Tiga Galau Terbesar

Entahlah kalian sepakat atau tidak dengan saya ^^a

Saya amati kebanyakan pasti merasakan amat galau pada 3 hal ini. Apakah itu?

  1. Galau Cinta (Merindukan Jodoh/Pasangan Hidup)
  2. Galau Mencari “Kebenaran” tentang Konsep/Prinsip Hidup
  3. Galau tentang Kehidupan Setelah Kematian

Galau Cinta

Flower_Park_Al_Ain_001

Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan seperti yang disebutkan dalam QS A-Rum: 21, QS An-Naba’: 8, dll. Pasangan hidup itu seperti suatu yang begitu berharga dalam hidup. Jika ia belum ditemukan, hati bisa gelisah. Hidup terasa kurang lengkap. Tidur tidak nyenyak, makan pun tidak nikmat. (halah… 😀 kayak lagu aja) Apalagi, kalau telah ada yang disukai. Ya, karena Allah telah mengaruniakan hamba-hamba-Nya rasa cinta yang fitrah kepada lawan jenis. Perhiasan dunia, itulah sebutan untuk seorang istri yang shalihah bagi suaminya. Bidadari-bidadari pun menjadi salah satu nikmat surga yang Allah tawarkan kepada hamba-Nya yang mau membelinya dengan pengorbanan. Wanita pun tidak kalah butuhnya, dibandingkan pria, terhadap pasangan hidup. Wanita pada umumnya senang dicintai dan disayangi. Biasanya, ketika ada laki-laki yang menaruh hati kepada seorang wanita, wanita tersebut bisa langsung luluh hatinya (walaupun tidak harus membalas cinta 😛 ). Hati wanita itu cenderung mengalir saja kepada kondisi yang sudah terjadi. Istilahnya sih senang dengan yang pasti-pasti saja… hehe… (Itu kalau sedang tidak ada sosok yang dikagumi 😀 ) Namun, tidak hanya itu, wanita pun butuh mencintai. Maka dari itu, kurang lengkap rasanya jika hanya dicintai tanpa mencintai. XD Tapi, kalau wanita sih, mencintai itu “mudah” jika sudah dicintai 🙂 Maka, terkadang jika ada ikhwan yang mendatanginya atau menawarkan diri kepadanya secara “personal”, itu terasa lebih istimewa bagi si akhwat daripada sekadar murni dijodohkan.

Nah, kalau sudah ada sosok yang dicintai, pasti rasanya lebih gelisah lagi. Kalau yang pria, berpikirnya, “Dia mau gak ya sama saya? Tawaran saya akan ditolak gak ya?” Kalau yang perempuan, beda lagi mikirnya, “Dia jodoh saya gak ya? Yang akan mendatangi saya duluan siapa ya? Dia bukan ya?” Rasa harap-harap cemas memenuhi pikiran. Iya atau iya banget? XD

Atau misalnya kalau ada ikhwan yang suka ngasih-ngasih perhatian, itu biasanya bikin akhwat galau parah. Soalnya, sikap kayak gitu tuh dianggap ngasih harapan. Akhwat yang tangguh biasanya dia berusaha cuek, pura-pura tidak tahu, atau bahkan marahin si ikhwannya itu. Menurut pengalaman yang curhat-curhat ke saya ya, akhwat itu mudah GR kalau ada yang ngasih-ngasih perhatian sedikit saja. Padahal mah, ikhwannya ga suka, tapi akhwatnya udah GR duluan, merasa jangan-jangan ikhwannya suka. Kalaupun benar-benar suka, misalnya, perhatian itu berlanjut untuk ngajak nikah ga? B) Kalau ga lanjut ngajak nikah, mending ga usah sok-sokan ngasih perhatian deh ya… Makanya juga, kalau belum siap nikah, jangan ngasih-ngasih perhatian atau ngetag-ngetag akhwat. Banyak kejadian, si ikhwannya udah ngetag akhwatnya, “Saya mau nikah sama kamu, tapi saya belum siap. Mau menunggu?” Wah ini mah gak bener… Siapa yang jamin, waktu dia sudah siap nikah, terus masih mau sama si akhwatnya? Buktinya ada tuh beberapa kasus yang akhwatnya ga jadi dinikahin… 😦 Kasihan kan akhwatnya… Udah bikin galau, udah ditungguin, eh ga jadi pula dinikahin.

