Hargai Ilmu Pengetahuan! (Mengenang Semasa Sekolah)

Saya tengok halaman Facebook. Sudah beberapa hari ini saya melihat foto itu berseliweran di Home Facebook. Namun, saya abaikan. Sepertinya tidak terlalu penting untuk dibaca, pikirku, paling juga isinya tentang hal yang konyol biasanya.

Namun, entah mengapa saya iseng mengintip isi kontennya karena kok makin banyak yang menge-share ya…

Ternyata, tak disangka itu terkait koreksi terhadap guru yang dianggap “salah” mengoreksi pekerjaan matematika muridnya.

Saya jadi penasaran salahnya di mana.

Makin diperhatikan makin saya bingung apa yang sebenarnya diprotes oleh para penghuni Facebook kepada sang guru? Tidak ada yang salah koreksi dari sang guru. Saya terheran-heran, lalu tiba-tiba saja saya teringat ayah saya yang seorang guru Matematika profesional. Saya tidak main-main mengatakan ayah saya ini profesional

Mari berkenalan sejenak dengan ayah saya. Ayah saya memang bukan profesor. Namun, materi atau bahan ajar dari Matematika tingkat SD hingga SMA, ayah saya sangat paham dan beliau begitu lugas dan jelas dalam menerangkan. Beliau berhasil membuat saya, anak kandungnya, hafal di luar kepala karena paham apa pun yang menjadi konsep dan definisi dalam pelajaran matematika. Saya pun dengan mudahnya mengutarakan apa itu “lingkaran”, apa bedanya antara “angka” dan “bilangan”, dan lain-lain. Jangan salah, Anda saat SMA pun belum tentu diajarkan oleh guru yang lulusan S2. Saya tidak berlebihan ya… Saya aja ya waktu SMA (SMA saya di SMAN 8 Jakarta) hanya diajarkan oleh guru-guru lulusan S1 Pendidikan Matematika dan saya pun senang diajarkan oleh mereka. Jangan pernah “meremehkan” pengalaman mereka mengajar yang lamanya sudah puluhan tahun dan mereka (guru-guru saya di SMA) berhasil atas izin Allah meluluskan murid-muridnya dengan nilai Matematika UAN 10.00 (tidak ada yang salah atau sempurna) sebanyak lebih dari 100 orang murid. Ayah saya saja telah berpengalaman mengajar Matematika selama lebih dari 20 tahun. Jangan meremehkan pengalaman mereka!

Saya sejak kecil sudah dijejali matematika oleh ayah saya. Ayah saya sangat filosofis terkadang. Apa aja sampai soal pemahaman ketuhanan, pakai analogi matematika. Terkadang, belum waktunya saya mengenal materi tertentu, saya sudah dikenalkan pada materi tersebut. Saya ingat betul ketika saya SMP saya sudah dikenalkan kepada materi “Limit” (yang seharusnya baru akan saya temui ketika SMA) dengan contoh yang sangat aplikatif dan menyenangkan sehingga membuat saya semakin mencintai matematika.

Saya mulai mencintai matematika justru ketika saya duduk di kelas 5 SD. Namun, bukan berarti saya sebelumnya tidak menyukai atau membenci matematika. Yaa… maksud saya baru sekadar menyukai dan tertarik. Baru benar-benar mencintai itu mulai kelas 5 SD. Mungkin karena saat saya kelas 5 SD sempat dipercaya satu-satunya mewakili SD saya untuk mengikuti Lomba Matematika. Cukup sulit loh soal-soalnya karena banyak soal yang di luar kurikulum. Soal-soal sulit itu ternyata (kata ayah saya) adalah materi untuk tingkat SMP, bukan SD. Wow… Alhamdulillaah saya bisa mengerjakannya walaupun saya sampai berkeringat karena sebelumnya saya sudah latihan dengan soal-soal Lomba Matematika tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana hasilnya? Nilai saya tertinggi saat itu jauh di atas yang peringkat 2. šŸ™‚

Eits… tapi ini baru Sesi/Tahap Tes Tertulis. Saya masih harus masuk ke Sesi Cerdas Cermat. Inilah momen yang membuat saya paling deg-degan. Di sini ada aturan mainnya dan harus punya strategi. Akhirnya, saya pun kalah di sesi ini hehe šŸ˜€ yang secara tertulis nilai saya tertinggi (di atas 1000) dan jauh di atas yang peringkat 2, eh ketika diadu face to face, saya jadi peringkat 2 karena saya terlalu berani menekan tombol saat babak rebutan yang menyebabkan nilai saya lebih banyak dikurangi daripada yang lain. Bagaimana pun, itu adalah pengalaman saya yang tak bisa saya lupakan begitu saja.

