Apresiasi? Why Not?

giving2

Apakah kamu termasuk orang yang sering dan senang membaca buku-buku pengobat hati?

Apakah kamu termasuk orang yang suka membaca kitab-kitab bertemakan Tazkiyatun Nafs?

Apakah kamu termasuk orang yang senang belajar mengenal tanda-tanda sakitnya jiwa sehingga kamu ingin membersihkan penyakitnya?

 

Kalau kamu adalah orangnya, kamu pasti paham dengan yang namanya penyakit “dengki”.

 

Dengki itu ada beberapa tingkat. Penyebabnya itu bisa karena amarah dan bisa juga hanya sekadar “dengki” atau iri hati. Iri hati itu terkadang dalam bahasa Indonesia terkesan istilah yang biasa saja, tidak berbau “negatif”. Namun, istilah dengki itu sungguh membuat siapa saja merasa jijik.

Bagaimana jika penyakit dengki itu ada padamu? Pasti kamu akan merasa jijik pula kpd “dirimu sendiri”.

Atau… jangan-jangan kamu lebih memilih untuk “tidak mau” mengakuinya? Saking jijik-nya kamu dengan penyakit itu, kamu yang merasa ‘sok suci’ pura-pura tidak merasa bahwa dirimu punya penyakit itu. Iya kan?

Ah… aku terlalu berpanjang lebar membahas tentang dengki, tetapi aku lupa memberi tahu apa tanda-tanda dengki.

Tanda-tanda dengki sungguh banyaaaak sekaliii… Kamu bisa baca buku apa saja tentang Tazkiyatun Nafs atau Penyakit Hati untuk mengetahui dan memahami apa itu “dengki”.

 

Kali ini, saya hanya membahas satu saja tanda dengki.

Apa itu?

“Gengsi” memberi “apresiasi” kepada seseorang “tertentu”. (Heu… banyak sekali ya tanda petiknya -_-)

Pernahkah kamu merasa seperti itu? Itulah tanda dengki dalam hatimu. Kamu enggan memberi apresiasi dalam bentuk apa pun kepada seseorang yang kamu dengki. Jika kamu mulai merasa seperti itu, kamu mesti banyak-banyak merenung dan introspeksi diri.

 

Qalbun salim… Qalbun salim… Qalbun salim…

 

Ingat itu, kawan >_< Tidak mungkin kamu memperoleh qalbun salim jika kamu tidak ingin membersihkan penyakit yang ada dalam hatimu, termasuk penyakit dengki.

 

Masyaa Allaah… sungguh orang mudah sekali mengenali penyakit fisik, tetapi sangat sulit mengenali penyakit batin. Iya kan?

 

Untuk peka terhadap segala penyakit hati, kita benar-benar membutuhkan ilmu dan taufiq dari Allah. Bahkan, syaithan itu tidak pernah berhenti menggoda manusia, mengajak manusia kepada kemaksiatan, dan membisikkan niat-niat jahat kepada manusia. Niat-niat jahat yang dituruti akan mengotori hati kita dan jika kita tidak segera introspeksi diri, penyakit itu makin lama makin betah dalam diri kita.

Tulisan ini sebenarnya saya buat untuk mengingatkan saya pribadi agar saya tidak pernah enggan sedikit pun untuk mengapresiasi hasil kerja siapa pun dan semoga saja bisa juga mengingatkan orang lain yang membaca tulisan ini.

Seandainya hidup ini tidak dipenuhi prasangka, saling dengki, dan saling sombong, betapa indahnya dunia. Iya kan? 🙂 Ah, minimal dimulai dari diri sendiri dulu aja… Tidak perlu hiraukan pandangan buruk orang lain. Kita bertaubat, Allah yang Maha Tahu, walaupun orang lain memandang kita dengan pandangan buruk saja terus. Itu urusan mereka. ^^a Tapi, ingat juga, kita pura-pura taubat, itu juga Allah pasti tau…

 

Back to the topic…

 

Apresiasi yang kita harapkan dari orang lain, itu jelas riya’. Hei… Tapi jika kita tidak mau memberi apresiasi untuk orang ‘tertentu’ karena suatu hal yang tidak masuk akal, itu namanya kitanya yang “dengki”. Ini bicara tentang diri kita sendiri, bukan orang lain.

