Pengalaman dalam MTQ Mahasiswa Nasional (1)

Berawal dari Olimpiade Al-Quran yang dahulu diselenggarakan oleh Mata’ Salman. Aku pertama kali ikut lomba dalam acara tersebut tepat saat baru saja aku diterima di ITB, yakni tahun 2008. Baru pakai kerudung… πŸ™‚ Saat itu kan Ramadhannya sekitar bulan September/Oktober ya… Di sana ada banyak cabang lomba… Ada balighonya juga dan mataku langsung terarah pada tulisan “Khatthil Quran/Kaligrafi”. Aku langsung sumringah… hehe… Maklum, aku ini cinta kaligrafi, baik kaligrafi Arab, Jepang, maupun Latin. Sejak kecil, tepatnya SD kelas I, aku sudah berkali-kali ikut lomba menulis indah, sekalipun itu hanya tulisan latin. Nama lombanya adalah 3M (Membaca, Menghitung, dan Menulis). Aku selalu menjadi perwakilan SD-ku untuk lomba 3M tersebut. Tiap anak yang diikutkan berarti ikut ketiga lomba tersebut sekaligus. Lomba tersebut hanya untuk kelas I s.d. III SD loh ya… hihi… Dalam sesi lomba menulis, tulisannya harus tulisan sambung, tidak boleh tulisan cetak. ^^ Nah, lomba 3M ini hanya sampai tingkat kecamatan kok… hoho… jadi emang wilayah lombanya gak luas.

Saat kelas V pun aku ikut lomba menyalin Al-Quran dengan hiasan ala mushaf. Saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sesungguhnya. Aku menulis huruf demi huruf Arab hanya dengan insting saja hehe… Aku ini orangnya perfeksionis. Jadi aku perhatikan betul-betul tulisan Arab dalam buku Iqro’, Al-Quran, dan juga buku paket Agama Islam dari sekolah. Jadi, yang menurutku bagus, ya setidaknya mirip lah dengan tulisan-tulisan di sana. ^^ Padahal, aku belum belajar kaidah penulisan huruf-huruf Arab sama sekali. Saat lomba Kaligrafi/Menyalin Al-Quran saat kelas V sih aku gak menang, tapi lawan-lawanku kalau tidak salah ingat sih semuanya anak kelas VI, mereka 1 tingkat di atasku. Saat itu aku hanya mendapat juara III tingkat kelurahan. Hasil karyaku dievaluasi, teutama oleh ibuku. “Harakatnya gak rapi nih Rina… Kalau ngasih harakat belakangan aja, Rin, biar rapi dan cepet juga ngerjainnya.”

Akhirnya 1 tahun kemudian, LOKETA (Lomba Keterampilan Agama) datang lagi. Aku sudah kelas VI. Ingat, sekolahku bukanlah madrasah atau pesantren. Sekolahku murni sekolah sekuler seperti sekolah negeri pada umumnya. Hanya saja, sekolahku adalah sekolah swasta. Kami pun sehari-harinya tidak ada yang berkerudung. Lagi-lagi, aku dipilih mewakili sekolahku untuk ikut lomba. Kali ini, tidak hanya cabang kaligrafi, tetapi juga cabang cerdas cermat. Dalam cerdas cermat, aku dan teman-teman satu tim hanya bisa lolos sampai tingkat kecamatan dan mendapat juara III. Lucunya, yang juara I ketemu lagi di SMP (sekolahnya sama) dan yang juara II adalah saudara sepupuku. Hahaha… Tapi pada awalnya, grup aku mengalahkan semua lawanku. Nilai kami tertinggi. Namun, seperti biasa, aku salah strategi di babak rebutan final. Perjuangan kami pun tandas di sana… XD

