Apa yang Mau Dibanggain???

bersihkan hati

Imam Ibnul Mubarak berkata, “Ujub adalah engkau merasa pada dirimu ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain.” [Siyar A’lam an-Nubala’, 8/407]

Seringkah kau melihat atau menemui fenomena terutama di media sosial, orang-orang berlomba-lomba memamerkan segala hal yang ia punya dan ia alami? Pamer. Ya, pamer. Entah itu hasil karyanya, kehebatan anaknya, kebaikan pasangannya, ilmunya, keahliannya, atau apa pun. Huuhuu… Saya berlindung kepada Allah dari sikap seperti ini πŸ˜₯ Padahal, kita gak tahu tuh bagaimana penilaian Allah kepada pasangan kita… Atau jangan-jangan, ketika seseorang membanggakan pasangan dan anaknya sebenarnya ia ingin menunjukkan kehebatan dirinya? Dirinya memperoleh pasangan hidup yang sholih, berarti dirinya sholih? Anaknya hebat, berarti dirinya pun hebat? Itukah yang sebenarnya diinginkan? Pujian dan pengakuan?

Atau… Seringkah kau juga menemui di mana dalam suatu forum, di sana terjadi diskusi yang cukup alot entah apa yang didiskusikan? Entah apa tujuan diskusi tersebut. Namun, isi forum itu bukannya berkah yang didapat, tetapi kotornya hati. Dipenuhi saling prasangka, dipenuhi saling ujub, dipenuhi saling merendahkan orang lain. Terjadi saling klaim kebenaran, tidak ada yang mau mengalah. (Hmm… wajar sih ya…. toh yang namanya kebenaran memang harus diperjuangkan.) Tapi, kalau di dalamnya sudah terjadi ada sikap merendahkan orang lain pada salah satu anggota forum diskusi, misalnya ketika seseorang menyampaikan pendapatnya tapi malah direspon dengan sikap yang angkuh atau dianggap pendapatnya itu tidak sarat akan ilmu, ini sudah keterlaluan. Mungkin, yang merendahkan ini tidak tahu bahwa orang yang sedang menyampaikan pendapatnya itu tidak sedang bicara tanpa ilmu. Orang yang sedang menyampaikan pendapatnya itu “punya guru”. Catat, punya guru. Sungguh, diskusi seperti itu hanya menambah kotornya hati. Terkadang, orang seperti itu sebaiknya dibiarkan saja ia menanggapi dengan keangkuhannya. Ya masa’ kita harus bilang, “Saya punya guru loh bicara seperti ini… Bahkan, guru saya banyak.” Tuh kan jadi muncul hawa nafsu utk mengatakan seperti itu… Jadi, forum seperti itu ada baiknya ditinggalkan saja…

Diskusi alot entah apa yang sedang dibahas seperti tidak akan ada kesimpulannya. Masing-masing saling memberikan pendapatnya. Atau sebenarnya pamer ilmu dan wawasan? Biasanya, kalau salah satu orang pembawaannya sudah terlihat ingin pamer wawasan dan ilmu, yang lain jadi ada perasaan tidak ingin kalah. Pada akhirnya diskusi pun berjalan dengan saling pamer ilmu dan wawasan. Niatnya sudah tidak lagi lurus. Mungkin, agar kita tidak ikut terjebak dalam kondisi tersebut, pertama-tama kita harus sadar betul bahwa apa yang akan kita sampaikan itu “belum tentu belum diketahui” orang lain. Bisa saja kitanya aja yang baru tau… Jadi, ini bisa mengurangi tingkat ‘ujub akan ilmu sehingga minimalnya kita tidak perlu memulai terjadinya “saling” pamer ilmu seperti itu.

Dan… yang paling penting juga, ketika ada orang yang mulai terlihat pamer-pamer begitu, seharusnya kita “keep calm” aja sih.. Kita seharusnya belajar untuk tidak ikut-ikutan pamer. Biarkan saja mereka yang pamer… >_< Terkadang kita suka lupa ini…

Lebih bahayanya lagi adalah ketika kita lupa bahwa pada akhirnya, hasil diskusi panjang lebar itu ujung2nya harus dibuktikan juga dengan amal. Ini agak lucu sebenarnya (lebih tepatnya menyedihkan), apalah artinya tuh ilmu banyak menumpuk dalam diri seseorang jika hari2nya ia lupa utk mendekatkan diri dengan cara beribadah kpd Allah, mengabdi kepada-Nya. Lupa baca Al-Quran setiap hari, lupa ‘berduaan’ dg Allah di sepertiga malam terakhir, lupa banyak2 sedekah, lupa semuanya, kecuali berbicara. Berbicara dan terus berbicara menunjukkan identitas dirinya, menunjukkan kelebihannya dg ilmunya, belajar pun utk aktualisasi diri.

Orang yg didebat malah bisa jadi ia lebih banyak ibadahnya. Tidak ada yg tau siapa yg lebih baik, bukan? Kecuali Allah. Ya, begitulah orang yg teperdaya, tertipu oleh dirinya sendiri, tertipu oleh ‘pujian2 syaithan’, “Kamu itu orang baik, kamu itu paling hebat, kamu itu lebih mulia.” Padahal, kalau direnungi lagi, “Apa yang mau dibanggain??? Emang yakin Allah menilaimu sama baiknya dengan kamu menilai dirimu sendiri? Belum masuk surga aja udah bangga… (Kita ini belum masuk surga loh!!!) Emang yakin, kamu pun nanti pasti akan masuk surga-Nya?”

πŸ˜₯

Apapun keahlian kita yang tidak dimiliki orang lain, kita belum masuk surga… Kita tidak tahu Allah menilai kita seperti apa. Kita tidak tahu nasib kita nantinya seperti apa pada hari kita dibangkitkan kembali setelah kematian πŸ˜₯

Bebaskan belenggu itu… Bersihkan dari hati…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s