Orang yang Tidak Senang Ada Kebaikan pada Orang Lain

Pada bab “Akhlak Orang-Orang Mulia” dalam buku Shaidul Khathir karya Imam Ibnul Jauzi, dikatakan bahwa termasuk “kebodohan” bila engkau bergegas menghadapi orang yang “hasad” dengan pertikaian. Seharusnya, kalau pun engkau ingin ‘menyakitinya’, maka hal yang pertama yang membuatnya tersakiti adalah “kebaikan dirimu”, dan kesungguhanmu dalam hal-hal yang mengangkat kedudukanmu.

Saya pernah menulis tentang ini, https://rinahuntxtnuh.wordpress.com/2013/12/28/antara-ghibthah-dengki-dan-gengsi/ , tentang ciri-ciri orang yang hasadnya sudah parah. Ternyata Ibnul Jauzi pun telah menuliskannya. Orang yang hasad itu bahkan tidak senang melihat adanya kebaikan pada orang yang di-hasad-i. Mungkin, ia sudah terlanjur “populer” dan telah menganggap dirinya berada di kedudukan yang tinggi. Lalu, ketika melihat orang lain lebih tinggi, baik dari segi amal ibadah, prestasi, maupun ilmu, maka ia tidak suka. Terlebih lagi jika orang lain itu bisa mendapatkan sesuatu (duniawi) yang selama ini diinginkannya, sedangkan ia tidak mendapatkannya atau belum mendapatkannya. Lalu, dia berusaha keras agar bisa tetap “populer” atau tetap memperoleh kedudukan yang tinggi di hati “manusia”, misalnya dengan mengaku-aku pemikiran atau ide orang lain sebagai idenya dengan mengubah sedikit redaksi, atau bisa juga misalnya dengan terus-menerus menunjukkan kelebihan dirinya untuk merebut hati manusia, (ini yang pernah disinggung Aa Gym ^^a misalnya untuk merebut hati target calon pendamping hidup hehe, atau merebut hati bos/pemimpin 😛 ).

Maka, wajarlah apa yang dikatakan Imam Ibnul Jauzi bahwa orang yang hasad(nya sudah parah) akan merasa tersakiti justru dengan kita berbuat baik kepadanya, tetap memberi salam kepadanya, memberi hadiah, mengajaknya dalam satu forum kebaikan, dll, dan dia akan enggan (sangat berat) menyambut pemberian tangan kita karena jika ia menyambut kebaikan kita, berarti sama saja dia “telah mengakui” kelebihan kita. Di sana ia merasa telah ‘kalah’. Jika kita membalas perbuatan buruknya, dia akan tersakiti. Tetapi, anehnya, kita berbuat baik kepadanya juga ia lebih tersakiti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s