Papasan yang Berkali-Kali (3)

Papasan kali ini unik. Sedikit flashback, saat itu saya adalah pendukung Kak Herry Dharmawan sebagai calon Presiden KM. Hehe… saya masih unyu-unyunya ya… bisa sesemangat itu mendukung pencalonan Presiden KM ^^ Pasti yang gak tau sejarah hidup saya, gak nyangka saya dulu jadi pendukung salah satu calon presiden. Saya bersama teman-teman lainnya yang sevisi bergerak bersama mulai dari penyebaran lembar dukungan agar beliau lolos verifikasi, lalu mengondisikan massa arsitektur agar mau mendengarkan kampanye khusus Kak Herry dan pasangannya, menggunakan atribut kampanye berwarna orange, sampai mengajak orang-orang untuk memilih Kak Herry. Hehe… Itu duluu sih…

Sempat terjadi konflik antara saya dengan salah seorang pendukung capres lainnya… Hihi… Padahal mah saya gak nyari gara-gara. Saya hanya kampanye di milis IMA-G 😀 Terus, ada yang gak suka. Ya udah deh saya diem aja… Saya saat itu ditantangin debat. Waduh, saya tidak ingin debat. Katanya, saya beraninya cuma di dunia maya… Kalau berani, di dunia nyata! Si oknum ini adalah seorang laki-laki yang karakternya keras. Saya agak kaget juga sih tiba-tiba dimarahin gitu… Padahal mah saya gak salah apa-apa. Tapi ya udah, saya balas sedikit dan saya diamkan orang itu ^^

Waktu bertemu pun kami saling cuek dan tidak menyapa (perang dingin). Itu terjadi dalam waktu yang cukup lama. Kira-kira ada lah 1 tahun. Saya pikir, saya tidak perlu merisaukan ya… Dia juga kan bukan muslim dan dia laki-laki, bukan perempuan. Jadi, ya santai aja… Tapi karena suatu hal, kami sudah saling tegur sapa.. (loh ini jadi bicara tentang dia?! ^^) Maaf, maaf, ini hanya ingin mendeskripsikan suasana saat itu. Yap! Saat itu adalah saat kampanye Pemira.

Intinya, saya itu terlihat sekali mendukung Kak Herry Dharmawan dibanding… hmm… ah saya ingat juga, dibanding Kak Dikdik Fazaruddin! 😀

(hmm… saya jadi sedih kalau ingat kisah kak Dikdik ini… 😦 Beliau dari SMAN 1 Bogor)

Si “dia” yang lain yang sekarang telah menjadi suami saya justru ternyata adalah panitia Pemira XD Pantas saja dia tidak terlihat mendukung siapa-siapa. Adem sepoi-sepoi gitu lah si aa dulu..

Tapi saya taunya beliau adalah panitia juga bukan karena mencari tau. Saya dulu juga bingung kenapa ya dulu si aa ga pernah gabung ke gerakan yang aku selalu terlibat di dalamnya? XD Adanya juga muncul pertanyaan gitu… Beliau kayak gak diajak gitu… Tapi keheranan itu saya pendam aja… Saya kan udah bilang ya, saya dulu itu masih unyu-unyunya… Ikut aja disuruh ini dan disuruh itu… Ga tau dan ga peduli dasarnya apa… ^^ Yang saya tau itu untuk berdakwah. Jadi, aktivitas saya dan suami saya dulu sih jarang di satu forum atau organisasi.

Saya banyak ga taunya tentang suami saya dulu walaupun satu jurusan. Yang saya inget ya, saya menilai suami saya dulu adalah orang yang “misterius”. Serius! Misterius! Bahkan, saya pernah takut, jangan-jangan orang ini ikut aliran “sesat”? Haha… Soalnya, tulisan-tulisannya banyak yang terlihat—menurut saya yang masih awam—nyeleneh. Haha… Senyeleneh-nyelenehnya pemikiran beliau ya, anehnya saya gak pernah bisa menemukan celah salahnya. Dia punya dalilnya. Dia punya argumen. Dia punya alasan kuat kenapa dia bilang begitu. Tapi yang saya ga tau, dia itu belajar agama dari mana? Dia liqo gak ya? Haha… (Harus, gitu ya, liqo? 😀 ) Tapi kok gak pernah diajak gerak bareng sama yang lain? Wajar kan saya menganggapnya “misterius”.

