Standar Bahagia

Terkadang setiap manusia sudah punya standar kebahagiaan masing-masing, entah sesuai dengan worldview Islam atau tidak. Entah akhirat oriented atau dunia oriented. Entah bersifat abstrak atau bersifat materi. Semua orang punya standarnya. Namun, semua itu bisa hancur karena sebuah tekanan dari orang sekitar. Standar kebahagiaan bisa saja mulai bergeser tanpa disadari karena pengaruh orang lain.

Aku yang sudah bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan dengan hidup sederhana, bisa juga merasakan ada yang tidak enak ketika orang sekitar membuat definisi sendiri tentang kebahagiaanku.

“Wuih enak tuh Rin teman-temanmu sekarang yang jadi PNS di Kementerian tunjangannya belasan juta.”

“Ih sekarang temanmu itu gemuk. Punya duit sih ya… Sekarang jadi cantik.”

“Dia kemarin menikah. Ternyata gaji suaminya lima belas juta.”

Aku yang mendengar itu langsung merasa tidak enak karena merasa tidak berguna apa-apa. Seakan-akan semua diukur dengan materi. Sebenarnya aku ingin menjauh dan tidak ingin mendengar celetukan-celetukan itu.

Aku sudah punya standar bahagia sendiri. Aku bahagia hidup sederhana selama hatiku tidak lalai dari mengingat Allah. Allah-lah yang kuyakini bisa membuat siapa pun merasa bahagia walaupun ia punya banyak keterbatasan. Karena bahagia itu letaknya di hati.

Tapi siapa sangka aku akan menemui orang-orang yang punya standar kebahagiaan yang berbeda dan jujur saja, celetukan mereka mengiris hati. Bagi mereka itu, bahagia baru bisa didapatkan bila penghasilannya belasan juta atau lebih dalam sebulan. Dengan penghasilan itu mereka bisa keliling-keliling dunia, menikmati makanan ala restoran setiap hari. Hidup dengan fasilitas yang lengkap, memiliki furnitur-furnitur yang cantik, rutin ke salon, mereka baru bisa merasa bahagia.

Justru aku tidak bahagia jika seandainya aku hidup berfoya-foya tapi tidak sebanding dengan pengorbananku untuk meraih surga. Misalnya, “terlalu” sering jalan-jalan dan menghabiskan uang untuk makan makanan ala restoran, tetapi aku lalai membaca Quran, aku lalai sedekah, aku lalai tahajud, dan bentuk kelalaian lainnya. Apakah kamu bahagia dengan kebiasaan yang seperti itu? Aku tidak yakin kamu akan bahagia. “Huwalladzii anzalas-sakiinata fii quluubil mu’miniina…” Dialah Allah yang menurunkan ketenangan jiwa pada hati orang-orang mukmin. Apa yang akan terjadi jika kita lalai dari mengingat Allah? Hoo jangan heran jika orang-orang yang lalai dari mengingat Allah bisa mudah tersinggung, mudah iri hati, mudah bersedih hati, mudah kecewa, dan lain-lain. Mereka tidak siap dengan ujian-ujian yang datang. Ujian itu bukan ketika musibah datang saja, tetapi juga ketika nikmat datang, itu pun ujian. Jika nikmat datang, ujiannya adalah apakah kamu besyukur? Apakah kamu tidak lalai dari mengingat Allah karena saking gembiranya? Apakah kamu akan ujub dan sombong? Apakah kamu mau berbagi kebahagiaan? Di situlah ujiannya.

Standar mereka yang berangan-angan panjang sungguh berbeda denganku. Aku bahagia jika aku bisa bermanfaat bagi orang banyak. Jika untuk mengerjakan banyak kebajikan itu membutuhkan uang yang banyak, maka aku memohon kepada Allah semoga Allah memberikanku rezeki yang lebih untuk itu. Lagi pula, bukankah Allah telah menjanjikan akan memberikan pahala yang setimpal dengan orang yang melakukan banyak kebajikan dengan hartanya walaupun kita tidak punya harta sebanyak itu? πŸ™‚

Bagiku harta bukanlah segalanya. Bagiku yang terpenting adalah bagaimana aku nantinya bisa ke surga, surga firdaus. Bagiku yang terpenting adalah nanti di akhirat aku dijauhkan dari neraka.

