Wanted!! Pemimpin yang Dirindukan Ummat

leader_blue_green_medium

Di tengah carut-marut perpolitikan di Indonesia, banyak yang mulai putus asa dan apatis terhadap isu-isu politik di Indonesia. Mereka mengatakan sistem politik di Indonesia ini sudah bobrok. Banyak terjadi politik uang untuk mengambil hati para rakyat kecil agar mereka bersedia memilih partai atau calon legislatif yang melancarkan politik uang tersebut. Belum lagi, ketika para calon legislatif tersebut duduk di kantor-kantor parlemen, yang mereka lakukan belum tentu menyalurkan aspirasi rakyatnya, melainkan justru membuat undang-undang yang menguntungkan partainya atau kepentingannya.

Selain itu, gaya kepemimpinan para pemimpin di Indonesia juga tidak cukup memuaskan rakyatnya. Para pemimpin justru banyak tertangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) karena telah mencuri uang negara—yang sejatinya dari rakyat—yang digunakan untuk kepentingan pribadinya. Mereka yang tertangkap melakukan tindak korupsi dan penyuapan itu berarti telah mengkhianati rakyatnya dengan hidup bermewah-mewahan dari uang rakyat, sedangkan rakyatnya hidup susah. Apa akar masalah yang sebenarnya?

Ketika masa-masa kampanye sebelum dilaksanakannya pemilihan umum, foto-foto mereka memenuhi seluruh wilayah di Indonesia. Namun, nyatanya poster-poster yang terpampang foto-foto mereka itu tidak cukup memberikan informasi mengenai kapabilitas mereka agar bisa dipilih sebagai pemimpin atau wakil rakyat. Lagi pula, banyak dari mereka memang dasarnya tidak cukup dikenal memiliki track record yang bagus dalam mengatur hajat hidup orang banyak, tetapi mereka berani mencalonkan diri sebagai calon wakil rakyat atau calon pemimpin. Ini karena tidak ada standar yang baik dalam proses penyeleksiannya.

Indonesia ini merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alamnya. Tidak heran, Indonesia pernah dijajah hingga beratus-ratus tahun oleh negara asing. Saat itu, memang belum ada Indonesia sehingga belum ada sosok pemimpin yang dapat memimpin kehidupan negara ini sehingga aman dan sejahtera. Wilayah yang disebut sebagai Indonesia saat itu masih terpecah-pecah berupa kerajaan/kesultanan pada daerah masing-masing, sedangkan kekuatan asing yang datang menjajah sangat besar. Namun, apakah sekarang Indonesia sudah tidak dijajah oleh negara asing? Penjajahan secara fisik memang tidak tampak, namun pada hakikatnya Indonesia  masih dijajah oleh kepentingan asing dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Banyak aset negara yang berharga dijual kepada pihak asing. Undang-undang pun banyak dibuat yang dapat menguntungkan pihak asing yang sejatinya merugikan rakyat Indonesia sendiri. Masuk dan mengakarnya sekularisme dan liberalisme pada setiap lini kehidupan juga merupakan dampak/bukti adanya pengaruh asing dan arus globalisasi, bahkan beberapa orang sudah menjadikannya agama baru mereka.

Sekularisme dan liberalisme bukanlah budaya Indonesia. Sekularisme dan liberalisme itu berasal dari Barat (Syed Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme). Kuatnya arus globalisasi membuat Indonesia ikut-ikutan menerapkan sistem kehidupan dan kenegaraan yang sekuler dan liberal. Selain itu, orang-orang Indonesia zaman sekarang pun sudah banyak yang termakan isu yang mengatakan bahwa arus sekularisasi dan liberalisasi ini adalah gaya hidup yang modern. Kata “modern” ini seperti mantra sihir yang menampakkan efek baik, padahal hakikatnya merusak moral bangsa Indonesia. (Jurnal Islamia: Menggali Identitas Politik Islam)

