam menjaga hatinya saat menggunakan medsos. Namun, dengan bertambahnya ilmu agama yang diapahami, lama-lama kita pun (mungkin tidak semua) menyadari bahwa apa yang kita lakukan dahulu bisa mengandung riya’ dan sombong. Namun, ada yang mau meluruskan jalannya yang salah, tetapi ada juga yang tetap di jalan yang sesat alias terus-menerus terbelenggu dalam kebiasaan riya’ dan sombong. Bagi yang menyadari kesalahannya dan hendak memperbaikinya, usahanya itu sepertinya menjadi tantangan yang begitu besar jika ia masih bermedsos ria. Saya pun merasakannya. Sudah ditahan-tahan untuk tidak menceritakan hal-hal yang mengundang pujian, eh melihat ada orang lain yang sedikit-sedikit suka pamer, saya jadi jengkel. Gak suka aja melihat sikap kayak gitu. Saya pun tergerak untuk meruntuhkan kesombongan orang itu. Saya sebenarnya ingin bilang ke orang itu, “Mbak, Mas, biasa aja kaliii… Baru segitu aja udah pamer dan merasa bangganya selangit… Saya yang lebih dari itu aja biasa aja…” Cuma, gak mungkin lah ya ngomong begitu… Yang ada jadinya saya jadi ikut-ikutan pamer deh… heu… 😦 Padahal mah, saya gak merasa bangga sih dengan capaian yang saya pamerkan itu… Saya ulangi lagi, saya gak merasa bangga dengan capaian tersebut. Namun, saya hendak memberi pelajaran kepada orang yang gak pantas sombong itu. Kenapa coba saya gak bangga? Ya pikir-pikir aja deh… Biasanya tuh orang yang ahli beneran pada suatu hal biasanya dia pengen gak sih membangga-banggakan dirinya dengan kemampuannya itu? Yah ada yang begitu, tapi banyak juga yang gak begitu… Soalnya dia tau bahwa di atas langit itu ada langit. Orang yang sungguh-sungguh ahli itu tanpa dia harus cerita panjang lebar tentang kelebihan dirinya, orang-orang mah udah pada tau…

Contoh aja nih, misalnya ada orang juara olimpiade internasional mata pelajaran Matematika biasanya dia tidak perlu tuh cerita-cerita ke semua orang bahwa dia jago matematika. Lah ngapain capek-capek cerita… Prestasinya itu sudah membuktikannya kok… Nah beda dengan orang yang gak pernah juara lomba Matematika tapi dia pengen dianggap jago matematika. Biasanya mulutnya itu bisa melakukan segala cara agar semua orang mau mengakuinya jago matematika. Hehe… Jujur aja sih saya suka kesal melihat tingkah laku orang kayak gitu… Beda lagi kasusnya kalau sang jawara tersebut malah direndahkan orang lain yang gak tau apa-apa alias bodoh. Siapa sih yang gak jengkel jika direndahkan??? 😀 Itu sih contoh aja ya… Aplikasinya bisa di banyak kasus. Saya sendiri sering mengalami direndahkan orang lain… Kesaaalnya itu bisa berhari-hari kalau saya udah direndahkan orang lain yang gak pantas merendahkan. Tau gak sih? Saya itu bisa menangis dan jadi marah-marah sendiri kalau udah kesal karena direndahkan orang lain. Suami saya pun jadi kena getahnya… Suami saya pasti akan nanya ke saya kenapa dari tadi marah mulu. Ya saya bilang aja saya lagi bête sama orang lain. Jika wajah saya yang cemberut di hadapan suami berdosa dan membuat saya jadi meninggikan suara, semoga Allah mengampuni saya. >_< Semoga orang yang telah merendahkan saya itu dapet dosa yang berlipat-lipat selama dia belum taubat/belum merasa bersalah.

Yah bisa dibilang di medsos itu kita akan sering bertemu dengan orang-orang yang sedikit-sedikit suka pamer atau merendahkan orang lain. Ini mah aku curhat aja hehe… Bukan mau dakwah atau mencari solusinya. Ini murni curhat aja… >_< Suliiit banget menjaga hati jika masih bermedsos ria. Ketemu orang yang suka pamer tuh jadi tergerak untuk pamer juga. Apa dia gak nyadar ya bahwa sikapnya yang menginspirasi orang lain berbuat buruk/dosa, dosanya kena ke dia juga. Yah walaupun sebenarnya kita bisa memilih untuk mengabaikan sikap lebaynya itu sih… Anggap aja orang itu gak ada… Atau anggap aja orang itu gila… Iya gila… Gila pujian dan kehormatan. 😀 Contoh aja nih… Ada orang yang pengen dianggap serba bisa sehingga dia mencoba mencari pujian orang lain dengan berbagai cara. Dia gak pernah punya prestasi di bidang Sains misalnya, eh dia pake ngaku-ngaku cinta sains untuk dianggap jago sains. Ah itu contoh aja sih… Atau dia baru aja belajar ushul fiqh, misalnya, eh dia udah merasa paling paham ushul fiqh di hadapan orang-orang yang lulusan pesantren. Misalnya. Coba deh bayangin aja… Gimana orang lulusan pesantrennya gak jengkel coba??? Wajar lah kalau orang yang kayak gitu menjengkelkan… Atau ada orang yang pengen diakui jago melukis/menggambar. Dia gak mau kalah lah… haha… Padahal mah, dia gak punya riwayat suka menggambar atau menjuarai lomba-lomba menggambar. Gimana gak menjengkelkan coba orang kayak gitu bagi yang jelas-jelas jawara lomba menggambar??? Haha…

Emang sih solusinya cuma satu kalau ketemu orang kayak gitu. (Tadi katanya gak mau cari solusi dulu…) hehe… Gak tau sih ini bisa disebut solusi atau gak. Solusinya adalah mengabaikan orang itu… haha… Anggap orang itu gak ada! Anggap orang itu sedang gila! 😀 atau… kita gak usah bermedsos ria lagi.. wkwkwk… Tapi seriusan sih saya mah sebenarnya gak mau facebookan lagi euy… Tapi entah kenapa kok gak bisa ya menahan diri dari facebookan. 😦 Dulu waktu kuliah mah aku bisa libur facebook sampe berbulan-bulan. Sekarang belum bisa kayak gitu lagi… Kenapa ya??? >_< huuhuu…

Sebenarnya medsos itu buat apa sih? terutama facebook… Awalnya niat saya pakai facebook adalah untuk berdakwah. Nah kalau dievaluasi lagi kok kayaknya niatnya udah bergeser ya… 😦 Jadi suka posting gak penting… hiks… Dulu tuh aku bisa menahan diri dari berbuat pamer sekalipun melihat banyak orang yang sedang pamer. Bener-bener facebook tuh aku pakai untuk dakwah. Jadinya tuh kalau melihat orang suka pamer ya yang keluar jadi nasihat sindiran agar orang yang pamer sadar bahwa dirinya salah. Kalau sekarang??? Saya suka mudah ikut-ikutan pamer juga… hiks… Aku ingin lepas dari belenggu hawa nafsu ini… >_< Aku ingin punya teman-teman dan sahabat yang tidak suka pamer dan tidak suka dengki… Semoga Allah berikan aku hati yang tenang yang merasa cukup dengan Allah saja. Itulah tauhid yang kokoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s