Islam dan Nilai Ketuhanan dalam Berbangsa dan Bernegara (2)

II. Perjuangan Panjang Umat Islam dengan Semangat Keislamannya Melawan Penjajah

VOC2

Sudah seharusnya, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawan. Mereka berjuang tidak hanya mengorbankan waktu dan pikirannya, tetapi juga jiwa dan raganya. Para pahlawan rela meneteskan darahnya, bahkan kehilangan nyawanya dalam berperang melawan penjajah.

Sebelum para penjajah asal Eropa mendatangi Nusantara, Islam sudah berkembang di sana. Kerajaan-kerajaan Islam sudah muncul di mana-mana. Namun, para penjajah tiba-tiba datang dengan kekerasan hendak mencari sumber-sumber ekonomi baru di negeri orang dan memaksakan ajaran agamanya di Indonesia karena rencananya tidak akan sukses tanpa kekerasan. Tidak bisa dimungkiri bahwa para penjajah membawa tiga misi saat datang ke negeri ini, yakni gold (kekayaan), glory (kejayaan), dan gospel (penyebaran agama Kristen). Ekspansi Portugis dan Spanyol ke Indonesia mendapat restu dari Paus Alexander VI. Saat Portugis berhasil menaklukkan Malaka tahun 1511, Alfonso d’Albuquerque mengatakan dalam pidatonya, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini.…”[1] VOC—perusahaan dagang Belanda gabungan—datang ke Indonesia pun mendapat mandat dari Gereja Protestan Belanda untuk menyebarkan Kristen dan memusnahkan seluruh agama yang dianggap palsu, sesuai dengan pasal 36 Pengakuan Iman Belanda tahun 1561 yang berbunyi, antara lain, “Juga jabatan itu (tugas pemerintah) meliputi: mempertahankan pelayanan Gereja yang kudus, memberantas dan memusnahkan seluruh penyembah berhala dan agama palsu, menjatuhkan kerajaan anti-Kristus, dan berikhtiar supaya kerajaan Yesus Kristus berkembang.”[2] Bahkan, penduduk pribumi yang sebelumnya terpaksa masuk Katolik pada zaman Portugis, dipaksa pindah ke Calvinis (Protestan) oleh Belanda. Oleh karena itu, wajarlah para penjajah mendapat perlawanan dari penduduk pribumi yang saat itu sudah banyak yang memeluk agama Islam.

Tidak seperti para penjajah, Islam justru datang dengan jalan damai dan disebarkan oleh para dai dengan menampilkan akhlak yang mulia, tidak dengan pemaksaan[3]. Ini sesuai dengan salah satu isi Al-Quran yang artinya, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.[4] Selain itu, ajaran Islam yang tidak mengenal sistem kasta dan dengan memanfaatkan seni (hal yang disukai rakyat)—seperti yang ada pada masa Hindu dan Buddha—membuat Islam mudah diterima oleh rakyat jelata.[5] Para raja atau anggota keluarga kerajaan pun tertarik dengan Islam yang mulai dianut oleh banyak rakyatnya, di antaranya Raden Fatah yang merupakan keturunan raja majapahit dan kemudian menjadi raja pertama kesultanan Demak atas hasil musyawarah Wali Songo[6] dan Raja Sri Indravarman dari Sriwijaya Jambi.[7]

Agresivitas para penjajah dalam menanamkan pengaruhnya di negeri ini membuat penduduk pribumi di segala penjuru bergejolak. Selain melakukan pemaksaan agama, para penjajah juga melancarkan politik adu domba, penipuan,  sistem tanam paksa (cultuurstelsel),[8] kerja paksa—yang juga terjadi pada zaman Jepang (romusha)—, dan sistem sewa tanah (landrente) yang merugikan rakyat.[9] Di wilayah Maluku bagian utara, Ternate, Portugis telah membangkitkan kemarahan rakyat karena sultannya yang arif dan seorang muslim yang taat, Sultan Khairun, ditipu, lalu dibunuh karena Sultan Khairun bersikap keras kepada Portugis. Oleh karena itu, atas dorongan rakyat, pengganti Sultan Khairun—Sultan Baabullah—memimpin perlawanan perang terhadap Portugis sehingga Portugis berhasil disingkirkan dari Maluku.[10] Kesultanan Demak pun melakukan perlawanan terhadap Portugis, mulai ketika Portugis berada di Malaka, walaupun gagal, lalu di Banten dipimpin oleh Sunan Gunung Jati,[11] hingga di Sunda Kelapa dan akhirnya Portugis berhasil diusir dari Jawa Barat oleh pimpinan seorang ulama yang bernama Fatahillah.[12]