Namun, ternyata pada cabang kaligrafi, aku masih terus lolos ke tingkat kotamadya. Aku mendapat juara I tingkat kecamatan. Yang bisa lolos ke tingkat selanjutnya hanyalah yang mendapatkan juara I. Putra dan putri dipisahkan kategorinya, kecuali cerdas cermat. Betapa gembiranya aku saat itu karena tahun lalu saja aku tidak lolos ke tingkat kecamatan. Eh saat kelas VI aku bisa terus lolos ke tingkat kotamadya… πŸ˜€ Semua karena dukungan ibuku juga. Seru banget kalau mengingat saat-saat lomba kaligrafi dahulu… Walaupun saat itu aku belum berkerudung, aku beruntung ibuku selalu memaksaku untuk terus mengikuti pengajian di sekitar rumah sekalipun kami sering sekali pindah rumah. Ibuku bisa marah kalau aku dan adik-adikku gak mengaji sehingga aku gak bodoh-bodoh banget soal agama dan terasa betul manfaatnya hingga saat ini. Di tingkat kotamadya, kira-kira ya Kotamadya Jakarta Timur itu terdapat 10 kecamatan. Berarti di tingkat kotamadya, aku melawan 9 anak lainnya dalam lomba kaligrafi/menyalin Al-Quran. Tahu gak sih, di waktu-waktu senggang sejak keberangkatan lomba hingga menunggu pengumuman, mulutku tidak berhenti komat-kamit. XD Ngapain coba? Sungguh-sungguh berdoa agar aku bisa lolos ke tingkat Provinsi DKI Jakarta walaupun saat itu aku agak gak yakin juga sih bisa lolos. Soalnya kan lawannya cukup banyak dan tentu mereka adalah para jawara di kecamatannya masing-masing. Mulutku terus saja berdoa kepada Allah hingga saat pengumuman tiba, aku kaget. Aku LOLOS ke tingkat provinsi… ^_^ sehingga berarti aku memperoleh juara I tingkat kotamadya Jakarta Timur. Sekali lagi, padahal saat itu aku belum belajar kaligrafi yang sebenarnya loh… Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, heran banget kok bisa ya lolos ke provinsi. Berarti yang lain juga mungkin gak ada yang kursus kaligrafi ya… hehe…

Nah, di tingkat provinsi ini lawanku cuma sedikit. Hanya ada 5 orang yang ikut lomba di tingkat provinsi tiap cabangnya. Menakjubkan, aku benar-benar bertemu dengan para jawara kotamadyanya masing-masing. Aku pun sempat terpesona pada tulisan seorang peserta putra karena saking bagusnya. Namun, aku bergumam, tulisannya tebal tipis. Bagus. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini tidak dibolehkan tebal tipis. Apa benar ya? Buktinya dia sampai juga ke tingkat provinsi. Saat itulah aku mulai pesimis bisa gak ya dapet juara. Yang lainnya menghias tulisannya dengan warna-warni. Kata bu guruku, dalam lomba kali ini gak boleh pakai warna-warni. Aku mah nurut aja sama guru agamaku. XD Tapi jujuuur… aku mah pesimis. Tulisanku kan gak tebal tipis dan gak dihias warna-warni. Saat itu lombanya di sekitar Rumah Sakit Haji, tepatnya di kompleks wisma hajinya. Yang dari luar Jakarta Timur, banyak juga yang menginap di wismanya. Karena tempatnya dekat, ibu dan adikku juga ke sana menonton acaranya. Kami pun menunggu pengumuman hingga sore. Tingkat provinsi adalah tingkat terakhir pada LOKETA. Apa hasil pengumumannya??? Apakah aku dapat juara???

.

.

.

Aku ternyata dapat juara III. πŸ˜€ Gak dapet juara I lagi… haha… Antara sedih dan senang. Sedih karena gak dapet juara I seperti tingkat sebelumnya. Senangnya karena aku masih dapet 3 besar. Hihi…

Eh menariknya, adik kandungku nomor 3 ternyata menjadi penerusku mewakili SD kami lomba kaligrafi hihi… Sudah pasti dong, aku banyak mengomentari tulisan adikku di rumah… hihi… Sama kok dia juga gak pernah belajar kaligrafi sesungguhnya. Saat dia masih kecil juga aku ajari cara menulis yang indah dan dia benar-benar nurut aku. XD Tapi hasilnya, tulisan dia bisa rapi dan mewakili SD-nya (SD kami) lomba menulis indah/kaligrafi. Tapi ternyata adikku lebih hebat daripada aku. Dia mendapat juara I di tingkat provinisi… Wah aku jadi ikut gembira saat itu. Tapi komentar ibuku, “Padahal tulisan Rina lebih rapi ya. Tapi Hanna bisa dapet juara I.” hihi…

Pengalaman inilah yang membuatku jadi semangat belajar kaligrafi ke depannya… πŸ™‚

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s