Hijrah Tiada Henti: Kisah Hidup Seseorang

Sebenarnya kisah ini pernah dipublikasikan di tempat lain. Hanya saja, ini versi spesial karena sudah diedit oleh yang punya kisah dan ditambahkan penjelasan.

Berikut kisahnya 🙂 dari link ini http://nakindonesia.tumblr.com/post/112456602714/metamorfosa-hijrah-tiada-henti#notes

****************************************************************************************

Saya bukanlah orang yang berasal dari keluarga yang senang melakukan setiap amalan sunnah. Bukan pula dari keluarga yang sehari-harinya membaca Al-Quran. Bahkan, keluarga saya masih harus terus dibimbing dan diingatkan untuk sholat fardhu lima waktu, terutama adik-adik saya walaupun mereka sudah dewasa. Saya sendiri belajar inisiatif untuk melaksanakan kewajiban yang satu ini, sholat lima waktu,”tanpa disuruh” pun bukan dari lingkungan keluarga, melainkan dari teman-teman saya yang satu sekolah. Saya bersyukur saat itu berteman dengan orang-orang yang menjaga sholat lima waktunya. Namun, alhamdulillaah orang tua saya masih memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anaknya. Saya dan adik-adik saya setidaknya pernah diikutkan pengajian sejak kami berusia tiga atau empat tahun hingga kami lulus SMP. Bahkan, kami memperoleh pendidikan agama hampir seperti anak pesantren karena sehari-hari kami harus menghafalkan kitab berbahasa Arab. Sayangnya, kebanyakan adik-adik saya sudah berhenti menghadiri pengajian sejak kelas dua SMP. Namun, saya akui bagaimanapun pendidikan di luar rumah, itu tidak begitu berpengaruh dibandingkan pengaruh lingkungan keluarga sendiri. Akhlak kami tidak begitu banyak berubah atau sulit diperbaiki walaupun kami sudah dingajikan.

Saat masa-masa jahiliyyah itu, saya merasakan seakan-akan hati ini hampa. Yang saya kejar hanyalah nilai yang bagus, rasa bangga orang tua terhadap keberhasilan saya di sekolah, dan prestasi-prestasi lainnya dalam bidang akademik agar saya terlihat hebat dibandingkan teman-teman saya lainnya dan saya tidak mau kalah saat itu. Kompetitif. Itulah karakter saya yang terlihat pada masa jahiliyyah.

Setelah apa yang saya kejar lalu saya dapatkan, apakah saya bahagia? Hmm… rasa senang atau gembira itu pasti ada. Namun, tahukah kamu perasaan apa lagi yang saya rasakan? Ya, rasa gembira itu akan “selalu segera” berubah menjadi kekhawatiran yang hebat. Saya ulangi, “kekhawatiran yang hebat”. Hampir setiap hari, saya dilanda rasa khawatir yang bisa dikatakan berlebihan. Entah mengapa, saya juga tidak tahu. Ayah saya salah seorang guru yang cukup disegani di sekolah saya sendiri. Saya hanya tidak ingin mengecewakan orang tua saya. 😦

Janganlah dibayangkan bahwa kehidupan keluarga saya itu damai, aman, dan sentausa. Tidak. Saya punya tiga adik yang jarak usianya tidak jauh, jaraknya dua tahun-dua tahun. Di rumah hampir setiap hari pasti ada perdebatan panjang, perselisihan, dan perasaan saling tidak nyaman karena interaksi antaranggota keluarga. Saya sejak “kecil” sering sekali menangis, entah karena dimarahi orang tua (saya memaklumi orang tua saya mungkin letih karena pekerjaannya), atau karena setelah terjadi perdebatan dengan adik saya. Semakin saya dewasa, konfliknya pun semakin berbobot namun kosong makna. Pada hakikatnya yang diperdebatkan itu tidak penting, tetapi karena usia bertambah, kemampuan berargumen pun ikut bertambah sehingga durasi perdebatan semakin panjang seiring usia. Tentu, ini sangat tidak nyaman bagi siapa pun. Ini juga yang membuat mata saya beberapa kali terlihat sembap ketika saya datang ke sekolah. 😥 Teman-teman saya pun terdengar seperti penasaran dengan apa yang terjadi pada saya sampai mata saya terlihat sembap seperti itu.

