Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (3): dari Aceh ke Mata’ Salman

Aku latihan kaligrafi di rumah seniorku satu jurusan karena gurunya adalah ayah beliau sendiri yang kebetulan nanti jadi salah satu dewan jurinya mewakili Bandung hihi…  Aku mewakili ITB untuk kategori putri, sedangkan beliau mewakili ITB untuk kategori putra. Kira-kira masa latihanku dimulai sejak H-3 bulan. Wow… Itu memang mepet sekali… Saat itu pun aku belum mengenal yang namanya kaligrafi Tsuluts, kaligrafi Diwani, dll. Padahal, yang paling utama itu adalah kaligrafi Tsuluts yang porsinya paling banyak menempati papan sebagai media gambar. heu.. Di rumah seniorku itu, kami latihan tepatnya di ruang studio ayah beliau yang juga merupakan dosen Sastra Arab Unpad. Studionya puweenuuh dengan karya-karya kaligrafi, baik yang berbentuk lukisan maupun ukiran.

Jenuh? Oh jelas rasa jenuh sering kali menghampiri… Kenapa coba? Karena aku hampir putus asa… Haha… Waktu yang sangat sebentar itu rasanya tidak mungkin aku menguasai semua jenis khat dan teknik-teknik menggunakan catnya. Yang digunakan adalah cat tembok yang baunya tidak enak hehe… karena dari bahan-bahan organik. Kuas yang digunakan adalah kuas yang keras yang harus dimodifikasi terlebih dahulu ujungnnya. Menulis hurufnya dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Semua itu dilakukan karena mempertimbangkan efektivitas penulisan kaligrafinya. Namanya juga kan pake cat ya, berarti kan pasti basah. Kebayang dong ya, kalau masih basah eh tangan kita menyentuh tulisan yang masih basah tersebut… XD Papannya pun harus diamplas terlebih dahulu sebelum digunakan. Hehe… Belum lagi harus menyiapkan cetakan untuk hiasannya… Tentu hiasannya harus hasil karya sendiri. Jujur aja, waktu pertama kali disuruh bikin hiasannya, saya binguuuung… XD Belum pernah soalnya sebelumnya… Belum tau sampai sejauh mana kita bisa bereksplorasi membuat hiasan dan saat itu aku pun belum paham karakter hiasan yang bisa digunakan dalam lomba kaligrafi dekorasi. 🙂 Memang sih ya cabang kaligrafi ini adalah cabang MTQ yang paling menguras tenaga. Capeknya bukan cuma capek pikiran, melainkan juga capek fisik. Apalagi, masa-masa latihan tersebut bersamaan dengan osjur himpunan Arsitektur. Heu… Maklum, osjur himpunan Arsitektur kan biasanya emang di saat liburan kenaikan tingkat. ^^a Jadi, saya sering izin karena harus latihan kaligrafi… Tapi tetep aja dipermasalahkan… heu #kzl

MTQ Mahasiswa Nasional saat itu diselenggarakan di Aceh pada tahun 2009. Aku termasuk peserta termuda saat itu, masih tingkat 2. hehe… Itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. XD Teman-teman saya sejurusan pada ikutan osjur dan pelatihan proKM, eh saya malah terbang ke Aceh… hihi… Galau sih soalnya saya jadi izin osjur. Galau karena khawatir dipermasalahkan dan ternyata sepulang dari sana kepergian saya memang dipermasalahkan. Juju raja saya sebel… 😦 Kan saya ke Aceh juga mewakili ITB gitu loh untuk lomba… Seharusnya saya dikasih keringanan dong ya… Maklum lah panitia-panitia osjurnya bukan aktivis dakwah. Jadi saya dizalimi pun mereka gak merasa bersalah. Hehe… Paling males kalau senior saya yang juga ikut lomba kaligrafi itu udah nanyain soal osjur. XD Saya langsung BeTe, kak… *peace* Eh ternyata beliau di tahun berikutnya malah yang jadi Kahimnya… wkwkwk… Tapi saya tetap cintanya mah sama kadiv wirausahanya sih yang di tahun berikutnya jadi senatornya… XD *love you, my husband* ß abaikan

