Ketaatan Orang Beragama Tidak Rasional?

w583h583_12933-rational-vs-irrational-numbers

Suatu hari saya membaca status Ateis Indonesia di FB. Akun ini menggugat ketaatan orang beragama. Mereka mencibir orang beragama, khususnya muslim, yang memiliki prinsip baik dan buruknya tergantung penilaian Allah semata. Menurut mereka itu tidak rasional karena orang beragama ini dianggap tidak menggunakan akalnya untuk berpikir dalam menentukan baik-buruknya sesuatu. Orang beragama, khususnya muslim, hanya menuruti apa yang dikatakan Tuhannya dalam menilai sesuatu baik atau buruk.

Yang perlu disadari dan diketahui adalah bahwa ketaatan orang yang beragama (khususnya muslim) kepada Tuhannya semata-mata adalah rasa syukur karena telah diberikan hidup (eksistensi) di dunia dan nikmat lainnya. Orang ateis tidak akan paham karena dia tidak yakin akan adanya Tuhan. Mereka (orang ateis) mengatakan bahwa mereka melakukan hal-hal yang baik-baik karena alasan yang rasional, sedangkan orang beragama melakukannya hanya karena ketaatan, bukan alasan yang rasional, katanya. Dia merasa dia rasional. Padahal, dia bahkan tidak paham perbedaan realitas antara orang beragama dan orang ateis. Orang beragama jelas melakukan kebaikan karena ketaatan itu ya karena mereka telah meyakini bahwa Tuhan Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan semua yang tersembunyi dalam pandangan manusia (makhluk) dan yang tersembunyi oleh waktu alias kejadian masa depan. Ketaatan orang beragama (khususnya muslim) adalah semata-mata menyerahkan semua urusannya kepada yang Maha Mengetahui baik dan buruk. Mereka meyakini bahwa syari’at/hukum Allah itu pasti membawa kemaslahatan, sedangkan larangan-Nya dihindari utk membawa keselamatan.

Jadi, kalimat “orang beragama melakukan kebaikan karena ketaatan” itu sebenarnya belum beres, tetapi sudah di-judge tidak rasional. Orang ateis sengaja menyetop kalimat tersebut agar tidak terlihat alasan sebenarnya. Yap! Seharusnya dia mengeksplor kalimat tersebut dengan jawaban dari pertanyaan, “Mengapa ‘ketaatan’? Mengapa orang beragama melakukan kebaikan karena ketaatan?” Itu yg harus diselesaikan terlebih dahulu baru bisa ketahuan di mana letak rasionalitas cara berpikir orang beragama.

Bedanya dengan orang ateis, orang ateis itu ‘menuhankan’ dirinya sendiri. 😀 Dirinya merasa dan mengklaim lebih tahu dari siapa pun terkait baik dan buruknya suatu hal. Padahal, pengetahuannya itu masih terikat oleh ruang dan waktu. Dia tetap saja tidak tahu sesuatu yang tersembunyi atau tertutup. Matanya tidak bisa menerawang. Dia juga tidak tahu tentang masa depan apa yang akan terjadi. Bayangan dalam pikirannya tidak mampu menembus dimensi waktu. Bahkan pengetahuannya sangat bergantung pada penelitian manusia (makhluk) lain yang, pada faktanya, kesimpulannya bisa berubah-ubah 😀 tergantung tingkat ketelitian sang ilmuwan dan kemajuan teknologi. Tapi dia mengklaim telah berpikir secara “rasional”? ^^a Sombong sekali…

Lucunya, saat belum ada penelitian, misalnya, tentang minuman keras. Mereka (orang ateis) pikir bisa jadi minuman keras itu adalah suatu yang baik karena bisa membuat dirinya ‘nge-fly’ (mirip narkoba sih ya hehe). Ya karena bagi mereka ‘nge-fly’ itu baik. Tapi faktanya, minuman seperti itu merusak otak sedikit demi sedikit. Yang namanya sedikit-sedikit tetap aja ada pengaruhnya. Karena kesimpulan penelitiannya baru ada belakangan, maka baru deh dia sadar bahwa minuman keras itu adalah hal yang buruk. Bedanya dengan Islam, dalam Islam itu ada larangan minum minuman keras walaupun seenak apapun minuman tsb sebelum ada penelitian lebih jauh karena kami yakin bahwa hukum agama kami pasti untuk melindungi kami dari segala hal yang tidak baik, entah itu apa.

Contoh lainnya, misalnya, madu. Madu adalah obat atau minuman yang sehat itu sudah disebutkan dalam Al-Quran sejak berabad-abad yang lalu. Orang ateis kan mesti menunggu hasil penelitian terlebih dahulu ya tentang sehatnya madu. Kalau kami orang beragama tidak perlu menunggu hasil penelitian yang hasilnya belum tentu benar. 😀 Banyak hal yang awalnya dikatakan tidak berkhasiat atau tidak baik, tetapi ternyata sekarang hasil penelitiannya berbeda.

Pada akhirnya, para ateis ketinggalan zaman dibandingkan kami orang beragama karena “serba telat” info terkait baik dan buruknya suatu hal. ^^

(Disalin dari status FB 28 Juni 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s