Tauhid Itu Logis

Islam bukan hanya agama monoteisme, tetapi sekaligus agama tauhid. Monoteisme tidak selalu tauhid, tetapi tauhid sudah pasti monoteisme. Islam tidak hanya mengajarkan untuk menyembah satu Tuhan, melainkan juga melarang membentuk persepsi dalam pikiran bahwa ada sesuatu yang lain yang dapat menandingi kekuatan dan kekuasaan-Nya. Contohnya begini, (bagi yang sudah mantap ilmu ma’rifatullah-nya pasti paham betul apa itu tauhid) ketika seorang laki-laki seharian memikirkan seorang wanita yang dia cintai lebih banyak daripada dia mengingat Allah, maka ketauhidannya berkurang. Imannya sedang lemah dan hal itu bisa mengantarkannya kepada kesyirikan karena dalam Islam, tidak boleh ada yang dicintai sama besar (apalagi lebih besar) dibandingkan cintanya kepada Allah. Contoh lainnya, ketika seorang karyawan lebih mengharapkan pertolongan kepada bosnya daripada mengharap kepada Allah, maka itu juga bentuk kesyirikan. Istilahnya sih syirik kecil. Syirik besar itu wujud syiriknya lebih nyata dan terlihat. Itulah tauhid.

Bagaimana kita menanggapi konsep trinitas?

Trinitas jelas bukan monoteisme, apalagi tauhid. Maka dari itu, muncullah istilah trinitas. Satu itu tiga dan tiga itu satu. Kekuatan Tuhan bagi mereka terbagi dalam tiga bentuk yang terpisah. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran tauhid. Kritiknya, dalam ajaran tauhid, Tuhan itu adalah sesuatu (Dzat) yang memiliki kekuasaan dan kekuatan “tertinggi” sehingga pantas/berhak disembah. Wujudnya tidak bisa dibayangkan oleh manusia karena sesuatu yang tertinggi tersebut pastilah berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Sebenarnya, tentang bagaimana umat Islam mengenal Allah, tentu hal itu berdasarkan informasi yang didapat dari wahyu. Umat Islam tidak bisa mengarang sifat-sifat Allah. Walaupun begitu, ajaran tauhid ini bisa dibuktikan kelogisannya.

Karena Tuhan adalah sesuatu yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tertinggi, tentu Tuhan tidak ada tandingan-Nya. Ini sangat logis. Jika Tuhan ada tandingan-Nya, maka Tuhan tidak lagi yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tertinggi. Dalam trinitas, Tuhan dianggap menjelma dalam bentuk manusia yang disebut Yesus. (Sebenarnya konsep trinitas ini juga ada berbagai versi dan semuanya bertentangan dengan tauhid.) Versi yang lain mengatakan, Yesus adalah anak Tuhan. Jika memang betul konsepnya seperti itu, berarti (konsep yang pertama) Tuhan “butuh” menjelma menjadi bentuk “makhluk ciptaan-Nya” untuk mengurusi beberapa hal. Maka beberapa pertanyaan muncul, untuk apa Tuhan ‘repot-repot’ menjelma menjadi manusia untuk beberapa urusan? Apakah Tuhan tidak mampu mengurusi semuanya tanpa perlu berubah bentuk? Bentuknya serupa pula dengan makhluk ciptaan-Nya. Kalau sudah serupa dengan ciptaan-Nya, maka Tuhan yang mereka yakini bukan lagi sesuatu yang Maha Segalanya. Pertanyaan untuk konsep versi kedua, judulnya saja “anak” Tuhan, mengapa istilah “anak” bisa berubah menjadi istilah “Tuhan”? Jika ada istilah “anak Tuhan”, berarti kan ada “anak” dan ada “Tuhan”. Mana yang anak dan mana yang Tuhan? Kok yang “anak” disebut “Tuhan”? Di sini ada ketidakkonsistenan. Itu kan berarti mengultuskan “anak” Tuhan… Selain itu, jika yang mereka maksud adalah anak Tuhan pasti memiliki kekuatan yang sama dengan Tuhan (orang tuanya?) sehingga tetap pantas disembah, maka inilah yang disebut dengan “tandingan”. Dengan begitu, Tuhan dalam pandangan mereka bukan lagi sesuatu yang memiliki kekuasaan dan kekuatan “tertinggi”.

Apalagi konsep Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu. Mereka jelas-jelas mengatakan bahwa Tuhan mereka ada tiga. Apakah ini logis? Pastinya, kalau Dzat Tertinggi dikatakan lebihย dari satu, maka hakikatnya Dzat tersebut tidak dianggap tertinggi. Analoginya seperti ini, ada sekolah X mengadakan lomba menggambar untuk murid-muridnya. Tentu, hadiah yang sudah disediakan untuk tiga pemenang pastinya untuk posisi yang berbeda, yaitu juara I, juara II, dan juara III. Tidak mungkin kan ketiga-tiganya di posisi juara I? ๐Ÿ˜€ Pasti dewan juri berusaha keras menilai siapa yang berhak di posisi pertam, kedua, lalu ketiga.

Contoh lainnya, satu kelas diadakan ujian matematika. Setelah ujian selesai dan dinilai oleh sang guru, maka keluarlah daftar nilai satu kelas tersebut. Lalu, seorang anak bertanya kepada gurunya, “Ibu, nilai saya berapa?” Ibu guru pun menjawab, “Nilai kamu 80, Nak.” Anak itu bertanya lagi, “Ibu, siapa yang memperoleh nilai tertinggi di kelas.” Ibunya mengecek daftar nilai dan kemudian menjawab, “Nah ini dia. Yang tertinggi nilainya si A dengan nilai 96. Eh, ibu salah yang tertinggi si B dengan nilai 98. Eh, ibu kurang tepat, Nak, yang memperoleh nilai 98 ternyata ada 10 orang.” ๐Ÿ˜€ Apa yang teman-teman pikirkan dari ilustrasi ini? Awalnya si B terlihat spesial bagi siapa pun yang mendengar jawaban sang guru. Namun, ketika diketahui faktanya bahwa si B tidak lagi sendirian memperoleh nilai 98, maka tentu secara psikologis, perasaan takjub itu pun berkurang. (Saya jadi ingat nilai UAN Matematika SMA saya yang sampai ratusan siswa memperoleh nilai sempurna, 10.00 haha… Siapa yang memperoleh nilai tertinggi? Banyak… Ratusan… ^^) Pada ilustrasi tersebut, nilai 98 memang nilai yang tertinggi, tetapi si B tidak lagi spesial karena bukanlah yang terpintar. ๐Ÿ˜€

Satu analogi skak mat yang paling saya suka. Analogi yang akan saya tunjukkan terinspirasi dari suami saya dan ayah saya yang guru Matematika. Ada yang masih ingat, berapakah 5 x (~)? Tanda (~) maksudnya “tak hingga”. ๐Ÿ™‚ Masihkah ingat jawabannya? Yap, jawabannya tetap (~). Bilangan 5-nya tidak dianggap. Berapapun pengali “tak hingga”, maka jawabannya tetap “tak hingga”. Jika dikatakan dengan 5 “tak hingga” atau ada 5 (~)nya, maka si (~) sudah bukan lagi “tak hingga” karena dia jadi berbilang dan tentu ini menabrak konsep “tak hingga”. Maka, 5 x (~) = (~) atau tidak bisa didefinisikan, bukan 5(~). Hehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s