Tidak Cukup Hanya Rasa Berterima Kasih

sujud-cinta

(Tulisan ini disalin dari status FB tanggal 2 September 2015 dengan tambahan penjelasan.)

Banyak orang berbicara tentang sabar dan syukur dan kebanyakan masih mendefinisikan “syukur” hanya sebatas “rasa” terima kasih yang diekspresikan dengan kegembiraan dan senyuman. Padahal, syukur itu maknanya lebih luas lagi, tidak sebatas itu. Rasa terima kasih, rasa gembira, itu memang penting. Itu modal awal menjadi orang bersyukur. Namun, ternyata tidak cukup hanya itu. Maka, kita jangan sampai sudah merasa menjadi orang yang bersyukur hanya karena rasa gembira ketika diberi nikmat yang kita sukai. Nanti bagaimana jika kita menerima nikmat yang tidak kita sukai? Sejatinya itu nikmat, tetapi karena suatu hal, kita kurang menyukainya? Apakah kita sudah menilai diri sendiri secara komperehensif? Apakah kita sudah introspeksi di banyak kondisi? Ataukah kita merasa sudah bersyukur baru hanya dari satu kondisi? Menilai diri sendiri memang terkadang lebih sulit. Kita terkadang terlalu berhusnuzhan kepada diri sendiri.

“Seandainya seorang hamba menghitung,” demikian dikatakan Imam Al-Ghazali, “betapa sedikitnya kewajiban yang Allah bebankan baginya berbanding (maksudnya: jika dibandingkan dengan) alangkah tak terhingga nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya, niscaya ringanlah terasa (rasanya) agama yang penuh dg keluasan ini.” (Salim A. Fillah, Lapis-Lapis Keberkahan)

Ya, jika seseorang benar-benar bersyukur dan termasuk orang-orang yang bersyukur, pastilah ia merasa “ringan” melakukan ketaatan kepada Allah. Kalaupun ia merasa berat, pastilah ia tidak berani melakukan kemaksiatan. Orang yang pandai bersyukur tidak mungkin menyalahgunakan apa yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Ia menggunakan tangan, kaki, napas, mata, dll, sebagaimana mestinya. Tidak melanggar syariat Allah. Itulah orang bersyukur.

Bersyukur seharusnya tidak bisa diremehkan… berkali-kali saya merenungi hal ini. Saya terheran-heran apa gerangan yang membuat Allah berfirman “fa bi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan” dengan berulang-ulang pada surat Ar-Rahman? Mengapa pula ada kalimat doa yang hampir sama redaksinya terkait meminta kemampuan untuk bersyukur dalam Al-Quran sebanyak 2x (yang saya tahu)? Lalu, saya teringat Rasulullah saw pernah shalat malam sampai menangis sesenggukan di hadapan istrinya, A’isyah r.a. yang ternyata hal itu dilakukan karena beliau saw ingin menjadi hamba yang bersyukur. Dari perenungan ini saya menyimpulkan sesuatu.

Bukanlah bersyukur jika hanya sekadar “gembira” ketika diberi rezeki melimpah, pasangan hidup yang menyejukkan hati, atau bahkan ilmu. Bukan hanya sebatas itu. Tidak berhenti di sana. Syukur itu juga bicara soal bagaimana kita menggunakan atau memanfaatkan segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Sama saja ketika seseorang, sebut saja si A, memberikan sesuatu kepada orang lain, sebut saja si B, eh si B malah merusak pemberian si A atau menyalahgunakannya meskipun si B suka melakukan itu. Pasti si A tidak suka kan dengan perilaku si B bagaimanapun juga. Dalam hal ini, si B tidak mensyukuri pemberian si A.

Saya ingin mengutip doa favorit saya yang ada dalam Al-Quran (yang saya sebutkan sebelumnya):
“Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alaiyya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaah, wa ashlihlii fii dzurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.” Di ayat lain Nabi Sulaiman menggunakan kalimat: “… wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin.”

Dalam doa tersebut, permohonan agar dimampukan bersyukur diikuti permohonan agar bisa beramal shalih. Saya men-tadabburi-nya dengan meyakini bahwa memang betul, bersyukur dan beramal shalih itu kaitannya sangat erat dan saling berkorelasi. Singkatnya, orang yang bersyukur pastilah ia orang shalih dan orang shalih pastilah dia orang yang pandai bersyukur.

😥 Sesungguhnya aku pun tidak mampu bersyukur tanpa pertolongan-Nya… Sejatinya doa ini diucapkan oleh orang-orang yang mulai berusia 40 tahun. Namun, aku sangat suka dengan doa ini. Bagiku, merutinkan doa ini sejak masih muda sebagai upaya kita juga agar kelak kita dimudahkan istiqomah oleh Allah. Kita tidak bisa meremehkan syukur dan menganggap diri kita pasti mudah bersyukur atau telah bersyukur. Berhati-hatilah dengan ghurur (terpedaya). Apa maksudnya terpedaya? Menganggap diri sendiri telah baik, padahal faktanya tidak, menurut penilaian Allah. Jika rasa terima kasih saja tidak cukup dikatakan bersyukur, apalagi yang tidak ada rasa terima kasih? 😥 Pernah gak sih merasa bete’ walaupun udah dikasih nikmat? >_< Terkadang, saya jadi berpikir bagaimana bisa merasa nyaman dalam keadaan yang sempit karena saya khawatir jadi kufur nikmat. Ini PR buat saya memang… 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s