Sebelum sampai di Aceh, kami transit di Medan. 🙂 Pesawatnya cuma sampai Medan. Lalu, kami dijemput naik bus ke Aceh. Perjalanannya sangaaat jauuuh… Sampai terpikir berkali-kali, “Kapan yah nyampenya?” Kondisi Aceh masih belum baik setelah terkena musibah tsunami. Tanahmya berpasir. Cuacanya panas menyengat seperti di Jakarta sehingga badan mudah berkeringat. Namun, anginnya sepoi-sepoi berhembus terasa dingin atau sejuk. Di sinilah bedanya dengan Jakarta. hehe… Kami tinggal di suatu rumah seperti wisma. Satu kafilah (tim universitas) berarti satu rumah. Yang akhawat di dalam kamar, sedangkan yang ikhwan di ruang tamu… haha… Sampai di sana, aku kembali berlatih menulis huruf-huruf dengan kuas dan cat. Fyuuh… Yang lain mah hanya bermodal suara dan bacaan. 😀 Di hari pembukaan acara, yang lain pada nonton, aku mah latihan aja di rumah… wkwkwk

Panas Aceh begitu menyengat. Sepulang dari lokasi acara, pasti kami langsung ingin mandi karena badan sudah terasa lengket berkeringat. Lalu, kami mempersiapkan diri untuk besok, mengikuti lomba. Mulai terdengar gaung lantunan bacaan Al-Quran di satu kompleks itu, baik yang tartil maupun yang mujawwad, saling bersahutan. Wah subhanallaah… Dari sana aku baru mendengar istilah tahsin. Kalau tajwid sih aku sudah hafal jilid I-nya… Maklum, aku kan pernah ya menghafal kitab tajwid saat SD-SMP. 😀 Ternyata tahsin itu berbeda dengan tajwid. Tidak cukup kita hanya belajar tajwid, tetapi juga harus latihan mempraktikannya. Saat itu aku baru mengetahui bahwa jika panjang dua harakat itu berarti satu kali mengayunkan bacaan, sedangkan ghunnah itu tidak hanya mendengung, tetapi juga dipanjangkan bahkan lebih panjang daripada mad thabi’i. 🙂 Sejak itulah aku mengazzamkan diri untuk belajar tahsin di Mata’ Salman.

Mendengar para peserta lomba Tartil Quran melantunkan bacaan Al-Quran, aku merasa takjub. Tanpa aku sadari, aku pun menirunya ikut melantunkan. XD Seruuu… Seketika, aku langsung ingin segera bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. Namun, seperti nasihat para senior terutama teh Ayu guru kami, mantan juara II MTQ Mahasiswa Nasional, aku katanya harus menguasai tahsin terlebih dahulu. Beneran lah, pulang dari sana aku langsung daftar Mata’. Hehehe… Aku yang masih dalam proses berpakaian syar’i, masih sering pakai celana panjang, bukan rok, aku sebenarnya masih agak seram mendengar istilah “kajian tafsir Quran” atau istilah “majlis ta’lim”. huuhuu… Terasa angker aja deh… Kayaknya tuh bakal membosankan gituu… Tapi, demi aku bisa belajar tahsin, aku beneran daftar organisasi Majlis Ta’lim Salman… hahaha… Aku berharap bisa segera menguasai tahsin sehingga aku bisa belajar mengiramakan bacaan Al-Quran. hihi… Lalu, motivasi lainnya ikut Mata’ adalah agar aku bisa “kembali” belajar Bahasa Arab seperti dahulu saat SD-SMP. ^^ Sayangnya, zaman aku daftar Mata’, eh program Bahasa Arab malah dihapus. Agak kecewa sih memang…

Jangan Tanya, “Rin di Aceh gimana? Menang gak?” hoho… jelas gak menang lah… haha… Tapi seniorku sejurusan itu dapet juara V. 🙂 Tapi, saat itu aku puas dengan hasil karyaku yang dilombakan hehe… karena hasilnya lebih bagus daripada saat-saat latihan dan yang terpenting adalah selesai tepat waktu. hihi…

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s