Rasa khawatir yang menjadi penyakit saya tak kunjung usai hingga saya SMA. Selalu saja ada rasa was-was muncul setiap datang ke sekolah, entah mengapa. Mungkin rasa was-was itu muncul karena saya ini orangnya perfeksionis dan takut mengecewakan orang lain, terutama orang tua dan guru saya. Saya paling takut dimarahi orang tua dan guru. Terlebih lagi, guru itu bagi saya adalah orang asing, namun posisinya sama seperti orang tua yang bisa memarahi dan menghukum saya kapan saja. Guru dan orang tua seperti tali yang mengikat diri saya dan saling tarik-menarik. Jika saya mengecewakan guru saya, saya malu, dan saya akan mengecewakan orang tua saya juga. Bahkan, rasa minder di tengah teman-teman saya yang ekonominya tergolong di atas rata-rata (kalangan atas) terus saja mengganggu batin saya hingga saya kelas XI (dua SMA). Bayangkan saja, di tempat parkir dalam sekolah dan sekitar sekolah ada banyak mobil pribadi berjejer. Teman-teman saya pulang-pergi diantar dengan mobil pribadinya atau bahkan mereka mengemudikan mobilnya sendiri. Gaya hidup teman-teman saya sangat terlihat sekali bagaimana kondisi ekonomi keluarga mereka. Hal itu membuat saya teramat minder. Terlebih lagi, keluarga saya bukanlah tipe keluarga yang selalu optimis dan membangun kepercayaan diri dengan optimal. Maka, wajarlah jika saya seperti “itu”. Begitulah kehidupan saya yang jauh dari cahaya Islam. Semua telihat begitu mengerikan di mata saya. Pulang dari sekolah pun belum tentu saya terlepas dari rasa khawatir.

Beruntung, saat saya SMA, saya masih memperoleh nasihat-nasihat agama melalui mentoring yang diselenggarakan oleh rohis. Rohis bukanlah organisasi yang saya ikuti saat itu, namun alhamdulillaah rohis SMA saya bisa bermanfaat untuk semua muslim satu sekolah, termasuk saya yang saat itu belum berkerudung. Entahlah, mungkin Allah bermaksud memberikan harapan untuk saya agar menjadi insan yang lebih baik. Kamu tahu? Mungkin karena saya sebelumnya sempat ikut pengajian dan madrasah sebelum masuk SMA, setidaknya saya masih selalu menemukan embun penyejuk jiwa ketika mendengar taushiyah atau ceramah dari para ustadz atau siapapun. Begitu pula yang saya rasakan ketika saya mentoring di SMA. Mungkin, itulah rahmat Allah yang tercurah kepada saya. Saya yang hidupnya bisa dikatakan “kacau” ternyata bisa merasakan ketenangan dalam hati ketika saya berada di dalam majlis untuk mengingat Allah. Ah, saya jadi teringat Aa Gym yang selalu menggunakan dalil ini untuk mengatakan bahwa yang memberikan kebahagiaan itu adalah Allah karena kebahagiaan itu letaknya di hati: “Huwalladzii anzalas-sakiinata fii quluubil mu’miniina”, yang artinya Dialah (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam hati-hati orang-orang mu’min. Saya terharu karena Allah telah menurunkan ketenangan ke dalam hati saya ketika saya berada di dalam majlis dzikir. Saya pun masih ingat betul ketika kepala sekolah “mewajibkan” murid-muridnya untuk ikut Pesantren Kilat selama empat hari. Subhaanallaah… di saat yang lainnya terkantuk-kantuk, justru mata saya terasa sangat segar dan bersemangat menjalani semua proses pembinaan selama pesantren kilat. Mereka, teman-teman saya yang berasal dari keluarga-keluarga ‘mampu’ itu ternyata baik, ramah, dan tidak membeda-bedakan temannya dari segi ekonomi. Ini yang membuat Pesantren Kilat begitu mengesankan bagi saya. Hingga akhirnya saya ikut mentoring “tahap lanjut” pun sekelompok dengan teman-teman aktivis walaupun saya saat itu masih belum berkerudung.

