Gagasan “Dasar” Politik Islam

perang-diponegoro

 

 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.’ ” (terjemahan QS An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ “ (terjemahan QS Al-Anbiya’: 25)

 

Para nabi dan rasul telah Allah utus ke muka bumi untuk tugas yang tidak mudah, yakni mengajak manusia untuk menyembah Allah saja dan menjauhi segala bentuk kekufuran dan kemusyrikan. Allah pun berfirman dalam Surat Yusuf ayat 108,

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’ “

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini, “Allah memerintahkan nabi-Nya untuk mengabarkan kepada manusia bahwa ini adalah jalan, metode, dan sunnahnya, yaitu berdakwah kepada persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Menyeru kepada hal tersebut dengan ilmu, yakin, dan hujjah yang nyata….” (sumber: http://muslim.or.id) Maka, jelaslah inti dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid apapun bentuk dan metodenya.

Apa hubungan antara dakwah tauhid dan politik? Tentu dakwah tauhid dan gerakan politik sangat berhubungan. Gerakan politik tidak selalu harus masuk parlemen dan pemerintahan. Gerakan politik juga tidak harus masuk partai politik praktis. Gerakan politik bisa dilakukan di luar sistem parlemen dan pemerintahan. Buktinya, Rasulullah saw tidak pernah bergabung dengan pemerintah atau penguasa Arab saat itu. Beliau lebih memilih tetap berdakwah di luar sistem itu dan membangun sistem sendiri. Namun, bukannya tidak boleh berdakwah masuk parlemen dan pemerintahan karena banyak juga ulama yang membolehkan, seperti Syaikh bin Baz (mantan ketua Lajnah ad-Daimah) dan Yusuf Qaradhawi, dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Tahapan dakwah rasul dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah selama 13 tahun dan peride Madinah selama 10 tahun (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah). Pada periode Mekkah yang selama 13 tahun itu Rasul murni melakukan dakwah berupa pendidikan untuk mengokohkan aqidah para sahabat dan muslim lainnya agar senantiasa bertauhid kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah –dalam riwayat lain: kepada tauhidullah-. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka mentaatimu untuk hal tersebut maka kamu jauhilah harta mulia mereka. Takutlah kamu terhadap doa orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah.” (terjemahan HR Bukhari 1395 dan Muslim 19)

Hadits ini menjelaskan tentang tahapan Rasul berdakwah. Rasul berdakwah dimulai dari yang paling penting, yakni dengan menyerukan kalimat laa ilaaha illallaah, baru memberi tahukan orang-orang yang didakwahi bahwa shalat lima waktu itu wajib hukumnya, dan seterusnya. Tidak mungkin Rasul memerintahkan manusia untuk melaksanakn shalat sebelum mereka memahami alasan mereka harus shalat, yaitu untuk melaksanakan perintah Allah semata. Intinya, tidak mungkin semua syariat Islam dilaksanakan oleh seseorang jika ia masih musyrik atau belum mau berserah diri untuk bertauhid kepada Allah.

Banyak para aktivis dakwah terburu-buru untuk bergerak ke arah kepemimpinan (untuk merebut kekuasaan) dan ketika masa kampanye datang, mereka justru melalaikan dakwah tauhid yang berupa pendidikan. Pertanyaannya, mungkinkah syariat Islam dapat begitu saja dilaksankan oleh pemimpin yang adil sekalipun jika rakyat/masyarakatnya belum siap melaksanakannya? Bagaimana mungkin masyarakat bersedia melaksanakan syariat Islam jika mereka bahkan masih belum memahami pentingnya melaksanakan syariat itu? Mereka tidak akan mau melaksanakan syariat Islam selama mereka belum berserah diri terhadap aturan-aturan Allah yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Rasul pun sudah mencontohkan untuk terlebih dahulu melakukan gerakan pendidikan kepada umat agar mereka tecerdaskan sehingga nantinya mereka bertauhid kepada Allah dan setelah itu mau melaksanakan aturan-aturan Allah.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yg Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa ataa segala sesuatu.’ “ (terjemahan QS Ali Imran: 26)

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (terjemahan QS An-Nur: 55)

Pada hakikatnya, kekuasaan itu datangnya dari Allah. Allah berhak memberikan kekuasaan itu kepada orang yang Dia kehendaki dan Allah juga berhak mencabut kekuasaan dari orang yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka dari itu, aktivis dakwah seharusnya fokus untuk membina umat agar mereka bertauhid kepada Allah. Kalaupun ada program atau ada sekelompok orang masuk ke dalam parlemen dan pemerintahan, itu memang diperlukan, tetapi janganlah melalaikan dakwah tauhid yang telah menjadi inti perjuangan para nabi dan rasul. Itu karena jika para kader dakwah yang pada asalnya fokus memberikan pendidikan, kemudian beralih kegiatan menjadi sibuk mengurusi kampanye dan menjadi anggota legislatif, maka sejatinya orang-orang yang mengisi pos pembinaan umat berkurang. Jika pos pembinaan makin kosong, maka penyiapan masyarakat agar terlaksananya penegakan syariat Islam pun menjadi kendur. Pada akhirnya peluang tegaknya syariat itu pun berkurang. Allah sudah berjanji akan memberikan kekuasaan itu kepada orang-orang beriman dan beramal shalih. Maka, seharusnya kita yakin akan janji Allah itu bahwa tanpa perlu menghabiskan energi untuk kampanye dan masuk parlemen dan pemerintahan agar dapat merebut kekuasaan pun, kekuasaan itu akan Allah berikan pada akhirnya. Bukankah Rasul tidak pernah masuk sistem penguasa Mekkah saat itu, tetapi akhirnya beliau bisa menguasai Madinah dan Mekkah sekaligus? Kemudian, setelah itu Islam pun mulai menunjukkan taringnya di pergelutan politik dunia.