Pada masa VOC mulai menduduki Nusantara, VOC juga mendapat perlawanan dari banyak kerajaan Islam. Namun, karena pada abad ke-19 kekuatan kerajaan Islam melemah dan status raja-raja lokal sudah diubah oleh pemerintah Hindia-Belanda menjadi bupati, perlawanan rakyat kepada Belanda pun justru bermunculan dari masyarakat sipil yang digerakkan para santri dan ulama.[13] Di Aceh terjadi Perang Sabil (perang di jalan Allah) melawan Belanda yang dipimpin oleh seorang ulama, Teuku Cik Di Tiro, yang berhasil merebut benteng-benteng Belanda di sana. Di Aceh terjadi pula perlawanan yang dipimpin oleh seorang muslimah, Cut Nyak Dien sejak suaminya, Ibrahim Lamnga, gugur di medan perang. Cut Nyak Dien lalu menikah dengan Teuku Umar, juga seorang pejuang asal Aceh, sehingga perlawanan terhadap Belanda dilakukan bersama-sama.[14] Di Minangkabau terjadi Perang Paderi untuk melawan Belanda yang dipimpin juga oleh para ulama, salah satunya Tuanku Imam Bonjol.[15] Selain itu, di Jawa Tengah, perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pangeran Diponergoro atas dukungan para ulama, santri, dan rakyat lainnya. Pangeran Diponegoro juga menyebut perlawanannya ini sebagai Perang Sabil menghadapi kaum kafir.[16] Begitu pula pada Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari terdapat seruan, “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah!”[17] Itulah beberapa bentuk perjuangan umat Islam melawan Belanda pada abad ke-19.

perang-diponegoro

Pada masa penjajahan Jepang, perjuangan umat Islam lebih terasa lagi. Umat Islam terbukti lebih disegani oleh Jepang—karena kewibawaannya—dibanding yang lain karena Jepang menyadari potensi yang sangat besar dimiliki oleh umat Islam Indonesia sehingga Jepang pun mendekati para ulama dan pemimpin Islam.[18] Ada kisah yang menarik ketika umat Islam diminta untuk membungkukkan badan (seikeirei) sebagai tanda hormat kepada Kaisar Jepang di Tokyo, Tenno Heika, yang diyakini oleh orang Jepang sebagai anak Dewa Matahari,[19] para ulama—dipelopori oleh Dr. K.H. Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka)—tidak bersedia menurutinya dan menentang seikeirei tersebut karena bertentangan dengan aqidah Islam. Kejadian ini sempat menggemparkan kalangan penguasa Jepang. Jepang pun ketika membentuk Peta (Pembela Tanah Air) sengaja merekrut para pemimpinnya dari kalangan yang paham agama Islam. Kasman bercerita,

“Sewaktu Jepang hendak mendirikan Peta di Jawa dan Madura, yang diambil sebagai calon-calon Daidancho (Komandan Batalyon) dan seberapa mungkin Cudancho (Komandan Kompi) justru mereka yang mengerti agama Islam atau yang memunyai pengetahuan tentang umat Islam. Sampai-sampai orang yang namanya Kiyai Sam’un, yang barangkali dari kecil tidak pernah berbaris, oleh Jepang juga dipaksa menjadi salah seorang komandan. Jepang memang justru memerlukan kiyai-kiyai seperti Kiyai Sam’un itu yang memunyai pengaruh besar di kalangan rakyat Indonesia guna menunjang kepentingan Jepang untuk memenangkan perangnya.”[20]

Akhirnya, Kasman Singodimedjo[21] terpilih sebagai Daidancho walaupun beliau sempat merekayasa kesehatannya agar tidak dipilih sebagai Daidancho.[22]

Ketika menjabat sebagai Daidancho, Kasman sempat berpidato pada apel Peta dan mengatakan bahwa gemblengan jiwa, semangat, dan latihan batin itu lebih penting daripada latihan badan dan dasar latihan batin itu adalah agama Islam.[23] Ini bukti betapa kuatnya semangat keislaman pada masa itu. Jepang pun tidak puas mendirikan Peta, kemudian akhirnya membentuk pasukan cadangan, yaitu Hizbullah, yang terdiri dari para santri yang berusia 17—25 tahun.[24] Hizbullah inilah yang nantinya menjadi pejuang-pejuang revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan—bersama Peta dan laskar-laskar rakyat—merupakan cikal-bakal terbentuknya TNI saat ini. Yang pernah menjadi prajurit Peta, Hizbullah, Barisan Pemuda, Heiho, dan sebagainya berhak mendaftarkan diri sebagai Badan Keamanan Rakyat (BKR) diketuai oleh Kasman menggantikan Otto Iskandardinata yang tewas hilang di Jawa Barat. BKR ini kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), dan terakhir menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).[25]

melayujuang

Jepang yang hendak memanfaatkan umat Islam tanpa sadar justru telah dimanfaatkan umat Islam untuk mempersiapkan diri dalam memperoleh kemerdekaan. Kasman mengatakan,  “Setelah saya shalat istikharah itu saya seperti diberi petunjuk oleh Allah bahwa ada hikmahnya saya masuk Peta itu. Saya melihat dari kerangka perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, jabatan dan kedudukan saya dalam Peta itu akan dapat saya manfaatkan sebaik-baiknya.”[26] Ketika Jepang sedang terjepit dan para prajurit Peta diminta menyerahkan kembali senjata yang sudah dipinjamkan oleh Jepang, ternyata Kasman justru mengadakan rapat rahasia bersama Daidancho lainnya agar Peta tidak menuruti permintaan Jepang karena senjata-senjata tersebut dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan perjuangan menghadapi segala kemungkinan yang akan datang.[27]

