Papasan yang Berkali-Kali (1)

Mungkin, dulu aku hanya menganggap papasan itu biasa saja… Tapi, setelah aku menjadi istrimu, kenangan itu selalu membuat aku tersyum dan hatiku berbunga-bunga. Semoga kenangan ini menjadi pemantik cinta kita agar senantiasa bersemi walaupun usia kita sudah kakek-nenek dan memiliki cucu-cucu yang lucu dan imut-imut.

Aku tidak tahu apakah papasan yang terjadi berkali-kali itu memang sebagai tanda dari Allah atau tidak. 🙂 Tapi, papasan-papasan itu tidak bisa kulupakan.

Jangan kaget, suamiku, aku bisa mengingatnya dengan detail 😉

Hmm… kapan ya aku pertama kali bertemu denganmu? Aku tidak terlalu yakin kapannya dan momennya seperti apa.. Tapi, yang pasti aku sudah melihatmu (lebih ngeh lah maksudnya) sejak aku berada di barisan apel akhawat Mata’ ketika aku masih menjadi anggota baru Mata’. Aku melihatmu berada di barisan para senior. Itu karena dirimu saat itu begitu mencolok ^^ Kenapa coba? Dirimu dengan PD nya mengenakan jahim IMA-G (himpunan mahasiswa Arsitektur) saat apel Mata’. Haha… Ya, bagaimana mungkin itu tidak mencolok kan… Selain itu, aku juga baru tau ternyata ikhwan Arsitektur yang ada di Mata’ ada lagi selain Kak Reza PH. Aku benar-benar baru tahu saat itu… Selama ini kami yang 2008 biasa dibimbing oleh kak Reza PH, teman satu SMA mu itu… 🙂 Maka, aku terheran-heran dengan sosok yang lain itu… Kamu… Iya kamu.. (Sampai-sampai aku pernah salah orang.. hehe) Soalnya, dirimu tidak pernah terlihat sebelumnya di hadapan kami 2008.

Lalu, yang aku ingat juga pertama kali aku tau dirimu itu justru dari tulisanmu. Aku agak lupa sih urutan kejadiannya (hehe penting ya?) Aku masuk Arsitektur, osjur, dan mulai banyak kakak-kakak senior yang FB nya aku add sebagai friend, atau sebaliknya mereka yang add aku. Aku lupa dulu itu duluan aku atau dirimu ya yang add? ^^a *gak penting bgt deh haha

Eits, tapi yang mau aku kisahkan ini penting kok… ^^ Aha! Aku rasa analisisku kali ini benar! Tidak penting siapa duluan yang add. Yang pasti dirimu ini kan teman dekatnya Kak PH ya, sudah pasti kamu sering muncul bercakap-cakap dengan beliau di media sosial kan… Nah, mungkin di sana kita mulia menjadi friend. Entah bagaimana kejadiannya, aku membaca note-mu tentang suatu hal yang selama ini aku pertanyakan. Yap! Pertanyaan besar bagiku yang belum terjawab, “Bagaimana bisa urutan ayat Al-Quran berbeda dengan urutan turunnya?” Saat itu, kau pun cukup kelabakan menjawab pertanyaanku.

Jangan bayangkan saat itu aku merasakan deg-degan seperti halnya wanita yang berinteraksi dengan pria. Tidak. Da aku mah apa atuh? Pakai kerudung aja baru… Pakai pakaian syar’i aja baru belajar. Dulu, bahkan sekali-kali aku masih mengenakan celana sebagai luaran. Belum terpikir aku bisa punya suami seperti kamu yang aktivis dan cukup paham agama. Aku kayak merasa tidak pantas aja saat itu berharap punya suami yang aktivis dakwah 😦 walaupun harapan itu tetap ada sedikit.

Tulisanmu benar-benar kontroversial. Membahas hal-hal yang fundamental dalam agama. Ini jarang ditemukan. Ini klop banget sama karakterku dan gaya berpikirku yang dominan otak kiri. Hasil tes kecerdasan dan minatku saja cenderung pada ilmu logika dan matematika (serta spasial). Maka, aku ini tipe orang yang mudah terkoneksi jika suatu hal dibahas dari segi logika.

Dari sana kita memang mulai ada interaksi. Aku bertanya dan dirimu menjawab. (Namun, sebenarnya aku masih tidak tahu kau ini yang mana??? *jreng jreng* Gubraks ^^a Aku hanya tahu namanu saja, gak tahu kamu ini yang mana orangnya hihi…)

Kau pun sempat mengungkapkan rasa heranmu, kok tumben ya ada akhwat yang senang sama bahasan kayak gini? ^^ Ya, itulah aku… Aku tertarik bahasan-bahasan yang dibawa kepada cara berpikir logis. Sejak itu, aku pun menjadi pelanggan note yang kau tulis hehe… Diam-diam ada perasaan kagum dalam hatiku. Rasa kagumnya sih biasa aja ya, belum ada perasaan suka. Diri ini hanya merasa butuh menyerap banyak ilmu darimu. Perasaannya hanya sebatas itu. Kagum dan hormat menjadi satu. Ya, aku mulai menghormatimu. Bagaimana tidak? Kau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan besarku lewat tulisan. 😀

Saat itu kau belum dikenal oleh teman-temanku yang lain, apalagi yang akhawat.