Namun, ternyata kegalauan akan cinta tidak berhenti loh setelah menikah 🙂 Sering kali saya merasakannya ketika saya ditinggal suami sendirian di rumah ke luar kota dalam beberapa hari. Rasa rindu kepadanya, suami tercinta, membuat saya selalu ingin bernostalgia, entah mengapa 😛 Apalagi ya jika saya beneran “sendirian” di rumah (bukan di rumah orang tua ya). Rasanya itu rumah yang tidak terlalu besar menjadi terasa terlalu luas. Masih mending saat di kosan dulu, masih ada teman ngobrol, teman satu kosan kan… Nah, sekarang setelah menikah, ga ada yang bisa diajak ngobrol ^^ Untuk ngobrol dengan suami lewat pesan belum tentu bisa karena suami pasti sibuk. Jadi, biasanya tuh kalau ga ada suami di rumah, saya mudah merasa bosan. 🙂

Galau Mencari Kebenaran

Hidup bukanlah perkara kecil, menurut saya. Coba bayangkan saja, seandainya kamu hidup sebatang kara, diasuh oleh orang yang bukan orang tua kandungmu.Yang mengasuhmu dan yang membesarkanmu tidak memberikan pendidikan agama tau bahkan malah diberikan pendidikan yang sekuler dan menyesatkan. Karena kamu orangnya tidak mudah percaya kepada suatu pernyataan, kamu pun mulai mencari jati dirimu. Tentang konsep hidup, kau pun mulai bertanya, “Siapakah aku? Dari mana asalku? Apakah Tuhan itu benar-benar ada? Apakah Tuhan menurunkan wahyu-Nya kepada utusan dari kalangan manusia? Agama mana yang benar? Apa yang terjadi setelah kematian? Apakah semua makhluk hidup pasti akan mengalami kematian?”

galau1

Pernahkah kamu pernah benar-benar merasakan kegaulauan itu? Yang pernah merasakan kegalauan itu, pasti rasanya sangaaaat beraaaat. Tapi, percayalah kepada saya, jika kamu muslim, tetapi kamu merasakan kegalauan itu, itu berati sebenarnya kamu hanya “belum paham” saja tentang agamamu, Islam. Itulah yang saya rasakan. Saya pernah merasakan kegalauan hebat terkait identitas diri dan mengalami kebimbangan yang parah tentang apa yang harus saya yakini, tentang agama apa yang harus saya pilih. Atau bahkan saya tidak perlu memilih agama? (pertanyaan saya jangan terlalu dihayati ^^)

Namun, alhamdulillaah, kegalauan saya hilang dan bahkan keyakinan saya bisa sangat mantap tentang ini ketika saya menambah ilmu dan wawasan saya tentang Islam (tentu setelah survei ke penganut agama-agama lainnya). Bahkan, momen ini menjadi titik balik saya dari yang “tidak peduli” kepada kebenaran menjadi “memperjuangkan” kebenaran, pada hal lain juga.

Maksudnya hal lain? Setelah saya mantap dengan Islam sebagai kebenaran, ternyata tidak berhenti di situ. Saya sering mengalami kegalauan sejenis setelah itu. Masalah harakah dan jama’ah, saya pernah sampai berpikir keras tentang itu. Ini membuat saya pindah-pindah keyakinan terkait gerakan mana yang sesuai dengan cara Rasul. Namun, tahukah kamu? Walaupun saya pindah-pindah keyakinan akan suatu gerakan yang sesuai sunnah, saya tidak pernah meninggalkan teman-teman yang silaturahim sudah terjalin. Bahkan, saya pun sampai sekarang masih ikut pembinaannya. Tapi, ternyata waktu yang terbatas tidak memungkinkan saya untuk ikut semua pembinaan gerakan yang ada. Akhirnya saya harus memilih harus menetap di mana. Yang saya pilih bukan berarti saya akan mengambil seluruh pendapat gerakan tersebut. Tidak. Saya sudah putuskan untuk tidak terikat lagi pada satu harakah apapun. Saya mantap akan hal ini. Keterikatan itu hanya memunculkan fanatisme (ta’asshub) dalam hati saya. Saya hanya terikat kepada kebenaran, bukan suatu gerakan tertentu. Tidak. Bahkan terhadap ulama pun, saya anti pengultusan. Ulama itu banyak, tidak perlu kita fanatik buta pada satu ulama saja karena ulama tidak ma’shum. Saya tidak ingin termasuk ke dalam orang-orang yang disindir Allah dalam QS At-Taubah: 31. Mengultuskan seorang ulama tertentu itu termasuk syirik (menuhankan selain Allah).

Walaupun begitu, saya sangat menghormati ijma’ ulama dan cenderung mengaggapnya sabagai kebenaran. Seringkali, saya bepegang pada pendapat mayoritas ulama. Apalagi ijma’ sahabat Nabi, saya “jelas” meyakininya sebagai kebenaran. Inilah keyakinan saya karena tidak mungkin para ulama bersepakat dalam kesesatan. Berikut dalilnya yang saya ambil dari almanhaj.or.id.

Sabda Nabi shalalllahu ‘alaihi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم عَلَى ضَلاَلَةٍ

“Tetaplah kalian bersama jamaah maka sesungguhnya Allah tidak menghimpun umat Muhammad di atas kesesatan.”

(Sanadnya jayyid, diriwayatkan Imam Ibnu ‘Ashim dalam Sunnah-nya (85). Hadits ini diriwayatkan Imam ath-Thabrani dari dua jalan, dan salah satu jalurnya para perawinya terpercaya sebagaimana yang telah disebutkan dalam Majma Zawa`id (5/219))

Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ .

