Pentingnya Kesamaan Visi antara Suami dan Istri

Marital-Love-in-Islam

Mungkin sudah banyak dari kita yang sering mendengarkan nasihat dari potongan ayat surat At-Tahrim: “… quu anfusakum wa ahliikum naaraa…” yang artinya adalah “… jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” Seakan-akan ada yang kurang jika ayat tersebut tidak dibahas dalam kajian tentang membangun keluarga. Tentu yang dimaksud ayat tersebut dari “menjaga” adalah dengan saling memberi nasihat, mendidik, dan memberi teladan yang dilakukan lebih banyak oleh orang tua kepada anaknya. Karena pada ayat tersebut yang disebutkan terlebih dahulu adalah “dirimu” baru “keluargamu”, dapat ditadabburi bahwa  kita dituntut untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu baru orang lain (keluarga). Berikut ini terjemahan lengkapnya (ayat 6 surat At-Tahrim):

“Hai orang-orang beriman, peliharalah (jagalah) dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaga-penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Menariknya, di surat yang sama pada 3 ayat terakhir secara berturut-turut, dikisahkan tentang keluarga-keluarga sebelum zaman Nabi Muhammad yang dapat dijadikan pelajaran. Ayat 10 membahas tentang keluarga Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., ayat 11 membahas tentang keluarga Fir’aun, dan ayat 12 membahas tentang anak Imran, Maryam namanya.

Dari kisah-kisah tersebut, hanya keluarga Imran yang memiliki keturunan yang taat kepada Allah, sedangkan Nabi Nuh a.s., Nabi Luth a.s., dan Fir’aun tidak memiliki keturunan yang shalih dan shalihah. Kita telah mengetahui bahwa Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. memiliki istri yang tidak beriman kepada Allah. Dapat diambil pelajaran bahwa ketidaksamaan visi dalam membangun rumah tangga/keluarga dapat mengakibatkan kerusakan dalam tubuh rumah tangga tersebut. Jika pada keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth yang tidak memiliki visi yang bagus adalah istrinya, dalam keluarga Fir’aun justru istrinyalah yang memiliki visi hidup yang bagus. Bahkan istri Fir’aun, Asiyah binti Muzahim, termasuk 4 wanita terbaik di dunia. Ternyata, hasilnya sama saja. Keluarga-keluarga tersebut tidak memiliki keturunan yang taat kepada Allah. Namun, meskipun begitu, hal ini tidak mengurangi kemuliaan Nabi Luth, Nabi Nuh, dan Asiyah binti Muzahim di hadapan Allah. Mereka tidak menanggung beban dosa pasangan hidupnya.

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya), ‘masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam).” (terjemahan At-Tahrim: 10)

Tentu yang dimaksud “berkhianat” pada ayat tersebut bukanlah selingkuh atau berzina. Yang dimaksud berkhianat adalah kedua istri tersebut menentang Allah swt dan Rasul-Nya yang menjadi suami mereka. Suami mereka menyuruh mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, tetapi mereka menolaknya.

“Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (terjemahan At-Tahrim: 11)

Rusaknya kepribadian Fir’aun membuat sang istri bahkan memohon kepada Allah agar diberi perlindungan dari kejahatan suaminya itu.

Di ayat terakhir, justru keberkahan orang tua yang shalih/shalihah berdampak baik hingga ke cucunya. Imran dan istrinya yang shalih/shalihah memiliki keturunan wanita yang suci, Maryam, yang melahirkan seorang anak yang nantinya menjadi seorang rasul, Isa a.s.

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (terjemahan At-Tahrim: 12)

Inilah pentingnya kesamaan visi antara suami dan istri. Tentunya sama-sama berorientasi meraih surga-Nya kelak dan ridho-Nya dalam setiap amal ibadah. Apa saja yang harus sama? Sebelum 3 ayat terakhir tadi, mulai dari ayat 1 sampai dengan 9, Ustadz Budi Ashari, Lc., mengambil pelajaran dan merumuskan apa saja yang harus disamakan pemikiran dan visinya antara suami dan istri, yakni

  1. dalam urusan halal dan haram (At-Tahrim: 1) à pentingnya menuntut ilmu
  2. dalam menjaga keluarga dari api neraka (At-Tahrim: 6) à setiap anggota keluarga harus benar-benar diawasi agar tidak keluar dari jalur yang dibenarkan agama
  3. dalam pertaubatan (At-Tahrim:7-8) à senantiasa bertaubat kepada Allah dan mau terus memperbaiki diri, kesalahan tidak dibiarkan dan tidak dianggap wajar
  4. dalam ketaatan kepada Allah (At-Tahrim: 8-9) à tiada jalan menuju surga, kecuali dengan ketaatan

sumber: buku Inspirasi dari Rumah Cahaya yang ditulis oleh ustadz Budi Ashari, Lc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s