Karena arus sekularisasi, pendidikan sudah tidak sesuai dengan poin pertama dari tujuan asalnya, yakni meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik (UU No. 20 Tahun 2003). Hukum pun ikut terkena dampaknya. Susah payah para pejuang dahulu menyusun Piagam Jakarta yang di sana terjadi kesepakatan antara para wakil elemen masyarakat yang berbeda-beda ideologi/agama sehingga syariat Islam dapat diterapkan bagi para pemeluknya, namun pada akhirnya secara pat-gulipat semua pasal yang digunakan untuk menegakkan hukum Islam dihapus begitu saja (Piagam Jakarta, Endang Saifuddin Anshari). Padahal, dalam Islam, hukum tidak hanya wajib ditegakkan pada tataran keluarga saja, tetapi juga negara. Maka dari itu, jika hukum Islam tidak ditegakkan pada tataran negara, berarti itu sama saja pembuat undang-undang tidak memberi kebebasan para warga muslim menjalankan agamanya sepenuhnya dan itu bertentangan dengan Pasal 29 UUD 1945. Ini karena paham sekularisme sudah mengakar di setiap lini kehidupan bangsa Indonesia yang sejatinya mereka—mayoritas—beragama Islam dan kita semua sudah paham bahwa sekularisme itu bertentangan dengan Islam.

Islam merupakan agama dari hampir 90% penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2010). Maka dari itu, akhlak islami tidak bertentangan dengan bangsa Indonesia. Apalagi berdasarkan fakta sejarah, kemerdekaan Indonesia ini tidak lepas dari perjuangan orang-orang islamis melawan penjajah. Seperti yang dikutip oleh Hamid Fahmy Zarkasyi pada jurnal Islamia tentang politik, Snouck Hurgronje menegaskan bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai doktrin agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik (Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda). Hizbullah yang merupakan bakal TKR yang sekarang telah menjadi TNI saja dahulu terdiri dari para santri yang berasal dari pesantren-pesantren yang tersebar di Jawa dan Sumatera serta sebagian kecil dari luar Jawa dan Sumatera. Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, dan Sultan Hasanuddin yang berjuang zaman dahulu pun menjadi bukti bahwa Islam sangat menentang para penjajah. Belum lagi adanya perjuangan tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang sempat tergabung dalam JIB (Jong Islamieten Bond) melawan penjajah dan mengusahakan kemerdekaan Indonesia, seperti: Kasman Singodimdjo, Moh. Natsir, Buya Hamka, Moh. Roem, Wahid Hasyim, dan juga terlibatnya para kiyai pesantren juga bukti bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya Indonesia, bahkan paling terdepan dalam melawan penjajah (Biografi—Tujuh Puluh Tahun—Kasman Singodimedjo: Hidup Itu Berjuang).

Indonesia ke depannya membutuhkan pemimpin yang memiliki karakter tertentu yang berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ini yang akan menjadi tugas besar para pendidik Indonesia untuk menyiapkan generasi yang akan memunculkan calon-calon pemimpin yang berkualitas. Solusinya adalah kembali kepada Islam yang sejak awal sudah menjadi napas perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

Untuk menggali karakter pemimpin yang islami, kita bisa telaah pendapat beberapa ulama yang sudah tentu telah mereka kaji dari sumber utama, yakni Al-Quran dan As-Sunnah,  yaitu Al-Farabi, Al-Baqillani, dan Al-Mawardi, yang saya ambil dari Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia tentang Menggali Identitas Politik Islam. Selain itu, saya juga akan mengambil ibrah dari karakter kepemimpinan Nabi Muhammad saw yang didapatkan dari suatu seminar kepemimpinan oleh Bachtiar Nasir, Lc., M.M., serta kisah Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., dan Dzul Qarnain tentang karakter kepemimpinan mereka berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Fikih Tamkin: Panduan Meraih Kemenangan dan Kejayaan Islam.