Saya duduk di bangku SMP. SMP saya adalah SMP tempat ayah saya bertugas, yakni SMPN 20 Jakarta. SMP tersebut termasuk SMP favorit di Jakarta dan sempat pernah menjadi SMP unggulan, tetapi sekarang tidak lagi. Saya merasa perlu menjelaskan ini agar tidak sedikit pun diremehkan oleh orang yang awam matematika. Namun, saya memilih sekolah di sana karena biaya dijamin murah karena saya sebagai anak guru.

Jadi anak guru itu beban. Saya merasa tidak boleh mempermalukan ayah saya sendiri di gedung tempat ayah saya bertugas. Ayah saya termasuk guru matematika yang cukup disegani oleh guru-guru se-DKI Jakarta. Ini juga yang memotivasi saya untuk berusaha agar bisa berprestasi di akademik. Saya yang dahulu saat SD masih belum serius belajar, ketika saya mulai masuk SMP saya bertekad untuk serius belajar. Sempat saling bersaing dan bertukar posisi ‘memperebutkan’ posisi juara kelas dan juara umum di sekolah dengan sahabat saya yang juga cerdas, Melita Yuniarti šŸ™‚

Bersama sahabat saya itu, saya berkali-kali berkesempatan mengikuti berbagai kompetisi akademik, terutama matematika dan IPA, sejak kelas I SMP sampai bahkan mendekati Ujian Nasional kami masih saja disibukkan dengan lomba-lomba. Kami, saya dan sahabat saya, lucunya sama-sama mencintai matematika dan IPA šŸ™‚ walaupun kami juga suka menggambar dan menulis. (Saya masuk Jurusan Arsitektur ITB karena saya suka menggambar ^^)

Terkait kasus di Facebook, saya berani berkomentar karena saya pun paham di mana kesalahan si anak dalam mengerjakan tugasnya dan saya juga dulu waktu kelas 3 SD juga sudah memperoleh materi tersebut (materi membedakan antara A x B dan B x A). Saya sangat menyukai matematika, maka saya berani berkomentar. Tidak hanya “sekadar” suka, tetapi saya ini diajarkan ayah saya langsung sehari-hari di rumah semua tentang matematika, mulai dari filosofinya sampai aplikasinya di dunia nyata. Masih gak percaya sama saya?

Saya bahkan pernah masuk ke tahap akhir Kompetisi Matematika dengan menyandang predikat “Finalis” pada tingkat Provinsi yang pada tahap sebelumnya, saya berhasil memperoleh peringkat ke-6 dari seluruh peserta SMP Negeri di Provinsi DKI Jakarta. Soal-soal Matematika pada kompetisi ini jangan dianggap mudah. Buktinya ketika diumumkan nilai para peserta mulai dari tingkat kecamatan tidak ada yang nilainya betul-betul bagus. Memperoleh nilai 7 saja sudah beruntung. Saya pun sempat berkali-kali memperoleh peringkat 1 pada Try Out Ujian Akhir Semester Matematika mengalahkan SMP Unggulan yang letaknya tak jauh dari sekolah saya.

finalis

 

Saya pun pernah memperoleh Juara 2 Kompetisi IPA SMP tingkat Provinsi saat kelas II dan memperoleh Juara 5-nya pada saat saya kelas III (mendekati UN) setelah berhasil lolos tahap-tahap sebelumnya.

juara 2

juara 5

Heu… terserah lah mau dianggap pamer atau apa, saya juga tidak akan mengeshare ke Facebook ^^ Ini hanya sebagai bukti yang semoga saja pendapat saya bisa diterima terkait materi dasar Matematika dan IPA walaupun saya kuliahnya di jurusan Arsitektur.

