Alif Laam Miim

alif lam mim

ﺍﻟﻢ

Susunan huruf di atas terdapat dlm Al Quran yg dibaca “alif laam miim”. Ini menarik karena berarti 3 huruf di atas tidak dibaca sesuai dengan tulisannya seperti pada kebanyakan ayat lain.

ﺍﻟﻢ dalam bahasa Arab bisa dibaca “alam” yang artinya bukankah, “alima” yg artinya merasa sakit, dan bisa juga “allama” yg artinya menyakitkan.

Kalaupun mau tulisannya disesuaikan dg bacaannya, yaitu “alif laam miim”, seharusnya ditulis ﺍﻟﻒ ﻻﻡ ﻣﻴﻢ,
bukan ditulis dengan ﺍﻟﻢ.

Selain itu dahulu, sebelum ada Al Quran, masyarakat Arab belum mengenal cara membaca huruf per huruf. Jadi ayat pertama Al Baqarah ini (dan beberapa surat lainnya serta ayat2 mutasyabihaat lainnya yg di awal surat) seperti membuat penasaran siapa pun yang membacanya dan yang mendengarnya. Maka, rasa penasaran itu langsung terjawab di kalimat atau ayat selanjutnya, misalnya pada Surat Al Baqarah:

ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘٰﺐُ ﻻ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴْﻪ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘّﻘِﻴْﻦ

“Itulah Al-Kitab/ kitab itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bg orang2 yg bertakwa.”

Pada terjemahan mushaf Indonesia, dzaalikal kitaabu diterjemahkan dg kalimat “kitab (Al Quran) ini”, bahkan ada yg menerjemahkannya “Al Quran ini” padahal arti dzaalika adalah itu, bukan ini.

Selain itu, dalam Al Quran ada banyak istilah Al Quran. Ada ayat yg menyebutkan al-quran dan ada pula ayat yg menyebutkan al-kitaab. Jadi, pasti maknanya berbeda di antara kedua istilah tersebut. Kata Al-Qur-aan biasanya bersandingan dg kata “haadzaa”, sedangkan kata Al-Kitaab biasanya bersandingan dg kata “dzaalika”.

Apa maknanya ini?

Huruf ت pada ﺍﻟﻜِﺘٰﺐ dibaca panjang walaupun “tanpa alif”. Sedangkan dalam bahasa Arab sehari2
ﺍﻟﻜﺘﺐ dibaca al-kutubu, bukan al-kitaabu. Al-Kitaabu biasa ditulis dg ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ. Al-kitaabu itu mufrad (tunggal), sedangkan al-kutubu itu jamak yg artinya adalah buku-buku. Tapi pada kasus ini, ﺍﻟﻜﺘﺐ dibaca al-kitaabu, bukan al-kutubu.

Selain itu, perbedaan makna al-qur-aan dan al-kitaabu bisa ditelusuri dari asal katanya, sehingga al-quran bermakna bacaan, sedangkan al-kitab bermakna tulisan.

Selanjutnya, kata dzaalika menunjukkan sesuatu yg “jauh”. Ini mengingatkan kita bahwa mushaf atau wahyu Allah yg pernah diturunkan itu ada banyak sejak “jauh” sebelum Nabi Muhammad lahir, tetapi semua merupakan satu kesatuan. Semua harus diimani walaupun sekarang yg kita jadikan pedoman adalah yg “ini” Al-Quran yg dibawa Nabi Muhammad saw. (Namun, makna “jauh” di sini sebenarnya bisa yang lainnya juga, fleksibel.)

Ini membuktikan bahwa tulisan dan bacaan Al Quran itu dari Rasulullah saw dan berarti juga wahyu Allah. (Saya jadi teringat kepada perdebatan antara aqidah asyaa’irah dan aqidah non-asyaa’irah terkait ini ^^a)

Kembali kpd topik “alif laam miim”.

Apa makna alif laam miim?

Tidak ada yg mengetahui maknanya. Namun, di sanalah letak mu’jizatnya. Kata alif-laam-miim membuktikan bahwa Al Quran itu berasal dari Allah. Jika ada yg mengatakan bahwa Al Quran adalah karangan Nabi Muhammad saw, seharusnya beliau tidak perlu mengarang-ngarang yang beliau sendiri tidak tahu maknanya.

Selain itu juga, ini menjadi bukti bahwa membaca Al-Quran tanpa mengetahui maknanya itu sah-sah saja, bahkan berpahala seperti yang pernah Rasul katakan krn alif-lam-mim dibaca tanpa kita ketahui maknanya.

(Resume kajian Quran bersama Ust. Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s