Al-Farabi mengatakan bahwa seorang pemimpin Islam itu haruslah memiliki sifat-sifat tertentu yang telah melekat dalam dirinya. Sifat-sifat itu adalah sehat dan tidak cacat fisiknya, mudah memahami segala persoalan, memiliki ingatan yang kuat, cerdas, mudah menyampaikan pesan dengan baik, cinta ilmu pengetahuan, jujur, berjiwa besar, terhormat karena tidak mudah tergoda dengan kenikmatan duniawi, adil, dan pemberani. Namun, banyak yang mengakui bahwa kriteria tersebut terlalu sulit dijumpai. Oleh karena itu, Al-Farabi mengerucutkan kriteria seorang pemimpin menjadi enam kriteria, namun enam kriteria tersebut harus telah ada pada proses dari masa kanak-kanaknya menuju kedewasaan seorang calon pemimpin. Enam kriteria tersebut adalah bijaksana, pandai menjaga syariat, cerdas dalam mengambil kesimpulan, tepat dalam mengambil keputusan, mampu menstimulasi masyarakat untuk bergerak, dan berbadan sehat sehingga ia haruslah mampu terjun ke medan perang. (Al-Farabi, Ara’ ahl-Madinah al-Fadhilah)

Di sisi lain, Al-Baqillani pun memiliki kriteria sendiri mengenai karakter seorang pemimpin Islam. Ada dua karakter menurut Al-Baqillani yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin Islam keseluruhan (global). Pertama, ia harus berilmu yang setingkat Qadi’. Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki ilmu peperangan, ilmu manajemen, dan ilmu administrasi. Kedua, ia harus memiliki keberanian dan ketahanan emosi untuk menegakkan hukum dan demi berjalannya keadilan di seluruh aspek. (Al-Baqillani, at-Tamhid, hlm. 471-473)

Al-Mawardi dalam bukunya, al-Ahkam as-Sulthaniyyah wa al-Wilayat ad-Diniyyah, menyebutkan bahwa seorang pemimpin harus memenuhi tujuh syarat. Syarat-syarat itu adalah adil, berilmu pengetahuan yang memadai untuk berijtihad, sehat panca inderanya, utuh anggota badannya, berwawasan luas, dan memiliki keberanian yang memadai.

Ada baiknya kita juga meneladani secara spesifik dari kisah para nabi. Pada suatu seminar kepemimpinan, Bachtiar Nasir, Lc., M.M. memaparkan banyak hal tentang jiwa kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Betapa pentingnya kita menggali gaya kepemimpinan Nabi Muhammad sampai orang yang tidak seideologi saja memuji/mengakui kehebatan Nabi Muhammad saw. Apalagi kita yang jelas muslim sudah seharusnya meneladani beliau. Michael H. Art, seorang profesor bidang astronomi, fisika, dan sejarah sains, berujar dalam bukunya, The 100: A Ranking of The Most Infuental Persons in History, “Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama.” Nabi Muhammad pun terbukti sebagai pemimpin besar sepanjang masa. Jules Masserman, seorang psikoanalis, mengatakan dalam majalah Time, “Orang-orang seperti Gandhi dan Confucius di satu pihak dan Alexander, Caesar, dan Hitler di pihak lain, adalah pemimpin yang memenuhi fungsi yang kedua atau mungkin yang ketiga. Yesus dan Buddha memenuhi fungsi yang ketiga. Mungkin pemimpin yang terbesar sepanjang waktu adalah Muhammad yang mengkombinasikan ketiga fungsi. Untuk kriteria yang sama, Musa menduduki tempat kedua.”

Sudah tentu semua kriteria pemimpin yang dianggap baik ada pada Nabi Muhammad. Apa kuncinya? Nabi Muhammad adalah hamba Allah yang paling taat. Beliau menyerukan tauhid dan melarang segala bentuk kekufuran. Kita pun seharusnya meyakini janji Allah pada Surat An-Nur ayat 55 yang terjemahannya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fask.”

