PR Bersama Umat Islam

ITB memang tempatnya orang-orang yang mencari jati diri. Namun, jika yang ditemukan adalah jalan yang salah, sungguh ini menyedihkan. Di ITB ada beberapa organisasi mahasiswa yang kerjaannya mengadakan kajian dengan sudut pandang sekuler. Mereka bangga untuk menjadi sekuler. Pun mereka adalah orang yang KTP-nya masih beragama. Bahkan, yang menyedihkan adalah banyak yang muslim jadi liar cara berpikirnya dan jadi hilang imannya. Ada yang jadi atheis dan ada juga yang jadi agnostik. Huft… Saya akan coba berusaha menangkal pemikiran-pemikiran mereka satu-persatu poinnya, pada halaman lain:

  1. Mereka menganggap bahwa agama adalah faktor pemecah belah kehidupan bermasyarakat. Contohnya perang agama. Agama, katanya, seharusnya bersifat humanistik.
  2. Teori Evolusi yang masih diyakini sehingga, katanya, manusia tidak lebih tinggi derajatnya dibanding alam semesta. (heu… kok ada-ada aja ya nih orang mikir begini… ITB nih…)
  3. Pemikiran Camus yang mirip dengan Nietzsche. -_- (Tuh orang bikin tulisan panjang tentang pemikiran dua orang itu buat apa lagi ya? Ga ada kesimpulan yang diambil.)
  4. Kebingungan dengan istilah “memanusiakan manusia” karena harus punya pemahaman yang benar dulu tentang manusia. (konsep manusia? hoho…)

Pemikiran Camus yang patut disoroti adalah

  1. Kekosongan makna kehidupan tidak bisa mengambil yang transenden sebagai jawaban. Manusia harus punya jawabannya sendiri dan Camus mengambil jawaban dalam bentuk pemberontakan (rebellion). Mengambil transenden sebagai jawaban adalah sifat pemalas, menurut Camus.
  2. Tidak ada kuasa yang tertinggi, kecuali manusia itu sendiri.
  3. Dunia ini absurd karena dunia ini indah, tetapi ada kematian. Selain itu, dunia tidak bisa menerangkan–yang dianggapnya sebagai–kontradiksi-kontradiksi seperti adanya kemalangan dan bencana.
  4. Semakin absurd jika yang menderita adalah anak-anak yang tidak bersalah.
  5. Absurditas kematian tidak boleh dikembalikan pada jawaban akan adanya kehidupan setelah kematian.
  6. Tidak perlunya masa depan. (tidak punya harapan apa-apa?)
  7. Moral yang formal adalah absurd dan manusia tidak bisa mengklaim salah dan benar.

Pemberontakan yang dimaksud adalah

  1. Menolak untuk tercebur dalam tragedi.
  2. Menyatakan diri (selalu) benar walaupun sedang tertuduh.
  3. Karena kematian itu akhir (?) dari segalanya, manusia harus mengumpulkan pengalaman pemberontakan sebanyak-sebanyaknya.
  4. Setingkat lebih tinggi adalah revolusi, tidak hanya memberontak.

 

hehe… miris ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s