Jangan Merasa Aman dari Ketidaktahuan Manusia

???????????????????????????????????????????????????????

Jujurlah pada diri sendiri… Koreksilah terus hatimu…

 

Imam Adz-Dzahabi pernah mengingatkan kita, “Jangan berhenti mengoreksi diri karena nafsu suka akan pujian dan popularitas.”

 

Manusia jelas memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut pada hakikatnya memiliki kecenderungan kepada kemaksiatan.

 

Imam Abu Hamid Al-Ghazali memberi nasihat, “Ketahuilah bahwa musuh yang paling berbahaya bagimu adalah nafsumu yang selalu ada bersamamu. Sebab, ia tercipta dengan tabiat selalu memerintahkan kepada yang jelek, cenderung kepada kemungkaran, dan lari dari kebaikan.”

 

Kita tidak perlu merasa (sok) suci… Perasaan itu hanya akan membuat kita merugi. Ketika nasihat datang, tetapi selalu lewat begitu saja tanpa perenungan, maka kita tidak akan bisa menjadi lebih baik. Kita tidak akan bisa memperbaiki diri jika tidak mengetahui atau tidak sadar bagian mana yang harus diperbaiki. Orang yang paling beruntung adalah orang yang selalu dapat mengambil pelajaran dari kejadian apa pun, termasuk koreksi dari orang yang memusuhi kita, karena biasanya merekalah yang paling peka akan kekurangan kita. Maka, seharusnya mereka itu kita manfaatkan agar kita menjadi lebih baik lagi ^_^ Yaa… saya paham sih mungkin pada awalnya rasa tidak nyaman ketika dikoreksi itu akan datang… Kita harus berlatih mental! Semangat!!!

Bagaimana bisa kita menjadi lebih baik jika kita sudah merasa baik? Iya gak? ^^ Apalagi kalau sudah mulai mengambinghitamkan orang lain dengan mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui isi hati orang lain. Jangan su’uzhan.” Orang lain su’uzhan, itu urusan dia. Masalah sebenarnya justru ada pada diri kita, benar gak tuh ada tabiat yang buruk dalam hati kita? Benar gak tuh kita masih mengharapkan pujian walaupun “sedikit”? Benar gak tuh ada sombong atau dengki dalam hati kita? Jangan pernah berhenti mengoreksi hati.

Terkait fakta bahwa hawa nafsu itu cenderung kepada yang jelek, Imam Al-Ghazali menasihati, “Oleh karena itu, engkau diperintahkan untuk selalu mensucikan, meluruskan, dan mengendalikannya dengan belenggu paksaan agar beribadah kepada Rabb dan Penciptanya, mencegahnya dari syahwatnya, dan menyapihnya dari kenikmatan.”

(Maaf, ini sebenarnya saya lagi memarahi diri saya sendiri 😥 Terkadang mencela diri sendiri lebih membuat saya selalu ingat nasihat tersebut sehingga saya bisa lebih waspada pada hawa nafsu.)

Memang betul, orang lain tidak tahu dengan pasti apa isi hati kita. Orang lain memang tidak bisa men-judge diri kita semaunya, apalagi soal hati. Iya itu betul sekali. (Ini saya teringat pada ceramah Ustadz Nouman Ali Khan) Bahkan, ketika kita sudah bisa menutupi kejelekan hati kita sebaik mungkin, mereka malah tidak bisa melihat tanda-tanda riya’, tanda-tanda sombong, tanda-tanda jeleknya hati kita. Mereka tidak bisa melihatnya. Tapi, ingat! Allah mengetahui segala isi hati.

 

“Wa asirruu qaulakum awijharuu bih. Innahuu ‘aliimun bidzaatish shuduur.”

(Dan rahasiakanlah perkataan kalian atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.)

 

Orang lain memang tidak tahu isi hati kita, tapi Allah tahu. Bagi Allah, baik kita sembunyikan maupun kita nyatakan maksud dan niat kita, itu sama saja. Sama saja. Tiada beda. Maka dari itu, jangan sampai kita sekalipun merasa aman dari “ketidaktahuan” manusia. Menyedihkan bukan, ketika seseorang terlihat melakukan suatu kebaikan dengan bangganya ketika di hadapan orang banyak, lalu orang lain memujinya, orang lain mengaguminya, orang lain menyukainya, tetapi di saat yang sama Allah melihatnya dengan penilaian yang buruk karena dia melakukan kebaikan dengan mengharapkan kedudukan di hati manusia??? Bayangkan saja seandainya itulah yang terjadi! >_< Buat apa semua pujian manusia itu? Buat apa semua penghormatan yang berasal dari manusia jika ternyata kita begitu hina di hadapan Allah?

 

“Alaa ya’lamu man khalaqa wa huwal lathiiful khabiir.”

(Bukankah (pantas) Dia mengetahui siapa yang Dia ciptakan? Dan Dia Mahahalus, Mahateliti.)

 

Kamu ragu bahwa Allah mengetahui segala isi hatimu? Keraguanmu disindir Allah dalam firman-Nya di atas. Allah Mahahalus. Allah Mahateliti. 😥 Sangat wajar, bukan, jika Allah mengetahui segala isi hati kita? Itu karena kita ini hanya makhluk, ciptaan-Nya. Mana mungkin Dia tidak tahu apa yang Dia ciptakan. Bahkan, Dia tahu sangat detail.

Pada akhirnya, kita akan menyadari betapa gak pentingnya penilaian manusia, bukan? Dan… betapa yang penting adalah “hanya” penilaian Allah? Hanya penilaian Allah. Ini pun pernah dibahas juga oleh ustadz Nouman Ali Khan.

Ketika sebagian orang mencela sikap kita, padahal yang kita lakukan adalah yang kita yakini Allah sukai, para ulama yang khusyuk pun mendukung, lalu menjadi pentingkah menghiraukan celaan manusia yang tidak tahu itu? Tidak penting. Begitu pula sebaliknya, ketika semua orang memuji perbuatan kita, tetapi Allah justru murka, apalah pentingnya pujian-pujian itu???

 

Sumber kutipan: Buku Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in dan suatu poster nasihat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s