Mesir yang sempat dipimpin oleh Mursi dari Ikhwanul Muslimin—setelah bersabar membina umat terlebih dahulu, pada akhirnya dikudeta oleh pihak militer. Ini bukti bahwa kepemimpinan dan kekuasaan tidak serta-merta dapat menjadi jalan yang mudah untuk menegakkan syariat Islam.Tidak penting menguasai wilayah tertentu saat ini jika memang belum siap, yang penting adalah menguasai hati orang-orang yang ada pada wilayah tersebut terlebih dahulu. Dibutuhkan kerja dakwah yang lebih keras lagi, yakni harus sudah mulai berusaha untuk melakukan islamisasi militer. Tidak hanya militer, bahkan media-media yang sering masih terpengaruh media Barat, juga perlu diislamisasi. Contohnya, Turki. Turki tidak akan mudah ditegakkan syariat Islam oleh Erdogan sekalipun jika masyarakatnya belum siap. Lalu, gerakan seperti apa yang membuat masyarakat Turki siap menerima munculnya aturan-aturan yang cenderung kepada penegakan syariat Islam? Ternyata, di sana terdapat gerakan yang berasal dari gerakan Said Nursi yang dilanjutkan oleh Fethullah Gulen (http://www3.eramuslim.com/berita/). Di Turki juga terdapat koran harian islamis Zaman yang mampu membentuk opini masyarakat karena diterbitkan 1,2 juta eksemplar setiap harinya. Belum lagi, kelompok gerakan Gulen (Hizmet) juga memiliki enam stasiun TV yang akan memberikan pendidikan masuk ke rumah-rumah (sumber: http://www.liniberita.com/2014/02/) Maka, wajarlah jika masyarakat Turki lebih siap menerima undang-undang yang menegakkan hukum Islam.

Selain itu, masalah umat saat ini adalah terpecah belahnya kaum muslimin, baik di dunia maupun khusus di Indonesia. Biasanya, menurut pengamatan saya, terpecah belahnya umat karena adanya penyakit ta’asshub/ashobiyyah (fanatisme terhadap golongan) pada tubuh umat.

Rasulullah bersabda, “Tidak termasuk golongan kami barang siapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barang siapa yang berperang atas dasar ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barang siapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan).” (terjemahan HR Abu Dawud 4456)

Padahal, kalau umat Islam membuang kesombongannya dan fanatismenya akan golongan masing-masing, umat Islam akan kuat. Namun, itu tentu membutuhkan proses yang panjang untuk menuju persatuan umat, mulai dari diri sendiri.

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (terjemahan QS Al-Anfal: 63)

Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah menuturkan, “Mereka bersatu dan bersaudara serta bertambah kuat dengan sebab persatuan tersebut. Itu bukanlah hasil usaha seorang dan dengan satu kekuatan selain kekuatan Allah. Walaupun kamu telah membelanjakan emas dan perak serta selainnya yang ada dibumi ini seluruhnya untuk menyatukan hati mereka setelah perselisihan dan perpecahan yang parah tersebut. Tentulah kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Karena yang mampu menpersatukan hati hanyalah Allah swt.” (sumber: http://ustadzkholid.com/persaudaraan-hati-bukan-tubuh/)

Maka, gagasan saya tentang gerakan dakwah politik adalah harus dimulai dengan dakwah tauhid berupa pendidikan dan islamisasi melalui media. Para aktivis dakwah harus bersabar di masa ini, tidak perlu terburu-buru ingin segera merebut kekuasaan. Kalaupun mau berdakwah melalui jalur parlemen dan pemerintahan, jangan melalaikan pembinaan kepada umat dan harus senantiasa meluruskan niat hanya untuk berdakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Upaya-upaya pemersatu umat Islam juga harus segera dimulai sehingga diharapkan natinya umat Islam benar-benar akan bersatu atas izin Allah. Pembinaan umat harus terus dilaksanakan hingga jumlah masyarakat yang siap melaksanakan syariat Islam cukup memadai, termasuk para anggota militer. Ini bisa dilakukan dengan survei secara personal. Maka, setelah itu bisa dimulai bergerak menuju kepemimpinan dengan lebih banyak pengorbanan dari sebelumnya. Ini berarti, sebelum jumlah masyarakat yang siap melaksanakan syariat Islam belum memadai, maka tidak perlu menghabiskan terlalu banyak energi dengan bergerak menuju kepemimpinan dengan menghabiskan banyak uang untuk melaksanakan kampanye (kampanye pun harus dikaji seperti apa yang Islami), apalagi sampai pragmatis sehingga para aktivis menjadi tidak peka dalam membedakan antara yang haq dan yang bathil. Pergerakan ‘ke atas’ memang diperlukan, tetapi seperlunya saja untuk saat ini. Itu karena bagaimana pun, kepemimpinan itu tidak bisa lepas dari tujuan asalnya, tetap untuk mengajak manusia agar menyembah Allah saja dan menjauhi thaghut seperti halnya penaklukan-penaklukan yang terjadi pada masa Rasulullah memimpin dan masa khulafaur rasyidin.

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (terjemahan QS. Al-Baqarah: 193)

Jadi, jelaslah penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh para pemimpin kaum musliminin dahulu adalah untuk meninggikan kalimat Allah, seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s