Nabi Daud a.s. menguatkan kerajaannya dengan tasbih, dzikir, dan ketaatan, ia senang berdzikir tiap pagi dan petang (QS Shad: 18-20). Apa yang terjadi di Indonesia justru sudah jarang pemimpin yang senang berdzikir seperti itu. Nabi Daud juga sering bertaubat dan ber-istighfar tanda keshalihannya. Keutamaannya dalam beribadah pun pernah dipaparkan oleh Rasulullah saw seperti sabdanya riwayat Imam Muslim, kitab puasa, “Sesunggunya puasa yang paling Allah cinta adalah puasa Daud, dan shalat yang paling Allah cintai adalah shalatnya Daud. Dia tidur separuh malam, bangun untuk shalat sepertiganya, tidur lagi seperenamnya. Dia puasa sehari dan berbuka sehari.” Bisa disimpulkan bahwa Nabi Daud adalah hamba Allah yang jelas bertakwa dan rajin beribadah yang mahdhah. Allah pun memberikannya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan (QS Shad: 20). Bijaksana di sini maksudnya adalah diilhamkan kepadanya cara indah dalam menyelesaikan masalah yang rumit. Pernah suatu ketika Nabi Daud bertaubat karena melakukan kekeliruan, yakni sempat menghukumi seseorang berbuat lalim dengan lisannya hanya dari hasil mendengar pengaduan orang lain, tanpa mendengarkan pembelaan orang yang telah dikatakan lalim itu (QS Shad: 21-24). Ketika Nabi Daud menyadari kekeliruannya, Nabi Daud langsung bertaubat. Apa yang terjadi saat ini? Para pemimpin sekarang bahkan belum tentu terpikirkan untuk bertaubat dari kesalahan yang lebih besar dari itu. (Ali Muhammad Ash-Shalabi, Fikih Tamkin: Panduan Meraih Kemenangan dan Kejayaan Islam)

Nabi Daud a.s. dikaruniai oleh Allah banyak anak dan salah satu anaknya telah diistimewakan Allah, yakni Nabi Sulaiman a.s. (QS Shad: 30). Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, Fikih Tamkin, menjelaskan karakter-karakter kepemipinan Nabi Sulaiman a.s., di antara yang patut diperhatikan adalah adil, disiplin, tawadhu’, dan tidak ghurur (teperdaya). Semua karakter tersebut muncul dari keimanan (ketauhidan) Nabi Sulaiman yang kuat dan ketakwaannya kepada Allah. Bahkan, ketika sampai padanya kabar tentang orang-orang yang masih musyrik, Nabi Sulaiman segera dengan penuh semangat untuk mendakwahkan mereka agar mau bertauhd kepada Allah melalui pengiriman surat. Keadilan dan kedisiplinan Nabi Sulaiman a.s. terlihat saat burung hud-hud sebagai bagian dari tentaranya sempat hilang. Nabi Sulaiman dengan tegas akan menghukum burung tentaranya itu jika ketidakberadaannya tidak beralasan yang syar’i. Ketika burung yang dicari itu datang, Nabi Sulaiman tidak marah dan justru mau mendengarkan kabar terbaru dari burung tersebut. Dari sini, Nabi Sulaiman dapat diketahui bahwa beliau sebagai pemimpin memiliki program pengontrolan para tentara dan pegawainya. Nabi Sulaiman pun tidak ragu untuk mengambil hikmah dari perkataan ratu semut yang didengarnya. Ini juga adalah bukti ketawadhuan Nabi Sulaiman. Inti dari perkataan ratu semut itu adalah bahwa ratu semut sebagai pemimpin semut memerintahkan para semut untuk segera mengamankan diri tanpa lebih dahulu sang ratu semut  memikirkan dirinya sendiri. Ini berbeda dengan para pemimpin saat ini yang justru lebih dahulu memikirkan kepentingan pribadinya daripada kepentingan rakyatnya. (Tafsir QS An-Naml: 18-28)

Dzul Qarnain dijelaskan dalam Al-Quran adalah sosok yang memilki kekuasaan yang juga shalih dan tunduk kepada Tuhannya. Keimanannya kepada Allah dan Hari Akhir begitu kokoh. Ia pun tidak tergoda dengan kesenangan duniawi. Pemimpin seperti ini sungguh dicari-cari. Dzul Qarnain senantiasa berkelana di muka bumi melakukan penaklukan-penaklukan untuk mengajak manusia menyembah Allah dan ia juga senantiasa mendamaikan antarmanusia. Kekuasaannya itu tidak membuatnya sombong, ia justru mengingat Tuhannya seperti pada Surat Al-Kahfi ayat 98, “Dzul Qarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku.’ “ Hal yang menonjol pada Dzul Qarnain adalah kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah. Di saat ada sekelompok orang yang meminta pertolongan kepadanya, tetapi mereka termasuk orang-orang yang malas, maka Dzul Qarnain mendidik mereka dengan kebijaksanaannya dan mengatakan, seperti yang terdapat dalam QS Al-Kahfi ayat 95, “… maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” Akhirnya semua bekerja. Dari sana terlihat bahwa Dzul Qarnain memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan besar itu, yakni ilmu arsitektur, ilmu manajemen, wawasan tentang sumber daya alam dan karakter kimiawinya, dan kegiatan berkelananya pun membuktikan ia memiliki wawasan tentang geografi (QS Al-Kahfi: 95-96). Keadilannya pun tidak diragukan. Dia akan bersikap keras kepada siapa pun yang berbuat zhalim, tetapi sebaliknya orang-orang mukmin akan diperlakukannya dengan penuh cinta (QS Al-Kahfi: 87-88). Ini juga sebagai pendidikan bagi rakyatnya agar senantiasa termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan dan menjauhi sikap zhalim dan kekafiran.

