Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (2)

Aku mulai belajar kaligrafi yang sesungguhnya itu saat aku berusia 13 tahun, tepatnya di Sekolah Arab (istilahnya begitu lah) yang tempatnya cukup menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki ke sana dari rumah. Kira-kira bisa sampai 20 atau 30 menit lah berjalan dari rumah ke madrasahnya. Ceritanya tuh kenapa aku pindah ngaji ke sana karena adik-adikku pada pindah ke sana… XD Masa’ aku sendiri yang masih ngaji di tempat lama… Teman-temannya nyebelin, lagi… hehe… Ngajinya juga malam. Kalau pulang suka merasa serem… Gelap gituu… Bahkan, aku pernah pengalaman punya teman yang jahat banget mau nimpukin pakai batu kalau pulang. Yang jahat itu laki-laki. Hii… Bahaya banget kan ya… Pulangnya sampe ditemenin sama guru ngajiku (manggilnya “Mpok” hehe soalnya orang Betawi asli). Makanya, aku jadinya ikut-ikutan pindah deh… Senengnya tuh di sana ketemu teman-teman satu SD. Jadi seruuu… Tapi cukup butuh perjuangan sih ke sananya hehe… (Gak mau capek dikit).

Menariknya, saat SMP, aku kemudian pindah rumah ke tempat yang justru dekat dengan Sekolah Arab tempat aku mengaji itu. Mengapa istilahnya kok Sekolah Arab? Karena di sana aku belajar semua hal dalam bahasa Arab. 😀 Bayangkan dong… Aku belajar kayak anak pesantren loh… Padahal mah aku sekolahnya aja di SMP negeri. Di SMP pusing-pusing Matematika, IPA, IPS, dll, eh di tempat ngaji aku pusing-pusing menghafal banyak kitab dalam bahasa Arab yang tentunya sudah dikasih tau terjemahannya oleh ustadz. 😀 Benar-benar menghafal kitab dalam bahasa Arab! XD Gak pernah terbayang sebelumnya… Menghafal kitab Tauhid, kitab Fiqh, kitab Akhlaq, kitab Muhaddatsah, kitab Muthola’ah, kitab Sirah, kitab Babul Minan, dll, semua dalam bahasa Arab. Menghafal loh ya, bukan sekadar mengartikan aja… hehe… Tiap hari jadwal pelajaran (menghafalnya) ganti-ganti. Yang pasti, tiap hari di waktu pagi selalu ada latihan Bahasa Arab. Entah membuat kalimat dalam bahasa Arab, entah mengartikan kalimat bahasa Arab, atau mengubah kalimat bahasa Indonesia menjadi bahasa Arab. Itu tiap hari dari Senin sampai Sabtu. Udah kayak anak pesantren kan ya… Haha… Nah, tiap Sabtu ada latihan Khat dan ketika anak yang mengaji di sana sudah cukup lama atau levelnya udah agak lebih tinggi, baru deh diajarin kaligrafi dengan pena dan tinta. ^_^ Yang diajarin sih baru kaligrafi Naskhi saja… Namun, maasyaa Allaah… Huruf alif aja harus berlatih belembar-lembar. Lalu, hasil latihannya dikoreksi ustadz. Yang benar kaidahnya dilingkari. ^_^ Hingga pada akhirnya aku dianggap mengungguli teman-temanku dan aku diminta menyalin naskah shalawatan dengan pena dan tinta yang kemudian difotokopi untuk anak-anak lainnya. Hihi…

Pada suatu hari, Madrasah Tarbiyyah tempat aku mengaji itu mengadakan perlombaan antarcabang. Cabang dekat rumah dengan cabang yang lebih jauh lagi dari rumah (kayaknya beda kelurahan). Aku mencoba ikutan 2 cabang lomba. Apalagi selain lomba kaligrafi, iya gak? hehe… Lalu aku juga mencoba lomba cerdas cermat. Namun sayangnya, pelajaranku belum jauh, sedangkan lawan-lawanku sudah sampai jilid 3 kitab-kitab yang telah dihafalnya. Tentu aku kalah lomba cerdas cermat hehe… Setelah beres lomba cerdas cermat, aku mengejar ketertinggalan lomba kaligrafi dan aku manfaatkan waktu sebaik-baiknya hingga detik terakhir. Yang dilombakan dalam kaligrafi tidak terlalu sulit dan kertas gambarnya hanya ukuran A3 kira-kira. Jadi aku menggunakan 2 pensil andalanku yang diikat dengan karet. Hehe… Itu sih tips dari ustadznya. Cukup puas dengan hasil karyaku waktu itu walaupun aku gak sempat lihat-lihat hasil karya lawan-lawanku sih… Yang seru sih karena kali ini aku bisa menggunakan crayon dan pensil warnaku untuk mengeksplorasi. Awalnya sempat ragu untuk ikutan karena kurang persiapan. Namun, aku setia menunggu pengumumannya. 😀 Yeaay… Tenyata, aku juara I lomba kaligrafi.

Pengalaman-pengalaman ini yang membuat aku memberanikan diri untuk ikutan Olimpiade Al-Quran tahun 2008 silam… 🙂 Saat itu aku sudah lebih PD untuk mencoba keahlian baruku menulis Khat Naskhi (walaupun masih banyak kekurangan) karena kebetulan syarat lombanya menggunakan Khat Naskhi/kategori Mushaf, bukan yang dekorasi. ^^ Di detik-detik terakhir pengumpulan karya, aku takjub dengan hasil karya seseorang berjahim himpunan Arsitektur. Haha… Arsitektur adalah jurusan idamanku saat TPB dan alhamdulillah akhirnya aku masuk ke jurusan tersebut. Ternyata beliau yang juara I di lomba kaligrafi Olimpiade Al-Quran dan aku juara II nya hihi… Lebih takjub lagi, ternyata beliau yang juara I itu anak kandung dari seorang kaligrafer tingkat nasional. 😀

Ternyata, Olimpiade Al-Quran tersebut menjadi ajang penjaringan calon perwakilan ITB untuk ikut MTQ Mahasiswa tingkat nasional pada tahun 2009. Oleh karena itu, kami terpilih sebagai perwakilan ITB cabang kaligrafi. Wuih… aku tuh gak pernah bereksplorasi dengan cat selama ini. Jadi jujur aja, perasaan tuh gak nyaman banget saat mengejar keterampilan mengecat untuk membuat karya kaligrafi. Membuatnya di papan triplek, lagi… Lalu, mencampurkan warna-warna dengan kekentalan yang pas itu aku masih butuh banyak latihan. Fyuuh… Latihan yang sangat menguras tenaga euy… dan menghabiskan ‘isi kantong’ hehe… Udah gitu, aku kan baru menguasai jenis Khat Naskhi. XD belum menguasai jenis khat lainnya, seperti Diwani, Kufi, Tsuluts, dll. Totalnya kira-kira yang standar itu ada 7 jenis khat. XD Belum lagi, menuliskan huuf demi hurufnya itu dari kiri ke kanan… Nah loh… Benar-benar butuh perjuangan untuk menguasai semua itu… Apalagi dengan waktu yang sebentar doang… ^^a hehe cukup stres sih mempersiapkan MTQ Mahasiswa Nasional…

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s