Mereka yang Tawadhu’ dan Cinta kepada Rabbnya

see-lonely-sad-pain

Aku tertegun ketika membaca dan mendengar kisah mereka ini. Pada bagian puncak terberat menurut mereka, yakni ketika mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan ungkapan yang sangat merendah di hadapan-Nya.

Mereka adalah para Nabi Allah. Siapa yang meragukan keshalihan mereka? Tapi mereka sungguh tawadhu’ dan merendah diri di hadapan Tuhannya. Ya mungkin memang benar salah satu ciri orang sholih adalah betapa pun amalannya sangat banyak, betapa pun kecilnya kesalahan mereka, mereka tidak pernah merasa ujub dan sombong. Tanda bukti keyakinannya yang kuat akan keperkasaan, kekuasaan, dan kekuatan Allah yang tidak ada tandingannya.

Nabi Adam pernah mengadu di saat ia telah melakukan kesalahan memakan buah yang terlarang, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan (tidak) melimpahkan rahmat kepada kami, niscaya kami tergolong orang-orang yang merugi.” (terjemahan QS Al-A’raf: 23)

Berikut tadabbur Ustadz Dr. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag., dalam bukunya, Apakah Cukup dengan Khusyuk?, tentang isi ayat di atas:

“… Adam telah tergoda sehingga melanggar larangan-Nya yang kemudian menjadi pelajaran bagi anak cucunya bagaimana cara bertaubat. Ternyata, taubat Nabi Adam hanya mengungkapkan pengakuan bahwa dirinya telah berdosa. Pengakuan tersebut menggunakan kalimat yang menggambarkan penyesalan diri secara mendalam dan rasa takut akan akibatnya. Karena penyesalannya yang sangat mendalam dan rasa takutnya terhadap akibat yang mengancamnya, Adam tidak mampu mengatakan keinginannya kepada Allah swt, yaitu mendapatkan ampunan. Seakan-akan, setiap kali beliau berniat ingin mengatakan keinginannya, yang terbayang adalah perbuatan dan akibatnya sehingga lisannya hanya mampu mengungkapkan pengakuan dosa. Pengakuan tersebut tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan permohonan…”

Lalu, begitu pula Nabi Yunus. Saat Nabi Yunus menghindar dan menyerah dari pekerjaan dakwahnya, beliau mengalami musibah sampai-sampai pada akhirnya ditelan oleh ikan di lautan hingga beberapa hari. Sama seperti Nabi Adam, Nabi Yunus hanya mengungkapkan, “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minazh-zhaalimiin. (Tiada ilaah yang berhak disembah selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim/berbuat aniaya.)”

Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya, Lapis-Lapis Keberkahan, mengungkapkan bahwa ketidakberdayaan Nabi Yunus saat itu justru berbuah banyak pertolongan berikutnya. Padahal, Nabi Yunus tidak meminta apa-apa dalam teks kalimat yang beliau ucapkan. Itulah sebenarnya adab terbaik dalam memohon pertolongan Allah. Cukup dengan menunjukkan dan merasa diri begitu lemah di hadapan-Nya. Merasa diri zhalim. Pengakuan itulah yang Allah sukai dan Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Masih banyak kisah yang lain, yakni dari para nabi, yang begitu mengesankan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s