Rahasia Surat Al-Qadr (Ditinjau dari Bahasa)

moon-3-night-sky

Ini adalah resume dari kajian Al-Quran bersama Ustadz Saiful Islam Mubarak di Masjid Al-Irsyad, Kota Baru Parahyangan.

 

97:1

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr.”

Huruf nun pada kata “anzalnaahu” dibaca panjang walaupun tanpa alif. Ini mengingatkan kita, walupun itu menjelaskan dhamir nahnu sebagai subyek/pelaku yang artinya kami (jamak), tapi Allah itu tunggal. Memang, Allah selalu menggunakan “Kami” pada ayat tentang kekuasaan. Berbeda pada ayat tentang ketuhanan yang di dalamnya mengandung ketauhidan, pasti Allah menggunakan kata “Aku”. Kemudian, dilanjutkan dengan dhamir huwa sebagai obyek (tertulis hu) yang artinya dia/-nya (tunggal maskulin/mudzakkar).

Apa maksudnya? Ini maksudnya Allah pernah menurunkan Al-Quran secara keseluruhan pada lailatul qadr. “Anzalnaahu” merupakan fi’il madhi yang artinya kata kerja lampau. Lain halnya seandainya yang dimaksud pada ayat 1 ini bukanlah Al-Quran yang secara keseluruhan, melainkan berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw, pastilah dhamir setelah kata “anzalnaa-” bukan huwa (tertulis hu), melainkan dhamir hiya (tertulis haa) yang artinya dia perempuan karena ayat Al-Quran itu muannats (feminin).

 

97:2
“Dan tahukah kamu apa Lailatul Qadr itu?”
97:3
“.Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan”
97:4
“.Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk segala urusan”
Kapankah Lailatul Qadr itu? Ada banyak pandangan terkait ini.
Ada yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr itu hanya sekali saja pada saat bumi dan langit belum diciptakan karena memang bentuk kata “anzalnaahu” ini adalah lampau (fi’il madhi). Nah loh… berarti kita selama ini salah dong ya mengejar-ngejar Lailatul Qadr tiap Ramadhan… ^^
Pernah gak sih kita bertanya-tanya, “Kok aneh ya, katanya Al-Quran itu turun pada tanggal 17 Ramadhan… Bener gak sih? Bukannya Al-Quran itu turun pada saat Lailatul Qadr ya? Kok kontradiktif ya? Berarti harusnya Lailatul Qadr itu bukan di sepuluh hari terakhir, tapi justru di tanggal 17 Ramadhan. Atau jangan-jangan selama ini salah, harusnya Al-Quran itu turunnya pada saat sepuluh hari terakhir Ramadhan?” ^^; Saya sih dulu waktu masih SD atau SMP pernah mempertanyakan itu… Alhamdulillaah terjawab setelah saya lulus kuliah (haha lama juga ya dapet jawabannya) saat Ustadz Saiful Islam Mubarak menjelaskannya dalam kajian tadabbur Surat Al-Qadr ini ^_^
Perhatikan pada ayat ke-4. Bandingkan kata “anzalnaahu” yang berasal dari kata “anzala” dengan kata “tanazzalu” pada ayat ke-4 ini.
Coba tebak kata “tanazzalu” itu wazannya apa??? Hehehe…
Menurut saya, itu pertanyaan sulit. Pasti bingung kan? Cuma orang-orang yang paham Al-Quran saja yang tahu itu.
Ini nih bocorannya…. Ternyata, “tanazzalu” itu berada pada bab wazan “tafa’-‘ala–yatafa’-‘alu–tafa’-‘ulan”–dst… In sya Allah semua yang pernah belajar bahasa Arab sampai bab Tsulatsi Mazid pasti tau lah ya..
Pertanyaan selanjutnya: “tanazzalu” itu fi’il madhi atau fi’il mudhari’? Alasannya apa?
Ini yang sulit. Coba tebak apa? Pasti bingung kan kalau gak ada guru Al-Quran yang ngasih tau…
Ternyata, “tanazzalu” itu merupakan mauzun dari “yatafa’-‘alu” (dengan huruf ‘ain ganda maksudnya). Loh, ke mana dong huruf ya’-nya yang di awal kata tersebut atau huruf ta’ yang menggantikan huruf ya’ karena subyeknya hiya ?
Jawabannya: huruf ya’/ta’-nya hilang ^^a
Inilah keajaiban Al-Quran… ^_^
Mengapa “tanazzalu” masuknya sebagai fi’il mudhari’? Itu karena harakat huruf lam pada kata “tanazzalu” adalah dhommah, bukan fathah. Tidak ada fi’il madhi yang huruf ‘lam fi’ilnya dalam setiap wazan berharakat dhommah. Ini sih kata ustadz Saiful Islam ya… Kalau saya salah dengar, mohon dikoreksi (saya sambil recheck ke depannya).
Menarik, bukan? Jadi sekalian belajar tata bahasa Arab ya… ^^ Bagi saya yang pemula, ini sangat mengasyikkan.
Lalu, apa maknanya?
Ini membuktikan bahwa Lailatul Qadr itu tidak hanya sekali Allah berikan. Kata “tanazzalu” merupakan fi’il mudhari’ yang artinya turun dengan cepat hingga pada saat ini atau hingga masa yang akan datang. Namun, karena konteksnya di sini adalah harus sinkron dengan keterangan dari hadits-haidts yang ada, maka maksud ayat 4 dan ayat 5 adalah malaikat turun dengan cepat hingga terbit fajar secara berkala tiap tahun pada saat Ramadhan.
Siip… Begitulah penjelasannya…
Kesimpulannya:
Al-Quran itu diturunkan oleh Allah 2x masa:
  1. Saat bumi dan langit belum diciptakan dan tercatat pada Lauhul Mahfuzh secara keseluruhan, tidak berangsur-angsur. Saat ini tentu Rasulullah saw belum dilahirkan.
  2. Saat Rasulullah sudah ada di muka bumi secara berangsur-angsur. Apa buktinya berangsur-angsur? Buktinya selain dari keterangan hadits-hadits yang ada, juga langsung terjawab oleh Al-Quran pada Ali Imran ayat 3. Di sana ada kata “nazzala”. Ini berbeda maknanya dengan “anzala”. Makna “nazzala” adalah turun dengan lebih berat/berangsur-angsur.

 

Sekian… Wallaahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s