Papasan yang Berkali-Kali (2)

Setelah aku tahu kamu ini orangnya yang mana, tetap saja aku tidak berani menyapa atau bertanya sesuatu langsung kepadamu jika aku ada pertanyaan. Ya iya lah… Masa’ langsung sok kenal gitu sih… Da aku mah apa atuh? Hanya butiran debu 😀

Ya gitu deh kalau melihatmu lewat atau di suatu tempat tertentu, aku sih pura-pura tidak tahu aja… Yah… aku anggap kau seperti ikhwan lainnya yang sama-sama tidak terlalu kukenal. Faktanya kan memang banyak ya ikhwan yang namanya aku tahu tanpa aku tahu orangnya yang mana. Ikhwan yang sudah kukenal sih yang satu angkatan Arsitektur aja. Kenal di sini maksudnya tidak ada perasaan canggung jika berbicara langsung atau perasaan malu-malu lah…

Kau sudah tahu kan, aku yang setelah kuliah sungguh berbeda dengan aku yang sebelum kuliah kalau terkait interaksi dengan yang namanya “laki-laki”. Mungkin, kondisi kampus yang “mayoritasnya” adalah makhluk bernama laki-laki itulah yang membuatku berubah. Emang rada aneh sih ya… Setelah berkerudung malah lebih berani berbicara dengan laki-laki daripada sebelum berkerudung. Ah, ini mah ceritanya bisa panjang kenapa sebelum aku kuliah bisa takut banget berdekatan dan berbicara dengan yang namanya laki-laki. 🙂 Bayangkan saja, dahulu ketika ada temanku yang laki-laki duduk di sebelahku walaupun hanya cuma 1 menit saja tanpa maksud apa-apa, aku tidak nyaman. Apalagi yang lebih dari itu… Bahkan, waktu SMP aku selalu memandang dengan perasaan geli kalau melihat temanku pacaran. Entahlah, di mataku pacaran itu menggelikan walaupun saat itu aku masih jauh dari cahaya Islam.

Namun, rasa takutku terhadap laki-laki berkurang sedikit demi sedikit setelah aku lulus SMA karena kondisi kampusku yang memaksaku senantiasa berinteraksi dengan yang namanya laki-laki.

Walaupun begitu, aku tetaplah wanita yang pasti punya perasaan fitrah 🙂 Jadi, sebenarnya karakter ‘galakku’ terhadap laki-laki atau sikapku yang terlihat seakan-akan tidak bisa berlemah lembut di hadapan laki-laki, itu karena suatu alasan. Aku berusaha menutup pintu ‘itu’. Aku tidak ingin jatuh cinta dan aku juga tidak ingin ada yang jatuh cinta kepadaku karena kelembutanku. ^^

Sikapku dahulu kepadamu yang sering kali ‘galak’ atau tidak menghargaimu sebagai seorang laki-laki pun juga karena aku ingin menutup ‘pintu’ itu, suamiku… 😛 sama dengan sikapku terhadap ikhwan lainnya… (Tapi mungkin ada faktor kekanak-kanakkan juga sih ya hehe… soalnya galaknya berlebihan kayaknya)

Tapi sepertinya, ikhwan yang baik tidak akan pernah masalah dengan sikapku ^^ Kau pun terlihat sangat cuek dan apa adanya hihi… Sampai sekarang pun kau masih selalu bersikap santai dan apa adanya. Itulah dirimu… Tidak banyak tingkah.

Btw, kapan ya kita mulai ada dialog secara langsung? Aku agak lupa sih ya… hehe

Aku juga ga tau sejak kapan kamu tau namaku atau kamu tau orang yang bernama Actarina Georgianti itu adalah aku… Kita kan sama-sama tidak berani memulai percakapan langsung. Iya kan? ^^ Apakah dirimu ingat, suamiku? Hihi.. *duh penting banget ya diingat-ingat :D*

Kalau tidak ingat, memang bukan sesuatu yang istimewa ya berarti hahaha… Perasaan kita masing-masing saat itu mungkin emang masih sama-sama lempeng aja kali yaa… 😀

Tapi karena aku sekarang telah menjadi istrimu, aku rela kok bersikeras mengingatnya XD

(beberapa menit kemudian…)

Ah, aku gagal mengingatnya hahaha… 😀

Yang pasti saat anak arsitektur berkumpul untuk berkomentar di note yang kutulis tentang kecintaanku kepada Matematika dan Kalkulus, kau pun ikut berkomentar di sana 😀

Saat itu yang berkomentar mengaku senang dengan Matematika. Aku ingat ada Kak Zahra, Kak Arief, dan dirimu… Yang menarik itu tiba-tiba dirimu menantangku mengerjakan soal matematika yang katamu cukup sulit tapi kamu telah bisa menyelesaikan dalam waktu 4 hari.