 

Aa Gym itu punya rumus sederhana yang menarik tentang dengki. Apa itu? Dengki itu bisa dijelaskan dengan singkat, SMS. Suka/Senang Melihat orang lain Susah/Sulit. Susah Melihat orang lain Senang.

Ini mirip sekali dengan yang digambarkan dalam Al-Quran, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka bergembira karenanya.” (terjemahan Ali Imran : 120)

Nah, jika seseorang sudah mulai “enggan” memberi apresiasi kepada orang lain “tertentu”, berarti ia sama saja dengan “Susah Melihat dia Senang”. Walaupun orang itu telah membuat kita marah karena kelakuannya. Kenapa? Itu beda topik. Kamu marah kepadanya karena apa? Lalu, apresiasi terhadap apa yang enggan kamu berikan kepadanya? Jawab dengan jujur. Beda persoalan kan?

Misalnya saja, kamu marah kepadanya karena ia tidak sependapat denganmu tentang suatu perkara. Lalu, kamu menjadi tidak ingin kalah dengannya dalam hal apa pun. Ketika dia memperoleh prestasi, lalu kamu “tiba-tiba” diam tidak memberi ucapan selamat (tidak seperti sebelumnya), misalnya, berarti rasa dengki sudah ada dalam hatimu. Kamu tidak senang karena akhirnya kamu merasa kalah. Terlebih lagi harus memberi apresiasi, itu pasti terasa berat bagimu. (^^a  maaf ya saya tidak jago ngarang contohnya…)

Nah, sebaliknya, karena sedang marah, pasti kamu akan merasa senang jika orang tersebut terpojok pada suatu kondisi yang menyulitkan, “Senang Melihat dia Susah”.

Selain itu, apresiasi itu seperti garis pembatas antara dengki dan tidak dengki, menurut saya. Itu karena seinspiratif apa pun orang yang didengki membuat kalimat-kalimat pernyataan, sebagus apa pun hasil kerjanya itu bermanfaat bagi orang banyak, orang yang “pendengki” tidak akan pernah mau memberikan apresiasinya kepada orang yang didengki itu. Alasan apalagi yang membuatnya enggan seperti itu selain karena ia memang tidak senang (susah) melihat orang lain “senang”.

Maka, dari itu, sungguh karunia yang besar menurut saya dari Allah berupa taufiq, bisa turut bahagia di kala orang lain bahagia ^_^ Yuk ah belajar mengapresiasi orang lain hanya untuk melunakkan hati kita yang mengeras…

0587e6c93911973264a71ef48612f3af_hadiah

“Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (terjemahan HR. Ibnu Mandah, lihat pembahasannya dalam Irwa`ul Ghalil, 6/45, 46)

Ada beberapa tips nih dari Al-Quran dalam mengatasi penyakit dengki ini… 🙂

Jika kamu mulai mendengki seseorang karena marah, maka mulailah untuk belajar memaafkan dan memaklumi. Bisa saja orang itu belum tahu ilmunya. Bisa saja dia termasuk orang yang tidak peka bahwa dirinya telah berbuat tidak adil, misalnya. Bahkan, bisa saja kitanya saja yang terlalu banyak berprasangka tanpa bukti.

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (terjemahan Fushshilat: 34).

Selanjutnya, ternyata dibolehkan kok memohon kepada Allah apa yang kita inginkan ada pada orang lain agar kita juga memperolehnya ^^ Ini saya dapat dari muslim.or.id. Saya pun tersenyum simpul ketika membaca tips yang satu ini… hihi…

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (terjemahan An-Nisaa’: 32).

Namun, menurut saya, tetap yang “terbaik” bagi qalbu kita adalah mematikan/membunuh rasa dengki itu sendiri dengan memohon pertolongan Allah. 🙂

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ‘Wahai Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan tumbuh kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr:10)

Sekian. Wallaahu a’lam.

Advertisements

One thought on “Apresiasi? Why Not?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s