Bagi saya, hijrah itu tidak bisa hanya sekali seumur hidup. Hijrah itu inti maknanya adalah berpindah dan menurut konteks ini, hijrah yang dimaksud adalah berpindah menjadi atau ke tempat yang lebih baik. Lagi-lagi dari Aa Gym, dalam bukunya beliau mengungkapkan bahwa hijrah itu ada lima macam, yaitu hijrah dari kemusyrikan menuju tauhid, hijrah dari kemunafikan menuju shiddiq, hijrah dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, hijrah dari perkara haram menuju yang halal, dan hijrah dari lingkungan yang tidak kondusif untuk beribadah menuju lingkungan yang bisa menguatkan iman. Oleh karena itu, titik balik dalam kisah hidup saya itu terjadi beberapa kali, bahkan kalau bisa seharusnya hijrah itu tidak pernah berhenti. Memperbaiki diri dan menyucikan jiwa haruslah menjadi aktivitas tiada henti hingga ajal menjemput.

Titik balik pertama ketika saya lulus SMA. Cukup banyak perubahan yang terjadi setelah saya kuliah. Yang jelas, saya telah melakukan hijrah tempat dari Jakarta yang memenatkan ke Bandung yang menyejukkan. Bagaimanapun, Bandung lebih baik ditinggali secara kualitas fisiknya dibanding kota Jakarta. Selain itu, berarti saya pun sekaligus sedikit mengurangi interaksi saya dengan keluarga saya. Hari pertama kuliah itulah saat saya juga pertama kali berkomitmen untuk senantiasa mengenakan kerudung. Kerudung saya saat itu belum terulur menutupi dada. Kerudung bagi saya adalah hal terpenting karena dari sana saya bisa merasa lebih percaya diri untuk mengubah mindset menjadi pribadi yang lebih baik dan benar-benar memudahkan saya untuk melakukan perbaikan-perbaikan diri untuk seterusnya. Semua berawal dari mindset. Saya pun (karena sudah berkerudung) berani mendaftar Gamais (LDK) walaupun sempat ragu dan menggumam, “Apakah saya yang hina ini pantas masuk Gamais?” pikir saya merasa sedih dan minder. Namun, wajah cerah ceria kakak-kakak senior saat pelayanan sholat untuk mahasiswa baru saat itu membuat saya maju terus untuk aktif di Gamais. Subhaanallaah saya benar-benar nyaman aktif di Gamais. Sebenarnya, ini juga saran ibu saya untuk ikut organisasi keislaman karena kata ibu saya, organisasi semacam rohis biasanya memberikan ukhuwah kasih sayang dalam bingkai—seperti halnya—keluarga. Alhamdulillaah… hidayah Allah mengalir deras tak henti berawal dari sana dan rasa khawatir saya yang berlebihan itu sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Titik balik kedua adalah saat saya tergabung dalam kafilah MTQ Nasional Mahasiswa mewakili kampus. Saya sudah ikut dua kali dalam MTQ Nasional Mahasiswa, tahun 2009 dan 2011. Saya yang tidak ada apa-apanya ini, yang hanya senang belajar kaligrafi, tiba-tiba saja merasakan indahnya lantunan Al-Quran yang sangat marak diperdengarkan di tempat perlombaan. Dahulu, saya masih merasa ‘horor’ dengan yang namanya “kajian tafsir”. Bahkan, saya belum senang mendengarkan murottal. Maasyaa allaah, tiba-tiba saja saya tertarik untuk ikut organisasi Majlis Ta’lim Salman yang aktivitasnya biasanya lebih banyak berisi kajian dibandingkan Gamais. Saya yang tadinya merasa sudah bisa membaca Al-Quran, tiba-tiba saja saya tertarik belajar tahsin di organisasi tersebut dan bahkan belajar untuk mengajar tahsin. Saya belajar untuk banyak berinteraksi dengan Al-Quran karena saya sangat terkesan dengan suasana lingkungan MTQ Nasional. Di sana berkumpul mahasiswa-mahasiswa dari segala penjuru untuk men-syi’ar-kan Al-Quran dengan serentak. Mata ini bisa saja menitikkan bulir-bulir bening ketika mulai merindukan suasana itu. Suasana syahdu nan menentramkan di tengah-tengah syi’ar Al-Quran terdahsyat yang pernah saya rasakan memotivasi saya untuk terus memelajari Al-Quran dari segala aspek, mulai dari memperindah bacaan dan tulisannya (apalagi kaligrafi memang bidang saya), belajar memahami makna Al-Quran, hingga berusaha mengamalkan isinya. Sejak itu pun saya mulai termotivasi untuk menghafalkan Al-Quran walaupun masih ada keraguan dalam hati saat itu.

