Mereka Tidak Butuh Itu

sahabat

Akhir-akhir ini saya merenungkan sesuatu. Saya selalu saja berpikir di mana pun, entah mengapa. Selalu saja saya mengingat kembali apa tujuan hidup saya, lalu bagaimana saya bisa mencapai tujuan itu, dan pada akhirnya saya selalu mencari apa kelemahan saya dalam mencapai tujuan tersebut.

Saya pun senang mengamati fenomena yang terjadi di sekitar saya. Saya pun teringat pada suatu nasihat.

Kita pasti memiliki banyak teman. Namun, pasti ada segelintir teman kita yang lebih dekat dari teman yang lain. Kita bisa membedakan mana teman kita yang care dengan kita dan mencintai kita dengan tulus karena interaksi yang sering dan adanya sikap saling memahami.

Namun, mungkin ada juga orang-orang yang tidak menyukai kita karena alasan tertentu. Kemudian, kita biasanya berusaha bagaimana caranya agar orang yang tidak menyukai kita itu bisa berubah sikap sehingga interaksi menjadi lebih nyaman. Bisa dengan meminta maaf, komunikasi, memberi hadiah, atau apa pun. Tidak bisa dimungkiri kita akan senantiasa berinteaksi dengan siapa pun deri kalangan manapun dan dengan karakter yang berbeda-beda.

Namun, adakalanya bisa saja di antara orang-orang yang pernah ada konflik dengan kita tidak berubah juga sikapnya, entah kenapa. Itu terjadi mungkin karena sulitnya saling memahami. Istilahnya itu, sekali tidak suka, maka akan terus tidak suka.

Benarlah apa kata pepatah. “Tak perlu bersikeras menjelaskan siapa dirimu karena orang yang mencintaimu tidak membutuhkan itu dan orang yang  membencimu tidak akan memercayai itu.” Sungguh indah kata-kata itu bagi saya. Banyak yang mengatakan bahwa kalimat itu adalah yang diucapkan Ali bin Abi Thalib, tetapi terakhir saya tau, ternyata bukan. Itu hanya pepatah Arab.

Apa pengaruhnya? Tentu kita akan lebih menerima segalanya dengan lapang dada, in syaa Allaah.

Kalau saya pribadi, saya selalu kuatkan diri saya dengan mengingat bahwa penilaian Allah itu lebih adil dan memang adil dibandingkan manusia yang tidak tau apa-apa.

Akan tetapi, sungguh mengerikan jika saya mengingat hari pembalasan kelak. Hari saat seluruh manusia dimintai pertanggungjawaban. Tidak sanggup saya membayangkan ketika seluruh manusia diadili di hadapan Tuhannya, Allah yang Mahateliti, Maha Mengetahui, dan Maha Adil.

Maaliki yaumid diin. (Penguasa/Pemilik Hari Pembalasan.)” terjemahan QS 1: 4

Setega-teganya orang beriman kepada orang yang telah menzhaliminya, saya yakin ia tidak akan tega melihat orang yang telah menzhaliminya itu merugi di akhirat. Namun, di sisi lain, memaafkan itu tidak mudah. Terkadang saya berpikir, apa jangan-jangan diri ini yang bersalah? Kita tidak tahu bagaimana penilaian Allah terhadap kita.

Kata Ustadz Hanan Attaki, tingkat memaafkan itu ada beberapa level. Ada yang sudah memaafkan di lisan, tetapi hatinya belum memaafkan. Ada yang hatinya sudah memaafkan, tetapi masih teringat-ingat masa lalu. Banyak sekali levelnya. Yang tertinggi itu ketika seseorang betul-betul memaafkan orang lain yang bersalah tanpa teringat kembali kesalahan orang itu.

Suami saya pun selalu mengingatkan saya tentang ciri-ciri orang bertakwa. Rasanya masih jauh 😥

Namun, dengan mengingat akhirat, semoga itu memotivasi kita untuk mencapai derajat takwa di hadapan-Nya, Pemilik Hari Pembalasan.

Advertisements

One thought on “Mereka Tidak Butuh Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s