Ini Soal Etika dan Adab!

Ada seorang kakak yang tidak terlalu paham tentang matematika karena dia tidak tahu-menahu tentang “ada atau tidaknya” kesepakatan mengenai makna dan cara membaca simbol X pada perkalian yang sangat terlihat dari komentarnya di Facebook. Kemudian, si kakak protes di media sosial, si kakak protes di depan publik menyebarluaskan hasil koreksi guru yang mengoreksi pekerjaan matematika adiknya. Hebohlah Facebook.

Ini hanyalah pendapat saya ya yang merupakan anak kandung dari seorang guru profesional di bidang matematika, bahwa saya terheran-heran dengan seorang manusia yang sudah tidak beradab lagi menyebarluaskan hasil koreksi seorang guru untuk mencari pembelaan publik yang padahal sang guru tersebut tidak salah sepenuhnya. Kesalahan beliau adalah beliau TIDAK TABAYYUN kepada guru si adiknya dan lebih memilih mencari pembelaan publik yang tentunya itu akan memancing emosi publik yang terdiri dari beragam kalangan, tidak jelas apakah mereka itu pakar matematika atau tidak, apakah mereka adalah orang yang berpendidikan atau tidak, apakah mereka itu adalah tipe pelajar yang senantiasa memerhatikan gurunya menerangkan selama masa sekolah atau justru dahulu mereka lebih senang mengobrol atau bercanda di kelas ketika gurunya menerangkan?

Ini soal ETIKA dan ADAB!

hormati-guru

Si kakak tidak terima jika pekerjaan adiknya disalahkan, tetapi selama saya sekolah sejak SD, lalu SMP, kemudian sampai saya sekolah di SMA Unggulan di Jakarta (SMAN 8 Jakarta), semua guru saya sepaham dengan guru dari si adiknya itu. Jadi, sang guru tersebut sudah benar jika saya merujuk kepada guru-guru saya selama saya sekolah.

Nah, ini lucu. Si kakak sudah seenaknya merendahkan sang guru dari si adiknya, padahal paham sang guru tersebut sudah sama dengan guru-guru matematika lainnya.

Apakah mungkin sang guru BELUM menjelaskan definisinya atau makna dari simbol X, tetapi sang guru SUDAH memberikan PR yang struktur kalimat soalnya menunjukkan dengan jelas maksud dan tujuan dari PR tersebut? Saya pikir, itu tidak mungkin ya… Hmm… atau kemungkinannya sangat kecil.

Di sini, yang salah siapa?

guru-penyuluh-hidup-kami

Ini tergantung toh… Kalau gurunya tidak menjelaskan terlebih dahulu makna simbol X kepada para muridnya, maka GURUNYA YANG SALAH. Entah mengapa, saya yakin tidak mungkin seorang guru memberikan PR yang belum dijelaskan sebelumnya. Itu aneh sekali. Jika sang guru sudah menjelaskan, maka SI ANAKLAH YANG SALAH. Salah sendiri kan selama gurunya menerangkan bisa saja si anak tidak memerhatikan, misalnya banyak ngobrol atau bercanda. Kalaupun si anak tidak mengobrol dan tidak bercanda selama gurunya menerangkan pelajaran, misalnya karena si anak hanya sekadar lupa, tetap saja sang guru tidak bisa disalahkan begitu saja.

Ini soal etika dan adab!

Kenapa saya katakan seperti itu? Saya ini pernah sekolah. Saya ini anak guru matematika. Saya ini sering dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi matematika. Bahkan sampai saya kuliah saya masih bertemu dengan kalkulus dan nilai saya A. Saya bisa memahami matematika karena saya mencintai matematika dan saya SELALU MEMERHATIKAN guru saya ketika beliau menernagkan. Saya akan sangat merasa sedih jika saya tidak bisa hadir dalam kelas matematika karena khawatir ketinggalan. Saya ingat betul materi perkalian dan materi membedakan posisi A X B dengan B X A itu sudah diajarkan sejak SD. Maka dari itu, saya sedih jika ada orang awam matematika menghina seorang guru.

Ini soal etika dan adab!

Terlebih lagi, ayah saya adalah guru matematika.

Tak lama kemudian, seorang profesor guru besar matematika turun tangan. Beliau mengatakan bahwa itu hanya soal kesepakatan. Dua-duanya benar. Soalnya kurang jelas.

