“Karena Dia Telah Ditakdirkan Mendampingiku…”

i-love-you-heart

Saya teringat saat dahulu saya sebelum menikah. Rasanya banyak sekali kriteria yang diinginkan pada yang nantinya bisa menjadi suami saya. Harus ini lah, harus itu lah… Seakan-akan saya adalah wanita yang punya kriteria-kriteria yang diinginkan para pria ๐Ÿ˜€ (tertawalah jika kau ingin tertawa)

Tidak hanya saya, pasti semua juga begitu. Sama saja dengan saya. (Tertawa lagi lah… ๐Ÿ˜€ )

Dahulu ikhwan kriteria saya dahulu adalah suami saya nanti harus orang yang saya bisa ajak diskusi setiap hari. wawasannya harus luas, dan dia haruslah orang yang senang belajar serta berusaha senantiasa untuk terus memperbaiki diri, terutama dalam menjemput cinta Allah. Setidaknya saya menginginkan kriteria itu sebagai pembeda dengan ikhwan lainnya yang tidak akan pernah bisa terlupakan. Hal itu karena saya adalah tipe wanita yang juga cukup unik, senang memikirkan banyak hal yang mungkin tidak orang lain pikirkan, senang berdiskusi untuk mencari kebenaran dan solusi, dan rasa ingin tahunya cukup tinggi pada segala hal. Kepo -_-”

Kriteria saya lainnya, yaaa sama lah dengan yang lain, ingin ikhwan yang akhlaknya baik, bisa melengkapi segala kekurangan saya, penyabar, lembut, dan humoris. Entahlah tapi saya juga terkadang menginginkan ikhwan yang juga serius, cool, dan tidak banyak bicara. Kontradiktif ya… ^^ Yaa makanya itu, yang penting cocok lah dengan saya secara karakter dan kriteria pertama haruslah ada pada sang ikhwan yang menjadi suami saya. Sebenarnya, kriteria saya tidak muluk-muluk kan… ^^

Seharusnya masa-masa ta’aruf adalah masa-masa yang harus dimanfaatkan untuk mengorek identitas calon pasangan hidup kita. Maka dari itu ta’aruf jangan terlalu cepatseperti yang dikatakan banyak orang agar nantinya ketika berumah tangga tidak terlalu kaget melihat dan menyaksikan sisi asli dari pasangan. Namun, jangan juga terlalu lama jika sudah sama-sama cocok karena khawatir menimbulkan fitnah. Misalnya, bagaimana jika bertemu di tengah jalan dengan si dia? #Eeeaaaa… ๐Ÿ˜€ *pengalaman*

Sebelum khitbah (baca lagi ya… “sebelum khitbah”) memang sebaiknya kita keluarkan semua kriteria yang kita inginkan. Jangan sampai khitbah dulu, baru banyak tanya sana-sini tentang karakter si dia setelah itu. Nanti bagaimana kalau tidak jadi menikah atau memutuskan hubungan setelah khitbah terjadi? Pasti ada pihak yang dikecewakan.

Namun, ketika setelah akad selesai, setelah sepasang laki-laki dan perempuan telah sah sebagai suami-istri, ini sudah berbeda masalahnya… ๐Ÿ™‚ Tidak lagi seperti masa ta’aruf yang penuh dengan tuntutan dan kriteria. Tidak lagi.

Setelah menikah, kita harus ubah mindset kita. Yang tadinya berpikir “dia harus seperti ini dan seperti itu”, justru setelah sah menjadi pasangan hidup kita, mindset-nya harus diubah menjadi “karena dia telah ditakdirkan mendampingi hidupku, maka aku harus begini dan harus begitu.” Ya, kita harus bisa dan mau memahami pasangan hidup kita. Kita harus mau menyesuaikan diri dengannya dengan segala kekurangan dan kelebihannya walaupun bukan maksudnya tidak ada usaha ke arah perbaikan. Ini berlaku juga buat diri sendiri. Maksud saya, jika diri kita ada kekurangan, bukan berarti kita jadi hanya menuntut pasangan untuk menyesuaikan kekurangan diri, tetapi seharusnya berusaha menjadi lebih baik. Jadi, mindsetย diri sendiri dengan pasangan berbeda pada satu kasus. Kita harus berubah menjadi lebih baik, di saat yang sama pasangan kita mau memahami kita. Begitu juga di saat pasangan kita mau berubah menjadi lebih baik, kita pun berusaha memahaminya. ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s