Terus ya, yang menarik itu waktu ada orang yang sering lalu-lalang di studio 2008 terutama dia itu sering mengobrol dengan teman-temanku ikhwan yang aktif di Gamais, seperti Suhendri, Alam, dan Kak Mazhar. Aku sih tidak peduli ya siapa itu? Aku gak kenal… hehe Tapi di saat yang sama, aku tetap ‘setia’ membaca tulisanmu di FB. Kalau aku melihat ada pernyataanmu yang “menurutku” aneh, biasanya aku langsung mendebatmu. Lalu, ditambah komentar orang lain juga, jadilah akunmu ramai 😀

Aku mulai penasaran kamu ini orangnya yang mana ya? Kamu seperti orang jadi-jadian saja.. Yang terlihat hanya akun FB nya aja, tetapi batang hidungmu saja aku gak tau… Wajar kan ya rasa penasaran itu ada… soalnya satu jurusan sih 😀 Aneh malah kan kalau ga tau orangnya… Tapi ya gitu… sampai cukup lama aku ga tau dan ga peduli yang mana orangnya… Dia ikhwan ini, bukan akhwat. Buat apa tau? Pikirku begitu.

Tiba-tiba saja aku teringat kok kayaknya orang yang lalu-lalang di studio 2008 mirip ya sama orang yang dulu aku lihat di apel Mata’ pertama kali. Tapi karena aku pernah salah orang (aku pikir dia seniorku yang di unit lain yang ternyata pakai jahim perminyakan) maka aku sudah tidak peduli lagi. Tapi lagi-lagi aku melihatnya di apel. Ini tuh seniorku di unit lain atau anak arsitektur sih? Huaaa aku jadi bingung sendiri hahaha… Ya gimana ya, jahim IMA-G kan warnanya sama dengan jaket Mata’ 😀 Tapi orang ini mirip dengan orang yang lalu-lalang di studio 2008…

Namun, akhirnya aku yakin yang aku lihat di apel Mata’ bukanlah seniorku di Perminyakan atau unit lain. Ini benar-benar anak IMA-G. Haha… karena aku lagi-lagi melihatmu mengenakan jahim IMA-G pada apel Mata’ dan anak perminyakan itu ternyata bukan anggota Mata’ haha…

Lalu, aku berusaha menghubungkan data-data yang berserakan ini… Orang yang lalu-lalang itu jelas mirip dengan yang di apel itu… tapi aku ga tau sih namanya siapa… Wajar ga sih penasaran nama senior yang satu jurusan yang sama-sama aktif di organisasi dakwah di saat jurusannya itu sedikit kader? Istilahnya tuh aktivis dakwahnya langka. Aku pun mulai menduga-duga, apa ini ya yang namanya Rizki Lesus yang tulisannya aku sering baca? *uhuk uhuk* 😀

Dugaanku begitu kuat tapi aku ga pernah bisa (ga berani) membuktikannya 😀

Hingga pada suatu saat selebaran kuesioner dibagikan ke 2008, “Siapa yang layak menjadi calon Kepala Garis?” Garis adalah organisasi dakwah di jurusan Asitektur. Entah yang membagikan itu siapa? Tapi, lagi-lagi aku melihat orang itu mendatangi temanku, Suhendri. Sambil mengisi kuesioner, aku mendatangi Suhendri. Aku berniat mencari tahu namanya karena ingin kutuliskan namanya di kuesioner ini sebagai usulan calon kepala Garis karena dia aktif di Mata’ selain kak PH 😀

“Suhe, itu tadi siapa sih?”

“Rizki. Itu namanya kak Rizki.”

“Apa?”

“RIZKI.”

“Rizki?”

“Iya, kak rizki.”

“Hoo itu yang namanya kak Rizki..”

Hihi.. Aku sumringah karena data-data yang berserakan itu telah ada kesimpulannya 😀

Aku pun menuliskan namanya sebagai usulan calon Kepala Garis. Seingatku, aku hanya menuliskan namanya saja, tidak mengusulkan nama lain. Soalnya 2008 yang lain pasti menulis nama Kak PH ^^ dan sepertinya bisa jadi “hanya” aku saja yang menuliskan nama itu.

Kutuliskan namanya, kak Rizki. 🙂 *ingin ada backsoundnya nih hehe*

(bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s