Ayahku…

Setelah membaca kisah seorang Doktor Matematika dalam menempuh pendidikannya, saya pun jadi teringat dengan kisah hidup ayah saya… Kalau ingat orang tua, saya gak sanggup… Selalu ga sanggup menahan perasaan saya… Saya rasanya belum bisa memuliakan orang tua saya…

Bagaimanapun sifat orang tua saya, mereka tetaplah orang tua saya. Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas budi orang tua hingga ‘lunas’.

Ayah saya, tinggal di lingkungan yang kejawen… Rumahnya pun tidak permanen. Berbilik anyaman bambu. Dasar rumahnya pun tanah yang kehitaman. Mirip dengan rumah ibuku sih di kampungnya… Cuma, berbeda sedikit. Dasar rumah ibuku tanah berpasir yang berwarna coklat muda. Rumah ibuku juga tidak permanen, tetapi lebih kokoh karena material selubungnya dari kayu kalau tidak salah, atau triplek. Kedua orang tua saya berasal dari satu kota, yaitu Rembang.

Ayah saya adalah seorang anak yang betul-betul menghormati ibunya. Ibunya berjualan di pasar. Saya sempat tidak percaya bahwa kata ayah saya, beliau waktu sekolah pernah tidak memakai sepatu bahkan alas kaki. Dimarahi gurunya, tapi cuek aja… Beliau selalu nurut sama ibunya sepenglihatan saya. Waktu sekolah pun ayah saya tidak menyusahkan ibunya. Ayah saya sekolah sambil mencari rezeki tambahan, kalau tidak salah beliau membantu ibunya berjualan. Selain itu, sebenarnya ayah saya juga dibantu oleh Paman dan Pak De-nya untuk biaya sekolah.

Saya selalu diingatkan sama ibu saya. “Orang kampung itu bisa lebih pinter-pinter loh daripada orang kota. Orang kota kan kerjaannya cuma belajar. Kalau orang kampung itu sambil bantuin orang tuanya dan cari duit.” Kira-kira begitu lah kata ibu saya… Entahlah, saya waktu kecil rasanya tidak segigih orang kampung. Saya masih suka bermalas-malasan di rumah atau bermain yang tidak terlalu penting.

Ayah saya beruntung, selalu saja dimudahkan oleh Allah untuk masuk ke sekolah unggulan di kotanya itu. SMPN 1 Rembang dan SMAN 1 Rembang. Ayah saya pun kuliah bisa masuk universitas negeri, UNJ.

Ayah saya kuliah tidak mungkin pakai uang ibunya. Ayah saya dibantu Pamannya dalam urusan biaya kuliah. Namun, menurut cerita ibu saya, ayah saya sudah mengembalikan uang Pamannya itu. Ayah saya kuliah juga sambil menjahit pakaian. Beliau belajar menjahit secara otodidak. Duh, saya anaknya malah gak belajar menjahit sama ayah sendiri -_- Sampe sekarang saya cuma bisa menjahit celana robek atau memendekkan baju.

Alhamdulillaah hasil dari menjahit baju bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan setelah menikah dengan ibu saya dan punya anak pun, ayah saya nyambi jadi tukang jahit selain jadi guru Matematika SMP.

Bapak, Mama, semoga aku diberi kesempatan untuk membahagiakan dan memuliakan bapak dan mama di dunia dan akhirat ya… Semoga aku bisa hafal 30 juz Al-Quran…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s