Kemerdekaan negeri ini banyak diperjuangkan oleh umat Islam dengan semangat keislamannya,[28] semangat jihadnya. Jihad yang akhir-akhir ini menjadi istilah yang tabu untuk diperbincangkan justru sangat kental terasa pada masa-masa sebelum kemerdekaan hingga Belanda kembali lagi ke Indonesia pun masih terjadi pertumpahan darah di beberapa tempat. Bahkan, van Nieuwenhuijze sepakat pada pernyataan: “…ketika untuk pertama sekali kebebasan dan kemerdekaan direbut dari kaum penindas (asing), kaum Muslimin memberikan andil mereka sepenuhnya dalam pengorbanan jiwa dan harta, dengan harapan, segera setelah Indonesia merdeka, terbentuk satu kekuasaan (baca: negara) berdasarkan Islam.”[29] Islam terbukti menjadi pendorong semangat perjuangan bangsa Indonesia memperoleh dan mempertahankan kemerdekaannya, tidak seperti yang ditakutkan oleh sebagian orang bahwa Islam akan menghancurkan NKRI. Ini tidak sesuai dengan fakta sejarah.

 

——————————————–

1Tiar Anwar Bachtiar, Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru (Jakarta: AIEMS), Jilid II, hlm. 3dan 31-34.

2Ibid., Jilid II, hlm. 38.

3Ibid., JIlid I, hlm. 84.

4Al-Quran Surat Al-Baqarah: 256.

5Tiar Anwar Bachtiar (ed.), op. cit., Jilid I, hlm. 86-105. Lihat juga buku Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesian Archipelago karya Syed Muhammad Naquib Al-Attas hlm. 5-6.

6Ibid., Jilid I, hlm. 117.

7Ibid., Jilid I, hlm. 86.

8Ibid., Jilid II, hlm. 27-28. Belanda pada akhirnya menghapus sistem tanam paksa dan menggantinya dengan sistem pasar bebas dengan maksud memperbaiki nasib para petani. Namun, sayangnya justru sistem baru ini makin merugikan petani karena tidak memiliki modal besar untuk bersaing dengan pengusaha asing.

9Ibid., Jilid II, hlm. 7-26. Lihat juga pada buku Hidup Itu Berjuang (biografi Kasman Singdimedjo) hlm. 62, bahwa pada zaman Jepang bahkan ada wanita muda pribumi yang dikatakan telah ditipu dan dikirim ke Tokyo untuk menjadi ‘hiburan’ bagi tentara Jepang. Penderitaan-penderitaan yang dialami rakyat pada saat itu juga menimbulkan pemberontakan di Singaparna yang digerakkan oleh Zainal Mustafa dari Pesantren Sukamanah dan di Blitar oleh Shodancho Supriyadi.

10Ibid., Jilid II, hlm. 67-69.

11Ibid., Jilid II, hlm. 66.

12Ibid., Jilid I, hlm. 119.

13Ibid., Jilid II, hlm. 76.

14Ibid., Jilid II, hlm. 78-81.

15Ibid., Jilid II, hlm. 83. Gelar Tuanku diberikan kepada para pemuka agama.

16Ibid., Jilid II, hlm. 90. Lihat juga Api Sejarah, Jilid I, karya Ahmad Mansur Suryanegara hlm. 192-194.

17Ibid., Jilid II, hlm. 94.

[18]Panitia 75 Tahun Kasman, Hidup Itu Berjuang (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 44-45. Buku ini merupakan biografi atau riwayat hidup Prof. Dr. Mr. H.R. Kasman Singodimedjo.

[19]Ibid., hlm. 51-52.

[20]Ibid., hlm. 52.

[21]Aktivis sekaligus salah satu pendiri Jong Islamieten Bond (JIB) setelah keluar dari Jong Java, inisiator kepanduan (Pramuka) di Indonesia, berlatar pendidikan Barat (HIS, MULO, STOVIA, dan RHS), aktivis Muhammadiyyah.

[22]Panitia 75 Tahun Kasman, op. cit., hlm. 55-56. Kasman sengaja mengurangi tidur hingga beberapa hari sehinga badannya tampak lesu, mukanya pucat, dan matanya kemerah-merahan. Namun, hasil pemeriksaan justru sebaliknya, Kasman dinyatakan lulus.

[23]Ibid., hlm. 57.

[24]Ibid., hlm. 59.

[25]Ibid., hlm. 60.

[26]Ibid., hlm. 56.

[27]Ibid., hlm. 97.

[28]Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949) (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 57.

[29]Ibid. Dikutip dari buku Aspects,  hlm. 233, yang merupakan pernyataan pada  Indonesische Bulletin, IV, No. 10, 27ff.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s