Titik balik selanjutnya, saat saya tiba-tiba seperti antiklimaks untuk menuju klimaks. Saya pernah mengalami saat-saat mempertanyakan kebenaran agama ini, agama Islam, justru ketika saya sedang merasakan manisnya iman hingga ke relung hati saya yang terdalam. Ini membuat saya tiba-tiba memberanikan diri untuk berdiskusi dengan teman-teman saya yang berbeda agama untuk mencari kebenaran atau—lebih tepat dikatakan—untuk memantapkan akal rasional saya. Bagi saya, ketenangan jiwa tidak cukup untuk dijadikan “bukti” kebenaran karena bisa saja semua orang mengaku seperti itu walaupun tanpa bukti yang lebih konkret (ilmiah). Maka dari itu, akal dan logika juga harus bisa menerimanya jika memang itu sebuah kebenaran. Dari sana, saya mulai membangun argumen untuk membuktikan bahwa agama ini memang benar, sedangkan yang lain salah dan ternyata Al-Quran pun menyindir kita untuk berpikir: “Afalaa ta’qiluun?” Dalam Al-Isra’ ayat 36 pun dijelaskan bahwa Allah melarang kita mengikuti apa yang tidak kita ketahui—astaghfirullaah—dan mengisyaratkan agar kita mau menggunakan pendengaran, penglihatan, dan (tentu) hati nurani dengan benar dalam memilah antara yang haq dan yang bathil. Seperti halnya membedakan makanan yang haram dan yang halal dari sisi zatnya, tentu tidak cukup menggunakan hati nurani saja, tetapi juga harus menggunakan pancaindra. Sejak itu, otak kiri saya aktif kembali dan itulah masa hijrah saya dari yang tidak peduli akan kebenaran menjadi memperjuangkan kebenaran. Ini bicara tentang banyak hal. Tentang fikrah, aqidah, jama’ah, dan lain-lain. Saya pun saat ini aktif mengikuti majlis-majlis ilmu di mana saja dan dari mana saja. Saya pun banyak interaksi dengan teman-teman yang berbeda pemikiran untuk menyerap banyak ilmu dari mereka sehingga pikiran saya terbuka dan tidak mudah terdoktrin. Inilah yang membuat saya hingga saat ini selalu haus akan ilmu dan kebenaran. Semoga Allah senantiasa membimbing saya ke jalan yang lurus hingga saya memperoleh husnul khatimah. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s