Dengan menggali informasi tentang karakter-karakter pemimpin islami, saya pun berharap ke depannya di tahun 2039 Indonesia dapat memunculkan sosok-sosok pemimpin yang memiliki karakter seperti karakter para nabi dan orang shalih lainnya yang pernah memimpin Islam kepada kejayaan. Melihat pada konteks Indonesia, pemimpin Indonesia haruslah yang tauhidnya kokoh. Keimanannya kepada Allah dan Hari Akhir tidak diragukan lagi karena misi para pemimpin Islam yang pernah sukses tidak pernah lepas dari dakwah tauhid. Dengan begitu, para pemimpin Indonesia pun nantinya juga akan berani mencegah segala bentuk kekufuran dan tidak takut akan pengaruh asing sehingga dapat memunculkan identitas asli Indonesia yang mayoritas penduduknya beragma Islam. Ini karena rasa takutnya hanya kepada Allah, seperti ungkapan Sjafruddin Prawiranegara—yang pernah menggantikan kepemimpinan Soekarno di keadaan Indonesia yang terdesak—dalam bukunya yang berjudul Lebih Takut kepada Allah. Tidak hanya pemberani, tetapi juga sikap adil, amanah, jujur, tawadhu’, dan akhlak mulia lainnya akan muncul dari ketauhidan. Ketakwaan pun berasal dari sikap tauhid itu. Ini sesuai dengan pendapat para ulama yang telah disebutkan di atas.

Ilmu ternyata begitu penting dalam kepemimpinan. Maka wajar para ulama mengharuskan seorang pemimpin itu berilmu dengan ilmu yang cukup dan berwawasan luas, termasuk tentang arsitektur/perencanaan kota, ekonomi, administrasi, dan lain-lain. Seorang pemimpin hendaknya memahami ilmu politik dan strategi perang karena ini yang pasti ada di setiap pemimpin kaum muslimin. Ilmu manajemen juga diperlukan untuk mengatur segala urusan rakyat. Maka dari itu, untuk memahami semua ilmu tersebut dibutuhkan kecerdasan dan kemampuan mengambil kesimpulan. Kefasihan berbahasa asing juga diperlukan untuk penyebaran pemikiran dan kemudahan urusan. Namun, semua kemampuan itu seharusnya tidak membuatnya sombong dan mau menerima kritik dari rakyatnya seperti halnya Rasulullah yang pernah dikritik saat Perjanjian Hudaibiyyah dan Umar bin Khatthab yang pernah dikrikik oleh seorang wanita terkait besar mahar.

Tidak kalah pentingnya adalah kebersahajaan dan kesederhanaan seorang pemimpin yang tidak tergoda akan kesenangan duniawi. “… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…” (terjemahan QS Shad: 26) Inilah hakikat keadilan, yakni tidak mengikuti hawa nafsu. Para pemimpin masa khulafaur rasyidin pun hidup sangat miskin walaupun mereka adalah seorang gubernur, bahkan khalifah. Mereka takut akan yaumul hisab nantinya karena keimanan mereka yang sangat kuat kepada Hari Akhir. Begitulah seorang pemimpin seharusnya. Seorang pemimpin sudah seharusnya lebih sibuk memikirkan urusan rakyatnya daripada urusan pribadinya. Maka, menjadi seorang pemimpin bukanlah amanah sembarangan karena pertanggungjawabannya yang berat di Hari Kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s