Aku senang jika mendengar ada orang yang kaya raya, tetapi uangnya lebih banyak ia sedekahkan untuk umat, untuk orang miskin, dan untuk dakwah. Ingat loh, sebagian besar, bukan cuma seadanya. Orang itu biasanya hidup tetap sederhana. Walaupun ia mampu membeli 3 mobil, tetapi ia hanya membeli cukup 1 mobil saja karena tidak perlu setiap anggota keluarga punya mobil masing-masing 1 mobil. Walaupun ia mampu membeli pakaian, tas, dan sepatu yang super mewah, tetapi baginya itu tidak terlalu dibutuhkan. Ia lebih senang jika uangnya lebih banyak untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Aku acungkan jempol untuk orang-orang seperti itu.

Dengan rezeki yang seadanya bukan berarti aku tidak bisa bermanfaat buat orang banyak. Aku sungguh bahagia jika aku bisa rutin tiap minggu mengisi mentoring beberapa kelompok. Itu hanya menghabiskan ongkos pulang-pergi sebesar Rp. 8000,00 dan makan siang sekitar Rp. 8000,00 s.d. Rp. 15.000,00. Aku pun bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain terutama orang tua (sebagai balas budi) jika aku memperoleh sesuatu. Aku bahagia jika aku bisa rutin muraja’ah hafalan quran. Aku bahagia jika seluruh waktuku habis untuk hal-hal yang berbuah pahala. Aku bahagia jika aku berhasil manage semua urusan rumah dengan baik. Aku bahagia jika bisa membahagiakan suamiku. πŸ™‚

Namun, tidak bisa dimungkiri, aku pun jadi merenung. Aku merasa sedih jika ada orang lain yang menyeletuk tentang penghasilan dan pekerjaan. Apalagi jika yang menyeletuk itu dari keluarga sendiri atau tetangga orang tua. Aku merasa sedih karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Di sana aku pun belajar ikhlas bahwa tidak semua orang mau menghargai pemberian kita. Selalu saja dicari salah dan celahnya. Selalu saja dianggap kurang walaupun kita udah berusaha melakukan semampu kita. Ya orang seperti itu nyata adanya. Mereka sangat menekan. Tidak ada tekanan yang lebih besar bagiku selain tekanan dari orang sekitar, orang-orang terdekat, yakni keluarga sendiri.

“Kamu kurus banget Rin sekarang. Kenapa? Banyak pikiran ya? Hidupmu susah?”

Apakah ada yang salah dengan kurus? Apakah dengan aku kurus itu tanda aku tidak bahagia? Buktinya suamiku tambah gemuk. πŸ™‚ Itu tanda hidup kami tidak susah seperti yang mereka bayangkan. Bahkan yang aku rasakan saat ini, hidup kami “lebih” dari cukup. Banyak pikiran? Banyak pikirannya justru jika selalu mendengar celetukan-celetukan yang mengiris hati itu, yang membandingkan aku yang tidak bekerja dengan teman-temanku yang berpenghasilan besar. 😦 Tidakkah mereka sadar? Tapi aku yakin bukan karena itu aku sekarang lebih kurus. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya karena dahulu saat kuliah aku keseringan ngemil… ^^ Dulu kan sering stres ya, jadinya pengobat stresnya itu ngemil deh. Kalau sekarang justru aku ga suka ngemil. Soalnya aku gak stres sesering dulu… Hehe bisa aja nih Rina ngelesnya… Aku pikir karena kerjaanku saat ini lebih membutuhkan energi fisik, mungkin itulah penyebabku lebih kurus. Olah raga lah ya… Hehe…

Aku merasa biasa saja saat ini. Aku tidak merasa hidupku susah seperti yang orang lain bayangkan. ^^a Aku tidak suka panjang angan karena itu menyakitkan. Sudah kupaparkan di atas bahwa aku bahagia jika aku bisa membahagiakan orang banyak dan dekat dengan Allah. Justru aku merasa sedih jika aku sedang futur dan malas ibadah. Tetapi, terkadang celetukan-celetukan orang lain juga membuatku sedih. Tanpa sadar, mereka merusak mindset-ku tentang standar bahagia. 😦 Celetukan-celetukan itu hanya mengajarkan orang lain untuk tidak bersyukur. Tapi mau bagaimana lagi, mereka masih bagian dari keluarga besarku. Aku maklumi. Semoga Allah suatu saat nanti memberikan aku sebuah keajaiban dan kisah yang indah sehingga tidak ada lagi celetukan-celetukan yang menyakitkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s