Percaya Eksistensi Tuhan, Tetapi Tidak Beragama?

tanda-tanya

Tadi sore saya baru saja mengobrol dengan seorang angkatan 2012. Kami berbincang-bincang tentang Islam sebagai agama tauhid setelah sebelumnya kami sempat membahas tentang fitrah. Fitrah itu tidak hanya sekadar meyakini eksistensi Tuhan, tetapi juga bertauhid. Yap, tauhid itu fitrah dan logis.

Lalu, saya mencoba mengajukan pertanyaan kepada anak 2012 tersebut, “Kalau seandainya ada orang yang bilang dia meyakini adanya Tuhan tapi tidak beragama? Bagaimana?” 🙂

“Agnostik ya teh?”

“Iya. :)”

“Ada temenku yang agnostik teh.”

“Oh ya? Kenapa kok bisa agnostik? Pasti teman bergaulnya ya…”

“Iya teh…”

“Dia emang ikut organisasi apa?”

“PSIK teh…”

Sudah saya duga. Anak PSIK itu banyak yang jadi agnostik, entah mengapa. Saya juga bingung. 😦

“Itu gimana teh? Kalau ada temen yang agnostik?”

“Hmm… Sebenernya sih gak harus ditanggapi. Tapi kalau dia yang nanya duluan (atau sekedar ingin memantapkan keyakinan diri), bilang aja, ‘Kamu percaya ataupun tidak percaya adanya Tuhan sama saja bagimu. Tidak ada pengaruhnya dalam kehidupanmu. Kamu tetap tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, kecuali kamu hanya mengarang saja. Kamu percaya kepada Tuhan? Tuhan yang mana? Ada yang menuhankan patung, sapi, atau mungkin pohon. Kamu meyakini Tuhan yang mana? Nama yang kamu yakini sebagai Tuhanmu siapa? Karena setiap agama punya konsep Tuhan masing-masing. Tidak sama satu dengan yang lain.’ ”

Dalam ajaran agama Islam, “Allah” itu nama yang kami yakini sebagai Tuhan kami. Allah itu proper name, bukan common name/kata ganti saja. Dia tidak bisa disekutukan dengan yang lainnya. Maksudnya kami dilarang membuat tandingan-tandingan bagi-Nya dalam pemikiran kami. Pada surat Al-Ikhlash, “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung/meminta pertolongan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.” Ini berarti tidak ada yang bisa menandingi kekuatan dan kekuasaan-Nya. Tidak ada pula yang menyerupakan Dzat-Nya. Inilah Tuhan yang kami yakini sebagai muslim. Jangan samakan Tuhan yang kami yakini dengan yang agama lain yakini dengan mengatakan, misalnya, “Kita kan hanya mengambil jalan berbeda-beda, tetapi menuju Tuhan yang sama.” Eits, apakah sama, matahari yang dijadikan Tuhan dengan Allah yang kami jadikan Tuhan? Apakah sama, manusia yang dikultuskan sebagai Tuhan dengan Allah yang kami yakini sebagai sebenar-benarnya Tuhan? Orang Yahudi menyebut Yahweh sebagai Tuhan mereka. Apakah sama dengan Allah? Hoo… Jelas bedaa… Namanya saja berbeda. Yang mana tuh yang disebut mereka sebagai Yahweh? Dalam Kristen pun menurut yang saya baca dari buku Karen Armstrong yang berjudul Sejarah Tuhan, istilah “Allah” pun itu hanya kata ganti yang setara/bersinonim denga istilah “Tuhan”. Allah bukanlah proper name dalam teologi Kristen. Konsepnya kan juga beda. Mereka meyakini konsep trinitas, sedangkan kami anti terhadap konsep tersebut. Intinya, jangan sampai sebuah nama jadi salah sasaran. Inilah pentingnya dalam ajaran Islam untuk belajar mengenal Allah, ma’rifatullah. Karena tidak bisa kami seenaknya mendeskripsikan sifat dan Dzat Allah.

Konsep trinitas sangat bertentangan dengan konsep tauhid. Dalam konsep tauhid, kekuatan Allah tidak mungkin terbagi dalam tiga bentuk yang terpisah. Tidak perlu Dia menjelma menjadi manusia atau bentuk lainnya untuk bertindak sesuatu. Dia tidak beranak. Jika dikatakan Dia beranak, berarti Dia beristri? 😀 Nabi Muhammad pun hanyalah seorang hamba Allah. Nabi Muhammad hanyalah manusia biasa yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan ajaran Islam dan menyerukan tauhid. Kita dilarang mengultuskan Nabi Muhammad. Jangan bilang, “Loh berarti Allah butuh Nabi Muhammad?” Nanti akan merembet pada kalimat yang mirip, “Loh berarti Allah juga membutuhkan malaikat, manusia, dan alam semesta?” Itu kan hanya sangkaanmu saja… Dalam ajaran Islam, Allah berbuat seperti itu ya terserah Allah saja. Walaupun Allah mengutus rasul-rasul, bukan berarti Allah membutuhkan rasul-rasul itu. Namun, pasti banyak hikmahnya dengan Allah mengutus para rasul dan menciptakan alam semesta, termasuk kita manusia.

“Hehe… Berarti soal kehidupan setelah kematian juga dia gak percaya teh?”

“Ya iya… Harusnya kalau dia agnostik sejati dia bahkan gak tahu apa yang akan terjadi setelah kematian. Masa’ dia mau bikin konsep sendiri, misalnya manusia setelah mati nanti akan berubah menjadi hewan. Hehe…”

Ya, orang agnostik sebenarnya dia tanpa sadar telah membuat agamanya sendiri. Lalu, saya katakan pada adik 2012 tersebut, “Coba deh tanya, ‘Kamu tahu benar salah darimana? Dari wahyu? Kamu diberi wahyu oleh Tuhan? Tapi saya yakin kamu tidak akan mendapat wahyu dari Tuhan.’ :D”

“Tapi dia itu menganggap dosa itu sebuah penyesalan, teh. Kalau tidak ada penyesalan, berarti itu bukan dosa.”

“Maksudnya apa? 😀 Penyesalan menurut dirinya sendiri? Nanti kalau dia bilang dia suka melakukan ini lalu bertemu dengan orang yang tidak suka melakukannya, bentrok deh… Misalnya, dia merasa bahwa mengganggu orang lain itu tidak salah karena dia menyukai melakukan itu. Lah terus orang yang diganggu gak terima. Pasti kan bisa berantem.”

Saya juga mengkritik orang-orang yang menjadikan ‘ketenangan’ sebagai dasar atau parameter kebenaran karena itu sifatnya relatif setiap orang. Bisa saja kan orang menulis 1+1=3, ia merasakan ketenagan. Apa itu benar? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s