Saat SMA, persaingan begitu ketatnya dalam akademik karena kali ini saya masuk SMA Negeri Unggulan Peringkat 1 di DKI Jakarta, yakni SMAN 8 Jakarta. Di sana pun dibiasakan mengerjakan soal-soal sulit seperti soal-soal olimpiade. Jadi jangan heran terkadang satu kelas saja sulit memperoleh nilai 75. Walaupun begitu, alhamdulillaah saya pernah memperoleh nilai akhir di rapor 96 untuk Matematika dan sisannya pun hampir semua di atas 80. Hmm… pernah sih sejatuh-jatuhnya saya, saya pernah mendapat nilai akhir semester 76 pada saat kelas XI (II SMA) ^^a Saya ini orangnya kalau belajar mood-mood-an. Saat nilai saya jatuh, pasti saat itu ada kendala. Namun, pada saat UAN nilai matematika saya 10.00 (benar semua) šŸ˜€

Zaman SMA bisa dikatakan masa-masa sulit bagi saya. Itu karena rumah saya jauh sekali dari gedung SMA. Perjalanan bisa sampai 2 jam kalau macet. Yah namanya juga Jakarta hehe… Sering kecapean di jalan. Maka, saya bertekad untuk belajar serius saat kuliah. ^^ Namun, sayangnya justru saya ngedrop ketika mulai masuk tingkat 2 semester 2 jurusan Arsitektur. Fyuuh…

Saya masih sempat bertemu dengan Matematika di TPB (tingkat 1) alias Kalkulus tipe A. Wah saya rindu Kalkulus. Saya semakin mencintai Kalkulus saat TPB walaupun terasa berat saya menjalani kuliah dengan memanaj waktu dengan 4 unit (UKM) yang masih aktif saya terlibat di dalamnya. Saya rela begadang cuma untuk mengerjakan tugas Kalkulus yang cuma 1 nomor tapi dibuat sulit oleh dosen saya. Alhamdulillaah perjuangan saya menyelesaikan 1 nomor soal tugas berhasil memperoleh jawaban yang benar di saat teman-teman saya malas mengerjakannya šŸ˜€

Dua kali saya memperoleh nilai 100 pada ujian Kalkulus TPB. UTS 1 semester ganjil saya memperoleh 98 (salah 1 karena tidak teliti), tertinggi se-SAPPK yang jumlah mahasiswanya tidak sampai 200 orang. Yaa… kalau anak MIPA dan STEI pasti lebih banyak yang di atas 95 karena anak MIPA biasanya banyak yang mantan juara olimpiade, sedangkan STEI passing gradenya tinggi, dan kedua fakultas tersebut jumlah mahasiswanya 2 kali lipat jumlah mahasiswa SAPPK. Nilai akhir Kalkulus saya di dua semester, keduanya adalah A. Okeh, cukup.

Maka, saya berani berkomentar terkait foto yang tersebar di Facebook itu dan saya katakan, sang guru sudah benar pada kasus facebook. Salah benar di sini bukanlah soal bagaimana sang guru mengajarkan loh… Tetapi terkait beliau menyalahkan pekerjaan si anak. Beliau SUDAH BENAR. Emang dasarnya si kakak dari si anak aja merasa dirinya pantas protes dan menyebarkan protesnya di Facebook, padahal si kakak bukan orang yang paham Matematika. Jadinya kan malah mempermalukan dirinya sendiri saja itu… Saya hanya kasihan saja kepada gurunya. Beliau diprotes sana-sini, padahal beliau SUDAH BENAR. Saya sedih karena saya teringat pada sosok ayah saya. Ayah saya itu guru matematika favorit saya. Beliau sangat profesional dalam mengajar. Sampai detik ini pun ayah saya hobinya membuat soal matematika aja terus… Bahkan beliau sampai begadang.

Saya tidak suka dengan orang-orang penghuni Facebook yang mudah sekali berkomentar banyak tentang Matematika padahal mereka TIDAK PAHAM matematika. šŸ˜„ Itu kan tidak beradab. Padahal Islam itu adalah agama yang paling menghargai ilmu pengetahuan. Sedih aja… Kok ilmu pengetahuan jadi direndahkan oleh orang yang TIDAK berilmu pengetahuan. Mereka itu susah payah sekolah sejak SD sampai lulus kuliah dan kemudian mengajar hingga puluhan tahun, seperti ayah saya, maka JANGAN meremehkan ilmu pengetahuan kalau tidak paham.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s