Tahukah kamu, suamiku? Aku langsung mengambil kertas dan pensil untuk mengerjakan soal tantanganm itu. Aku selalu tertantang mengerjakan soal Matematika atau Kalkulus, bahkan hingga aku di tingkat 3. Jurusan Arsitektur loh… haha Tapi, tingkat 4, aku mulai banyak lupaaa XD

Karena waktu itu aku ada tugas kuliah yang harus kukerjakan terlebih dahulu, aku tepaksa menunda menyelesaikan soal tantanganmu tersebut. Selang beberapa hari, aku sebenarnya mulai lupa tentang soal tantanganmu. Tapi aku yang betul-betul cinta matematika, sekadar iseng aku mencoba melanjutkan kembali menyelesaikan soal tantanganmu. Bukan karena kamu, tapi karena matematikanya ya XD Wajar-wajar saja kan ya… Apalagi sama yang satu jurusan. Tapi, aku perhatikan kok kayaknya ada yang keliru dari soalnya. Hmm… tapi aku bingung nanyanya gimana? Aku kan malu bertanya langsung ^^ Yap! Saat itu bahkan aku belum berani berbicara langsung denganmu XD

Aku mencoba corat-coret di kertas. Saat itu aku sedang di galeri bersama teman-temanku.

Lalu, aku melihatmu juga ada di galeri. Aaaah… gimana nanyanyaaa??? XD Aku gak berani bertanya langsung kepadamu saat itu. Kau pun di sana cuek-cuek saja seperti pura-pura tidak melihatku hehe.. Padahal, kau telah memberikan soal tantangan kepadaku dan saat itu aku sedang mengerjakan soal tantanganmu dan kebingungan maksud soalnya… -_-!!  Kan nulis soal matematika itu agak sulit jika cuma lewat facebook ya… ^^a

Aku masih corat-coret, akhirnya kau pun terlihat keluar galeri, mungkin kau mau pulang… Aku di galeri masih saja corat-coret berusaha mengasumsikan sendiri maksud soalnya.

Aku pun lelah dan ingin pulang. Ya sudahlah aku akhirnya benar-benar pulang… Aku pun keluar gedung arsitektur melalui pintu kantin. Hampir sampai gedung seni rupa, tiba-tiba *jreng jreng* aku berpapasan denganmuuu.. Kita pun jadi salting (salah tingkah) begitu… XD

Yap aku ingat sekali, ekspresi wajahmu itu terkaget-kaget ketika bertemu denganku *eaaaa* 😀

Kita diam membisu, tidak saling menyapa. Ah biasanya juga sepeti itu kan hehe.. Masalahnya sih yang aku pikirkan saat itu bukan apa-apa, aku hanya ingin menanyakan soal tantanganmu ituuu… minta penjelasan tambahan XD

Akhirnya lidahku begerak dan berusaha memanggil namamu, “Kak Rizki!” *eaaaa* (duh maaf “eaaa” nya agak lebay, biar lebih dramatis aja 😀

Tapi sayangnya kau seperti ingin segera masuk gedung Arsitektur dan tidak mendengar panggilanku. Maka, aku ulangi lagi memanggilmu, “Kak… Kak Rizki… Mau nanya dong…”

Akhirnya kau pun berhenti dan memenuhi panggilanku. Akhirnya aku benar-benar menanyakan soal ituuu… (silakan yang mau ber-“kyaa-kyaa” haha) dan bisa-bisanya kau bilang, “Saya lupa. Saya cek dulu ya…” -_-!!

Setelah dicek dan diperbaiki soalnya, aku langsung semangat mengerjakan soal itu kembali. Alhamdulillaah, aku bisa mengerjakannya hihi… 😀 Yes!

Lalu, aku laporan deh di note. Tapi kau bilang jawabannya salah 😦 Aku gak percaya, maka aku coba ulangi lagi. Ternyata ada yang kurang teliti. Aku salah hitung haha… Aku perbaiki kerjaanku dan akhirnya jawabanku benaaar… Yeay! 😀

Eh, apa itu ya saat aku mulai berbincang-bincang langsung denganmu? Apa yang kau rasakan saat itu, suamiku? Hihi…

Aku ga tau ya perasaan laki-laki tuh kayak gimana… Yang pasti aku melihat ekspresi wajahmu terlihat gugup *eeaaa* Kalau aku sih ya, jangan bayangkan aku seperti akhwat pada umumnya. Aku menganggap semua ikhwan sama saja. Baik mereka aktif di lembaga dakwah maupun yang tidak aktif. Semua sama saja. Hanya saja, aku masih perlu tambahan ‘energi’ (keberanian) untuk memulai percakapan.

Ssstt… deg-degan saat mulai percakapan denganmu sempat ada sih… 😀 tapi segera hilang kok… Aku beranikan diriku untuk ”kepuasan hati” bisa menyelesaikan soal tantanganmuu XD aku kan pecinta matematika hehe…

(bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s