Tapi, saya gak salah kok menilainya “misterius”. Buktinya, kemisteriusannya “terkenal” di hampir semua teman saya yang seangkatan dan yang seangkatan dengannya, alias 2007. Dia, sering saya temui menjadi bahan pembicaraan teman-teman saya, bahkan yang akhwat. -_-!! Terutama ketika tulisan buah karyanya mulai “melanglang buana” ke banyak situs media online, seperti Eramuslim, Fimadani, dan Islamedia. Semua tulisannya bertemakan yang berat-berat. (Beras kali… Berat… Berapa kilo XD ) Udah gitu, beliau sering dibilang “berbahaya” karena menularkan pemikiran-pemikiran yang merevolusi mental (?). Banyak ikhwan-ikhwan 2008 jadi nempel gitu sama beliau… Wajarlah jika ia sering dibicarakan. (Lucunya, ketika ia dibicarakan oleh teman-teman saya, saya yang satu jurusan dengannya justru ga banyak omong hehe..) Tapi ya itu, kami selalu bingung ini orang dapet ilmu dan wawasan sebegitu luas dan dalam dari mana sih? Duh pokoknya dia itu misterius sangat!!! 😀

Saat Pemira juga kan saya ga tau ya dia ini mendukung siapa… Yang pasti saat saya kampanye lewat Facebook, dia sempat nyeletuk, “Rina dukung Herry Dharmawan ya ^^?” Saya saat itu heran, masa’ saya harus dukung yang lain yang ga jelas ke arah mana atau lebih tepat dikatakan, jelas ke arah lainnya. ^^ Saya pun mulai bertanya-tanya, apa jangan-jangan dia dukung kak Dikdik? Ah, masa’ sih? Tapi bisa jadi sih… kan sama-sama alumni SMAN 1 Bogor ya… Tapi kan visinya udah beda (berubah)… Hanya saja, saya tidak berani banyak tanya hehe… Apalagi nanya di dunia nyata saat bertemu beliau? XD Sama lah seperti ke yang lainnya yang gak terlalu kenal, saya gak biasa bertegur sapa kalau berpapasan. Saya cuma berani menyapa ikhwan yang satu angkatan yang sejurusan. Senior-senior yang ikhwan walaupun satu jurusan gak pernah saya sapa. Termasuk “dia” 😛 Kalau ketemu ya cuek atau pura-pura tidak melihat, kecuali kalau benar-benar ada perlu.

Kebayang lah ya… gimana rasanya kalau papasan sama orang-orang yang ga bisa atau ga berani kita sapa? XD Hingga pada suatu hari saya pulang sore hari hendak naik angkot menuju pelesiran, saya menyetop angkot Sadang Serang-Caringin. Angkot tersebut pun berhenti. Saya pun naik angkot, dan tiba-tiba… *jeng jeng* aaah ada si diaaa XD

Angkot itu hanya ada dua orang sebelum saya naik, dia dan… pak sopiiir… XD

Aku orang ke-3.

Tahukah kamu apa yang terjadi di angkot?

Sunyi. Senyap.

Saya buang muka ke luar jalanan, tidak ingin melihat wajahnya sama sekali. XD

“Rina milih siapa? Rina dukung Herry ya?” suaranya muncul tiba-tiba menghentakkan kesunyian. Mungkin ia juga sudah mulai tidak nyaman diam-diaman, seperti tidak saling kenal saja…

Tapi, saya khawatir takut salah dengar, akhirnya pura-pura tidak dengar. 😛  Maka dia pun mengulangi pertanyaannya, “Rin… Rin…?”

Saya pun terpaksa menoleh XD

“Rina milih siapa?”

“Milih apa?” saya pura-pura tidak tahu.

“Itu, Pemira… Milih Herry ya?” (kurang lebih begitu lah redaksinya)

“Iya… Kalau kak Rizki milih siapa? Milih kak heryy juga kan?”

(Ah kayaknya mah dia cari-cari topik aja nih yang pas biar gak saling diam 😛 )

“Saya gak milih. Saya panitia.” Jawabnya.

Aaah… baru ketahuan deh.. dia ternyata panitia.

Setelah perbincangan yang agak sok serius itu, aku pun harus turun dari angkot.

“Duluan ya kak,” saya berpamitan.

 

(bersambung…)

Advertisements

2 thoughts on “Papasan yang Berkali-Kali (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s