Saya bingung. Masalahnya yang berpaham seperti guru itu bukan cuma satu guru. Guru-guru matematika yang lain juga berpaham seperti itu. Termasuk ayah saya.

Saya jadi penasaran, sebenarnya adakah kesepakatan di kalangan para ahli matematika terkait makna simbol X? Jika memang ada kesepakatan, seharusnya kita hargai dan hormati kesepakatan tersebut. Yang namanya ILMU PENGETAHUAN biasanya dan wajar-wajar saja ada KESEPAKATAN. Bagi saya, jika tidak ada kesepakatan sama sekali, itu BUKAN ilmu pengetahuan.

Kenapa? Kalau tidak ada kesepakatan yang bisa dihormati, maka nantinya bisa jadi akan ada orang seenaknya mendefinisikan segala hal dan akan banya orang yang sembarangan menafsirkan. Pasti dalam ilmu pengetahuan ada kesepakatan. Jika ada seseorang yang melanggar kesepakatan, ya berarti harus legowo menerima kesalahannya.

Ataukah masalah ini memang tidak pernah ada kesepakatan?

Ini harus jelas…

Kemudian, masalah ini makin heboh saja. Para profesor berkumpul membicarakan masalah ini di Facebook. Lalu, saya mendengar para profesor tersebut mengkritik pedas para guru SD, SMP, dan SMA. Ini saya gak tau ya apa memang seperti itu faktanya. Kata seseorang, para profesor mengkritik para guru seperti ini: “Para guru mengajarnya kayak robot. Mau aja nurut sama kurikulum. Kurikulumnya tidak memanusiakan manusia.”

So… salah siapa? Salah gurunya?

Jujur saja, saya sakit hati karena saya anak dari seorang guru. Saya merasa seperti ayah saya dihina-hina oleh sbanyak profesor. Ayah saya kalau mengajar itu bagus, tidak seperti kebanyakan guru. Ayah saya kalau mengajar selalu diawali dengan memahamkan konsep dan definisi, bahkan cara baca yang benar. Saya yakin ayah saya pasti tipe pelajar yang serius dalam memahami matematika, bukan tipe pelajar yang asal-asalan.

Apakah kita tidak menyadari bahwa para guru se-Indonesia ini pasti belajarnya dari guru mereka juga. Mereka para guru belajarnya pasti dari dosennya selama kuliah.

So… yang salah siapa?

Mereka saja belum tentu bisa membaca teks bahasa Inggris untuk memahami matematika. Hal ini mempersulit untuk mencari sumber rujukan tepercaya yang orisinil. Apalagi para guru di daerah terpencil dan di pedesaan.

Maksud saya begini loh, pasti zaman dahulu ada seorang ilmuwan yang menelurkan ilmu matematika pertama kali. Begitu pula makna simbol X. Pasti pernah ada yang pertama kali memaknai simbol X atau yang pertama kali mencetuskan sistem perkalian dan menurut saya ilmuwan tersebutlah yang paling berhak mendefinisikan perkalian.

Nah, kalau pada faktanya ternyata SEKARANG para pakar matematika TIDAK BERSEPAKAT, berarti terjadi gap atau sanad yang terputus dalam ilmu matematika yang menyebabkan ada bagiannya yang sudah tidak orisinil lagi.

Sungguh, ini membuat saya yang pada dasarnya mencintai matematika menjadi kecewa 😦

So… yang salah siapa? Gurunya?

Saya kurang setuju jika para profesor menghina para guru SD, SMP, dan SMA. Saya tidak setuju 😥 Seharusnya kan bapak dan ibu guru besar setiap universitas bertanggung jawab atas kurikulum yang menyesatkan para guru. Bukan guru-gurunya yang dihina. Saya sedih karena saya teringat ayah saya yang juga seorang guru.

Lupakah Anda wahai profesor yang saya hormati, siapa yang dahulu mengajarkan dan memberikan Anda ilmu matematika pertama kali sebelum Anda menjadi profesor seperti sekarang ini? 😥

Lupakah Anda wahai profesor yang saya hormati, siapa yang dahulu membuat Anda mencintai ilmu matematika pertama kali?

Apakah Anda begitu saja melupakan jasa-jasa mereka guru-guru Anda saat Anda sekolah di bangku SD, SMP, dan SMA?

 

Ya Allah, semoga kami diberikan ketawadhuan dan kemampuan untuk menghormati para guru kami yang sudah mendedikasikan dirinya untuk membimbing kita selama ini 😥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s