“Akan selalu muncul dari umatku sekelompok kaum yang tetap berada di atas kebenaran, tidak mampu menimpakan bahaya orang-orang yang merendahkan hingga datang perkara Allah, mereka dalam keadaan demikian.”

(shahîh, diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahîh-nya (7311), Imam Muslim dalam Shahîh-nya (4927), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2229), dan Ibnu Majah dalam muqadimah Sunan-nya (10).
[17]. Al-Minhaj Syarah Shahîh Muslim, Imam Nawawi, 13/69)

Namun, ternyata (lagi-lagi) tidak berhenti sampai di sana >.< Kegalauan itu berlanjut ketika saya dapatkan ada dua kelompok saling mengklaim ijma’. Mereka masing-masing mengklaim sebagai ahlus sunnah wal jama’ah dan menganggap yang satu lainnya “bukan” ahlus sunnah. Di situ kadang saya merasa sedih 😥 Apalagi kalau itu masalah aqidah. Kan berbahaya kalau salah meyakini…

Yang saya rasakan, saya seperti terombang-ambing, dilempar ke sana-kemari. Ini yang sekarang sedang saya rasakan 😥 Mungkin ada yang berpikir bahwa saya belajar agama tanpa guru karena saya sangat terlihat kebingungan. Padahal kan bukan ga ada gurunya, tapi gurunya banyak >.< Saya kan sudah bilang ya, saya ini sempat ikut gerakan apapun. Pemikiran saya pernah tersentuh dengan semua pemikiran yang ada walaupun sudah ada yang saya tinggalkan sama sekali. Jadi, masalahnya bukan ga punya guru… Justru, karena gurunya banyak. (Tapi saya tetap bersyukur karena ini bisa menjadi kelebihan yang bisa saya manfaatkan lebih optimal dibandingkan dengan yang punya satu guru.) Hei, perkara hidup dan pilihan bukanlah perkara yang remeh temeh. Ini kan terkait kehidupanmu setelah kematian. Saya hanya bisa memohon kepada Allah, “Ihdinash-shiraathal mustaqiim.” 😥 Saya tidak ingin terjatuh ke dalam kesesatan setelah Allah memberikan saya taufiq untuk hijrah berkali-kali. “Rabbanaa laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.”

Sungguh, bagi saya, berada dalam kebenaran, berjalan di atas jalan yang lurus merupakan kebahagiaan tersendiri dalam hidup saya. Terserahlah jika orang lain berbahagia (?) dengan hartanya, berfoya-foya, makan di tempat yang mewah, mengejar dunia untuk merasakan fasilitas yang mewah, biar sajalah itu pilihan mereka. Bagi saya, semua itu tetap akan membuat saya gelisah jika saya tidak menemukan yang namanya “kebenaran”. Sungguh beruntung orang yang disebut oleh Rasul sebagai golongan orang-orang yang tetap berada dalam kebenaran.

Galau Kehidupan Akhirat

Menurut saya, “galau” yang satu ini adalah galau yang paling bermanfaat dan paling berat.

Ciri-ciri orang yang beriman adalah ketika ia diingatkan tentang Hari Akhir dan kematian, ia akan segera merasakan yang namanya “harap-harap cemas”. Imam Ath-Thahawi mengatakan bahwa hati seorang muslim sudah sepatutnya berada di tengah-tengah, merasakan antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Tidak cenderung sebelah. Tidak terlalu optimis bisa masuk surga dan tidak pesimis juga. Tidak mudah melupakan neraka walaupun hatinya dalam keadaan bergembira. Melupakan neraka berarti melupakan dosa-dosa yang telah diperbuatnya atau bahkan merasa tidak punya dosa. Ini yang berbahaya.

“Inna ‘adzaaba rabbihim ghairu ma’muun.” (Sesungguhnya terhadap Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya).) QS Al-Ma’aarij: 28

Pernahkah kamu merasakan kegalauan ini? 😥

Ketika kamu ingat dosa-dosamu, kamu mulai takut apakah Allah akan mengampuni dosa-dosamu itu. Lalu, kamu teringat neraka dan kamu pun menangis sejadi-jadinya. Kamu pun semakin yakin bahwa sungguh beruntung nanti orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah untuk menikmati surga-Nya.

Di sana akan terlihat peringkat atau derajat kemuliaan setiap orang di sisi Allah. Akan terlihat siapa yang salah dan siapa yang bena. Akan terlihat siapa yang lebih terkenal oleh para penduduk langit dan bukan penduduk bumi di dunia. Saat ini, kita sering kali lebih mengagumi orang karena namanya yang “terkenal”. Padahal kita tidak tahu seperti apa niatnya. Atau mungkin kita merendahkan seseorang, padahal bisa jadi ia sangat Allah cintai.  Nah, bagaimana dengan diri kita sendiri?

Di sana, orang yang zhalim akan diadili jika belum dimaafkan. Perdebatan di sini akan jelas di sana.

Tidakkah kamu khawatir nasibmu nanti di akhirat akan seperti apa?

😥

heavenhell

Advertisements

One thought on “Tiga Galau Terbesar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s